Freedom House: Terjadi Kemerosotan Demokrasi di Indonesia Dalam 9 Tahun
Terakhir - Sinar Harapan
<https://www.sinarharapan.co/politik/pr-3853410800/freedom-house-terjadi-kemerosotan-demokrasi-di-indonesia-dalam-9-tahun-terakhir>



*Freedom House: Terjadi Kemerosotan Demokrasi di Indonesia Dalam 9 Tahun
Terakhir*

Banjar Chaeruddin

- Selasa, 17 Mei 2022 | 23:54 WIB



SINARHARAPAN--Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful
Mujani menyebutkan bahwa dalam 9 tahun terakhir, Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> mengalami kemerosotan demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi>.

Saiful Mujani merujuk pada data Freedom House dari 2013 sampai 2022

"Data Freedom House dari 2013 sampai 2022 menunjukkan skor demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> mengalami kemunduran dari 65
pada 2013 menjadi 59 pada 2022," kata Saiful Mujani dalam acara "Demokrasi
Makin Mundur? Refleksi 24 Tahun Reformasi" yang disiarkan Youtube SMRC TV,
Selasa (17/5).

Freedom House melakukan studi secara rutin mengenai kebebasan. Studi ini
meminta sejumlah ahli atau orang yang mengerti politik Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> untuk melakukan checklist
item-item yang menjadi indikator dari demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi>, apakah kondisinya membaik atau
memburuk.

Saiful melanjutkan bahwa studi yang dilakukan Freedom House mengukur
kondisi demokrasi <https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> dengan
melihat aspek kebebasan.

Menurut dia, tak terbayangkan ada demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> tanpa kebebasan. Dasar dari
sistem demokrasi <https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> adalah
kebebasan. Karena itu, kebebasan di seluruh negara menjadi fokus perhatian
Freedom House.

Lembaga ini kemudian membuat skor antara 0 sampai 100, dengan semakin
mendekati 100 semakin baik kondisi demokrasinya, sementara semakin
mendekati 0 semakin buruk.

Ilmuwan politik lulusan Ohio State University, Amerika
Serikat ini memaparkan bahwa ada dua indikator demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> yang dipakai oleh Freedom
House: political rights (hak-hak politik) dan civil liberties (kebebasan
sipil).

Hak-hak politik antara lain menyangkut penyelenggaraan pemilu, apakah,
misalnya, dilakukan secara jujur dan adil atau tidak, bagaimana
pemerintahan berjalan, ada "check and balances" atau tidak, seberapa susah
untuk ikut berkontestasi, dan seterusnya.

Saiful mencontohkan bahwa praktik sulitnya membuat partai politik di
Indonesia <https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> menjadi indikator
tentang Indonesia <https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> yang kurang
membuka akses pada hak-hak politik. "Semakin mudah orang atau warga untuk
mengakses kontestasi dalam kekuasaan, maka itu adalah indikasi demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> semakin membaik," kata Saiful.

Aspek yang lain adalah kebebasan sipil, berkaitan dengan kebebasan untuk
berbicara, berekspresi, mengkritik pemerintah, kebebasan pers, perlindungan
pada minoritas, kebebasan beragama, berorganisasi, dan sebagainya.

Pada 2013, Freedom House menilai Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> masih dalam kategori negara
free. Artinya aspek civil liberties dan 'political rights" masih baik.

Di antara negara-negara lain di dunia, Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> pada masa itu relatif lebih
maju dalam hal demokrasi <https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi>. Di
Asia Tenggara, misalnya, Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> paling bagus dari aspek
demokrasi <https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi>. "Kami kelasnya
kurang lebih sama dengan India yang sudah puluhan tahun mengalami demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi>," kata dia pula.

Begitu masuk 2014, skor demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> mengalami penurunan. Dalam 9
tahun terakhir, Indonesia <https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> mengalami
kemerosotan skor kebebasan, dari 65 pada 2013 menjadi 59 pada 2022.

Saiful menjelaskan bahwa total skor untuk aspek kebebasan sipil adalah
antara 0 sampai 60, sementara untuk hak-hak politik adalah antara 0 sampai
40.

Dilihat dari itu, lanjutnya, aspek hak-hak politik Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> lumayan baik, yakni berkisar di
angka 30 atau sekitar 75 persen. Bahkan skor political rights Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> sempat menjadi lebih baik pada
2016 dan 2017, pada masa itu ada pilkada yang berlangsung dengan baik.

"Dilihat dari sisi political rights, menurut penilaian Freedom House, yang
dijadikan rujukan di dunia untuk mengevaluasi kondisi demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> semua negara, aspek hak-hak
politik Indonesia <https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> tidak buruk.
Ini yang menyebabkan Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> sering
disebut sebagai electoral democracy, negara demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> yang bisa cukup baik
menjalankan pemilihan umum," ujarnya lagi.

Tapi, kata Saiful pula, demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> bukan hanya tentang pemilu,
tapi juga aspek-aspek lain yang fundamental seperti melindungi hak-hak
warga negara, terkait dengan keyakinan, beragama, dan sebagainya.

Dalam aspek kebebasan sipil, kondisi Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> cukup buruk, bahkan mengalami
penurunan dari skor 35 pada 2013 menjadi 29 pada 2022.

Oleh karena itu, menurut Saiful, yang menyumbang kenapa demokrasi
<https://www.sinarharapan.co/tag/demokrasi> Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> memburuk adalah aspek kebebasan
sipil. Dia mencontohkan lemahnya kebebasan sipil pada kasus kematian enam
anggota Front Pembela Islam (FPI) padahal sudah ditangkap oleh polisi tahun
2021.

Hal yang sama pernah terjadi pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
saat jamaah Ahmadiyah diserang dan ada yang terbunuh di Cikeusik, Banten.
"Itu adalah indikasi bagaimana buruknya perlindungan pada hak-hak warga
untuk berkeyakinan, berbeda pendapat, dan seterusnya," ujarnya lagi.

Oleh karena itu, tantangan Indonesia
<https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> yang paling besar ke depan
adalah berkaitan dengan kebebasan sipil.

Menurut dia, Pemilu 2024 seharusnya momentum yang baik untuk mempertahankan
"political rights", tapi juga mestinya bisa memperbaiki aspek kebebasan
sipil.

Saiful menambahkan dalam banyak studi, perilaku elite politik bisa
berpengaruh pada kondisi kebebasan sipil, seperti kepastian aparat hukum
untuk tidak melakukan tindakan sewenang-wenang adalah bagian dari kebijakan
di tingkat elite.

"Seharusnya aspek kebebasan sipil menjadi salah satu agenda pokok dari
pemimpin Indonesia <https://www.sinarharapan.co/tag/Indonesia> ketika
terjadi pergantian kepemimpinan nasional tahun 2024 nanti," katanya pula

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DNy0W4O9pb_qZ71zu14vzdHpSaB%2BS-oESfqaA6cAVyvw%40mail.gmail.com.

Reply via email to