Written byA43Saturday, May 21, 2022 09:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/thomas-lembong-tangan-kanan-anies/
Thomas Lembong, ‘Tangan Kanan’ Anies?
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (dua dari kiri) didampingi oleh mantan 
Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong (kiri) kala bertemu dengan Wali 
Kota Berlin Franziska Giffey (dua dari kanan) pada Mei 2022. (Foto: 
Instagram/@aniesbaswedan)
Di ujung masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melakukan 
kunjungan luar negeri ke tiga negara Eropa – yakni Britania Raya (Inggris), 
Jerman, dan Prancis. Apakah kunjungan Anies ke Eropa ini memiliki dampak 
politik di Indonesia?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Kau berkelana ke negara sepak bola” – The Changcuters, “Hijrah ke London” 
(2008)

Penggemar sepak bola Indonesia sudah hampir pasti juga mengenal berbagai klub 
yang berasal dari benua Eropa. Bagaimana tidak? Klub-klub di Eropa – mulai dari 
Britania (Inggris) Raya, Spanyol, Italia, Prancis, hingga Jerman – selalu 
menjadi perhatian sepak bola dunia.

Banyak pemain-pemain yang mahir bermain di berbagai liga-liga negara tersebut. 
Lionel Messi, misalnya, kini menjadi pemain salah satu klub besar di Prancis, 
yakni Paris Saint-Germain F.C.

Tidak hanya Messi, terdapat juga nama Cristiano Ronaldo yang kini bermain di 
sebuah klub Inggris, yakni Manchester United F.C. Keberadaan dua pemain dunia 
di Eropa tersebut secara tidak langsung menunjukkan bagaimana benua biru itu 
menjadi kiblat dunia olahraga sepak bola.

Namun, fakta bahwa benua Eropa jadi pusat dunia sepak bola tentunya bukan 
terjadi begitu saja. Pasalnya, Eropa dahulu memang menjadi pusat dunia pada era 
kolonial – mulai dari perdagangan hingga perpolitikan.

Tidak mengherankan apabila Eropa kini menjadi kawasan dengan berbagai bangunan 
megah yang telah lama berdiri sejak era kolonial. Banyak kekayaan dunia ketiga 
telah lama beralih ke negara-negara di kawasan ini.

Alhasil, hingga kini, benua Eropa tetap menjadi kawasan yang penting secara 
ekonomi dan politik. Apalagi, dengan munculnya organisasi supranasional Uni 
Eropa (UE), Eropa semakin dinilai penting.

- Advertisement -Mungkin, layaknya lirik lagu The Changcuters di awal tulisan, 
ini menjadi alasan mengapa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya pergi 
ke London, Britania Raya – dan sejumlah negara lain seperti Jerman dan Prancis 
– beberapa waktu lalu. Kabarnya, kunjungan Anies ini terjadi akibat undangan 
dari pihak-pihak yang ada di Eropa.

Bila diperhatikan, kegiatan Anies di Eropa selama sepekan kemarin bisa dibilang 
cukup padat. Banyak tokoh dan organisasi di berbagai bidang – mulai dari 
pendidikan tinggi, pejabat, politisi, ekonom, investor, dan lembaga think-tank 
– bertemu dan berdiskusi dengan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

 
Menariknya, ada satu sosok yang terlihat selalu mendampingi Anies dalam 
berbagai kesempatan tersebut. Figur itu adalah Thomas Trikasih Lembong – mantan 
Menteri Perdagangan (Mendag) dalam Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo 
(Jokowi) yang pada tahun 2021 lalu diangkat menjadi Komisaris Utama (Komut) 
Ancol.

Bahkan, dalam unggahan di akun Instagram miliknya, nama Thomas pun disebutkan 
sebagai Komite Investasi DKI Jakarta. Bisa dibilang, peran Thomas ini penting 
bagi Anies – khususnya dalam pertemuan-pertemuan yang dijalankan oleh Gubernur 
DKI Jakarta itu di Eropa.

Lantas, mengapa peran Thomas ini bisa dibilang penting bagi karier politik 
Anies ke depannya? Bagaimana sebenarnya latar belakang seorang Thomas sehingga 
akhirnya bisa sempat menjadi figur pejabat dalam pemerintahan nasional Jokowi 
hingga pemerintahan daerah Anies?

Baca juga :  Menguak Isi "Tas" Bakal CapresThomas Jadi ‘Tangan Kanan’ Anies?
Thomas sebenarnya bukan sosok yang tiba-tiba muncul dalam peran-peran 
pemerintahan. Sebelumnya, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 
tersebut banyak berkecimpung di dunia investasi dan finansial.

Thomas lahir di Jakarta pada 4 Maret 1971 dengan ayah bernama Dr. T Yohanes 
Lembong dan ibu bernama Yetty Lembong. Setelah tidak lama lahir, Thomas ikut 
pindah ke Jerman bersama ayahnya yang menjalankan studi di sana sejak tahun 
1974.

Alhasil, Thomas pun mengenyam pendidikan dasar di negara Eropa tersebut dan 
tinggal di sana selama tujuh tahun hingga tahun 1981. Tidak mengherankan 
apabila Thomas akhirnya menjadi fasih berbahasa Jerman.

- Advertisement -Namun, masa tinggal Thomas di Indonesia tidaklah lama. Ketika 
menyentuh pendidikan tingkat menengah atas, mantan Mendag tersebut angkat kaki 
dari Tanah Air dan bersekolah di Boston, Amerika Serikat (AS).

Pada pendidikan tingkat tinggi, Thomas menjalankan studinya di sebuah kampus 
ternama dunia, yakni Harvard University. Ia menyelesaikan studinya di bidang 
arsitektur dan tata kota pada tahun 2008.

 
Namun, usai pendidikannya, Thomas justru bersinar di bidang lainnya, yakni 
sektor finansial dan investasi. Mantan Kepala BKPM tersebut akhirnya berkarier 
di sejumlah perusahaan finansial ternama – mulai dari Farindo Investments, 
Deutsche Bank, hingga Morgan Stanley.

Tidak hanya itu, Thomas juga dikenal dengan perusahaan yang didirikannya, yakni 
Quvat Management. Perusahaan investasi ini terkenal dengan investasinya yang 
cukup menggebrak dunia usaha di Indonesia – yakni bioskop Blitz yang mampu jadi 
pesaing Cineplex 21.

Bisa dibilang rekam jejak cemerlang Thomas di bidang finansial dan investasi 
inilah yang akhirnya mengantarkannya masuk ke dunia pemerintahan. Pada tahun 
2015, Thomas akhirnya diangkat Jokowi menjadi Mendag – dan kemudian menjadi 
Kepala BKPM pada tahun 2016 hingga tahun 2019.

Namun, usai tidak lagi menjabat di pemerintahan nasional, nama Thomas berpindah 
menjadi pejabat di pemerintahan daerah Anies. Pada tahun 2021, mantan Kepala 
BPKM itu diangkat menjadi komut bagi perusahaan daerah milik Pemerintah 
Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Ancol.

Semakin ke sini, peran Thomas di Pemprov DKI Jakarta tampaknya semakin penting. 
Dari unggahan Anies, misalnya, mantan Mendag itu disebut memegang peran dalam 
investasi untuk Pemprov DKI Jakarta.

Lantas, mengapa, dengan latar belakang ini, peran Thomas bisa menjadi penting 
bagi Anies – katakanlah untuk langkah dan karier politik Gubernur DKI Jakarta 
itu ke depannya? Apakah ini cara Anies untuk bermain menjadi politikus 
berkapasitas global?

‘Pintu Masuk’ Anies ke Eropa?
Dalam menjalankan atau melakukan apapun, tentu ada sejumlah hal yang perlu 
dipersiapkan terlebih dahulu. Kala memasak sebuah hidangan, misalnya, tentu 
bahan-bahan makanan dan resepnya juga perlu disiapkan.

Baca juga :  Tiongkok, Senjata Marcos Jr. Tekan AS?Hal yang sama juga berlaku 
dalam langkah-langkah yang diambil dalam perjalanan karier politik. Bisa jadi, 
hal inilah yang tengah dipersiapkan oleh Anies yang pada Oktober 2022 nanti 
akan melepas jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

 
Bukan tidak mungkin, Thomas menjadi salah satu unsur dalam resep yang tengah 
disiapkan oleh Anies – katakanlah resep untuk menjadi presiden pada tahun 2024 
mendatang. Pasalnya, dengan latar belakang yang dimiliki, Thomas bisa menjadi 
penyedia modal politik bagi Anies.

Kimberly Casey dalam tulisannya yang berjudul Defining Political Capital 
menjelaskan bahwa berbagai jenis modal – seperti modal finansial, modal sosial, 
hingga modal institusional – bisa ditransformasikan menjadi modal politik bagi 
seorang kandidat. 

Setidaknya, Thomas bisa memiliki modal sosial yang bisa mendukung Anies. Dengan 
pengalamannya yang panjang dalam dunia investasi, mantan Kepala BKPM tersebut 
tentu saja memiliki koneksi dengan berbagai individu penting di Eropa – apalagi 
Thomas pernah tinggal di Eropa dan memiliki pengalaman bekerja di 
perusahaan-perusahaan ternama seperti Morgan Stanley dan Deutsche Bank.

Kala menjalankan kunjungan ke Eropa, misalnya, Anies sempat mengunjungi 
sejumlah bankir dan lembaga finansial – seperti European Investment Bank (EIB) 
yang merupakan lembaga pinjaman dari Uni Eropa (UE). Sejumlah pendanaan untuk 
kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta pun kabarnya berhasil disepakati – bisa 
menjadi modal finansial untuk jalannya pemerintahan Anies di ibu kota.

Di sisi lain, relasi sosial yang dimiliki Thomas ini bisa jadi juga 
mengantarkan Anies untuk memperluas relasinya sendiri. Pasalnya, dalam 
kunjungannya ke tiga negara Eropa, Gubernur DKI Jakarta tersebut bisa dibilang 
secara komplit bertemu dengan berbagai unsur masyarakat – mulai dari akademisi 
(University of Oxford dan King’s College, London), pemerintahan (Mendag 
Internasional Inggris Anne-Marie Trevelyan dan Wali Kota Berlin Franziska 
Giffey), media (BloombergNEF), dan ekonom (EIB).

Ini bisa berpengaruh pada jalannya pemerintahan Anies bila nantinya benar 
terpilih sebagai presiden pada tahun 2024 mendatang. Pasalnya, Anies nantinya 
juga perlu bermain sebagai pemimpin berkapasitas global.

Dengan tensi geopolitik yang terus meningkat di kawasan Indo-Pasifik (termasuk 
Asia Tenggara), modal sosial ini bisa jadi krusial – baik bagi Anies maupun 
aktor-aktor politik di Eropa. Apalagi, UE kini juga semakin menunjukkan 
kekuatan ekonomi dan geopolitiknya – tidak hanya di kawasan Eropa sendiri, 
melainkan juga di kawasan Asia.

Pada ujungnya, kegiatan berkelana Anies ke negara-negara sepak bola tadi bukan 
tidak mungkin bisa berdampak dengan langkah-langkah Gubernur DKI Jakarta 
tersebut ke depannya – baik secara pemerintahan maupun politik. Siapa tahu 
negara-negara sepak bola tadi bisa membantu Anies untuk menciptakan gol ciamik 
di tahun 2024? (A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1DEB66E171784142B66DF9AFAF848291%40A10Live.

Reply via email to