https://www.nahimunkar.org/orang-orang-fundamentalis-katolik-kristen-dan-kiri-di-lingkaran-jokowi/
Orang-Orang Fundamentalis Katolik, Kristen, dan Kiri di Lingkaran Jokowi
Posted on 25 April 2014by Nahimunkar.coma.. BAHAYA JOKOWI
   a.. BIOGRAFI JOKOWI
   a.. FUNDAMENTALIS KATOLIK
   a.. JACOB SOETOYO
   a.. KAKI-TANGAN JOKOWIa.. PILIHAN.


(Membongkar Peranan Jacob Soetoyo)

Oleh: M. Sembodo

  a.. Pater Beek, seorang rohoniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa 
setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk 
menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis 
Katolik dalam Kasebul (organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul 
[kaderisasi sebulan] ) bekerjasama dengan Angkatan Darat. 
  b.. Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir 
yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. 
  c.. Silahkan mengobrak-abrik semua analisa politik, tetap saja penyokong 
utama Jokowi ada tiga itu: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis 
Kristen [James Riyadi dkk], dan faksi PSI [Goenawan Mohamad dkk]. Nah, mengapa 
mereka turun bersama-sama mendukung Jokowi? 
  d.. Bangkitnya Islam politik tentu saja dianggap sebagai ancaman. Sepanjang 
Pemilu Orde Baru, perolehan suara partai Islam dalam Pemilu 2014 adalah yang 
terbesar. 
  e.. Agar tak menyatu, partai yang berideologi Islam dibuat bimbang. Para 
pengamat sudah mulai bekerja dengan berbagai argumentasi bahwa poros 
partai-partai Islam sulit untuk diwujudkan. Terutama PKS yang akan dijadikan 
target kebimbangan ini. Mereka tak begitu khawatir dengan PKB, misalnya. Sosok 
Muhaimin Iskandar sudah dikenal sebagai orang pragmatis. Gus Dur saja ia 
khianati, apalagi umat Islam. 
  f.. Maka diarahkan PKS untuk mendukung Jokowi. Dukungan ini penting untuk 
memperlihatkan bahwa Jokowi yang didukung Amerika lewat tiga tangannya tadi 
mendapatkan legitimasi dari partai Islam yang ideologis, yaitu PKS. Maka oponi 
pun diarahkan dengan berbagai argumentasi agar PKS merapat ke Jokowi. Bila 
jebakan ini berhasil menjerat PKS sehingga kemudian mendukung Jokowi dan tak 
berhasil membangun poros sendiri, maka hanya satu kata: wassalam. Satu benteng 
itu telah runtuh. 
  g.. …yang terhibur dengan boneka bunraku bernama Jokowi bila kelak menjadi 
presiden adalah: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen 
[James Riyadi dkk] dan PSI [Goenawan Mohamad dkk]—yang ketiganya merupakan kaki 
tangan ndoro-ndoro di Amerika Serikat sana.

Tentu banyak yang terperangah ketika Jacob Soetoyo bisa mempertemukan beberapa 
duta besar negara-negara ‘hiu’ dengan Jokowi dan Megawati. Siapa sebenarnya 
Jacob Soetoyo?

Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi 
fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu 
kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International 
Studies]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru 
yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang 
belum banyak diketahaui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis 
Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, 
SJ. Tentang apa dan bagaimana Kasebul itu, silakan baca tulisan saya di [[Tikus 
Merah]]

Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme 
[PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. 
Pater Beek, seorang rohoniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah 
komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan 
setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam 
Kasebul bekerjasama dengan Angkatan Darat.

Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang 
bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater 
Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:

“Visi [Pater] Beek pibadi atas peran Gereja, Gereja harus berperan dalam 
mengatur negara kemudian mengalokasikan orang-orang yang tepat untuk bekerja di 
dalam dan melalui negara.”[1]

Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel 
Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan 
Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian memasok dan menjaga agar Orde Baru 
menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.[2]

Siapa sosok yang berperan dalam pendirian CSIS? Sosok tersebut adalah Ali 
Moertopo. Selama ini dikenal sebagai kepercayaan Soeharto, tapi kedekatannya 
dengan Pater Beek belum banyak terungkap Ali pertamakali bekerjasama dengan 
Pater Beek dalam operasi pembebasan Irian Barat. Berdasarkan catatan Ken 
Comboy, saat itu tugas Ali sebagai perwira intelijen.[3] Pada saat yang 
bersamaan, Pater Beek juga berada di Irian Barat. Ia menyamar sebagai guru. 
Tugas sebenarnya dari Pater Beek adalah menjaga agar proses pembebasan Irian 
Barat tetap menguntungkan kepentingan Amerika. Tugas ini berhasil. Sebagaimana 
kita ketahui, sampai saat ini Freeport masih menguasai tambang emas di Papua.

Setelah CSIS berhasil dibentuk oleh Ali Moertopo, tugas pelaksa harian 
diserahkan pada 3 kader Kasebul: Jusuf dan Sofian Wanandi serta Harry Tjan 
Silalahi. Menurut Mujiburrahman, Jusuf dan Sofian Wanandi merupakan kader utama 
Kasebul yang dididik Pater Beek. Sewaktu mahasiswa dan pergolakan politik tahun 
1965, keduanya menjadi bagian penting dari PMKRI [Pergerakan Mahasiswa Katolik 
Indonesia]. Sedangkan Harry Tjan Silalahi kader Kasebul yang ditempatkan di 
Partai Katolik sebagai sekretaris jenderal.[4] Tiga orang inilah yang hingga 
sekarang menahkodai CSIS. Lewat lembaga inilah kebijakan anti Islam dijalankan.

Pater Beek memang piawai dalam usaha menghancurkan Islam. Ia tidak hanya 
memakai orang Katolik seperti Jusuf Wanandi dan Harry Tjan untuk melakukannya, 
tapi juga memakai orang Islam sendiri. Ali Moertopo, misalnya, ia tumbuh dari 
keluarga santri, tetapi lewat CSIS dan Operasi Khususnya justru mengobok-obok 
Islam. Sebut nama lain seperti Daoed Joesoef. Ia seorang muslim asal Sumatera 
Timur, tapi berhasil digunakan oleh Pater Beek untuk membuat kebijakan yang 
merugikan umat Islam. Sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan 
Kebudayaan, ia melarang sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi yang 
beragama Islam dilarang menggunakan jilbab.

Bahkan tidak hanya itu. Kader Pater Beek dalam Kasebul juga dilatih menyusup 
dengan pindah agama menjadi Islam. Sebut saja Ajianto Dwi Nugroho. Sewaktu 
masih mahasiswa di Fisipol UGM ia berpacaran dengan mahasiswa IKIP Yogyakarta 
[sekarang UNY] yang berjilbab. Sekarang ia menikah dengan janda beranak satu 
yang beragama Islam. Dan, Ajianto saat ini mempunyai KTP yang mencantumkan 
agamanya adalah Islam. Ajianto merupakan kader Kasebul generasi baru yang masuk 
dalam lingkaran jasmev pada era Pilkada DKI untuk memenangkan Jokowi. Sekarang 
ia bergabung dalam lingkaran PartaiSocmed dengan target menjadikan Jokowi 
sebagai presiden. Itulah kehebatan kader-kader Kasebul dalam menjalankan 
misinya.

Nah, kenapa tiba-tiba Jacob Soetoyo muncul? Tentu saja ini berkaitan dengan 
persaingan para cukong di lingkaran Jokowi sendiri. Sudah banyak diketahui, 
James Riyadi telah mendukung Jokowi sejak awal. Selain dikenal sebagai 
pengusaha papan atas, yang belum banyak diketahui, ia adalah pemeluk 
fundamentalis Kristen. Ia dikenal sebagai pemeluk Kristen Evangelis. Di 
Amerika, aliran ini dikenal radikal dan fundamentalis. Salah satu pengikutnya 
adalah keluarga Bush. Sikap anti Islamnya sudah mendarah daging. Ketika menjadi 
presiden, George W. Bush memerintahkan pasukannya untuk membantai ratusan ribu 
umat Islam di Afghanistan dan Irak. Inilah yang dianggap sebagai ancaman oleh 
fundementalis Katolik dalam lingkaran CSIS. Apalagi James Riyadi secara 
atraktif lewat familinya, Taher, mendatangkan Bill Gates ke Indonesia dengan 
tujuan agar seolah-olah Jokowi mendapatkan dukungan dari pengusaha papan atas 
Amerika Serikat.

Sudah menjadi rahasia umum, walaupun sama-sama memusuhi Islam, antara 
fundamentalis Katolik dan fundamentalis Kristen terjadi permusuhan yang sengit 
[pandangan mereka yang Islamphobia tentu saja tak mewakili pandangan mayoritas 
umat Nasrani di Indonesia yang sebagian besar menghargai toleransi]. Melihat 
manuver James Riyadi yang sudah dianggap kelewatan, maka turun tangalah Jacob 
mewakili lingkaran CSIS. Rupanya James melupakan bahwa ada dua jaringan di 
Indonesia yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Serikat: CSIS dan PSI 
[Partai Sosialis Indonesia]. Jaringan CSIS pun unjuk taring. Tidak 
tangung-tangung mereka mengumpulkan duta besar dari negara berpengaruh antara 
lain: Amerika Serikat, China dan Vatikan. Begitu kuatnya pengaruh CSIS 
sampai-sampai duta-duta besar tersebut mau berkumpul di rumah Jacob yang tidak 
dikenal sebelumnya. Saking berpengaruhnya pula, Megawati, seorang mantan 
Presiden RI, bersedia mengikuti skenario CSIS. Di sinilah perang di antara 
cukong-cukong pendukung Jokowi antara faksi James Riyadi [Kristen] dengan faksi 
Jacob/CSIS/kasebul [Katolik] mulai ditabuh. Mereka semua melihat bahwa Jokowi 
akan menang Pilpres sehingga masing-masing perlu menanamkan pengaruh sejak awal.

Manuver CSIS lewat Jakob ini tentu membuat resah kubu James Riyadi. Pasca 
pertemuan tersebut media dalam kendali James Riyadi mulai mengungkit-ungkit 
peranan CSIS sebagai lembaga yang pada era Soeharto ikut mengebiri PDI. 
Megawati diingatkan tentang fakta itu. Tujuan akhirnya tentu saja agar Mega dan 
Jokowi menjauh dari CSIS sehingga James Riyadi bisa dominan lagi. Tapi jangan 
sampai dilupakan bahwa kubu CSIS/Jusuf Wanandi mempunyai koran The Jakarta 
Post, sebuah koran berbahasa Inggris yang cukup berwibawa, yang bisa melakukan 
serangan balik. Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir 
Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah dratis. Puan 
tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi 
seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari teman koalisi.

Tapi, jangan dilupakan faksi Partai Sosialis Indonesia [PSI]. Partai yang 
didirikan Sutan Sjahrir pada era Seokarno ini memang sudah tak ada, tapi 
kadernya sampai saat ini masih bergentanyangan. Tokoh-tokoh PSI seperti 
Goenawan Mohamad terang-terangan sudah mendukung Jokowi. Ia menggunakan 
jaringan-jaringan yang dimilikinya seperti Jaringan Islam Liberal [JIL], Tempo 
grup sampai orang-orang Kiri yang berhasil dikadernya seperti Coen Husein 
Pontoh dan Margiyono—dulu anggota PRD yang kemudian murtad dengan mendirikan 
Perhimpunan Demokratik Sosialis [PDS]; PDS ini pendiriannya tidak bisa 
dilepaskan dari sosok Goenawan Mohamad; pendeklarasian organisasi ini dilakukan 
di Teater Utan Kayu [TUK]—yang sekarang melakukan manipulasi-manipulasi 
terhadap ajaran Marxisme agar bisa dijadikan dalih untuk mendukung Jokowi. 
Semua itu satu komando untuk mendukung Jokowi.

Selain Goenawan, ada faksi PSI yang dikomandoi oleh Jakob Oetama dengan 
kelompok Kompas-nya. Mereka mempunyai media nasional yang sudah sejak lama 
telah menggoreng Jokowi lewat pemberitaan-pemberitaannya. Sebagai sesama 
Katolik, Kompas grup tentu bisa bekerjasama dengan kubu CSIS. Mereka sama-sama 
pernah dididik oleh Pater Beek. Bahu membahu antara keduanya tentu saja akan 
menghasilkan kekuatan yang besar dengan jaringan media yang sudah mengakar kuat.

Dari lingkaran PSI lainnya ada Yamin. Ia salah satu yang membidani kelahiran 
Seknas Jokowi. Sewaktu mahasiswa pada tahun 80-an, ia aktif di kelompok kiri 
Rode yang berada di Yogyakarta. Ia dekat dekat dengan tokoh PSI Yogyakarta, 
Imam Yudhotomo. Yamin disokong aktivis kiri era 80-an, Hilmar Farid. Ia dulu 
pernah terlibat dalam masa-masa pembentukan PRD. Mantan istrinya, Gusti Agung 
Putri Astrid, merupakan kader Kasebul yang banyak terlibat dengan aksi-aksi 
sosial pada era 90-an; ia sekarang menjadi caleg PDIP dari dapil Bali. Peran 
Hilmar adalah sebagai perumus strategi yang perlu diambil Seknas Jokowi 
menghadapi Pilpres.

Faksi PSI lainnya ada Fajroel Rachman. Ia dulu dikenal sebagai aktivis 
mahasiswa ITB. Ia dekat dengan tokoh PSI zaman Orde Lama, Soebadio 
Sastrosastomo. Kelompok Fajroel ini sebetulnya yang paling lemah karena tidak 
mempunyai koneksi apa-apa. Makanya ia hanya bergerak di media sosial saja 
dengan mengandalkan jumlah follower di akun twitternya.

Di antara faksi-faksi PSI tersebut, yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika 
Serikat adalah faksi Goenawan Mohamad. Sebagaimana ditulis oleh Wijaya 
Herlambang, Goenawan adalah agen CIA yang sudah dipekerjakan sejak akhir era 
Soekarno. Begitu kuatnya hubungan Goenawan dengan Amerika bisa dilihat ketika 
ia kalah dalam sengketa dengan pengusaha Tomy Winata, Dubes AS turun langsung 
untuk “mendamaikan” kasus tersebut agar tidak berlarut-larut. Goenawan pula 
yang dulu ikut memuluskan langkah Boediono menjadi wakil presiden. Sebetulnya 
ia ingin mendorong Sri Mulyani maju, tapi partai SRI tidak lolos. Goenawan dan 
Sri Mulyani memang dekat. Ketika Sri Mulyani diserang Ical dalam kasus Bank 
Century sampai akhirnya ia mundur sebagai Menkeu, Goenawan amat marah 
sampai-sampai mengembalikan Bakrie Award yang pernah diterimanya.

Silahkan mengobrak-abrik semua analisa politik, tetap saja penyokong utama 
Jokowi ada tiga itu: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis 
Kristen [James Riyadi dkk], dan faksi PSI [Goenawan Mohamad dkk]. Nah, mengapa 
mereka turun bersama-sama mendukung Jokowi?

Bangkitnya Islam politik tentu saja dianggap sebagai ancaman. Sepanjang Pemilu 
Orde Baru, perolehan suara partai Islam dalam Pemilu 2014 adalah yang terbesar. 
Suara PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB bila digabungkan mengungguli partai-partai 
yang lain. Tentu saja yang dianggap yang paling berbahaya adalah PKS. Sebelum 
Pemilu, PKS sudah dikesankan oleh berbagai lembaga survei [termasuk CSIS] tidak 
akan lolos ke Senayan. Senyatanya mereka masih memperoleh suara 7 persen—yang 
bisa jadi jumlah kursinya bisa menduduki peringkat ke empat di Senayan.

PKS dikenal dengan kader-kadernya dari kalangan kelas menengah. Kader-kader 
mereka selain militan juga tidak anti terhadap pendidikan Barat. Banyak 
kadernya yang kuliah di Amerika Serikat, Inggris dan Eropa. Walaupun berpikiran 
modern, mereka dikenal taat menjalankan ajaran Islam, baik yang wajib maupun 
sunnah. Mereka juga dikenal melek teknologi, berbeda dengan Taliban, misalnya. 
Inilah yang menakutkan bagi tiga pendukung Jokowi di atas kalau sampai PKS 
menjadi partai yang berkuasa. Oleh sebab itu, oleh kalangan PSI, baik faksi 
Goenawan Mohamad maupun faksi Fajroel, PKS yang menjadi sasaran serangan. 
Silakan amati sendiri serangan-serangan mereka terhadap PKS di media sosial. 
Kadang kala serangan terhadap PKS juga dilancarkan lingkaran Kasebul di 
lingkaran PartaiSocmed. Gampang saja, kalau ada serangan kepada PKS, lihat saja 
latar belakangnya, pasti akan berkaitan dengan tiga komponen di atas: 
fundamentalis Katolik dan Kristen, serta PSI [ dan orang-orang Kiri yang 
diperalat tiga penyekong Jokowi tersebut]

Agar tak menyatu, partai yang berideologi Islam dibuat bimbang. Para pengamat 
sudah mulai bekerja dengan berbagai argumentasi bahwa poros partai-partai Islam 
sulit untuk diwujudkan. Terutama PKS yang akan dijadikan target kebimbangan 
ini. Mereka tak begitu khawatir dengan PKB, misalnya. Sosok Muhaimin Iskandar 
sudah dikenal sebagai orang pragmatis. Gus Dur saja ia khianati, apalagi umat 
Islam. PAN dan PPP juga hampir serupa. Sementara PBB suaranya tak signifikan. 
Tinggal PKS yang sulit dikendalikan. Apalagi sampai saat ini PKS tak mau 
membicarakan koalisi.

Kalau PKS nantinya akan mendukung Prabowo, maka akan diserang habis-habisan 
sebagai partai yang menyokong pelanggar HAM berat. Ini merupakan sasaran tembak 
yang empuk bagi kalangan PSI untuk menyerang PKS. Semisal PKS mendukung Ical, 
maka akan dihantam sebagai partai yang mendukung partai warisan Orde Baru: 
Golkar. Sementara itu, bila PKS akan membentuk poros partai Islam, akan diadu 
domba dengan sesama partai Islam. Maka diarahkan PKS untuk mendukung Jokowi. 
Dukungan ini penting untuk memperlihatkan bahwa Jokowi yang didukung Amerika 
lewat tiga tangannya tadi mendapatkan legitimasi dari partai Islam yang 
ideologis, yaitu PKS. Maka oponi pun diarahkan dengan berbagai argumentasi agar 
PKS merapat ke Jokowi. Bila jebakan ini berhasil menjerat PKS sehingga kemudian 
mendukung Jokowi dan tak berhasil membangun poros sendiri, maka hanya satu 
kata: wassalam. Satu benteng itu telah runtuh.

Sebagai penutup, dari semua uraian di atas, Jokowi sebetulnya tidak lebih 
hanyalah boneka bunraku. Boneka tersebut dimainkan dalam pertunjukkan sandiwara 
Jepang untuk menghibur kalangan bangsawan. Dan, bangsawan-bangsanwan yang 
terhibur dengan boneka bunraku bernama Jokowi bila kelak menjadi presiden 
adalah: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristen [James 
Riyadi dkk] dan PSI [Goenawan Mohamad dkk]—yang ketiganya merupakan kaki tangan 
ndoro-ndoro di Amerika Serikat sana.

Pertanyaannya: apakah kita akan memilih boneka bunraku untuk memimpin 250 juta 
lebih penduduk Indonesia?***

*] Sebagian bahan tulisan ini diambil dari buku saya: Pater Beek, Freemason dan 
CIA

**] Penulis tinggal di Malang, Jawa Timur.

  a.. [1] Tanter, Richard. 1991. Beek, Father J. van. SJ, Appendix 1 of his 
Intelligence, Agencies and Trid Word Militarization: A Case Study of Indonesia 
[PhD, thesis, MonashUniversity], Australia. 
  b.. [2] Dhakidae, Daniel. 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde 
Baru, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 
  c.. [3] Comboy, Ken. 2007. Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen di Indonesia, 
Pustaka Primata, Jakarta. 
  d.. [4] Mujiburrahman. 2006. Feeling Threatened Muslim-Cristian Relations ini 
Indonesia’s Worder, AmsterdamUniversity Press, Nederland.
Posted by KabarNet pada 21/04/2014

(nahimunkar.com)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3BF3F26B3A3F46228F69D7D0FE3AB6D4%40A10Live.

Reply via email to