Written byI76Thursday, May 26, 2022 10:58

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-rk-lawan-pdip/
Anies-RK Lawan PDIP?
Saat Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) berikan pernyataan mereka terbuka bagi 
kandidat non-partai, sontak atensi tertuju pada Anies Baswedan dan Ridwan Kamil 
(RK). Jika KIB mengusung pasangan ini pada Pilpres 2024 mendatang, maka 
mungkinkah duet Anies-RK ini merupakan senjata untuk melawan PDIP?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Tidak berlebihan jika mengatakan sejarah pemilihan umum (pemilu) dan Pemilihan 
Presiden (Pilpres) 2024 dimulai pada hari Kamis, tepatnya pada tanggal 12 Mei 
2022. Karena di hari itu, tiga partai politik potensial bergabung membentuk 
koalisi.

Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan 
(PPP) menyebut kerja sama politik mereka dengan Koalisi Indonesia Bersatu 
(KIB). Di atas kertas koalisi ini secara kumulatif memperoleh kursi sebesar 
26,82 persen.

Jika disandarkan pada Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan 
Umum, pada Pasal 222 menyebut pasangan calon setidaknya  memenuhi persyaratan 
perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi di DPR atau 
memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu sebelumnya.

Berdasarkan hasil Pemilu 2019, Partai Golkar dapat 85 kursi, PAN 44 kursi, dan 
PPP 19 kursi. Secara akumulasi, perolehan kursi DPR dari KIB sebanyak 148 
kursi. Artinya, koalisi tersebut telah memenuhi salah satu syarat dari 
ketentuan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Pemilu.

Muncul pertanyaan, siapa yang akan diusung oleh koalisi potensial ini? 
Mungkinkah Golkar akan tetap mempertahankan ambisi untuk mengusung ketua 
umumnya, Airlangga Hartarto? Sekiranya cukup bijak jika Golkar mampu 
mengesampingkan ambisi tersebut di tengah koalisi ini.

Bisa jadi Golkar mengurungkan niat untuk mengusung Airlangga karena 
pertimbangan elektabilitas sang Menko Perekonomian  yang masih rendah. Demikian 
juga dengan PAN, apalagi PPP yang sejauh ini belum mempunyai figur dari 
internal partai yang dapat dijadikan kandidat populer.

Zainut Tauhid Sa’adi, Wakil Ketua Umum PPP, mengatakan KIB terbuka untuk 
mengusung capres-cawapres dari kalangan kader partai maupun non-parpol. KIB 
tidak mematok figur tertentu untuk dijadikan capres-cawapres.

Pernyataan PPP merupakan sinyal bahwa KIB terbuka bagi nama-nama tokoh politik 
yang masuk dalam bursa kandidat pilpres, tapi bukan kader partai politik. Sebut 
saja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan 
Kamil (RK) dapat menjadi opsi yang masuk akal untuk diusung koalisi ini.

Tingkat elektabilitas yang konsisten tinggi sejauh ini dalam berbagai survei 
bisa menjadi alasan KIB untuk mempertimbangkan kedua nama ini.

Lantas, seperti apa membaca latar belakang dari kemungkinan-kemungkinan KIB 
membuka pintu untuk Anies dan Ridwan Kamil?


Peluang Kandidat Non Partai 
Rumah Untuk Anies-RK?
Penampakan baliho Anies yang bersanding dengan beberapa tokoh PPP, dikomentari 
positif oleh Waketum PPP Arsul Sani yang mengatakannya sebagai inisiatif kader 
yang tidak dilarang, bahkan perlu diapresiasi. Sebuah tanda dukungan PPP 
terhadap Anies.

Di kesempatan yang lain, Wali Kota Bogor yang juga merupakan Ketua DPP PAN Bima 
Arya telah memberikan sinyal yang jelas terhadap dukungan partainya untuk 
Ridwan Kamil. Kedekatan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Ridwan Kamil juga 
dianggap sebagai faktor dukungan PAN terhadapnya.
Popularitas nama-nama bakal calon presiden dari kalangan non-partai membuat 
sebagian partai politik berinisiatif untuk ikut mendukung mereka. Peristiwa ini 
merupakan cerminan bahwa daya tarik tokoh non-partai tidak lagi dianggap 
sebelah mata.

Karena sebelumnya, pemaknaan tokoh non-partai selalu diberi stigma negatif. 
Mereka dijuluki ”nomadisme politik”, yang dalam pengertian sederhana bukan 
hanya memotret politisi yang selalu berpindah partai, melainkan politisi yang 
tidak mempunyai partai politik. Bahkan peristiwa nomadisme dikaitkan dengan 
lemahnya identitas politik parpol di Indonesia.

Yasraf Amir Piliang dalam tulisannya Nomadisme Politik, mengatakan nomadisme 
yang berkembang dalam politik Indonesia lebih ke arah negatif, yang dicirikan 
oleh sifat-sifat oportunistik, hipokrit, dan egoistik politik. Alasan terbesar 
perpindahan ini lebih didasarkan pada motif kekuasaan.

Padahal, nomadisme sejatinya juga dapat dikembangkan sebagai bentuk pemahaman 
yang positif. Pomadisme bisa dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengkondisikan 
produktivitas, kreativitas, dan dinamisitas budaya politik, kemudian mampu juga 
menggerakkan wacana politik.

Salah satu contohnya ketika masyarakat beranggapan figur non-partai dikesankan 
lebih inklusif. Oleh karena itu, mereka dapat mengikat pemilih lintas partai, 
sedangkan figur dari partai hanya terhubung pada satu partai secara kuat.

Faktor eksternal seperti ideologi parpol yang nyaris seragam, kemudian sistem 
pemilu rumit, dan sikap partai terhadap suatu isu sering inkonsisten 
menyebabkan publik berpikir negatif terhadap eksistensi dari partai politik.

Hal ini yang kemudian menjadi penjelasan kenapa simpati masyarakat lebih besar 
kepada tokoh politik non-partai dibandingkan yang berada dalam partai. Aktor 
non-partai dianggap lebih memperjuangkan kepentingan masyarakat dibanding  
kepentingan partai.

Efriza dalam tulisannya Pragmatisme Politik, mengatakan politik di Indonesia 
menampilkan wajah partai politik yang begitu pragmatis. Indonesia saat ini 
sedang memasuki kedaulatan partai (partycracy) yang berdampak terhadap 
penurunan kepercayaan masyarakat kepada partai politik.

Dengan mengusung Anies dan Ridwan Kamil, sekiranya  ini dapat menjadi titik 
tolak yang positif bagi KIB. Mereka secara tidak langsung dapat meruntuhkan 
paradigma partycracy, sekaligus mendapatkan imbas dukungan dari tokoh 
non-partai yang telah mendapat simpati masyarakat.

Di lain sisi, figur kuat non-parpol juga sangat memahami betul bahwa 
elektabilitas mereka akan sia-sia apabila tidak mendapatkan dukungan formal 
dari parpol. Akan sia-sia elektabilitas tanpa tiket dari parpol saat pencalonan 
pilpres nanti.

Mutualisme politik ini bahkan bisa berdampak lebih banyak bagi KIB. Selain 
elektabilitas tinggi, parpol membutuhkan efek ekor jas dari para figur yang 
akan diusung menjadi capres. Hal itu berkaitan dengan kepentingan parpol dalam 
memenangkan kontestasi Pemilihan Legislatif (Pileg).

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa KIB pada akhirnya harus membuka diri, 
kemudian menjadi rumah politik bagi Anies dan RK untuk dapat meraih tujuan 
politik mereka. Meski demikian, skenario KIB mendukung Anies dan RK punya 
konsekuensi politik, yaitu terbentuknya  koalisi lain sebagai tandingan.
Lantas, seperti apa skenario koalisi tandingan yang paling memungkinkan?


RK Masuk Bursa 
Lawan PDIP?
Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 
(PDIP), mengatakan bahwa KIB terlalu dini terbentuk, sementara Pilpres 2024 
masih jauh. Bahkan menyarankan sebaiknya energi parpol difokuskan pada 
perbaikan dan kemajuan bangsa dan negara pasca pandemi.

Bagi Hasto, PDIP tidak takut ketinggalan kereta didahului partai-partai lain 
yang sudah mulai bergerak untuk Pemilu 2024. Ini sekaligus menggambarkan bahwa 
PDIP rupanya punya jarak dengan KIB, dan mungkin saja PDIP punya skenario lain 
tentang koalisi.

Dari pernyataan Hasto di atas, terlihat bahwa skenario koalisi tandingan 
dimungkinkan terbentuk melalui poros PDIP. Tentunya karena PDIP mempunyai 
kepentingan untuk memenangkan kadernya seperti Puan Maharani sebagai kandidat 
Pilpres 2024.

Dan bisa saja koalisi PDIP ini mampu menggaet Partai Gerindra untuk memasangkan 
Prabowo Subianto dengan Puan. Wacana pasangan ini sudah sejak lama terdengar, 
yang juga akan mempertegas kedekatan PDIP dan Gerindra sudah semakin erat.

Di sisi lain, dengan adanya keberatan PPP terhadap persyaratan Muhaimin 
Iskandar yang menginginkan dirinya dicalonkan jadi capres, ini memberikan 
peluang bagi PKB untuk tetap bersama koalisi PDIP sebagai representasi partai  
berbasis konstituen Islam yang ada dalam poros tersebut.

Lalu bagaimana dengan Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan 
Partai Demokrat? Jika kita cermati, Anies sudah sejak lama mempunyai kedekatan 
dengan NasDem. Kedekatan ini yang bisa diasumsikan bahwa NasDem juga punya 
kemungkinan bergabung dengan KIB.

Lalu  untuk PKS, seperti yang jamak diketahui, PKS diisukan akan konsisten 
mengusung Anies. Jika memang skenario KIB mengusung Anies, maka ada kemungkinan 
PKS juga bergabung.

Sedangkan Partai Demokrat tentunya masih terpenjara dengan konflik lama dengan 
PDIP. Terpenjara dalam konflik ini yang membuat Demokrat mungkin berada pada 
posisi yang sama pada Pilpres 2019, yaitu netral. Tapi akan berbeda jika Agus 
Harimurti Yudhoyono (AHY) berhasill diyakinkan bahwa Partai Demokrat punya 
tempat yang layak dalam KIB nantinya.

Well, dinamika politik yang diawali dari terbentuknya KIB memungkinkan 
imajinasi politik kita meraba skenario yang akan terjadi. Seperti kata 
sejarawan Yuval Noah Harari, kemampuan berimajinasi adalah ciri yang paling 
membedakan manusia dengan spesies lainnya. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B8D0E4FEB9364D4192D95534B6D6395C%40A10Live.

Reply via email to