Written byI76Sunday, May 29, 2022 22:01

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menabung-strategi-jokowi-hadapi-stagflasi/
Menabung, Strategi Jokowi  Hadapi Stagflasi?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghimbau agar masyarakat menabung untuk 
menghadapi kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Kondisi global yang oleh 
sebagain pengamat ekonomi disebut dengan stagflasi. Lantas, apakah menabung 
merupakan strategi jitu Jokowi menghadapi ancaman stagflasi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dalam pidatonya beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) menghimbau 
masyarakat agar tidak royal dan berfoya-foya. Sebaliknya, Jokowi memberi pesan 
agar masyarakat menabung dan hemat. Pesan ini ingin memperlihatkan bahwa 
Indonesia saat ini sedang menghadapi kondisi yang sulit untuk ditebak. Kondisi 
tertentu yang belum diperkirakan sebelumnya, namun bisa jadi datang secara 
tiba-tiba. Oleh karena itu, kondisi tersebut dapat teratasi bila negara dan 
masyarakat memiliki cadangan keuangan yang cukup.

Indonesia memang menghadapi sejumlah kondisi yang belum diperkirakan 
sebelumnya, misalnya pandemi Covid-19 hingga konflik Rusia-Ukraina. Jokowi 
dalam pernyataanya juga mencatat dua peristiwa ini sebagai pemicu 
ketidakstabilan ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Persoalan dinamika politik global mengharuskan setiap negara selalu mencari 
titik perimbangan agar dapat tetap eksis dalam segala bidang, termasuk bidang 
ekonomi. Jokowi mencontohkan sikap penyetopan ekspor Crude Palm Oil (CPO), 
serta produk minyak goreng pada 28 April 2022 adalah imbas dari dinamika global 
ini.

Jokowi mengakui keputusan itu tidak mudah karena berdampak pada banyak sektor, 
di antaranya membebani para petani sawit dan merosotnya pemasukan negara dari 
hasil pajak penjualan sawit. Namun, dia menegaskan keputusan itu harus diambil 
demi kepentingan rakyat.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, mengatakan krisis global di 
atas perlu diantisipasi karena mulai terlihat, dengan adanya lonjakan inflasi 
global dan percepatan pengetatan kebijakan moneter global, khususnya di Amerika 
Serikat (AS).

Sri Mulyani melanjutkan, fenomena stagflasi tengah menghantui banyak negara, 
terutama AS. Lanjutnya, fenomena ini dapat menimbulkan imbas negatif yang luar 
biasa ke seluruh dunia, terutama negara berkembang termasuk Indonesia.

Tingkat inflasi di AS yang sangat tinggi mencapai 8,4 persen menjadi ancaman 
nyata bagi pemulihan ekonomi di negara tersebut, bahkan dunia. Menanggapi 
kondisi tersebut, Bank Sentral AS bahkan mempercepat upaya pengetatan moneter 
di negaranya.

Kondisi inflasi yang tinggi dan percepatan pengetatan kebijakan moneter bisa 
menghasilkan pelemahan ekonomi atau bahkan resesi. Hal itulah yang disebut 
stagflasi, yang saat ini menghantui dunia termasuk Indonesia.

Lantas, bagaimana memahami stagflasi yang diartikan sebagai malapetaka ekonomi 
dunia, yang juga dikhawatirkan akan menghantui Indonesia ini?

 
Stagflasi Hantui Dunia?
Macleod, seorang politisi asal Inggris yang pertama kali memperkenalkan istilah 
stagflasi dalam dunia ekonomi. Sekitar tahun 1060-an, Macleod dalam sebuah 
pidato di parlemen Inggris Raya, menggambarkan kondisi inflasi sekaligus 
stagnasi yang melanda Inggris sebagai situasi yang disebut stagflasi.

Sederhananya, stagflasi tergambarkan jika terjadi inflasi dalam tingkat tinggi 
yang kemudian bertahan pada sebuah periode tertentu. Ciri yang terlihat saat 
itu, yaitu melejitnya harga barang, terhambatnya pertumbuhan ekonomi, serta 
meningkatnya angka pengangguran sehingga berisiko pada berhentinya perputaran 
keuangan.
Nouriel Roubini, profesor ekonomi dari  Stern School of Business New York 
University, memberikan paparan menarik bahwa dunia akan menghadapi badai 
stagflasi berkelanjutan. Ia menekankan bahwa Perang Dingin baru antara AS 
dengan Tiongkok yang akan memicu munculnya efek stagflasi.

Perubahan iklim pun akan mengakselerasi stagflasi. Kekeringan telah merusak 
tanaman, merusak panen, dan menaikkan harga pangan. Sama seperti badai, banjir, 
dan kenaikan permukaan air laut yang juga akan menghambat kegiatan ekonomi.

Bahkan, Chang Shu, seorang analis dari Bloomberg Economics, mengatakan prospek 
ekonomi dunia terlihat suram ketika ekonomi Tiongkok yang diperkirakan tumbuh,  
malah terjadi kelambatan dibandingkan dengan estimasi sebelumnya akibat 
kebijakan lockdown.

Pada saat yang bersamaan, bank-bank berpengaruh di antaranya Bank Sentral AS, 
Selandia Baru, hingga Korea Selatan mulai mengetatkan sejumlah kebijakan 
moneter. Hal ini yang membuat kecemasan pelaku usaha diberbagai bidang semakin 
meningkat.

Kecemasan ini juga terlihat di negara-negara Eropa. Jerman, misalnya, negara 
yang merupakan pusat manufaktur Eropa mengalami penurunan. Kondisi ini 
disebabkan karena optimisme pebisnis yang diprediksi tergerus.

Melonjaknya biaya hidup di tengah krisis energi dan pangan menjadi kekhawatiran 
utama pelaku usaha di negara tersebut. Ini adalah sebuah refleksi dari turunya  
indeks manajer pembelian di Jerman. Apalagi saat ini, Jerman juga berkutat pada 
dinamika pasokan gas yang selama ini mengandalkan Rusia.

Adapun di Inggris, kekhawatiran resesi tak kalah tinggi akibat terbatasnya 
pendapatan yang diterima pekerja serta makin mahalnya biaya hidup. Ini 
dijelaskan oleh Andrew Bailey, Gubernur Bank of England (BOE), yang mengatakan 
ekonomi Inggris berpotensi mengalami apokaliptik akibat melejitnya harga 
makanan di berbagai negara.

Ryan Kiryanto dalam tulisannya Mewaspadai Tekanan Stagflasi Global, mengatakan 
berbagai negara telah melakukan banyak treatment untuk meredakan stagflasi yang 
semakin mengancam. Tentunya Indonesia juga harus melakukan hal yang sama.

Banyak pendapat yang memperkirakan stagflasi akan masuk ke Indonesia melalui 
Tiongkok. Hal ini dikarenakan intensitas ekspor Indonesia yang punya intensitas 
tinggi terhadap negara itu. Hubungan ekonomi ini dipercaya akan memicu efek 
berantai, hingga Indonesia diharuskan mempersiapkan diri juga.

Sebagai contoh, di Tiongkok harga minyak telah menyentuh harga tertinggi dalam 
tiga tahun, yaitu sekitar US$80 per barel. Peristiwa ini menggambarkan krisis 
energi di Tiongkok yang juga mengancam pertumbuhan ekonomi negara yang punya 
kerja sama dengannya.

Pada akhirnya, stagflasi ini menimbulkan kemacetan rantai pasok yang mendorong 
kenaikan harga sejalan dengan penutupan pabrik yang mengguncang ekonomi global. 
Mungkin ini berkaitan dengan pesan Jokowi yang  menghimbau agar rakyat menabung 
dan berhemat.
Lantas, apakah pesan Jokowi ini dapat ditafsirkan sebagai strategi Indonesia 
untuk menghadapi ancaman stagflasi?

 
Bukan Menabung, Tapi Investasi?
Jika ditelisik lebih dalam, pernyataan Jokowi terkait masyarakat seharusnya 
menabung dapat dimaknai sebagai upaya untuk memberikan pengertian kepada 
masyarakat agar bisa membiasakan perilaku hemat. Hal ini bisa jadi pesan untuk 
membentuk kondisi masyarakat yang disebut dengan saving society.

Tapi bukankah hal itu bertolak belakang?

Dalam kondisi ekonomi yang kemungkinan akan terjadi stagflasi, masyarakat 
seharusnya mampu menggerakkan ekonomi sebagai upaya keluar dari ancaman itu.

Dan upaya untuk menggerakkan ekonomi harusnya dengan cara melakukan investasi. 
Cara pandang investasi yang dibiasakan dalam masyarakat ini, secara sederhana 
dapat disebut dengan investment society.

Laura Barros dalam tulisannya Spending or saving? Female empowerment and 
financial decisions in a matrilineal society, menggambarkan budaya spending 
yang diterjemahkan sebagai upaya investasi yang dilakukan oleh para ibu rumah 
tangga di Inggris, yang mampu menggerakkan ekonomi dan mempunyai keuntungan 
jangka panjang.

Penelitian Laura ini dapat diartikan sebagai upaya untuk mengantisipasi krisis 
keuangan. Saran memilih spending atau investasi dibanding menabung sebenarnya 
untuk membiasakan agar terbentuknya mindset seorang investor.

Mindset ini dianggap mampu memahami konsep yang disebut time value of money 
atau adanya inflasi yang akan menggerus nilai uang. Jika memilih untuk 
berinvestasi dibandingkan menabung, maka kita akan membuat peluang  agar 
terbebas  dari kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Dalam konteks negara, maka investasi akan mendorong masyarakat dapat membentuk 
iklim modal usaha yang positif dan menggerakkan ekonomi domestik. Perusahaan 
yang ingin melakukan ekspansi karena mendapatkan akses funding yang lebih masif 
dan luas, harus dibarengi dengan kondisi masyarakat yang juga terbuka untuk 
investasi.

Dengan adanya shifting dari saving society menuju investment society akan 
meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena meratanya distribusi pendapatan.

Pada titik ini, kebijakan saving society yang dimulai dengan gerakan menabung, 
akan ditantang oleh investment society. Budaya ekonomi masyarakat berinvestasi 
yang diyakini mampu menjadi pilihan jitu untuk menembus badai stagflasi yang 
mengancam bangsa kita. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8838275BD676464F996A99499D11BC96%40A10Live.

Reply via email to