Presiden Xi Jinping Gelar Pembicaraan via Telepon dengan Presiden UEA
2022-06-01 11:28:01  
https://indonesian.cri.cn/2022/06/01/ARTIYdqc4M9PLrpnNflM0BBa220601.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.8

Presiden Tiongkok Xi Jinping mengadakan kontak telepon dengan Presiden Uni 
Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan pada hari Selasa kemarin sore 
(31/5).

Xi Jinping mengatakan, Tiongkok dengan teguh mendukung UEA memelihara 
kedaulatan, keamanan dan kestabilan negara, mendukung UEA secara mandiri 
menjajaki jalan pembangunan yang sesuai dengan keadaan negerinya, bersedia 
bersama UEA saling mendukung kepentingan utama masing-masing negara, memelihara 
patokan pokok hubungan internasional, serta memelihara kepentingan bersama 
negara-negara berkembang yang luas. 

Tiongkok akan meningkatkan kerja sama penanggulangan pandemi dengan UEA, 
meningkatkan sinergi antara Inisiatif Sabuk dan Jalan dengan strategi 
pembangunan UEA guna mendorong kerja sama bilateral berkembang secara mendalam. 
Kedua pihak hendaknya mempererat pertukaran sosbud dan memperdalam hubungan 
antar masyarakat. 

Tiongkok bersedia berupaya bersama UEA memperdalam komunikasi seputar isu 
internasional dan regional, meningkatkan kolaborasi mengenai Prakarsa 
Pembangunan Global dan Prakarsa Keamanan Global, memelihara perdamaian dan 
kestabilan kawasan Timur Tengah, mendorong tata kelola global berkembang ke 
arah yang lebih adil dan rasional, dalam rangka memberikan sumbangan positif 
demi perdamaian abadi dan pembangunan jangka panjang dunia.

Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan menyatakan, UEA dan 
Tiongkok telah melakukan kerja sama yang berhasil di banyak bidang termasuk 
perlawanan pandemi COVID-19. Ia mengatakan sangat menyayangi persahabatan dan 
persaudaraan mendalam yang terjalin dengan Presiden Xi Jinping, akan berupaya 
semaksimal mungkin mendorong hubungan kedua negara terus berkembang. 

Mohammed bin Zayed Al Nahyan menegaskan kembali, baik di masa lalu, sekarang 
maupun kelak, UEA selalu dengan teguh berdiri di satu sisi dengan Tiongkok. Ia 
menyatakan yakin, melalui upaya kedua belah pihak,  hubungan kemitraan 
strategis komprehensif UEA-Tiongkok pasti akan menyongsong masa depan yang 
lebih indah dan menyejahterakan rakyat kedua negara.



Kemenlu Kecam Kembali Pidato Kebijakan AS terhadap Tiongkok
2022-06-01 11:24:08  
https://indonesian.cri.cn/2022/06/01/ARTI3cFcyLfNVKxtIFWaOtzr220601.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.9Dalam
 jumpa pers hari Selasa kemarin (31/5) jubir Kemenlu Tiongkok Zhao Lijian 
mengecam kembali pidato kebijakan yang disampaikan Menlu AS Antony Blinken 
terhadap Tiongkok, menasihati agar pihak AS dengan sungguh-sungguh dan tepat 
memandang kekurangannya sendiri di bidang HAM, menghentikan tindakannya yang 
menggurui dan mengelola negaranya sendiri dengan baik.

Mengenai pidato Blinken yang mencoreng Tiongkok dengan masalah Xinjiang, Xizang 
(Tibet) dan Hong Kong, Zhao Lijian menunjukkan, “Menteri Luar Negeri Antony 
Blinken dalam pidatonya terkait kebijakan terhadap Tiongkok memfitnah bahwa di 
Xinjiang terdapat apa yang disebut sebagai ‘genosida ras’ ,‘kejahatan anti 
manusia’, dan ‘kamp penahanan’, hal ini sepenuhnya adalah sebuah kebohongan 
abad, Tiongkok telah berkali-kali membuktikan kebenaran dengan realitas. 

Sejak Xizang dibebaskan secara damai pada 70 tahun yang lalu, ekonominya 
makmur, masyarakatnya harmonis, usaha keagamaan dan kebudayaannya berkembang 
dengan pesat. 

Sejak Undang-Undang Keamanan Negara Hong Kong diberlakukan, pemandangan indah 
yang dikatakan oleh politikus tertentu AS telah menjadi sejarah. 

Rumor dan kebohongan yang disebarluaskan berkali-kali oleh AS telah dihancurkan 
oleh realitas. Politikus AS yang selalu mengulangi kebohongannya termasuk 
genosida ras, semakin mengungkapkan hegemoni dan kemunafikannya, semakin 
merusak nama dan citranya, dan semakin menimbulkan kemarahan rakyat Tiongkok 
terhadap tindakan AS.”

Zhao Lijian menunjukkan, AS ingin menimpakan kesalahan kepada Tiongkok, tapi 
ini justru adalah kejahatan dan tindakan buruk yang sulit dibersihkannya. 

AS hendaknya dengan sungguh-sungguh menghormati kedaulatan, keamanan dan 
kepentingan pembangunan Tiongkok, berhenti membuat berbagai macam kebohongan 
dan rumor yang memfitnah Tiongkok, dan berhenti melakukan intervensi terhadap 
urusan dalam negeri Tiongkok dengan apa yang disebut masalah HAM.

Suku Indian AS mengalami sejarah genosida ras dan kejahatan anti manusia, dan 
sejauh ini mereka masih tinggal di tanah khusus reservasi. Warga AS keturunan 
Afrika yang dahulu mengalami ‘kerja paksa’ di kebun kapas, saat ini masih 
‘tidak dapat bernafas’. ‘I Have A Dream’ yang disampaikan oleh Martin Luther 
King masih menjadi impian yang tak dapat terwujudkan. Selain itu, pemerintah AS 
yang tidak mengambil tindakan dan gagal dalam perlawanan wabah telah 
mengorbankan jutaan jiwa rakyat, peristiwa-peristiwa tembakan setiap hari 
rata-rata telah menewaskan 110 jiwa. Peristiwa-peristiwa tembakan tersebut 
tidak saja menghancurkan apa yang disebut sebagai Impian AS, tapi juga hati 
rakyat AS. AS yang dengan semau-maunya melancarkan perang mengakibatkan 800 
ribu orang di Irak, Suriah, Libya dan Afghanistan tewas, serta membuat 20 juta 
orang menjadi pengungsi. Dari mana keberanian pejabat-pejabat AS menuding dan 
mengecam Tiongkok?



-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3EA3820CE44C41B3A80C342F310A0701%40A10Live.

Reply via email to