BERBASIS KEARIFAN LOKAL NIH…! 
China dan Rusia Kerjasama Promosikan Demokrasi Sejati 
Melawan Monopoli Kegagalan Demokrasi AS 
ByTim Redaksi
https://bergelora.com/berbasis-kearifan-lokal-nih-china-dan-rusia-kerjasama-promosikan-demokrasi-sejati-melawan-monopoli-kegagalan-demokrasi-as/

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden RRC Xi Jinping. (Ist)
JAKARTA – Demokrasi barat yang selama ini dipromosikan Amerika Serikat telah 
gagal dan merugikan negara-negara yang menerapkannya. Demokrasi barat yang 
selama ini hanya berdasarkan kebebasan hanya menguntungkan pihak pemilik modal 
kuat menguasai negara dan merusak ekonomi diberbagai negara. Padahal masyarakat 
disetiap negara memiliki demokrasi yang berbasiskan kearifan loka (local 
wisdon) untuk kepentingan rakyatnya sendiri, bukan segelintir pemilik modal 
yang menguasai negara.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi hari Rabu, (1/6/2022) mengatakan, Beijing 
akan bekerja sama dengan Moskow untuk mempromosikan “Demokrasi Sejati” 
berdasarkan kondisi negara masing-masing, seraya menegaskan kembali eratnya 
hubungan China dan Rusia, seperti dilaporkan Bloomberg, Kamis, (2/6/2022).

“China bersedia bekerja sama dengan Rusia dan masyarakat dunia untuk 
mempromosikan demokrasi sejati berdasarkan kondisi masing-masing negara,” kata 
Wang Yi hari Rabu, (1/6/2022) melalui tautan video pada pertemuan puncak think 
tank China-Rusia, menurut sebuah pernyataan pemerintah China.

Acara tersebut dihadiri oleh timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov.

Wang menambahkan “memonopoli” definisi demokrasi dan hak asasi manusia untuk 
mempengaruhi negara lain adalah taktik yang “ditakdirkan untuk gagal,” dalam 
gesekan terselubung di Amerika Serikat, yang memotori paduan suara kecaman 
banyak negara di dunia terhadap serangan Rusia ke Ukraina.

Sejak itu, Beijing berusaha menggambarkan dirinya netral, mengeluarkan 
pernyataan yang mendukung kedaulatan Ukraina dan mengungkapkan keprihatinan 
tentang korban sipil, sambil mendukung Presiden Vladimir Putin di PBB dan 
menyalahkan Amerika Serikat karena memprovokasi perang dengan cara mendorong 
perluasan Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO ke Eropa Timur hingga ke 
Ukraina, di depan pintu Rusia.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan Presiden China Xi Jinping menyatakan 
persahabatan “tanpa batas” China dengan Rusia saat Putin berada di Beijing 
sebelum serangan ke Ukraina dan belum berbicara dengan pemimpin Ukraina 
Volodymyr Zelensky sejak perang dimulai.

Tanpa merujuk kampanye militer Putin yang sedang berlangsung, Wang mengatakan 
China dan Rusia harus “terus memberikan kontribusi penting” bagi pemerintahan 
global sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Keamanan global dan regional tidak boleh dicapai melalui “penguatan kelompok 
militer” dan “pemecahan rantai pasokan,” tambahnya dalam referensi yang jelas 
untuk ekspansi NATO ke arah timur dan sanksi yang dikenakan oleh Barat terhadap 
Rusia sejak serangan bulan Februari.

“China dan Rusia harus terus bergandengan tangan dengan negara-negara yang 
cinta damai di dunia untuk menjaga tatanan global dengan PBB sebagai intinya 
dan berdasarkan hukum internasional,” tambah Wang.

Kegagalan ‘Demokrasi Pancasila’

Indonesia memiliki demokrasi Pancasila yang sejatinya berlandaskan pada 
kepentingan rakyat yang sudah diperintahkan dalam pembukaan (Perambule) UUD’ 45 
dan pelaksaanannya diatur dalam batang tubuh UUD’45 yang asli.

Namun, selama Orde Baru, rezim diktaktor militer Soeharto telah mengambil 
manfaat sejak kudeta militer terhadap Presiden RI yang sah Soekarno dan 
berkuasa sejak 1965-1998.

Setelah kejatuhan Orde Baru 1998, lewat IMF dan World Bank berhasil menunggangi 
DPR dan MPR RI, melakukan amandemen dengan mengubah batang tubuh UUD’45 dengan 
menjiplak konsititusi dan demokrasi Amerika Seikat menjadi UUD Amandemen yang 
sudah bertentangan dengan Demokrasi Pancasila yang diperintahkan oleh Preambule 
UUD’45yang berlaku sampai saat ini merugikan mayoritas rakyat, bangsa dan 
negara Indonesia. Seluruh kehidupan berbangsa dikuasai oleh para pemilik modal 
kaki tangan Amerika Serikat.

Hingga saat ini perjuangan kembali ke UUD’45 belum berhasil dilakukan karena 
dihambat kepentingan pemilik modal barat dan kaki tangannya.

Sementara i’Demokrasi Pancasila’ di Indonesia diselewenkan, Rusia dan China 
telah berhasil memajukan bangsa negara dan rakyatnya dengan menggunakan 
demokrasi sejatinya yang berbasiskan kearifan lokal masing-masing negara.

Namun demikian, mayoritas rakyat Indonesia masih tetap berharap Demokrasi 
Pancasila kelak akan kembali membawa Indonesia menuju masyarakat adil dan 
makmur seperti yang dicita-citakan dalam Kemerdekaan Indonesia 1945. (Web 
Warouw)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E1136F186A714BE6A88710C38D1F156E%40A10Live.

Reply via email to