Jika Tiongkok ‘Kuasai’ Seluruh AsiaWritten byA43Friday, June 3, 2022 18:30

https://www.pinterpolitik.com/cross-border/jika-tiongkok-kuasai-seluruh-asia/
Dalam pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno 
Marsudi, Menlu Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Wang Yi menyebutkan bahwa kini 
adalah saatnya bagi “momen Asia”. Ungkapan itu mencuat setelah Amerika Serikat 
(AS) dan negara-negara Barat lainnya disebut berusaha mempengaruhi agenda KTT 
G20 2022 – yang mana Indonesia menjadi tuan rumah.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Saya telah menunggu Anda. Di Jawa, ada legenda mengatakan bahwa orang kuning 
akan datang dari timur untuk membebaskan orang Jawa dari orang kulit putih dan 
melepaskan mereka dari penderitaan” – potongan percakapan dalam Merdeka 17805 
(2001)

Pada tahun 2001, terdapat sebuah kerja sama pembuatan film antara dua rumah 
produksi yang masing-masing berasal dari Indonesia dan Jepang. Film berjudul 
Merdeka 17805 (2001) – atau ムルデカ 17805 dalam Bahasa Jepang – yang diproduksi 
oleh Rapi Films dan Toho Co. menuai kontroversi di Indonesia.

Sebenarnya, hampir sama dengan film perang pada umumnya, Merdeka 17805 (2001) 
menceritakan potongan peristiwa-peristiwa sejarah atas sebuah bangsa atau 
negara – khususnya kala pasukan Kekaisaran Jepang datang mengusir pemerintah 
Hindia Belanda.

Namun, tema dalam film itu ternyata dipersoalkan. Apalagi, terdapat satu 
potongan adegan yang menunjukkan seorang perempuan tua yang mebungkung di 
hadapan pasukan Jepang – sembari mengatakan bahwa kedatangan Jepang telah 
ditunggu-tunggu karena telah diramal oleh Prabu Jayabaya akan membebaskan 
Indonesia dari belenggu orang-orang kulit putih.

Sontak saja, film ini akhirnya dilarang oleh pemerintah untuk ditayangkan di 
bioskop-bioskop Indonesia. Alasan utamanya adalah adegan tersebut – dinilai 
membuat bangsa Indonesia terlihat lebih inferior.

Meski hanya satu adegan yang dipersoalkan, alur cerita dalam film tersebut 
setidaknya memiliki satu tema, yakni peran Kekaisaran Jepang dalam mengusir 
bangsa Eropa dari Asia. Bahkan, film ini dituding memiliki pesan bernada 
propaganda.

Gagasan seperti ini tampaknya juga mulai muncul dalam arah politik luar negeri 
dari sebuah negara di masa kin, yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dalam 
sebuah komunikasi via telepon dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno 
Marsudi, Menlu Tiongkok Wang Yi menyebutkan bahwa saat ini adalah “momen Asia”.

Istilah itu keluar karena Tiongkok menganggap Amerika Serikat (AS) dan 
negara-negara Barat terlalu memaksa Indonesia untuk memasukkan agenda selain 
agenda ekonomi dalam KTT G20 2022 yang akan dilaksanakan di Bali, yakni isu 
terkait konflik antara Rusia dan Ukraina.

 
Namun, bukan tidak mungkin, narasi soal ke-Asia-an ini tidak tiba-tiba muncul. 
Dalam pertemuan Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in 
Asia (CICA) pada tahun 2014 silam, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengatakan 
bahwa ini adalah saatnya untuk Asia menentukan nasib sendiri bagi negara-negara 
Asia – menjadi semacam pernyataan bernada Pan-Asianisme.

Kebangkitan Tiongkok dan narasi ke-Asia-an ini pun bukan tidak mungkin 
memunculkan sejumlah pertanyaan. Apa sebenarnya makna dari Pan-Asianisme? 
Lantas, mengapa Tiongkok seakan-akan mendorong identitas ke-Asia-an di panggung 
politik internasional ini?

Pan-Asianisme Baru ala Tiongkok?
Identitas mengenai rasa ke-Asia-an ini bukan sekali ini saja muncul. Bahkan, 
identitas dan narasi Pan-Asianisme ini telah muncul sekitar abad ke-19 di 
sejumlah negara.

Tentunya, kemunculan Pan-Asianisme pada pertengahan abad ke-19 tidak begitu 
saja terjadi. Terdapat peristiwa-peristiwa sejarah yang menjadi pemicu terhadap 
meningkatnya rasa identitas dan solidaritas ke-Asia-an.

Mengacu pada tulisan Christopher W. A. Szpilman dan Sven Saaler yang berjudul 
Pan-Asianism as an Ideal of Asian Identity and Solidarity, 1850-Present, 
bangsa-bangsa Asia mulai menganggap bangsa Barat sebagai ancaman pada tahun 
1839-1842, yakni kala Perang Opium meletus di pesisir Tiongkok. Dalam perang 
itu, Tiongkok harus menerima kekalahan setelah dihantam oleh bangsa-bangsa 
Eropa.

Meski terdapat banyak versi dari gagasan Pan-Asianisme, sebagian besar berpusar 
pada narasi the West (Barat) vs. the Orient (Timur). The Orient dalam hal ini 
adalah kebudayaan-kebudayaan berada dalam lingkaran pengaruh bangsa Tiongkok – 
seperti Jepang dan Korea.

Tidak mengherankan apabila akhirnya gelombang Pan-Asianisme ini banyak 
bermunculan di negara-negara Asia Timur – termasuk Asia Tenggara. Pada Perang 
Dunia II, misalnya, gagasan semacam ini diusung oleh Kekaisaran Jepang.

Pada akhir abad ke-20, gelombang pan-Asianisme ini kembali tumbuh di sejumlah 
negara Asia Tenggara – seperti Malaysia dan Singapura. Pemimpin-pemimpin 
seperti Mahathir Mohamad dan Lee Kuan Yew mengusung gagasan bahwa masyarakat 
Asia memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan Barat.

 
Pada akhirnya, sepanjang sejarah, gagasan-gagasan Pan-Asianisme ini selalu 
berpusar narasi anti-Barat – baik kala Perang Opium meletus, Kekaisaran Jepang 
dalam Perang Dunia II, maupun nilai-nilai Asia ala Mahathir-Lee. Bukan tidak 
mungkin, semangat Pan-Asianisme inilah yang kembali dipromosikan oleh Xi 
Jinping dari Tiongkok.

Kala AS dan negara-negara Barat menekan Indonesia dalam persoalan KTT G20 2022, 
misalnya, istilah “momen Asia” boleh jadi memunculkan narasi Us vs. Them antara 
negara-negara Asia dan negara-negara Barat. Apalagi, negara-negara Asia 
Tenggara disebut sudah mulai risau dengan sikap AS yang dianggap mulai memaksa 
mereka untuk memilih pihak.

Sebagai negara penantang AS, Tiongkok bisa tampil menjadi pemimpin (leader) di 
kawasan Asia – khususnya Asia Timur. Bila ini terjadi, Xi Jinping bukan tidak 
mungkin membutuhkan kerangka organisasi untuk mengatur struktur keamanan dan 
ekonomi regional.

Lantas, bila semangat Pan-Asianisme ini berlanjut menjadi semangat 
regionalisasi di Asia – katakanlah muncul Asian Union (Uni Asia) layaknya Uni 
Eropa (UE), apakah yang akan terjadi terhadap situasi geopolitik Asia? 
Mungknikah Uni Asia muncul sebagai kawasan terkuat – bahkan mengalahkan AS?

Andai Seluruh Asia Bersatu
Bagaimana jadinya bila Uni Asia ini muncul layaknya UE? Pertanyaan inilah yang 
mungkin menimbulkan angan-angan tersendiri bagi banyak pihak.

Pasalnya, kawasan Asia bisa dibilang menjadi kawasan yang vital bagi ekonomi, 
keamanan, dan politik secara global. Apalagi, kawasan Indo-Pasifik kini menjadi 
fokus utama geopolitik – di mana banyak negara emerging seperti Tiongkok, 
India, dan Indonesia berada.
Setidaknya, terdapat sejumlah keuntungan bila skenario Uni Asia ini benar-benar 
terjadi. Pertama, Uni Asia bakal menjadi kawasan dengan aktivitas ekonomi 
terbesar di dunia.

Asia sendiri merupakan kawasan dengan ekonomi yang paling besar dan tercepat 
dalam pertumbuhan secara regional. Berdasarkan data dari International Monetary 
Fund (IMF) pada tahun 2019, nilai produk domestik bruto (PDB) kawasan Asia 
mencapai hingga USD31,58 triliun (atau sekitar Rp450.000 triliun).

 
Dengan potensi ekonomi sebesar itu, Uni Asia bisa melebihi kekuatan ekonomi AS 
maupun UE. Bukan tidak mungkin, inilah mengapa ASEAN dan negara-negara Asia 
seperti Tiongkok dan Jepang – memperkuat kerja sama ekonomi dan dagang di 
kawasan Asia-Pasifik.

Kedua, secara populasi, kawasan Asia juga memiliki jumlah populasi terbesar di 
dunia secara kawasan. Berdasarkan estimasi Worldometer, jumlah populasi kawasan 
ini mencapai 4,7 miliar orang (59,76 persen populasi dunia) dengan usia 
rata-rata 32 tahun.

Populasi tentu menjadi faktor penting dalam menentukan kekuatan entitas politik 
internasional. Mengacu pada tulisan Nicholas Eberstadt yang berjudul Demography 
and International Relations, semakin besar populasi sebuah negara, semakin 
besar juga sumber (resources) yang dimiliki oleh negara tersebut untuk membuat 
kebijakan luar negeri.

Ketiga, dengan adanya regionalisasi melalui sebuah kerangka organisasi, 
integrasi juga akan semakin menghubungkan antar-negara, baik secara sosial 
maupun ekonomi. Perpindahan antar-warga Uni Asia akan semakin gencar dengan 
kerangka bebas visa semacam Schengen ala UE.

Perpindahan manusia dan peningkatan interconnectedness antar-negara juga akan 
secara tidak langsung menguntungkan negara-negara yang masih berkembang seperti 
Indonesia – membuat negara-negara ini mendapatkan pengetahuan dan teknologi 
yang lebih mutakhir melalui kerangka transfer teknologi.

Meski Uni Asia nantinya akan memiliki tiga kelebihan tersebut, bukan tidak 
mungkin terwujudnya regionalisasi di seluruh kawasan Asia akan mudah. Secara 
politik dan budaya, tidak semua negara Asia mengakui Tiongkok sebagai pusat 
pusaran pengaruh utama.

Negara-negara Asia Tenggara sendiri, misalnya, memiliki pandangan yang 
berbeda-beda terhadap kebangkitan Tiongkok. Kala negara-negara kontinental 
seperti Kamboja memiliki hubungan dekat dengan Tiongkok, negara-negara maritim 
seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki pandangan yang lebih 
negatif terhadap manuver Tiongkok di Laut China Selatan (LCS).

Pada ujungnya, Uni Asia bisa jadi blessing (berkah) sekaligus curse (kutukan). 
Siapa tahu realitas ini bisa saja terjadi di masa depan – di mana AS tidak lagi 
memiliki pengaruh yang kuat di kawasan Asia? Who knows? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C81A7370C87E423CA685B2646992973B%40A10Live.

Reply via email to