Empat Puluh Tahun Mencari Tan MalakaSejarawan Belanda ini kepincut menelusuri 
riwayat hidup Tan Malaka. Separuh lebih umurnya digunakan untuk meneliti 
pejuang revolusioner Indonesia itu.
Oleh Bonnie Triyana | 10 Sep 2014
https://historia.id/politik/articles/empat-puluh-tahun-mencari-tan-malaka-6a1M6/page/1?fbclid=IwAR2Re-KiE3BW1SQ11WT71lJx2jarrDnrNOmcEYVQNtyqO5EVk0PBagLfpwg
   

 Harry A. Poeze dan istrinya, Henny Poeze. (Bonnie Triyana/Historia).
Sebuah foto kuno suasana Hindia Belanda berukuran besar terpajang di lorong 
pintu masuk rumah yang terletak di wilayah Castricum, utara Belanda. Begitu 
masuk ke dalam ruangan tamu, tamu disambut ribuan buku tersusun rapi dalam rak 
yang berdiri menempel pada tembok.

“Semua buku di sini berbahasa Belanda, tentang sejarah, politik dan sastra. 
Kalau tentang Indonesia ada di lantai dua,” kata Harry A. Poeze, empunya rumah 
yang telah ditempatinya sejak periode 1970-an itu. 


Harry Poeze identik dengan sosok Tan Malaka. Dialah sejarawan Belanda yang 
paling menguasai kisah hidup aktivis politik revolusioner dalam sejarah 
Indonesia itu. Namun di balik ramainya diskusi Tan Malaka akhir-akhir ini, tak 
banyak yang mengetahui kisah hidup Harry Poeze.

Perjumpaan Harry dengan Tan Malaka bermula semenjak dia mahasiswa jurusan ilmu 
politik di Universitas Amsterdam. Saat itu Harry mengikuti kuliah sejarah 
Indonesia yang diampu oleh Profesor Wim Wertheim, salah satu sosiolog dan ahli 
Indonesia yang sangat terkenal. Persentuhannya dengan sejarah Indonesia 
membuatnya tertarik untuk membaca buku Kemunculan Komunisme Indonesia karya 
Ruth T. McVey.

[X]                                                     600p geselecteerd als 
afspeelkwaliteit× powered by AdSparc
BACA JUGA: 
Ruth T. McVey tentang Kemunculan Komunisme di Indonesia

“Saya tertarik dengan Tan Malaka saat saya mahasiswa ikut mata kuliah Sejarah 
Indonesia dan saya harus menulis skripsi mengenai sejarah Indonesia. Saya baca 
sejumlah buku mengenai sejarah perlawanan Indonesia terhadap imperialisme 
Belanda dan seringkali temukan nama Tan Malaka, tapi disebut riwayat hidupnya 
penuh teka-teki dan belum diketahui,” ujar Harry yang diterima masuk di 
Universiteit van Amsterdam pada 1964.

LIHAT JUGA:

  
Seni dan Politik : Riwayat Sudjojono dan Karya-Karyanya - Dialog Sejarah | 
HISTORIA.ID



Mulai saat itulah Harry menekuni sosok Tan Malaka untuk skripsi sarjananya dan 
berhasil diselesaikan pada 1972. Dalam skripsinya itu Harry memokuskan kisah 
Tan Malaka semasa hidup di Belanda mulai 1913-1919 dan saat Tan Malaka 
diasingkan kembali dari Indonesia ke Belanda pada 1922. Skripsinya kemudian 
diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1988 oleh Penerbit 
Grafiti Pers, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik1897-1925.

Selesai menulis skripsi, Harry tak berhenti mencari tahu siapa Tan Malaka. Dia 
melanjutkan lagi penelusuran riwayat hidup Tan Malaka untuk disertasi doktornya 
di universitas yang sama. Selama empat tahun (1972-1976), Harry menelisik ke 
masa lalu kehidupan Tan Malaka sampai dengan periode kemerdekaan 1945. Pada 
1999 penerbit Grafiti Pers menerbitkan buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju 
Republik 1925-1945 yang naskahnya diterjemahkan dari disertasi Harry.

BACA JUGA: 
Peter Carey dan Takdir Menemukan Diponegoro

Pencarian tentang siapa Tan Malaka membawanya berkeliling ke banyak negeri, 
mulai Jerman, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Filipina sampai 
Indonesia. Tan memang seorang aktivis politik dengan rekam jejak internasional. 
Pekerjaannya sebagai perwakilan Komintern untuk Asia (organisasi komunisme 
internasional) mengharuskannya berkeliling ke berbagai negeri, membantu 
mengorganisasi perlawanan rakyat terhadap imperialisme dan kolonialisme.

Hasil dari riset selama 40 tahun lebih itu, selain tentu saja buku biografi Tan 
Malaka sepanjang 3000 halaman yang tahun kemarin baru diluncurkan, adalah 
bertumpuk dokumen arsip-arsip Tan Malaka. Salah satu koleksi yang diperoleh 
Harry berasal dari arsip Komintern di Moskow, Rusia. Berkat ketekunannya, Harry 
berhasil memecahkan beberapa kode rahasia yang kerap digunakan Tan Malaka saat 
berkorespondensi dengan kawan-kawan seperjuangannya.

Banyak surat-surat pribadi Tan Malaka yang berhasil Harry dapatkan. Beberapa di 
antaranya adalah surat-surat Tan Malaka ke Komintern dengan menggunakan 
berbagai macam bahasa. “Tan Malaka pandai berbahasa Belanda, Inggris, Jerman, 
Cina dan banyak lagi bahasa,” kata Harry.

BACA JUGA: 
Ben Anderson, Pakar Asia Tenggara Penutur Banyak Bahasa

Kunjungan Harry untuk meneliti Tan Malaka ke Indonesia baru dilakukan pada 
1980. Dalam kesempatan itu, Harry menemui banyak kawan dan lawan politik Tan 
Malaka untuk diwawancarai. Sampai hari ini hubungan Harry dengan keluarga besar 
Tan Malaka terjalin dengan sangat baik. 


Selain dikenal sebagai sejarawan, tak banyak orang tahu kalau Harry pernah 
berkarier sebagai politikus. Setahun sebelum Harry merampungkan kuliah 
sarjananya, dia terpilih sebagai anggota dewan kota Castricum dari Partai Buruh 
(Partij voor de Arbeid, PVDA). Selama 11 tahun (1971–1982) pria kelahiran 
Loppersum, 20 Oktober 1947 itu mengabdikan dirinya sebagai politikus di dewan 
kota Castricum, termasuk sebagai wethouder atau asisten walikota Castrium.

BACA JUGA: 
Asvi Warman Adam tentang Setengah Abad Historiografi G30S

“Saya memang anggota Partij van de Arbeid sejak 1965. Ideologi saya 
sosial-demokrat, cocok dengan pendapat politik saya, sosialisme dengan 
demokrasi. Saya selalu menentang fanatisme dan ideologi yang absolut,” ujar 
ayah dua anak itu. 

Kekaguman dan keseriusannya menekuni riwayat hidup Tan Malaka mendorong Harry 
untuk memecahkan misteri kematian tokoh berjuluk bapak republik itu. Jerih 
payahnya berbuah manis. Pada 2007, dia berhasil menemukan lokasi yang 
diperkirakan jadi kuburan Tan Malaka.

Harry pun sukses mengungkap kisah hari-hari terakhir Tan Malaka sebelum dia 
dieksekusi mati. Sejumlah nama pelaku eksekusi dan pemberi perintah pembunuhan 
sudah dikantonginya. Salah satunya adalah Brigjen. Soekotjo, yang pernah 
menjabat sebagai walikota Surabaya di era Orde Baru.

BACA JUGA: 
Onghokham, Sejarawan yang Doyan Makan

Didorong rasa ingin tahu yang tinggi, Harry pun bergerak menemui berbagai pihak 
agar jenazah Tan Malaka yang dikubur di Selopanggung, Kediri itu digali untuk 
dites DNA. Sejak 2009 upaya untuk mengindentifikasi DNA Tan Malaka telah 
dilakukan oleh tim dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hasilnya memang tak sempurna karena kondisi jasad yang sudah terlalu rusak. 
Namun berbagai petunjuk yang memperkuat dugaan bahwa pria yang terkubur di sana 
adalah jasad Tan Malaka cukup jelas, semisal posisi tangan yang terikat ke 
belakang dan berbagai kesaksian yang berhasil Harry peroleh.

Harry berharap pemerintah Indonesia bersedia untuk memakamkan kembali jasad Tan 
Malaka secara layak di makam pahlawan. “Saya masih menunggu (keputusan) 
pemakaman kembali Tan Malaka di Kalibata, sebagai puncak dari riset saya selama 
lebih dari 40 tahun,” pungkas Harry menyimpan harap.



-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2AEE9141863D476BA5A537B6EDD77DCE%40A10Live.

Reply via email to