*Kalau sumber ”segalanya”, bisa diinterpertasi aneka warna. Said Agil
Husein al-Munawar ini pernah ditangkap, karena kasus korupsi. Beliau pernah
menyatakan bahwa di gunung Batutulis  ada harta karum terpendam. Selain
itu, sesuai berita bahwa waktu di Arab Saudi, di airport beliau bisa
meliwatkan orang melalui imigrasi tanpa diperiksa.  Beliau adalah dosen
ilmu tafsir di uniersitas Hidayatulah  Jakarta  *


https://suaraislam.id/mantan-menag-al-quran-adalah-sumber-segalanya/



*Mantan Menag: Al-Qur’an adalah * *Sumber Segalanya*

05 Juni 2022

*Jakarta (SI Online) *– Kitab suci Al-Qur’an adalah sumber ilmu
pengetahuan, tuntunan kehidupan, dan petunjuk yang mencerahkan sebagai
karya agung Tuhan yang menjadi rahmat dan wasilah kepada seluruh umat
manusia.

Renungan Qu’rani itu disampaikan oleh Menteri Agama RI Periode 2001-2004
Prof. KH Said Agil Husain al-Munawar dalam kajian “Al-Qur’an sebagai Sumber
Literasi” dalam rangkaian dari acara Halal Bi Halal dan Focus Group
Discussion (FGP) Lembaga Pentasih Buku dan Konten Keislaman (LPBKI) Majelis
Ulama Indonesia, Kamis (02/06/2022) lalu.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu menyampaikan, Al-Qur’an adalah
sumber segalanya. Hal itu bisa dilihat bagaimana Al-Qur’an dengan
sendirinya memperkenalkan melalui ayat-ayat dengan beragam redaksi dan
bahasa.

Seperti disebutkan dalam berbagai ayat, Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
orang mukmin (*hudan*, al-Baqarah), sebagai dalil (*burhan*, an-Nisaa),
sebagai cahaya (*nurun*, al-Maidah), sebagai kitab yang sarat dengan
nasihat dan pesan keagamaan (*mau’idhah*, Yunus), petunjuk yang lurus
(al-Israa) serta adalah semua kebenaran dari Tuhan.

“Al-Qur’an dikenalkan kepada kita dengan berbagai ayat dan berbagai redaksi
sehingga kita bisa kembali ke sana, dan bahwa benar Al-Qur’an sebagai
rujukan dan sumber segala-galanya,” terang Kiai Said.

Namun demikian, doktor lulusan Universitas Ummul Quro’ Mekkah itu
menyampaikan, Al-Qur’an tidaklah merinci semua permasalahan yang dihadapi
umat. Al-Qur’an, kata dia, hanya berupa isyarat-isyarat yang perlu
pemahaman lebih lanjut bagi pembacanya.

“Oleh demikian kita sepakati bahwa Al-Qur’an bukan kitab ilmu pengetahuan
melainkan adalah sumber ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Mengingat kandungan dan isi Al-Qur’an yang begitu luas (al-Kahfi ayat 109),
maka untuk memahami isyarat yang terkandung di dalamnya dibutuhkan
seperangkat ilmu pengetahuan (Ulumul al-Quran) dengan berenaka macam
cabangnya yang perlu untuk dikuasai, termasuk literasi tentang Al-Qur’an.

Jika dirujuk dalam kitab-kitab “Ulumul Qur’an” Imam az-Zarkasyi, kata Kiai
Said, menyebut Ulumul Qur’an yang terdiri dari 57 cabang ilmu pengetahuan
hingga pendapat Imam Suyuthi dalam al-Itqan fi ulum al-Qur’an yang mencapai
mencapai 90 cabang hanya dalam kurun waktu 100 tahun.

“Maka sebenarnya Tuhan memberikan otoritas perincian kandungan dari pada
Al-Qur’an kepada Nabi Saw melalui firman-Nya surah an-Nahl ayat 44,” jelas
Kiai Said.

sumber: *mui.or.id <http://mui.or.id>*

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AXt3udrJjrBhdhce8WnCOk%3D4KZQzyjhU3vGugK768FFQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to