https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2468-jebakan-subsidi


Sabtu 04 Juni 2022, 05:00 WIB 

Jebakan Subsidi 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Jebakan Subsidi MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. SUBSIDI 
negara kepada rakyatnya sebetulnya bertujuan mulia. Ia dimaksudkan untuk 
memberdayakan yang lemah agar bisa berlari dalam garis mula yang sama. Dengan 
subsidi, yang tak berdaya bisa berjalan, lalu lari kencang. Namun, subsidi bisa 
menjadi jebakan, bahkan kutukan, bila berada di tangan yang salah dan dikelola 
secara salah pula. Di tangan pemburu rente, subsidi menjadi lahan basah 
mendulang fulus. Di tangan orang bermental meminta dan menuntut, subsidi 
menjadi candu. Ia harus diminta terus dan terus. Lagi dan lagi. Apakah negeri 
ini telah 'tiba' dalam situasi seperti itu? Tidak sepenuhnya, tapi ada nuansa 
seperti itu. Kita merasa telah 'terjebak' pada persoalan subsidi. Hampir semua 
rezim mengeluhkan subsidi, terutama saat nilainya membengkak. Hampir tiap 
episode membuncitnya subsidi energi, orang meributkan subsidi yang salah 
sasaran. Pun saat ini, ketika dunia dalam ancaman krisis pangan dan energi. 
Perang Rusia-Ukraina (Presiden Putin menganggap belum perang, melainkan 
pemanasan) telah membuat harga pangan dan minyak dunia membubung. Pekan ini, 
harga minyak dunia sudah menyentuh US$121 per barel, dua kali lipat dari 
perkiraan harga minyak di APBN 2022. Jika perang tidak disudahi atau malah 
menjadi-jadi, prediksi harga minyak dunia menyentuh US$150 per barel bukan hal 
yang mustahil. Dalam kondisi seperti itu, pukulan telak dirasakan negara-negara 
net importir minyak, termasuk Indonesia. Sudah begitu, harganya mesti disubsidi 
pula. Sebagian salah sasaran pula. Itu berarti pukulan supertelak bertubi-tubi. 
Akhir bulan lalu, Presiden Joko Widodo mengakui beratnya beban APBN bila 
subsidi akibat melambungnya harga minyak tidak dibenahi. Jokowi menyebut sampai 
saat ini harga bahan bakar minyak di Indonesia masih menjadi yang termurah jika 
dibandingkan dengan negara lain. Jokowi mencontohkan di Singapura, BBM sudah 
seharga Rp32 ribu per liter, Jerman Rp31 ribu per liter, dan Thailand Rp20 ribu 
per liter. "Kita ini, kita, pertalite masih di angka Rp7.650, pertamax 
Rp12.500, yang lain sudah jauh sekali. Kenapa harga kita masih seperti ini? 
Karena kita tahan terus," ujar Jokowi saat memberikan pengarahan evaluasi Aksi 
Afirmasi Bangga Buatan Indonesia di Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 24 Mei 
2022. Jokowi menerangkan dampak dari pemerintah yang terus menahan laju 
kenaikan BBM dunia, jumlah dana subsidi BBM yang digelontorkan juga semakin 
membesar. Jokowi pun mempertanyakan sampai kapan pemerintah bisa terus menahan 
pembengkakan subsidi tersebut. "Sehingga saya minta kementerian/lembaga, 
pemerintah daerah, sekali lagi memiliki sense (of crisis) yang sama. Berat, 
nahan harga seperti itu, berat," ujar Jokowi. Subsidi energi diproyeksikan 
melonjak sejalan dengan tingginya harga minyak mentah global. Alahsil, beban 
APBN diproyeksi juga melesat. Sejumlah analis ekonomi memprediksi subsidi 
energi, termasuk dana kompensasi ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT 
Pertamina akan membengkak menjadi Rp320 triliun. Artinya, pemerintah harus 
menambah Rp190 triliun dari total subsidi tahun ini yang hanya Rp134 triliun. 
Memang berat, tapi di mata orang-orang yang optimistis akan selalu ada jalan 
yang tersedia. Mengurangi subsidi dengan menaikkan harga BBM dan tarif listrik 
sesuai harga keekonomian ialah jalan paling mudah. Namun, ia punya risiko amat 
besar pula. Risiko yang muncul ialah inflasi yang bakal terkerek akibat efek 
domino naiknya harga BBM yang diikuti kenaikan harga barang-barang lainnya. 
Ujung-ujungnya, daya beli masyarakat tergerus. Setelah itu, ekonomi kembali 
melesu. Itu karena separuh dari pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh daya 
beli. Pandemi covid-19 telah membuktikan itu. Dalam kurun dua tahun pandemi, 
daya beli masyarakat terempas. Alhasil, pertumbuhan ekonomi pun terjun bebas. 
Malah kita sempat mengalami resesi saat pertumbuhan ekonomi kuartalan 
berturut-turut negatif. Selain risiko ekonomi, menaikkan harga BBM dan tarif 
listrik secara berturut-turut, bahkan bersamaan, bakal memunculkan risiko 
politik. Suhu politik akan memanas, bahkan bisa mendidih, terutama bila terus 
dikipasi para petualang politik. Isu pemangkasan subsidi dalam perekonomian 
yang baru siuman seperti saat ini amat gurih untuk digoreng menjadi isu 
politik. Lalu, dari mana pemerintah menambal kekurangan subsidi Rp190 triliun 
itu jika bukan dengan menaikkan harga? Lagi-lagi saya sependapat dengan 
sejumlah ekonom yang mengusulkan beberapa skema. Tambahan perkiraan subsidi 
Rp190 triliun bisa diambil dari sebagian windfall (keuntungan mendadak) 
pendapatan komoditas, realokasi anggaran infrastruktur, penghematan belanja 
pegawai, dan belanja barang. Selain itu, pemerintah bisa mengatasi kekurangan 
belanja subsidi energi dari pos belanja lain, seperti dana perlindungan ekonomi 
nasional (PEN), alokasi belanja infrastruktur, dana transfer daerah, serta 
belanja barang dan belanja pegawai. Nanti, saat kuda-kuda perekonomian telah 
kukuh kembali, peninjauan harga BBM dan listrik bisa menjadi opsi. Tidak kalah 
penting agar negeri ini bisa keluar dari jebakan subsidi, perbaiki sistem, 
skema, dan sasaran subsidi. Tutup peluang subsidi di tangan orang yang salah 
dan dikelola secara salah pula.  

Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2468-jebakan-subsidi






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220605224458.3d6aded4eece1f6209781bf1%40upcmail.nl.

Reply via email to