Written byJ61Wednesday, June 8, 2022 17:45

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-depak-airlangga-demi-luhut/
Jokowi Depak Airlangga Demi Luhut?
Salah satu arah isu reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) agaknya tertuju pada Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian 
Airlangga Hartarto. Itu sekaligus membuka spekulasi lebih jauh soal 
kepemimpinannya di Partai Golkar. Lantas, siapakah yang akan diuntungkan jika 
Airlangga didepak Jokowi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Satu isu menarik di tengah perbincangan mengenai pemilihan presiden (Pilpres) 
2024 adalah mengenai wacana reshuffle kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) pada 15 Juni mendatang.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno pada pekan lalu menghembuskan 
kemungkinan perombakan kabinet yang menurutnya akan dibocorkan sedikit-demi 
sedikit.

Saat dikonfirmasi mengenai isu reshuffle kala menghadiri ajang balap Formula E, 
Presiden Jokowi memberikan jawaban yang cenderung tidak membenarkan maupun 
membantah.

Ihwal yang kemudian mengundang respons dari sejumlah tokoh kunci partai politik 
(parpol) penyumbang menteri di gerbong pemerintahan mantan Gubernur DKI Jakarta 
itu.

Ketua DPP PKB Faisol Riza misalnya, yang mengaku telah mendengar wacana 
reshuffle di kabinet Jokowi meskipun tidak memberikan komentar lebih jauh. PKB 
sendiri menjadi parpol penyumbang empat menteri dalam kabinet yaitu Menteri 
Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil 
Qoumas, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes 
PDTT) Abdul Halim Iskandar, serta Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.

 
Sementara itu, Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia 
mengatakan bahwa partainya tidak ambil pusing dengan isu reshuffle karena 
partai beringin disebut taat dengan kewenangan dan hak prerogatif sang Kepala 
Pemerintahan.

- Advertisement -Akan tetapi, pernyataan Ahmad Doli boleh jadi hanya gestur 
yang tampak di permukaan jika berkaca pada nama-nama yang terancam diganti oleh 
Presiden Jokowi.

Pada Maret lalu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima 
Yudhistira sempat mengeluarkan nama-nama menteri yang layak untuk direshuffle 
dikarenakan kinerjanya yang tidak progresif.

Bhima menyebutkan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, 
Mendag Muhammad Lutfi, serta Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, 
Airlangga Hartarto dalam daftar sosok yang patut diberi “kartu merah” oleh 
Presiden Jokowi.

Khusus bagi Airlangga, namanya cukup menarik seandainya benar-benar disasar 
sebagai menteri yang harus hengkang dari kabinet. Posisinya saat ini yang juga 
menjabat sebagai Ketum Partai Golkar kemungkinan besar akan memberikan efek 
domino yang dapat mengubah atmosfer politik secara signifikan.

Lalu, apa makna politik dibalik munculnya isu reshuffle kali ini? Serta, 
bagaimana setting politik yang akan terjadi jika Airlangga didepak oleh 
Presiden Jokowi dari Kabinet Indonesia Maju?

 
Langkah Distraksi Jokowi?
Sebelum masuk pada konteks Airlangga, penting juga kiranya untuk mengetahui 
latar belakang, urgensi, dan dampak atas mengemukanya wacana reshuffle kabinet 
saat ini.

Jika berbicara latar belakang reshuffle, tentu publik dapat mengidentifikasi 
bahwa aspek kinerja menjadi pertimbangan utama yang konkret. Akan tetapi, 
intrik politik di baliknya bisa saja menyelimuti munculnya isu perombakan 
tersebut.

Seperti yang jamak diketahui, tensi politik belakangan tengah panas akibat 
kabar yang kurang positif dari Presiden Jokowi dengan Ketum PDIP Megawati 
Soekarnoputri. Kabar keretakan yang menghantui partai banteng tentu menjadi 
sorotan kurang baik di hadapan konstituen ketika parpol lain tengah gencar 
melakukan manuver konstruktif jelang pesta demokrasi pada tahun 2024 mendatang.

Baca juga :  Erdoğan, Kuda Troya Penghancur NATO?- Advertisement -Elite PDIP 
sendiri berulang kali menegaskan agar Presiden Jokowi dan Megawati tidak terus 
dibentur-benturkan. Penegasan terbaru datang dari Junimart Girsang yang juga 
mengatakan bahwa hubungan Megawati dan Presiden Jokowi sesungguhnya baik-baik 
saja.

Kontra-narasi keretakan itu bahkan tercermin saat Jokowi melantik kembali 
Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) 
kemarin. Setelahnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto 
menyebut bahwa keduanya juga terlibat pembicaraan empat mata yang mendalam.

Gestur ini seolah menggambarkan bahwa Presiden Jokowi mungkin sedang berusaha 
mengalihkan sorotan negatif atas keretakan hubungannya dengan Megawati. 
Munculnya isu reshuffle boleh jadi juga merupakan strategi tersendiri untuk 
semakin mengaburkan sorotan tersebut.

Sheryl Gay Stolberg dalam The Art of Political Distraction menjelaskan mengenai 
teknik distraksi politik, yakni manuver maupun konstruksi wacana politik 
tertentu untuk mengalihkan isu, tatanan, hingga agenda politik lainnya yang 
sedang mengemuka.

Distraksi isu menjadi salah satu teknik para aktor politik untuk memalingkan 
imajinasi publik atas sorotan tajam yang intens atas suatu diskursus tertentu. 
Meskipun lumrah dilakukan, teknik ini sering kali luput dan dianggap hanya 
bagian dari fenomena derasnya arus informasi.

Munculnya isu reshuffle boleh jadi juga merupakan teknik distraksi dari eks 
Wali Kota Solo. Terlebih, jawaban tak membantah maupun membenarkan dari 
Mensesneg dan Presiden sendiri terkesan membuka tafsir lanjutan dari berbagai 
pihak. Ihwal yang mungkin saja memang diinginkan sebagai bagian dari seni 
distraksi politik.

Memang, ketika berbicara mengenai reshuffle, spekulasi akan menyeruak dan 
tertuju pada potensi nama yang akan angkat koper dari posisi prestisius di 
kabinet. Tak menutup kemungkinan pula bahwa pengalihan isu reshuffle juga 
dimaksudkan untuk membelokkan sorotan pada sosok menteri yang paling berpotensi 
didepak Presiden Jokowi.

Kendati demikian, apabila reshuffle benar-benar akan dilakukan proyeksi 
mengenai sosok yang akan diganti RI-1 beserta dampaknya tentu menjadi penting 
untuk diperhitungkan.

Kembali pada peluang dicopotnya Airlangga sebagai Menko Perekonomian, nyatanya 
kinerja kurang baiknya tak hanya dilihat oleh Bhima Yudhistira. Ketua Umum DPP 
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama juga mengemukakan tiga 
nama yang layak diganti dalam kabinet Jokowi. Menariknya, tiga nama itu persis 
seperti apa yang dikemukakan Bhima, termasuk Airlangga Hartarto.

Sayangnya, kecenderungan itu tampak kurang menguntungkan bagi Airlangga yang 
belakangan juga sempat diterpa isu minor lain, mulai dari kabar tak sedap yang 
menyerangnya secara personal hingga turbulensi di internal Partai Golkar.

Dari segi momentum, kepingan-kepingan isu tersebut seolah saling berkelindan 
dan tampak relevan untuk dianalisa. Inilah yang kiranya dimaksud oleh John 
Gibson dalam Political Timing: A Theory of Politicians’ Timing of Events bahwa 
pemanfaatan momentum dari para politisi menjadi esensial dan jamak digunakan 
dengan memanfaatkan “events” atau peristiwa-peristiwa politik sebelumnya.

Baca juga :  The Gorden ProjectNamun, satu pertanyaan menarik yang kemudian 
mengemuka jika Airlangga tereliminasi, yakni siapakah yang kiranya benar-benar 
akan diuntungkan?

 
Demi Sokong Prabowo via Luhut?
Kalau akhirnya Airlangga jadi nama yang dilengserkan Presiden Jokowi dari kursi 
menteri, dampak politik yang ditimbulkan kiranya akan sangat luar biasa bagi 
tatanan yang ada saat ini.

Pertama, seperti yang dijelaskan Max Weber dalam konsep basis legitimasi dan 
kekuasaan tradisional, Airlangga kemungkinan besar juga akan kehilangan 
legitimasinya sebagai pemimpin Partai Golkar apabila kehilangan posisi menteri.

Kedua, proyeksi pencalonan dirinya sebagai calon presiden (capres) di pemilu 
2024 pun hampir dipastikan meredup. Terakhir, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) 
yang mana Golkar sebagai pemegang konsesi terbesar bisa jadi mengalami 
perubahan arah politik.

Di balik tiga potensi tersebut, dampaknya dalam konteks kepemimpinan Airlangga 
di Partai Golkar tampak cukup serius. Kabar kurang sedap akan lengsernya ia 
dari Ketum Partai Golkar tampak membuka penafsiran atas pihak yang diuntungkan 
jika efek domino reshuffle terjadi dan dialami Airlangga.

Satu yang mungkin muncul sebagai suksesor Airlangga tidak lain adalah Ketua 
Dewan Penasihat Partai Golkar Luhut Binsar Pandjaitan. Walaupun disebut telah 
meredam isu turbulensi internal setelah pertemuan keduanya yang dipublikasikan 
internal partai pada akhir Mei lalu, namun agaknya spekulasi keretakan belum 
sepenuhnya tertutup.

Dalam artikel PinterPolitik.com berjudul Prabowo, “Senjata” Luhut Bendung 
Megawati?, telah dijelaskan bahwa Luhut kemungkinan “lebih senang” menyokong 
Prabowo Subianto sebagai capres di 2024 karena akan menguntungkan baginya.

Untuk mewujudkan hal itu, Luhut tentu membutuhkan posisi strategis yang tak 
lain dalam hal ini adalah Ketum Partai Golkar.

Di samping itu, analisa sejumlah pengamat bahwa Presiden Jokowi juga memberikan 
endorsement serta sinyal dukungan kepada Prabowo sebagai capres membuat 
korelasinya dengan reshuffle yang terarah kepada Airlangga agaknya 
memperlihatkan benang merah tersendiri.

Jika demikian, Presiden Jokowi boleh jadi sedang mengaplikasikan madman theory 
di balik isu reshuffle. Teori itu sendiri menggambarkan strategi impresi tidak 
stabil dan irasional yang digunakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) dalam 
Perang Dingin untuk membuat Uni Soviet kesulitan menebak langkah negeri Paman 
Sam.

Tendensi sukar ditebak itu kiranya dapat tercermin dari probabilitas perombakan 
kabinet Jokowi yang merupakan upaya yang muaranya adalah akumulasi dukungan 
dari sang Kepala Negara kepada Prabowo melalui Luhut dan Partai Golkar, selain 
distraksi politik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Akan tetapi, rangkaian pertalian dinamika politik di atas masih sebatas terkaan 
semata. Meski kinerjanya dipandang tak memuaskan, posisi Airlangga sendiri 
sebagai menteri jamak dikomparasikan dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri 
Mulyani Indrawati yang profesional dan tampak jauh dari kecenderungan rasuah.

Di atas semua itu, esensi reshuffle kabinet diharapkan bukan untuk digunakan 
sebagai isu maupun manuver untuk kepentingan politik tertentu. Publik juga 
harus lebih cermat dalam melihat berbagai variabel isu politik yang sedang 
berkembang agar dapat melihatnya secara jernih. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/49FA6FD68D3F4E74B69384C1A2BA0BFE%40A10Live.

Reply via email to