Written byJ61Thursday, June 9, 2022 16:45

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/edy-ekspos-operasi-intelijen-rusia/
Edy Ekspos Operasi Intelijen Rusia?
Jamaknya narasi pro-Rusia di Indonesia agaknya memang nyata saat klimaksnya 
terlontar dari Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi beberapa waktu 
lalu. Namun, tendensi anti-Barat agaknya bukanlah penyebab sesungguhnya di 
balik kecondongan itu.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Lebih dari 100 hari konflik Rusia-Ukraina telah berlangsung dan belum 
menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Justru, tensi semakin memanas ketika 
negara-negara Barat termasuk Amerika Serikat (AS) terus memasok persenjataan ke 
Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan menargetkan sasaran baru jika 
sokongan persenjataan terus dilakukan Barat. Itu menjadi sinyal bahwa ratusan 
hari peperangan mungkin masih akan terus berlanjut sejak invasi dilakukan Rusia 
pada 24 Februari lalu.

Potensi periode konflik yang cukup panjang telah menjadi kekhawatiran berbagai 
negara atas dampak multi-sektor yang ditimbulkan. Tidak terkecuali Indonesia 
yang selama ini terlibat kerja sama lintas aspek, baik dengan Rusia maupun 
Ukraina.

Diskursus mengenai periode invasi, nyatanya juga turut menjadi perhatian 
berbagai pihak. Salah satunya yang datang dari Gubernur Sumatera Utara (Sumut) 
Edy Rahmayadi yang baru-baru ini memberikan pernyataan mengejutkan.

Edy mengatakan bahwa seandainya dia adalah Putin, maka Ukraina telah 
diserangnya tiga tahun lalu karena mengganggu stabilitas Rusia.

“Saya katakan, kalau saya yang jadi Putin, sudah tiga tahun yang lalu Ukraina 
saya serang,” ujar Edy Rahmayadi.

  
Perandaian Edy itu sontak mendapat kritikan banyak pihak. Juru Bicara Menteri 
Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak misalnya, yang 
menilai pernyataan Edy tidak layak.

Dahnil juga mengatakan bahwa pernyataan Edy bertolak belakang dengan sikap 
Indonesia dalam merespons perang Rusia-Ukraina dan dalam upaya menjaga 
perdamaian dunia yang diamanatkan konstitusi.

Namun, ungkapan Edy itu kiranya menjadi titik kulminasi atas kecenderungan 
pro-Rusia yang eksis di Indonesia sejak invasi Rusia berlangsung. Bahkan, hal 
itu menarik sorotan media mancanegara seperti South China Morning Post hingga 
Al Jazeera.

Memang, reaksi netizen Indonesia pro-Rusia – dan ditafsirkan sebagai 
representasi suara digital masyarakat +62 – seolah menjadi akumulasi atas 
jamaknya romansa hubungan Uni Soviet dan Indonesia di masa lalu hingga 
kekaguman atas sosok Vladimir Putin.

Ihwal yang kiranya berkontribusi membuat pemberitaan mengenai berbagai 
keberpihakan terhadap Rusia mendapat sambutan positif, tak terkecuali dalam 
konteks konflik Rusia-Ukraina yang bahkan “dianut” pejabat publik seperti Edy 
Rahmayadi.

Lantas, mengapa narasi pro-Rusia begitu kental di Indonesia?

 
Kehebatan Intel Rusia?
Beberapa analisis dari pengamat hubungan internasional mengatakan bahwa basis 
dasar narasi pro-Rusia di Indonesia didasari anggapan skeptis terhadap Barat, 
termasuk AS, atas gestur hipokrit sebagai negara adikuasa pasca tragedi 9/11.

Telaah tersebut juga didukung dengan survei Pew Research Center yang 
menunjukkan sikap skeptis publik Indonesia terhadap AS lebih besar dibandingkan 
dengan banyak negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Akan tetapi, mungkinkah itu menjadi penyebab satu-satunya?

Konstruksi narasi publik di suatu negara tidak jarang melibatkan faktor 
eksternal seperti keterlibatan asing. Itu misalnya terbukti dari riwayat 
kontestasi narasi sejak Perang Dunia II, Perang Dingin, hingga dalam sejumlah 
ketegangan antar-negara untuk mengakuisisi dukungan politik dan diplomatik.

Di titik ini, peran instrumen intelijen menjadi faktor kunci. Sebuah 
kemungkinan yang juga terjadi dalam narasi pro-Rusia di Indonesia, terutama 
melalui mekanisme intelijen siber.
Dalam Intelligence Gathering, Aditya K Sood dan Richard Enbody menjelaskan 
metode pengerahan intelijen siber (CYBINT) untuk melakukan penggalangan 
intelijen, baik yang dilakukan di dalam maupun luar negeri. Secara singkat, 
metode ini bermuara pada perengkuhan rekayasa dan kontrol sosial.

Aaron Z. Brock dalam Secrets and Cooperation: The Role of Intelligence in 
International Relations Theory mengatakan bahwa ranah siber menjadi lingkungan 
yang begitu strategis untuk dieksploitasi saat ini, utamanya dalam memenangkan 
peperangan informasi.

Brock juga menegaskan bahwa domain siber menjadi yang paling prominen saat ini 
dalam konteks persaingan intelijen.

Secara rekam jejak, Rusia agaknya menjadi aktor internasional yang cukup lihai 
memainkan peran tersebut. Christopher Paul dan Miriam Matthews dalam 
publikasinya yang berjudul The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model 
menyebut bahwa strategi kontemporer Rusia saat ini adalah propaganda informasi 
yang acap kali berhasil mereka menangkan.

Sementara itu, taktik pembangunan narasi ideal untuk mendukung metode intelijen 
itu sendiri kemungkinan berkiblat pada propaganda Nazi – argumentum ad nauseam 
– yakni penciptaan “efek benar” dari argumentasi yang dikemukakan secara 
berulang-ulang atau argumentasi pernyataan berulang.

Jika merefleksikannya pada pola digital narasi pro-Rusia di Indonesia, boleh 
jadi terdapat peran intelijen siber negeri Tirai Besi dengan metode dan taktik 
tersebut di dalamnya. Mengapa demikian?

Narasi pro-Rusia – terutama di linimasa – telah ada sebelum konflik 
Rusia-Ukraina. Tren yang dibawa kebanyakan adalah romansa kejayaan Uni Soviet 
dan hubungan harmonisnya dengan Indonesia, kharisma sosok seperti Vladimir 
Lenin dan Joseph Stalin, hingga keandalan alutsista Rusia yang mampu menjadi 
penantang serius perangkat militer AS.

Jika diperhatikan dengan saksama, pemantik narasi pro-Rusia kebanyakan adalah 
akun-akun inkognito. Anonimitas intelijen yang dikenal sebagai multiple 
impostor tersebut membuat interpretasi mengenai adanya kontribusi intelijen 
siber menjadi terbuka.

Suplai informasi berkesinambungan itu bisa saja membuat diskursus mengenai 
keberpihakan dalam konflik Rusia-Ukraina juga dapat dengan mudah dikapitalisasi 
untuk mengarahkan support pada Kremlin.

Perhatian eksternal itu dikatakan Paul dan Matthews bertujuan untuk 
membangkitkan kepercayaan diri Rusia serta menjadi legitimasi politik atas 
kebijakan luar negeri strategis.

Nyatanya, peran intelijen siber Rusia dapat ditelusuri pada terkaan serupa yang 
terjadi di sejumlah negara. Di AS misalnya, dugaan keterlibatan tangan tak 
terlihat eksis bagi narasi pro-Rusia hingga dugaan intervensi dari sumber yang 
sama terhadap pemilihan presiden (Pilpres) 2016 dan 2020 lalu.

Begitu pula dengan keberpihakan Belarus pada Rusia yang dijelaskan dalam sebuah 
artikel berjudul How Russia is working to absorb Belarusian news networks into 
sovereign internet. Kasus di AS dan Belarus tersebut juga tak hanya 
merepresentasikan kemungkinan operasi CYBINT, akan tetapi membuktikan pula 
bahwa agaknya Rusia telah cukup mumpuni dalam konteks peperangan asimetris.

Lalu pertanyaannya, jika benar operasi intelijen siber itu ada, mengapa 
Indonesia yang menjadi “target” konstruksi narasi?
 
Kamerad Lama?
Guy J. Pauker dalam The Soviet Challenge in Indonesia mengatakan bahwa sejak 
dekade 60-an, semua sarana yang dimiliki Kremlin – baik itu yang terbuka maupun 
rahasia dan domestik maupun internasional – dikonsentrasikan pada penghapusan 
pengaruh Barat dari Indonesia.

Bahkan, apa yang dikemukakan Pauker terus ada setelah kekuasaan Soekarno 
beserta kemesraan dengan Soviet tumbang. Adalah dinas intelijen Rusia, Komitet 
Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) yang disebut-sebut menjadi aktor utama dalam 
sejumlah operasi intelijen Rusia di Indonesia di era Soeharto.

Teater Perang Dingin membuat KGB bersaing keras dengan dinas intelijen AS, CIA, 
untuk mendapatkan keberpihakan Indonesia yang dianggap sebagai mitra strategis 
di kawasan.

Desmond Ball, profesor di Strategic and Defence Studies Centre Australian 
National University College of Asia and the Pacific dalam How Moscow Steals 
ASEAN’S Secrets mengatakan bahwa “kehadiran Soviet” di Indonesia menjadi yang 
terbesar di negara Asia Tenggara non-komunis.

Secara konkret, manuver KGB di Indonesia terekam dalam memori sejarah, di 
antaranya catatan 102 kasus upaya diplomat Soviet untuk merekrut mata-mata 
lokal, hingga kasus fenomenal Alexander Finenko yang kongkalikong dengan 
seorang perwira Angkatan Laut Letkol Soesdarjanto.

Sederet kajian itu agaknya bisa saja menjadi proyeksi bahwa aktivitas intel 
negeri Beruang Merah – sebagai ahli waris terbesar Soviet – itu masih terjadi 
di Indonesia, tentu dengan kemungkinan metode yang berbeda saat ini.

Selain reputasi peperangan asimetris dan rekam jejak KGB di tanah air, terdapat 
dua hal lain yang membuat Indonesia menjadi target ideal bagi operasi intelijen 
siber dalam konteks narasi pro-Rusia yang berkembang dewasa ini.

Pertama, terkait dengan populasi pengguna internet Indonesia. Merujuk pada 
laporan DataReportal, jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 204,7 juta 
orang hingga Januari 2022.

Apalagi, netizen Indonesia terkenal begitu militan dalam menyuarakan isu 
tertentu dan terkadang opininya menjadi kiblat dan rujukan bagi populasi 
internet negara lain.

Kedua, eksploitasi atas keterlibatan pasukan muslim Chechnya juga tampaknya 
memiliki tautan tak terpisahkan. Muaranya adalah kemudahan untuk membangkitkan 
sentimen positif, solidaritas, dan simpati secara umum pada Rusia dari negara 
dengan populasi muslim terbesar di dunia.

Sekali lagi, karakteristik ideal itu membuat Indonesia kemungkinan menjadi 
target menggiurkan bagi kepentingan yang dikemukakan Paul dan Matthews yakni, 
membangkitkan kepercayaan diri dan legitimasi politik Rusia, termasuk atas 
konflik Rusia-Ukraina.

Kendati demikian, penafsiran di atas tentu masih sebatas telaah semata 
mengingat hakikat operasi intelijen yang sukar untuk diidentifikasi secara 
pasti. Namun, yang diharapkan dari suatu keberpihakan adalah pertimbangan bijak 
dan komprehensif secara kolektif, bukan karena pengaruh sentimen tertentu. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/36563F92D5674D3D8A6D664730629BD3%40A10Live.

Reply via email to