*Intelejen negeri mana?* On Fri, Jun 10, 2022 at 2:43 AM Chan CT <[email protected]> wrote:
> Written by*D74* <https://www.pinterpolitik.com/author/d74/> > Thursday, June 9, 2022 20:42 > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-diserang-operasi-intelijen/ > Anies Diserang Operasi Intelijen? > [image: Operasi Intelijen Anies] > > *Belakangan ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diterpa berita > menghebohkan. Dua aksi deklarasi dukungan kepada Anies sebagai calon > presiden (capres) 2024 diklaim dan diduga dilakukan dua kelompok berbasis > Islam yang kontroversial, yakni Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir > Indonesia (HTI). Apa yang sebenarnya terjadi di balik isu-isu ini?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/> > > *“In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it > was planned that way.” – Franklin D. Roosevelt, Presiden ke-32 AS * > > Pemberitaan tentang politisasi identitas agama seperti tidak ada habisnya. > Terbaru, berita heboh muncul dari kabar tentang acara deklarasi dukungan > pada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) > 2024, yang dilakukan kelompok relawan bernama Majelis Sang Presiden. > > Dalam acara tersebut, sebuah bendera bertuliskan kalimat Tauhid dikibarkan > di samping bendera Indonesia. Seperti yang diketahui, penggunaan bendera > ini sangat dibatasi karena pernah dijadikan sebagai bendera gerakan Hizbut > Tahrir Indonesia (HTI), organisasi Islam yang dibubarkan dan telah dilarang > oleh pemerintah Indonesia. > > Tidak hanya pengibaran bendera Tauhid, acara deklarasi dukungan itu juga > disebut diselenggarakan oleh orang-orang yang mengklaim merupakan eks-HTI > dan eks-Front Pembela Islam (FPI), bahkan disebut juga ada yang pernah > menjadi eks-napi terorisme. > > Menariknya, perwakilan dari masing-masing ormas Islam yang disebut tadi > mengaku tidak terlibat dalam deklarasi dukungan pada Anies tersebut. Aziz > Yanuar, Tim Advokasi FPI, mengatakan tidak ada pembicaraan terkait dukungan > capres di dalam FPI. Hal yang sama juga diungkapkan eks jubir HTI Ismail > Yusanto, yang mengaku bahkan sama sekali tidak tahu ada acara deklarasi > dukungan Anies. > > *Well*, polemik yang terjadi di acara deklarasi tersebut bukan pertama > yang terjadi dalam waktu-waktu dekat ini. Beberapa hari yang lalu, muncul > juga berita tentang FPI Reborn yang juga memberikan dukungan kepada Anies. > Dan sama seperti acara deklarasi dukungan Anies, FPI menyebut mereka tidak > terlibat sama sekali, dan mengatakan “FPI Reborn” itu bukanlah bagian dari > FPI. > > Karena itu, isu-isu ini sesungguhnya memunculkan pertanyaan penting. > Mengapa belakangan marak isu politik identitas pada Anies? > [image: infografis siapa di balik pengibaran tauhid] > <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/06/infografis-Siapa-Di-Balik-Pengibaran-Tauhid-922x1024.jpg> > *Ada > Permainan Terselubung?* > > Sebelum membahas lebih lanjut, ada satu keanehan dari semua isu tadi yang > perlu jadi perhatian kita, yakni mengapa orang-orang yang mengaku > eks-anggota kelompok yang telah dikecam negara bisa dengan vokal > mengaku-ngaku di depan publik? > > Pertanyaan sederhana ini membuat kita berpikir, kalau kelompok yang > mengaku-ngaku ini benar-benar memiliki agenda politik, maka mereka > melakukannya dengan sangat tidak baik. Terlebih lagi, aksi FPI Reborn dan > pengibaran bendera Tauhid langsung mendapatkan perhatian dari polisi. > Terkait ini, Presiden ke-32 Amerika Serikat (AS) Franklin D. Roosevelt > pernah berkata: “*in politics, nothing happens by accident. If it > happens, you can bet it was planned that way*.” > > Semua peristiwa dalam politik pasti direncanakan. Karena itu, bukan tidak > mungkin peristiwa-peristiwa ini merupakan sebuah bagian dari agenda politik > besar. Pertanyaannya, agenda seperti apa? > > Alexander Arifianto dalam tulisannya *From Ideological to Political > Sectarianism: Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and the State in Indonesia*, > pernah menjelaskan bahwa mayoritas permasalahan yang berkaitan dengan > identitas agama di Indonesia bukanlah disebabkan perbedaan fundamental > tentang ajaran agama dari masing-masing kelompok, melainkan akibat masalah > sektarianisme atau persaingan antar ormas. > > Hal itu karena suara politik masyarakat Indonesia sangat dipengaruhi > pendapat dari tokoh-tokoh agama. Ini persis seperti yang disampaikan > Gregory Paul dalam riset kontroversialnya *The Chronic Dependence of > Popular Religiosity upon Dysfunctional Psychosociological Conditions*, > yang menjelaskan bahwa masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia > akan selalu berkutat di permasalahan politik yang dikaitkan dengan > keagamaan. > > Paul menjelaskan hal tersebut bisa terjadi karena kelompok agama di negara > berkembang selalu dinilai lebih mampu memberikan ketenangan di masyarakat, > ketimbang pemerintah yang memiliki keterbatasan ekonomi. > > Jika benar demikian, maka bisa diinterpretasikan permainan politik > identitas yang belakangan terjadi ini merupakan bentuk persaingan ormas > Islam di Indonesia. Berangkat dari anggapan itu, tujuan utamanya > sesungguhnya bukanlah untuk menciptakan rasa kebencian pada simbol-simbol > Islam, melainkan untuk membungkam ormas tertentu, bahkan sebelum mereka > bertindak apapun dalam menyambut Pemilu 2024. > > Selain itu, melihat panasnya obrolan mengenai Pemilihan Umum (Pemilu) > 2024, dan mengingat Anies adalah salah satu capres yang paling > diperbincangkan, maka bisa saja aksi terselubung ini diarahkan pada Anies > itu sendiri. > > Seperti yang diketahui, Anies merupakan politisi yang cukup kental dengan > identitas keagamaan. Ketika memenangkan Pemilihan Kepala Daerah DKI 2017 > (Pilkada DKI 2017), pasangan Anies-Sandiaga menang akibat dukungan kelompok > Islam. Kemudian, beberapa saat lalu Anies juga terlihat mulai mendekati > kelompok Islam, yakni Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur. > > Jika hal ini benar dilakukan, maka serangan pada citra politik identitas > keagamaan Anies diharapkan akan sangat menyakitinya. Ia akan dilihat > sebagai pemimpin yang dicurigai mendukung ormas yang telah dikecam negara. > Selain itu, serangan ini juga berpotensi merusak hubungannya dengan NU, yang > *notabene* kerap mengkritik HTI dan FPI. > > Jika benar demikian terdapat agenda semacam itu, maka aksi-aksi itu dapat > disebut sebagai *black operation* atau operasi intelijen hitam. > > Paul Myron Anthony Linebarger, ahli perang psikologis dari AS, yang > dikutip dalam buku *From Loss to Renewal*, mengatakan *black operation* adalah > aksi propaganda intelijen yang dalam tindakannya memiliki tujuan untuk > membuat seolah-olah operasi yang dilakukannya adalah tindakan suatu > kelompok. > Sederhananya, operasi intelijen jenis ini merupakan sebuah tipuan agar > kelompok tertentu dapat ditempelkan sentimen negatif atas kekacauan yang > terjadi, padahal tidak melakukannya. > > Namun, masih ada satu hal penting lain yang perlu kita pertanyakan. > Mungkinkah aksi-aksi ini hanya untuk meredam Anies, atau ada tujuan > tersembunyi lain yang tidak kalah pentingnya? > *Meniup Lilin Sebelum Dihembus Angin?* > > Ketua Umum (Ketum) DPP FPI, Muhammad Alattas menilai narasi yang diarahkan > pada pihaknya, seperti FPI Reborn, bersifat layaknya upaya > pengkambing-hitaman, karena berita yang muncul berpotensi memunculkan > Islamofobia di masyarakat, serta mendiskreditkan ormas Islam terkait. > > Jika kita mencoba menerawang potensi dampaknya, memang apa yang > diberitakan memiliki kemungkinan besar akan berdampak pada gerakan politik > yang bersinggungan dengan identitas agama, khususnya dalam menyambut Pemilu > 2024. > > Siapapun nantinya yang berniat menggerakkan kelompok agama, harus berpikir > dua kali karena aparat dan pemerintah sudah bersiap siaga dari sekarang > akan munculnya kelompok kontroversial seperti FPI Reborn. > > Kembali ke konsep yang umumnya digunakan dalam dunia operasi intelijen, > tindakan seperti ini sebenarnya tidak asing. Istilah “cipta kondisi” kerap > digunakan oleh pegiat intelijen untuk menjelaskan upaya yang tujuannya > adalah merekayasa kondisi yang terjadi di masyarakat. > > Dengan memunculkan narasi seperti FPI Reborn dan pengibaran bendera > Tauhid, pihak yang bergerak di belakang layar seakan melempar pesan bahwa > jika ada yang berani memainkan gerakan politik identitas agama, maka > seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah sudah terlebih dahulu waspada. > > *Well*, sederhananya, narasi ini berperan seperti gertakan, sekaligus > ancaman. > > Dalam konteks politik, kita bisa menyebut tindakan ini sebagai *political > anathema*, yakni upaya untuk melaknat suatu kelompok ataupun ide politik, > bahkan sebelum mereka digerakkan. *Anathema *sendiri adalah istilah yang > memiliki makna layaknya kutukan, yang populernya digunakan Paus di Vatikan > untuk mencela hal apapun yang berseberangan dengan ajaran yang dianut. > > Jika ada yang berani melakukan hal yang sudah ditetapkan dalam *anathema*, > maka orang atau kelompok yang melakukannya akan dikucilkan dan dianggap > telah mencoreng kondusivitas yang berlaku di masyarakat. Tindakannya tentu > beragam, tapi yang jelas akan bersifat keras dan “membungkam”. > > Sebagai intisarinya, kita harus lebih waspada terhadap peristiwa-peristiwa > yang terjadi di lapangan. Menyambut Pemilu 2024, sangat lumrah bila ada > kelompok tertentu yang berusaha menaikkan atau justru menjatuhkan pemain > politik yang potensial dalam acara demokrasi terbesar Indonesia nanti. (D74) > > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EDA10DA188664872B0E4DA9DE03D33AC%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EDA10DA188664872B0E4DA9DE03D33AC%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Ax7%3DaXR8cT2di9hPFVBcohj-HfHtkeN7y5MVOzMo9Grg%40mail.gmail.com.
