Written byR53Tuesday, June 14, 2022 17:44

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bahlil-kandidat-kuat-pengganti-airlangga/
Bahlil, Kandidat Kuat Pengganti Airlangga?
Isu kudeta Airlangga Hartarto dari kursi Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar terus 
mencuat. Dari deretan nama-nama yang beredar sebagai pengganti Airlangga, 
muncul nama Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 
Bahlil Lahadalia. Mungkinkah Bahlil merupakan kandidat terkuat pengganti 
Airlangga?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

“Bukannya ketua umum menarik partai, malah Golkar mengemban beban ketum,” 
begitu ungkap Sirajuddin Abdul Wahab, Inisiator Gerakan Muda Partai Golkar 
(GMPG). Mengikuti perkembangannya, isu kudeta Airlangga Hartarto dari kursi 
Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar tampaknya semakin kuat. 

Sejauh ini, ada dua gestur penting yang sepertinya menjadi rem belum 
memuncaknya upaya kudeta. Pertama adalah pernyataan terbuka Ketua Dewan Pembina 
DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) pada 13 Februari 2022. 

“Saya akan pasang badan, jika ada internal yang mengganggu pencalonan Airlangga 
sebagai capres Golkar,” begitu ungkapnya. 

Suka atau tidak, pernyataan terbuka ini adalah pesan bahwa terdapat internal 
Golkar yang justru menghalangi Airlangga maju di Pilpres 2024. Keluarnya ARB 
setelah lama vakum di ruang publik juga merupakan pesan bahwa Airlangga berada 
di bawah perlindungannya.

Kedua adalah pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang beranggotakan 
Golkar, PAN, dan PPP. Koalisi ini adalah bahasa simbolis bahwa Airlangga mampu 
merangkul kekuatan politik di sekitarnya. Ini juga merupakan pesan bahwa 
dirinya mendapatkan tambahan kekuatan politik bagi siapa saja yang ingin 
mengganggu, baik untuk Pilpres 2024 maupun kursi Ketum Golkar.  

Namun, dua gestur politik itu tampaknya hanya rem sementara. Mengutip artikel 
Kumparan yang berjudul Goyah di Pucuk Partai Golkar, telah beredar nama-nama 
yang dipercaya akan menggantikan posisi Airlangga sebagai Ketum Golkar. 

Mereka adalah Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), Menteri Investasi/Kepala 
BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang, Wakil 
Ketum (Waketum) Golkar Ahmad Doli Kurnia, dan Menteri Pemuda dan Olahraga 
(Menpora) Zainudin Amali. 

Terkait Bamsoet, ini bukan kejutan. Kita tentu masih ingat persaingan sengitnya 
dengan Airlangga dalam memperebutkan kursi Ketum Golkar pada 2019 lalu. 
Sementar,a nama Agus, Ahmad Doli, dan Zainudin Amali dinilai masih belum cukup 
kuat.

Yang paling menarik adalah sosok Bahlil. Setelah mengaku tidak aktif di Golkar 
selama sepuluh tahun, mantan Ketum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 
ini justru menjadi salah satu sosok potensial pengganti Airlangga.

Lantas, seberapa besar modal politik (political capital) Bahlil untuk 
mengkudeta posisi Airlangga Hartarto dari Ketum Golkar?

 
Kekuatan Politik Bahlil
Mengutip Kimberly L. Casey dalam tulisannya Defining Political Capital, modal 
politik merupakan metafora yang digunakan untuk menggambarkan gabungan berbagai 
modal yang membuat politisi memiliki daya tawar. 

Mengutip teori interconvertibility dari Pierre Bourdieu, Casey memetakan 
berbagai jenis modal yang dapat menjadi modal politik, yakni modal 
institusional, modal sumber daya manusia (SDM/human capital), modal sosial, 
modal ekonomi, modal kultural, modal simbolik, dan modal moral.

Meskipun dapat dipetakan menjadi tujuh jenis, Casey menegaskan pada dasarnya 
tidak ada modal politik yang murni atau baku. Artinya, besar tidaknya daya 
tawar suatu modal tergantung atas pasar politik atau modal apa yang tengah 
dibutuhkan.
Terkait konteks merebut kursi Ketum Golkar, setidaknya ada tiga modal yang 
paling penting, yakni kekayaan personal, dukungan elite politik, dan dukungan 
akar rumput partai. 

Pertama, berbicara soal kekayaan, Bahlil dapat dikatakan yang terdepan. 
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 2020, kekayaan 
Bahlil mencapai Rp300 miliar. Agus Gumiwang Rp197,4 miliar (LHKPN 2021), 
Bamsoet Rp98 miliar (LHKPN 2019), Zainudin Amali Rp20,5 miliar (LHKPN 2021), 
dan Ahmad Doli Rp14 miliar (LHKPN 2019).

Selain sebagai simbol kekuatan personal, sudah menjadi rahasia umum bahwa 
mengadakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) membutuhkan dana yang 
besar.

Kedua, terkait dukungan elite politik, Bahlil kembali disebut sebagai yang 
terdepan. Pasalnya, kembali mengutip Kumparan, pada Lebaran kemarin Bahlil 
disebut sudah mengungkapkan keinginannya secara terbuka menjadi Ketum Golkar di 
hadapan Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua DPR Puan Maharani, Menteri Perdagangan 
M. Luthfi, dan Bamsoet. Menariknya, Bamsoet disebut memberikan dukungan. 

Selain itu, Bahlil juga dipercaya memiliki kedekatan khusus dengan Presiden 
Jokowi. Ini terbukti dari dibuatnya kementerian baru dan diangkatnya Bahlil 
menjadi Menteri Investasi. Konteksnya mirip dengan Luhut Binsar Pandjaitan yang 
membuat RI-1 mengganti nama jabatan Menteri Koordinator (Menko) Bidang 
Kemaritiman menjadi Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves).

Sementara terkait posisi Luhut, ada dua informasi yang beredar. Di satu sisi 
Luhut disebut tidak mendukung Bahlil karena dinilai belum berpengalaman 
memimpin Golkar. Namun, di sisi lain, Bahlil disebut-sebut menjadi salah satu 
orang kepercayaan Luhut saat ini. 

Ketiga, sayangnya, untuk modal ini Bamsoet adalah yang terdepan. Dalam AD/ART 
Partai Golkar, tepatnya Pasal 39 ayat 3, terdapat syarat teknis untuk menggelar 
Munaslub, yang salah satunya adalah permintaan dan/atau persetujuan 
sekurang-kurangnya 2/3 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi.

Sebagai sosok terkuat pesaing Airlangga pada Munas X Golkar, Bamsoet telah 
memiliki dan merawat loyalisnya sampai saat ini. Namun, seperti yang disebutkan 
sebelumnya, jika benar Bamsoet mendukung Bahlil, bukan tidak mungkin loyalisnya 
akan diarahkan untuk mendukung mantan Ketum HIPMI tersebut.

Well, merangkum ketiga modal politik itu, tampaknya tidak berlebihan mengatakan 
Bahlil adalah kandidat terkuat pengganti Airlangga jika Munaslub benar-benar 
diselenggarakan.

 
Golkar adalah Partai Rasional
Setelah mengulas modal politik Bahlil, ada satu lagi penjelasan penting yang 
perlu dipahami. Tidak seperti Partai Gerindra dan PDIP, Golkar bukan merupakan 
personalisasi partai. Langgengnya kekuasaan partai beringin tidak dibangun di 
atas sosok sentral, melainkan melalui pengalaman mereka dalam mengelola konflik 
internal.

Akbar Tandjung dalam buku The Golkar Way: Survival Partai Golkar di Tengah 
Turbulensi Politik, menyebut Golkar sebagai catch-all party atau partai yang 
fleksibel untuk bersinergi, plus menarik massa dari berbagai karakteristik, 
latar belakang, dan ideologi.
Akbar menyebut kunci keberhasilan Partai Golkar mampu beradaptasi dengan 
berbagai turbulensi politik adalah karena, sejak awal, partai ini memposisikan 
diri sebagai kekuatan politik yang terbuka (catch-all party) dan tidak menganut 
ideologi politik yang ekstrem – baik kiri maupun kanan.

Sikap politik terbuka yang dimaksud adalah kepemimpinan partai yang tidak 
tersentralisasi dan merangkul sebanyak mungkin kelompok sosial untuk 
kepentingan pemilu. Sikap politik yang moderat dan terbuka tersebut memudahkan 
partai untuk menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi politik.

Selain memposisikan diri sebagai partai terbuka, yang paling menarik dari 
Partai Golkar adalah kemampuan mereka mengelola konflik internal menjadi 
keunggulan. Sejak Reformasi, partai ini selalu dihadapkan pada friksi internal 
perebutan posisi ketua umum. Namun anehnya, tidak seperti partai-partai yang 
mengalami kemunduran, partai beringin justru tetap kokoh sebagai partai 
penguasa.

Kata kunci atas hal ini ada dua, yakni kepemimpinan yang tidak tersentralisasi 
dan sikap partai yang rasional. Suka atau tidak, mudah membayangkan bahwa 
personalisasi partai seperti PDIP dan Gerindra akan mengalami kemunduran 
apabila Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri tidak lagi menjadi ketua 
umum partai. Kedua partai ini belum memiliki pengalaman mengelola konflik 
internal seperti Golkar.

Kemudian, prestasi Golkar yang selalu dekat dengan kekuasaan merupakan buah 
dari sikap partai yang rasional. Sebagai partai yang kadernya banyak diisi 
pengusaha, Golkar tampaknya menjadikan kalkulasi untung-rugi khas ekonomi 
menjadi acuan kebijakan partai. 

Ini pula yang menjadi alasan Airlangga berusaha dikudeta. Berbagai tokoh Golkar 
menilai elektabilitas Airlangga yang rendah akan menjadi beban partai di Pemilu 
2024. Bahkan ada kalkulasi yang menyebut Golkar hanya akan memperoleh 60 kursi 
di Pileg 2024, menurun dari 85 kursi pada Pileg 2019.

Seperti pernyataan Sirajuddin Abdul Wahab di awal tulisan, jangan sampai 
Airlangga justru menjadi beban partai. Keputusan Munas X Golkar untuk 
menjadikan Airlangga sebagai capres di 2024 justru menjadi beban besar yang 
harus dipikul oleh kader partai beringin.

Sebagai penutup, jika benar Bahlil akan menggantikan Airlangga Hartarto sebagai 
Ketum Golkar, maka tantangan terbesarnya adalah menjaga dan/atau meningkatkan 
perolehan kursi partai beringin pada Pemilu 2024. Lantas, mampukah Menteri 
Investasi itu melakukannya? (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/ED923C5B532341EDAC788A7733100FD4%40A10Live.

Reply via email to