Pertarungan Partai Makin Perparah ‘Mimpi Buruk AS’
2022-06-16 
13:05:42https://indonesian.cri.cn/2022/06/16/ARTIQ6ZFbGOUWUo22uEacssG220616.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.12



“Seandainya AS tidak memecahkan masalah sistem yang mengancam demokrasi, maka 
rapat dengar pendapat mengenai insiden kerusuhan Capitol tidak akan ada 
hasilnya” demikian dikatakan Nolan Higdon, sorang jurnalis senior AS baru-baru 
ini.

Hingga hari Selasa lalu (14/6), komisi penyelidik khusus Dewan Perwakilan 
Rakyat (DPR) AS telah mengadakan 2 kali rapat dengar pendapat terkait insiden 
kerusuhan Capitol. Dalam komentarnya, CNN melaporkan, siaran langsung rapat 
dengar pendapat ini dapat mengingatkan dampak ‘mimpi buruk’ AS kepada warga AS 
sendiri. Bagi dunia, ini adalah sebuah kesempatan untuk mempertimbangkan 
kembali demokrasi ala-AS.

Pada tanggal 6 Januari 2021, ribuan pendukung Donald Trump,   Presiden AS saat 
itu, menyerbu gedung Capitol, mencoba mengubah hasil pemilu AS melalui 
kekerasan yang mengakibatkan 5 orang tewas, lebih dari 140 polisi terluka dan 
700 orang lebih ditangkap. 

Insiden tersebut dianggap sebagai ‘momen tergelap demokrasi AS’. Dilihat dari 
luar, insiden tersebut merupakan ketidakpuasan pendukung Trump terhadap hasil 
pemilu, pada hakikatnya adalah akibat keretakan intern AS dan eskalasi 
polarisasi politik AS dalam jangka panjang.

Banyak video dan kesaksian diungkapkan dalam dua kali rapat dengar pendapat ini 
untuk membuktikan ada tidaknya hubungan langsung antara Trump dengan kerusuhan 
Capitol, dan apakah Trump sengaja menuding kecurangan pemilu setelah mengetahui 
kegagalannya. Video dan kesaksian itu sekali lagi membuka ‘bekas luka’ 
demokrasi ala-AS, dan lebih lanjut mengungkapkan bahwa demokrasi ala-AS 
hanyalah alat bagi para politikus untuk mempertarungkan kekuasaan.



Tiongkok Desak AS Segera Hentikan Aktivitas Siber Jahat terhadap Seluruh Dunia
2022-06-16 
13:02:37https://indonesian.cri.cn/2022/06/16/ARTIIQP0ahIU2NZeHvaRxznd220616.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.13
Dalam jumpa pers hari Rabu kemarin (15/6), jubir Kemlu Tiongkok Wang Wenbin 
menekankan, pihak Tiongkok mendesak AS untuk segera menghentikan aktivitas 
siber jahatnya terhadap seluruh dunia, dan mengambil sikap yang 
bertanggungjawab dalam ruang siber.

Media baru keamanan informasi ‘Anzer’ dalam laporannya baru-baru ini 
menunjukkan, lembaga di bawah badan keamanan nasional AS berturut-turut mencuri 
data rahasia para pelanggan internet global. Selain itu, pemerintah AS menuntut 
perusahaan internet AS untuk melakukan litbang senjata penyerang terhadap 
sarana telekomunikasi Tiongkok.

Wang Wenbin menyatakan bahwa Tiongkok telah memperhatikan laporan terkait. Hal 
ini sekali lagi mencerminkan, AS sudah menjadi ancaman pertama dalam bidang 
keamanan siber bagi Tiongkok dan seluruh dunia.  AS sedang menciptakan sebuah 
poros pencurian data rahasia siber dengan AS sebagai intinya.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/172980DA9DD940EABFD35D65CF920147%40A10Live.

Reply via email to