Sekitar Seratus Negara Membela Tiongkok, Penyelidikan terhadap HAM AS Hendaknya 
Dijadwalkan
2022-06-18 
13:34:31https://indonesian.cri.cn/2022/06/18/ARTINCBzhdvEQU0lZRR7fNQV220618.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.17



Belakangan ini, dalam Konferensi ke-50 Dewan HAM PBB yang diadakan di Jeneva 
terjadilah adegan ini, sekitar 70 negara yang diwakili Kuba berpidato bersama 
untuk menentang intervensi terhadap urusan dalam negeri Tiongkok dengan dalih 
HAM, sementara itu, lebih dari 20 negara berpidato sendirian untuk mendukung 
Tiongkok.

Adegan ini berkali-kali terjadi di arena internasional termasuk Dewan HAM PBB. 
Hampir seratus negara membela Tiongkok dengan cara yang berbeda, hal ini 
menunjukkan bahwa komunitas internasional khususnya negara berkembang mempunyai 
keputusan jelas mengenai baiknya atau tidak HAM Tiongkok, dan dengan tegas 
menentang Barat yang dipimpin AS menjadikan HAM sebagai alat politik untuk 
menindas saingannya. Suara adil dalam Dewan HAM ini adalah balasan tegas 
terhadap percobaan Barat yang dipimpin AS untuk mengupayakan hegenomi  denagn 
dalih HAM.

Tahun-tahun terakhir ini, di latar belakang AS memandang Tiongkok sebagai 
saingan strategis terbesar, Masalah Xinjiang, Hong Kong, Xizang (Tibet), Taiwan 
menjadi kartu yang dimainkan politikus AS untuk mencegat Tiongkok.

Kebohongan yang diulangi seribu kali tetap adalah kebohongan. Dalam Dewan HAM 
PBB, kebijakan Tiongkok mengenai tata kelola di Xinjiang  mendapat pengertian 
dan dukungan komunitas internasional termasuk negara-negara Islam, ini adalah 
bukti jelas. Kalau tidak mengenal betul hakiki masalah Xinjiang adalah masalah 
anti terorisme,kekerasan dan separatisme, tiada penindasan terhadap Muslim yang 
disebut, mana mungkin negara-negara Ialam membela Tiongkok?

Pada Mei tahun ini, kunjungan Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet 
ke Tiongkok yang dinantikan oleh Barat tidak saja memberikan bukti untuk 
perkataan fitnah mereka, malah secara objektif memperlihatkan prestasi Tiongkok 
di bidang HAM kepada dunia. Michelle Bachelet menekankan, dirinya mengadakan 
komunikasi luas yang tidak diawasi selama kunjungan di Tiongkok, dan ini secara 
langsung membantah  tidak transparannya yang digembar-gemborkan Barat, terdapat 
pula beberapa pejabat AS mengakui tiada masalahnya di Xinjiang, pembuatan 
kebohongan bertujuan mencoreng dan menekan Tiongkok.



Sebenarnya, semua orang jelas, begitu membicarakan soal pengabaian dan 
penginjakan HAM, AS baru adalah oknum terbesar. Dari satu juta orang tewas 
karena kegagalan penanggulangan wabah, sampai sering terjadinya kontradiksi ras 
dan kekerasan penembakan, dari hampir satu juta orang tewas dan jutaan orang 
kehilangan tempat tinggal karena perang agresi yang terus dilakukan AS, sampai 
penjara gelap di luar AS yang sewenang-wenang melanggar HAM, orang yang 
menginjak HAM ini mana ada kualifikasi untuk membicarakan soal HAM?

Pada April tahun ini, Duta Besar Kuba untuk PBB Pedro Luis Pedroso mengeluarkan 
pertanyaan yang menyentuh hati, suatu hari, apakah   Majelis Umum PBB menerima 
resolusi untuk menghentikan sementara kualifikasi keanggotaan AS di Dewan HAM? 
Padahal, ini juga adalah suara hati negara berkembang yang luas. Ketika AS 
menyerang negara lain dengan dalih HAM, komunitas internasional seharusnya 
memberikannya sebidang cermin yang terbesar kepadanya. Sedangkan penyelidikan 
Dewan HAM PBB terhadap kondisi HAM AS harus sesegera mungkin dimasukkan dalam 
agenda.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8748B6E7676A46458F5DCF8B00810B39%40A10Live.

Reply via email to