‘Gagasan Tiongkok’ Ini Dorong Pelaksanaan Inisiatif Pembangunan Global 2022-06-19 11:22:26https://indonesian.cri.cn/2022/06/19/ARTImLR5zjuUlLinpe67lDIv220619.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.12
Presiden Tiongkok Xi Jinping secara virtual menghadiri Sesi Pleno Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) ke-25 dan menyampaikan pidato penting pada Jumat lalu (17/06). Dalam pidatonya Xi Jinping menekankan “Hendaknya mendorong pelaksanaan Inisiatif Pembangunan Global, menciptakan dan menikmati bersama hari depan indah yang damai, makmur dan indah”, dia mengajukan empat butir usulan aksi yaitu menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, membangkitkan kemitraan perkembangan, mendorong proses globalisasi ekonomi dan mempertahankan inovasi sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi. ‘Inisiatif pembangunan global’ diajukan oleh Presiden Xi di Sesi Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB Ke-76 pada September 2021, intinya ialah mempertahankan pembangunan yang diprioritaskan, rakyat diutamakan, keinklusifan, inovasi sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi, manusia hidup secara harmonis dengan alami, berorientasi pada pelaksanaan, untuk membangun komunitas senasib sepenanggungan global. Inisiatif ini sesuai dengan kebutuhan berbagai negara yang mempercepat pemulihan ekonomi pasca pandemi, mendapat dukungan meluas dari PBB dan lebih 100 negara, dinamakan sebagai akselerator untuk mewujudkan proses pembangunan berkelanjutan 2030 PBB Dewasa ini, pandemi Covid-19 tetap merebak di dunia, situasi internasional semakin goncang akibat konflik Rusia-Ukraina, sanksi ekstrimis yang dikenakan dunia Barat kepada Rusia memberikan pukulan berat kepada rantai industri dan rantai pasokan global, energi, moneter serta ketahanan pangan. Sementara itu, negara-negara Barat bertolak dari pendirian sendiri, menyusun kebijakan ekonomi makro yang terlalu longgar, atau memberikan hambatan kepada globalisasi, telah mengakibatkan rakyat sedunia khususnya kelompok orang berpendapatan rendah mengalami kerugian besar-besar. Dilaporkan tahun ini terdapat 263 juta orang di dunia terjerumus dalam ‘kemiskinan ekstrimis’ Di bawah latar belakang ini, Presiden Xi dalam pidatonya memberikan usulan konkret demi mendorong pelaksanaan Inisiatif Pembangunan Global. Selama satu tahun ini, Tiongkok selalu berupaya bersama berbagai negara menyinergi bidang kerjasama, kebutuhan perkembangan dan mekanisme kerjasama, untuk menyediakan peluang baru kepada seluruh dunia dengan berdasarkan perkembangan baru negerinya sendiri. Kini meskipun menghadapi berbagai tantangan seperti pandemic, tetapi dasar Tiongkok yang berkeuletan ekonomi yang kuat, berpotensi yang besar, dan berkembang membaik dalam jangka panjang tidak berubah. “Tiongkok akan terus mendorong pembangunan berkualitas tinggi, dengan teguh memperluas keterbukaan pada level tinggi, memperdalam pembangunan bersama Sabuk dan Jalan” , suara Tiongkok yang disampaikan di depan SPIEF ke-25 itu menandakan, Tiongkok tidak hanya memiliki gagasan sendiri tapi juga akan mengambil langkah riil untuk mendorong pelaksanaan Inisiatif Pembangunan Global. Sekjen PBB: Perhatikan "Krisis Kesehatan Mental Global" 2022-06-19 11:16:33https://indonesian.cri.cn/2022/06/19/ARTIDhN7f2bYL5YjLd4uBouY220619.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.13 Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres Jumat lalu (17/6) memperingatkan bahwa hampir 1 miliar orang di seluruh dunia, termasuk jutaan anak-anak dan remaja, menghadapi kondisi kesehatan mental. Krisis keamanan mental global ini makin serius akibat pandemi Covid-19. Dia menghimbau pemerintah berbagai negara mementingkan masalah ini. Dalam pidato videonya pada peluncuran Laporan Kesehatan Mental Dunia 2022: Mentransformasi Kesehatan Mental Untuk Semua Orang(World Mental Health Report 2022: Transforming Mental Health For All), Guterres mengatakan bahwa hampir 1 miliar orang di seluruh dunia, termasuk jutaan anak-anak dan remaja menghadapi kondisi kesehatan mental, mayoritas dari mereka tidak memiliki akses untuk mendapat pengobatan. "Layanan mungkin tidak tersedia atau tidak terjangkau. Stigmatisasi kepada penyakit terkait juga menghalangi orang untuk mencari bantuan," tuturnya. Guterres mengatakan bahwa orang yang jatuh penyakit kesehatan mental lebih mudah menghadapi risiko pelecehan fisik dan emosional, penolakan dalam pendidikan dan pekerjaan, serta pelanggaran hak asasi manusia lainnya. "Kerugiannya, baik manusia maupun finansial, sangat besar. Depresi dan kecemasan saja merugikan ekonomi global sekitar 1 triliun dolar AS per tahun." "Sayangnya, di sebagian besar negara, kesehatan mental masih menjadi ranah kebijakan kesehatan yang paling diabaikan," seperti diperingatkan Guterres Mengomentari laporan yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Guterres mengatakan laporan itu merupakan peta jalan untuk memandu negara-negara dalam meningkatkan sistem kesehatan mental mereka. "Saya merekomendasikannya kepada pemerintah-pemerintah, dan para pemangku kepentingan kesehatan mental, di mana pun," tutur Guterres. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4F2159CF4B0C4AF4B54911E26CB14AD8%40A10Live.
