Misi Persahabatan Indonesia-Tiongkok -- Abdullah Umar, Wu Zhiman
Susy Ong
Long Fa
   

Kisah yang saya posting ini mungkin tidak banyak diketahui oleh generasi muda 
sekarang, kisah ini mungkin hanya diketahui oleh generasi orang Tionghoa Medan 
yang usianya sudah diatas 75 tahun atau mungkin 80 tahun tentang kisah 
persahabatan seorang pejuang bangsa Indonesia yang bernama Saleh Umar Hasibuan 
dengan Wang Renshu alias Ba Ren (Duta Besar pertama Republik Rakyat Tiongkok 
untuk Indonesia yang pertama). 
Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa sebelum diangkat menjadi Duta Besar 
pada bulan Agustus tahun 1950 Wang Renshu pernah tinggal Sumatra utara selama 7 
tahun. Selama zaman penjajahan Jepang ia memimpin organisasi pemuda Tionghoa 
Perantau bawah tanah anti Jepang 'Liga Anti Fasis Sumatra'. Para anggota 
organisasi bawah tanah anti Jepang ini pada masa Orde Lama dikenal sebagai para 
pimpinan komunitas Tionghoa Perantau di Sumatra utara dan Aceh dan pimpinan 
dari sekolah-sekolah Tionghoa Perantau di Sumatra utara dan Aceh. Abdullah Umar 
Hasibuan alias Wu Zhiman anak dari Saleh Umar kemudian dijadikan anak angkat 
oleh Wang Renshu. 
Apakah Wang Renshu dan kawan-kawannya saat memimpin komunitas Tionghoa Perantau 
dalam perjuangan bawah tanah anti Jepang dan saat perang Kemerdekaan Indonesia 
hanya berjuang sendiri? Jawabannnya tentu tidak, komunitas Tionghoa Perantau 
Sumatra utara berjuang melawan tentara Jepang, tentara Inggris dan tentara 
Belanda bersama para pejuang Indonesia. Siapa para pejuang Indonesia? Orang 
lama di Sumatra utara pasti mengenal nama-nama seperti Abdul Xarim MS, Nathar 
Zainuddin, Saleh Umar Hasibuan pimpinan Barisan Harimau Liar, dan 
rekan-rekannya yang lain. Iya mereka para pejuang Indonesia ini adalah pimpinan 
organisasi Persatuan Perjuangan Sumatra Timur, group mereka ini yang 
menyebabkan kerajaan-kerajaan Melayu lenyap dari Sumatra utara atau yang 
dikenal dengan sebutan 'Revolusi Sosial di Sumatra Timur'. 
=====================================
Umar Saleh lahir di kota Medan pada tanggal 18 Maret tahun 1931 dengan nama 
Abdullah Umar Hasibuan dari ayah yang bernama Saleh Umar Hasibuan dan ibu 
bernama Zahar Pasaribu. Ayahnya adalah seorang pejabat tinggi di kota Pematang 
Siantar pada masa Hindia-Belanda dan sangat mencintai budaya Tionghoa. Pada 
masa perang dunia kedua telah meletus di Asia dan setelah terjadi peristiwa 
‘Insiden 920’ tahun 1943 di Sumatra Utara Saleh Umar Hasibuan membantu dan 
menyembunyikan Wang Renshu (王任叔), Zhang Chukun (张楚琨) dan rekan-rekannya yang 
lain, yaitu para budayawan asal Tiongkok yang melarikan diri dari Singapura 
menjelang kedatangan tentara Jepang ke Singapura. Setelah terjadi ‘Insiden 920’ 
di kota Medan yang berakibat ditangkapnya lebih dari 100 orang Tionghoa 
Perantau pejuang bawah tanah anggota organisasi ‘Su Dao Fan Faxisi Zong 
Tongmeng (苏岛反法西斯总同盟 - Liga Anti Fasis Sumatra)’, Wang Renshu, Liu Yan (刘岩), 
Zhang Bao, Lin Kesheng, dan lain-lain berhasil meloloskan diri dan atas bantuan 
Saleh Umar dan pengikutnya mereka dibawa ke kota Pematang Siantar dan kemudian 
disembunyikan pada satu desa kecil didaerah Parapat, Danau Toba. Sejak saat itu 
hubungan baik terjalin diantara Saleh Umar dengan Wang Renshu dan 
kawan-kawannya, hubungan baik tersebut berlanjut pada masa perang Kemerdekaan 
Indonesia melawan tentara Inggris dan Belanda dari tahun 1945 sampai dengan 
tahun 1949. 
Pada masa belajar di jenjang taman kanak-kanak dan masa tiga tahun pertama 
belajar pada jenjang sekolah dasar Umar Saleh belajar di sekolah Tionghoa Mei 
Yi Mei (美一美中华学校) kemudian ia saat naik kelas empat pindah ke sekolah dasar 
Tionghoa milik Guomindang sampai lulus. Pada masa tentara Jepang berkuasa di 
Sumatra utara Umar Saleh tidak dapat melanjutkan belajar di jenjang sekolah 
menengah pertama, begitu pun sesudah masa Kemerdekaan Indonesia, saat ia ingin 
melanjutkan belajar perang kemerdekaan Indonesia meletus di Sumatra utara, 
karena keadaan yang kacau akibat situasi perang maka Umar Saleh untuk sementara 
waktu harus menahan keinginannya untuk melanjutkan belajar. 
Setelah Tiongkok baru berdiri pada tanggal 1 Oktober tahun 1949 dan Wang Renshu 
diangkat menjadi Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia pada bulan 
Agustus tahun 1950 sebulan kemudian saat Wang Renshu melakukan kunjungan resmi 
ke kota Medan untuk bertemu dengan komunitas Tionghoa Perantau Saleh Umar 
meminta Duta Besar Wang Renshu untuk membawa kedua orang anaknya ke Tiongkok 
untuk melanjutkan belajar pada jurusan bahasa mandarin dan olahraga. Sebelum 
bertemu dengan Duta Besar Wang Renshu pada bulan April tahun 1950 Umar Saleh 
dan adiknya dikirim ke Singapura untuk belajar bahasa mandarin. 
Setelah menyelesaikan berbagai macam kesulitan pada akhir tahun 1950 Umar Saleh 
dan adiknya pergi ke Tiongkok untuk melanjutkan belajar. Duta Besar Wang Renshu 
memberikan nama Tionghoa kepada Umar Saleh, nama tersebut adalah Wu Zhiman 
(吴志曼). Sejak saat itu Umar Saleh di Tiongkok dan dikalangan orang Tionghoa 
dikenal dengan nama Wu Zhiman. Pada saat berangkat ke Tiongkok Wu Zhiman selalu 
mengingat pesan dan nasehat ‘Paman Wang (panggilan terhadap Duta Besar Wang 
Renshu)’: ‘Kamu harus bisa membawa diri menjadi orang Tiongkok, karena jika 
kamu bertindak seperti orang asing, maka mereka akan memperlakukan dirimu 
seperti orang asing, hidup yang seperti ini menjadi tidak berarti’. Pesan dari 
‘Paman Wang’ selalu diingat oleh Wu Zhiman seumur hidupnya. 
Setelah menyelesaikan belajarnya di sekolah Rumah Sakit Angkatan Udara, Wu 
Zhiman ditugaskan ke provinsi Guangdong untuk ikut serta gerakan reformasi 
tanah, yang saat itu merupakan suatu kampanye besar yang dilaksanakan oleh 
Rakyat Tiongkok. Dari bulan Maret tahun 1951 sampai dengan bulan Maret tahun 
1953, Wu Zhiman ditugaskan di distrik Huiyang, kota Huizhou, propinsi Guangdong 
(广东省惠州市惠阳区). Saat ikut serta didalam gerakan reformasi tanah dan tinggal 
bersama-sama dengan kaum tani, Wu Zhiman melihat dengan mata kepalanya sendiri 
kehidupan petani miskin di Tiongkok dan ia dalam kehidupan sehari-harinya ikut 
bekerja dan makan bersama dengan kaum Tani. Rumah kaum Tani sangat kecil, hanya 
terdapat satu buah kamar, ruang keluarga dan dapur menjadi satu. Didalam kamar 
hanya terdapat satu tempat tidur dipan kayu berukuran sedang yang menjadi 
tempat istirahat bagi empat orang (suami, istri, anak dan Wu Zhiman). Saat 
musim dingin pada malam hari sangat dingin karena didalam kamar tidak ada 
pemanas. Uang yang Wu Zhiman peroleh dari pemerintah sangat kecil hanya sebesar 
RMB 18-19/bulan. Biaya hidup tersebut ia habiskan bersama-sama dengan keluarga 
petani untuk makan dan mencukupi biaya hidup sehari-hari. 
Karena ukuran rumah sangat kecil pupuk yang terbuat dari kotoran tahi sapi dan 
tahi anjing juga harus ditaruh didalam rumah. Makan didalam rumah berdekatan 
dengan tempat menaruh pupuk. Kehidupan seperti ini di distrik Huiyang selama 
dua tahun. Pada saat itu, seorang bibi tua didesa sangat berterima kasih kepada 
Wu Zhiman karena sering membantunya dalam bekerja. Saat Wu Zhiman akan 
meninggalkan desa karena tugasnya sudah selesai bibi tua dan keluarga petani 
tempat tinggal selama di Huiyang mengantar sampai di pintu gerbang desa. Mereka 
berlinang airmata saat mengantar kepergian Wu Zhiman. 
Pada tahun 1953-1954, Wu Zhiman bekerja pada departemen umum ‘Overseas Chinese 
School Guangzhou (广州华侨补校)’ menjadi pegawai untuk urusan kantin sekolah. Pada 
saat musim dingin setiap dua hari sekali 1-2x sehari pada pagi hari jam 5 
mengendarai sepeda pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Setelah Overseas 
Chinese School selesai seluruhnya dibangun Wu Zhiman bisa mewujudkan 
keinginannya untuk menuntut ilmu, setelah selesai mengerjakan pekerjaannya pada 
waktu subuh, pada pukul 7.30 pagi ia masuk kelas untuk belajar bersama-sama 
dengan para siswa Tionghoa Perantau yang berasal dari luar negeri. 
Setelah menamatkan belajar di ‘Overseas Chinese School’ Wu Zhiman melanjutkan 
belajar ke sekolah menengah Industri dan pertanian, sekolah menengah ini 
berafiliasi dengan Sun Yatsen University Guangzhou. Anak-anak yang belajar di 
sekolah ini merupakan anak dari para senior kader Partai Komunis Tiongkok (PKT) 
dan para prajurit yang menderita cacat akibat perang korea serta tentara dari 
Tentara Pembebasan Rakyat. Wu Zhiman sebagai siswa asing yang belajar di 
sekolah ini sering mendapatkan hasil yang memuaskan diatas rata-rata siswa 
Tiongkok pada umumnya. Nilai pelajaran bahasa mandarin selalu nomor satu dari 
seluruh siswa asing yang belajar di sekolah ini. 
Pada tahun 1958 Wu Zhiman berhasil lolos dalam ujian masuk Beijing University 
(北京大学 - Peking University) untuk menempuh belajar di jurusan ‘Sejarah Modern 
(近代史系)’. Li Na (李纳) anak perempuan dari Mao Zedong juga satu angkatan dengan Wu 
Zhiman, ia belajar pada jurusan ‘Sejarah Kuno (古代史系). Mereka sering bertemu dan 
belajar di kelas yang sama pada mata kuliah bersama. Li Na adalah seorang siswi 
yang cerdas dan sangat mandiri.
Pada saat musim dingin ataupun musim panas setiap hari saat pergi ke kelas Wu 
Zhiman selalu mengendarai sepeda. Asrama tempat ia tinggal letaknya agak 
sedikit jauh dari blok gedung tempat ia belajar. Karena rajin menabung pada 
tahun kedua belajar di university Wu Zhiman saat libur musim dingin dan panas 
pergi ke kota Moscow, Uni Soviet dan kota Hanoi di Vietnam utara (pada tahun 
1950an negara Vietnam masih terbagi menjadi dua bagian yaitu Vietnam utara 
dengan ibukota Hanoi dan Vietnam selatan dengan ibukota Saigon). Pada saat 
mengunjungi kota Hanoi para siswa dari Peking University diundang oleh Presiden 
Ho Chi Minh pada satu acara jamuan makan malam. 
Pada bulan September tahun 1956, Presiden Soekarno untuk pertama kalinya 
mengunjungi Tiongkok. Kunjungan resmi kenegaraan ini dilakukan selama 15 hari, 
sejak tanggal 30 September sampai dengan tanggal 15 Oktober. Sebelum datang ke 
Tiongkok Presiden Soekarno dan rombongan secara berturut-turut melakukan 
kunjungan resmi kenegaraan ke beberapa negara seperti Uni Soviet, Jugoslavia, 
Austria, Chekoslovakia dan Mongolia. Selama berkunjung ke Tiongkok Presiden 
Soekarno dan rombongan mengunjungi sejumlah kota penting, seperti Beijing, 
Shenyang, Anshan, Dalian, Changchun, Nanjing, Shanghai, Hangzhou, Wuhan, 
Guangzhou dan Kunming. Pada saat Presiden Soekarno dan rombongan tiba di 
Beijing Wu Zhiman dan para mahasiswa Tionghoa Perantau asal Indonesia yang 
sedang belajar di Peking University mendapatkan undangan dari pemerintah agar 
mereka menghadiri acara pertemuan yang dihadiri oleh pemerintah RRT dengan 
rombongan Presiden Soekarno. Para siswa asal Indonesia menemani rombongan 
Presiden Soekarno dalam berbagai kegiatan dan kunjungan yang dilakukan selama 
berada di Tiongkok. Kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa asal Indonesia 
sangat diapresiasi oleh pihak militer Indonesia yang mendampingi Presiden 
Soekarno. Beberapa orang mahasiswa asal Indonesia yang sudah menyelesaikan 
belajar di Tiongkok pada tahun 1960an saat kembali ke Indonesia banyak 
difasilitasi oleh pihak militer yang mendampingi Presiden Soekarno pada tahun 
1956 tersebut. 
Pada tahun 1957 Wu Zhiman menikah di kota Guangzhou dengan seorang perempuan 
Tionghoa Perantau berparas cantik dari Thailand bernama Chao Yingping (朝英平). 
Pada tahun berikutnya keduanya sama-sama di terima belajar di Peking 
University. Kehidupan mereka berdua selama di Beijing sangat Bahagia. Setelah 
menyelesaikan belajar di Peking University dan keduanya bekerja menjadi dosen 
pengajar, Wu Zhiman dan Chao Yingping berhasil membeli rumah dan tinggal 
sharing dengan seorang Professor yang menjadi dosen pengajar di Peking 
Univerisy. Anak pertama dan kedua Wu Zhiman dan Chao Yingping yang bernama 
Siauman Hasibuan (小曼) dan Sianur Hasibuan (小二) dibesarkan dirumah tersebut dan 
belajar di sebuah taman kanak-kanak yang terletak dibelakang Peking Univeristy. 
Chao Yingping berteman baik dengan Li Na dan waktu tertentu Li Na sering datang 
berkunjung ke rumah Chao Yingping dan sering datang membawa anak-anaknya. Xiao 
Man dan Xiao er sering bermain bersama dengan anak-anak Li Na. 
Memasuki tahun 1963 takdir tidak dapat di elak Wu Zhiman memutuskan untuk 
kembali ke Indonesia, karena keputusan ini harus dijalani bersama, Chao 
Yingping dan kedua anak-anak mereka juga ikut menyertai kembali ke Indonesia. 
Memasuki tahun ajaran baru pada bulan September tahun tahun 1963 Wu Zhiman dan 
Chao Yingping yang telah Kembali ke Indonesia memutuskan untuk tinggal di kota 
Jakarta karena kemampuan bahasa mandarin mereka berdua sangat baik dan keduanya 
merupakan alumni Peking University jurusan ‘Sejarah’ maka keduanya diterima 
bekerja menjadi guru bahasa mandarin dan guru sejarah pada jenjang sekolah 
menengah atas sekolah Tionghoa Perantau Xin Hua School (新华学校) Pasar Baru dan Ri 
Xin Middle School (日新中学 - Jih Hshin Middle School) Pantjoran. 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A408757298AD4734818FD38FA7CB20BB%40A10Live.

Reply via email to