Tiongkok Mendesak Negara-negara Barat Segera Menghapuskan Sanksi Sepihak
2022-06-25 
10:20:25https://indonesian.cri.cn/2022/06/25/ARTIHcjrf817caNjp6v6ULxk220625.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.12

Wakil Tiongkok hari Jumat kemarin (24/6) dalam Pertemuan Dewan HAM PBB ke-50 
dan Dialog Ahli Independen mengenai HAM dan Solidaritas Internasional 
berpidato, mendesak Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lain segera 
menghapuskan sanksi sepihak, dan menghentikan pelanggaran HAM rakyat negara 
lain.

Wakil Tiongkok menyatakan bahwa sanksi sepihak melanggar tujuan dan prinsip 
Piagam PBB, melanggar hukum internasional dan prinsip dasar hubungan 
internasional. 

AS dan negara-negara Barat lain mengenakan sanksi sepihak terhadap 
negara-negara berkembang, secara serius menghalangi pembangunan ekonomi dan 
sosial serta usaha pengentasan wabah di negara-negara yang terkena sanksi, 
secara serius merugikan hak-hak dasar rakyat negara terkait, seperti hak 
kelangsungan hidup, hak berkembang, dan hak atas kesehatan, Tiongkok menyatakan 
keprihatinan serius terhadap hal ini, mendesak AS dan negara-negara Barat lain 
segera menghapuskan sanksi sepihak, menghentikan pelanggaran HAM rakyat negara 
lain.

Hasil-Kerja Sama BRICS Jauh Lampaui Prediksi, Apa Rahasianya?
2022-06-25 
10:04:11https://indonesian.cri.cn/2022/06/25/ARTIMfShTisqho3ToOQ38v56220625.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.14
 


“Kami mengambil keputusan yang tepat pada titik krusial sejarah. Kami juga 
mengambil tindakan yang bertanggung jawab. Hal ini sangat penting bagi dunia.” 
Pada Kamis malam (23/6) lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping memimpin pertemuan 
puncak ke-14 BRICS dan menyampaikan pidato secara virtual. 

Dalam pidatonya Xi Jining menyerukan negara-negara BRICS agar bersatu padu, 
berkohesi, dan maju bersama ke masa depan. “Mekanisme BRICS mempunyai sifat 
yang sangat penting,” demikian dikatakan Wakil Direktur Pusat Wilson 
Washington, Michael Kugelman ketika mengomentari fungsi BRICS.


KTT BRICS kali ini adalah sebuah pertemuan penting yang digelar di latar 
belakang yang sangat kompleks, di mana penyebaran kasus COVID-19 tak kunjung 
selesai, ekonomi dunia mengalami resesi, krisis Ukraina semakin meningkatkan 
risiko geopolitik, mentalitas perang dingin serta politik kelompok kembali 
mencuat... kesemua itu telah membawa terpaan serius terhadap keamanan maupun 
pembangunan negara-negara BRICS.

Krisis telah mendatangkan kekacauan dan juga menjadi pendorong reformasi dan 
pembaruan, yang penting ialah bagaimana kita menghadapinya. 

Sebagai wakil dari negara-negara pasar baru dan negara-negara berkembang, 
mekanisme BRICS telah berusia 16 tahun, dan sudah memiliki keberanian dan 
kondisi untuk menghadapi segala tantangan dan kesulitan. Sebut saja ekonomi dan 
perdagangan. 

Pada 2021, volume perdagangan antar negara-negara BRICS meningkat 300 persen 
dari 2006, dan menjadi motor penggerak bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi 
global.

Tiongkok sebagai negara dengan agregat ekonomi terbesar dari BRICS tentunya 
tidak akan menyia-nyiakan peluangnya untuk memimpin kerja sama BRICS sebagai 
Ketua BRICS. 

“Mempertahankan solidaritas dan gotong royong, memelihara perdamaian dan 
ketenteraman dunia”, 

“mempertahankan kerja sama, bersama-sama menghadapi risiko dan tantangan” serta 

“mempertahankan inovasi dan menggairahkan daya hidup” dan 

“mempertahankan keterbukaan inklusif dan mempersatukan kecerdasan dan kekuatan 
kolektif”, itulah isi dari empat butir usulan yang diajukan Xi Jinping dalam 
pertemuan puncak BRICS kali ini. 

Prakarsa tersebut akan menunjukkan arah bagi kerja sama putaran baru 
negara-negara BRICS pada masa depan.

Ternyata empat butir usulan tersebut sejalan dengan semangat yang tertuang 
dalam sambutannya di depan upacara pembukaan Forum Industri dan Bisnis BRICS 
yang digelar sehari sebelumnya, yakni sama-sama mengutamakan keamanan dan 
pembangunan sebagai dua misi penting BRICS ke depan. 

Keempat usulan itu tidak hanya berfokus pada pendorongan kerja sama BRICS, tapi 
juga telah menyumbangkan solusi BIRCS bagi pendorongan perdamaian dan 
pembangunan dunia, sehingga telah memberikan “tera Tiongkok” yang baru dalam 
proses kerja sama BRICS.

Terutama Inisiatif Keamanan Global dan Inisiatif Pembangunan Global yang 
diprakarsai oleh Xi Jinping telah memenuhi permintaan negara-negara BRICS 
terhadap kerja sama antara satu sama lain. Deklarasi Beijing yang diluluskan 
dalam pertemuan kali ini dengan tegas mendukung Rusia menggelar perundingan 
dengan Ukraina, dan telah menyampaikan suaranya untuk memelihara perdamaian 
dunia.

“Menerima anggota baru akan meningkatkan dinamika bagi kerja sama BRICS, juga 
akan meningkatkan representasi dan daya pengaruh negara-negara BRICS.” Itulah 
jawaban yang diberikan Xi Jinping terkait perluasan keanggotaan BRICS yang 
disoroti dunia.

Mantan CEO Goldman Sachs, Jim O’Neil adalah orang pertama yang menggunakan 
istilah BRICS. Pada 2018, Jim O’Neil mengakui bahwa perkembangan mekanisme 
BRICS jauh melampaui prediksinya. Bagi dirinya, Tiongkok “memainkan peranan 
pendorong yang sangat penting” bagi perkembangan mekanisme BRICS. 

KTT BRICS virtual kali ini akan mendorong kerja sama BRICS ke level tinggi, dan 
berpotensi sekali lagi melampaui prediksi Jim O’Neil. Selain itu, kontribusi 
atau peran Tiongkok akan membuat BRICS semakin bersemarak, dan menuangkan lebih 
banyak “kekuatan BRICS’ dalam tata kelola global.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/91A31B893E9044ADA9EC776D62B732D7%40A10Live.

Reply via email to