Masa Depan Hong Kong di Bawah Dukungan Penuh Pemerintah Beijing
Sukron Makmun - detikNews
Jumat, 01 Jul 2022 09:05 WIB

Foto: Dok. China Media Group

Jakarta - Ketika saya berkunjung ke Hong Kong (HK) pada tahun 2019, ada kesan 
mendalam di benak saya tentang kota metropolitan ini. Indah, banyak gedung 
pencakar langit, dan maju. Kehidupannya pun sangat dinamis dan damai. Meskipun 
sangat padat, kota beton ini termasuk kota paling aman di dunia.

Pasca demo anti pemerintah yang melibatkan sekitar 1 juta demonstran dengan 
panjang barisan 1,6 kilometer menolak RUU Ekstradisi (2019), persepsi 
masyarakat internasional tentang HK sedikit berubah. Itu karena banyaknya 
fasilitas umum, pusat-pusat bisnis dan infrastruktur lain yang rusak akibat 
tindakan anarkis para perusuh.

Yang ditakutkan oleh masyarakat HK terkait isu ekstradisi adalah mereka akan 
dikirim ke pedalaman Tiongkok karena dua hal. Pertama, kejahatan penggelapan 
pajak, yang mana sudah rahasia umum bahwa sebagian besar lembaga keuangan di HK 
hidup nyaman dari limpahan penggelapan pajak dan cuci uang warga Tiongkok.


Kedua, kejahatan politik dan agama. Ini sangat menakutkan (di HK hukuman jauh 
lebih ringan karena menerapkan hukum Inggris). Padahal kekhawatiran itu 
berlebihan, sebab RUU Ekstradisi tidak mencakup kedua hal itu. Keputusan 
ekstradisi bagi warga HK juga tetap berdasar pada keputusan pengadilan HK.

Mengapa Tiongkok terkesan lemah terhadap para perusuh? Padahal, tuntutannya 
sudah mengarah pada disintegrasi, memisahkan dari Tiongkok (mainland China). 
Seolah aksi protes dibiarkan meluas, sampai parlemen HK menunda pengesahan RUU 
tersebut. Apakah Tiongkok tidak paham terhadap perkembangan situasi politik 
saat itu? Justru, Tiongkok sangat paham bahwa yang dihadapi sesungguhnya 
bukanlah rakyat HK, melainkan pihak asing yang memanfaatkan kepolosan rakyatnya 
untuk melakukan provokasi.


Presiden Xijinping disambut meriah masyarakat Foto: Dok. China Media Group

Dari situ, diharapkan supaya pemerintah terpancing dan salah menyikapi gerakan 
anti pemerintah tersebut sehingga asing (via PBB) memiliki alasan kuat untuk 
intervensi lewat jalur HAM internasional. Tiongkok sudah punya hitungan taktis 
bahwa perang asimetris akan selalu dimenangkan pihak penguasa selama ekonomi 
kuat dan stabil. Beijing sudah mengukur kekuatan dan daya tempurnya untuk 
melawan perang asimetris modern ini.

Dalam kasus ini, Tiongkok mampu mengkapitalisasi kerusuhan yang diakibatkan 
tangan hitam asing. Beijing dapat menyelesaikan masalah justru karena ada 
masalah yang timbul. Dengan anarkisme yang terjadi di HK, Beijing punya alasan 
kuat untuk memukul campur tangan asing lewat UU dan hukum.

Kebebasan yang kebablasan dengan dalih HAM dan demokrasi terus dibakar oleh 
musuh Tiongkok, dan pada akhirnya masyarakat HK secara tidak sadar ternyata 
membakar 'kebebasan' itu sendiri. Ini menguntungkan Tiongkok sehingga ia punya 
dalih kuat di hadapan masyarakat internasional untuk mengambil alih agar 
situasi dan keadaan di HK kembali seperti sedia kala. Itu sebenarnya yang 
Tiongkok inginkan, dan sekarang terbukti, HK sudah sepenuhnya di bawah kendali 
Beijing.

Dugaan Keterlibatan AS

Apakah protes anti pemerintah di HK murni demi memperjuangkan HAM dan 
kebebasan? Belum tentu. Pernyataan 'kami bersama rakyat Hong Kong' yang 
digembar-gemborkan politisi Amerika Serikat (AS) adalah isapan jempol belaka. 
Sekadar retorika untuk membuai dunia.

Faktanya, ketika ada kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh para perusuh 
terhadap masyarakat sipil, mereka diam saja. AS tidak peduli atas kehancuran 
yang dialami masyarakat HK akibat kerusuhan. Ketika krisis tidak dapat diatasi, 
di depan pers internasional presiden AS (saat itu Trump) dengan mudah lempar 
batu sembunyi tangan. Ia menyebut separatis HK sebagai perusuh dan itu urusan 
internal Tiongkok.

Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Patricia D'Alesandro Pelosi pernah mengatakan 
demonstrasi massal di HK (Juni 2019) adalah pemandangan yang indah untuk 
dilihat (a beautiful sight to behold). Sementara ia tidak mengatakan hal yang 
sama terkait kerusuhan yang terjadi di gedung kongres Capitol Hill, Washington 
(6/1/2020), meski sedikitnya 4 orang tewas akibat bentrokan antara aparat dan 
demonstran. Bentuk standar ganda AS yang sesungguhnya.

Diduga, AS melalui CIA dan NED telah menyusun taktik, mengorganisir dan memberi 
komando dari balik layar atas kekacauan di HK. Tujuan jangka panjangnya supaya 
terjadi 'Colour Revolution' di Tiongkok. Adapun tujuan jangka pendeknya adalah 
mendapatkan lebih banyak bidak catur untuk kepentingan perang dagang, dan 
berharap kerusuhan demi kerusuhan dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan baru 
bagi Tiongkok.

Kapal tradisional nelayan Hongkong ikut memeriahkan perayaan 25 tahun Hongkong 
kembali ke RRT Foto: Dok. China Media Group

Sialnya, kekacauan yang diduga buatan AS tadi akhirnya tidak terkendali bahkan 
semakin liar sehingga agen rahasianya terpaksa menampakkan batang hidungnya. 
Banyak identitas yang terekspos, termasuk penanggung jawab CIA untuk HK. Ini 
sekandal dan kegagalan operasi yang sangat memalukan. Sebab itu, presiden AS 
sangat kecewa dengan operasi CIA.

Situasi sudah jauh dari skenario awal. Insiden berdarah justru menimpa rakyat 
sipil; turis asing dan jurnalis. Padahal, CIA menginginkan, yang jadi korban 
kebrutalan harusnya demonstran, dan pelakunya adalah aparat keamanan sehingga 
AS dapat mengerahkan mesin propagandanya, menggiring opini global untuk 
mencoreng, menekan pemerintah kemudian menjatuhkan sanksi kepada pemerintah 
Tiongkok. Dengan begitu tujuan jangka pendek (memenangkan perang dagang) dan 
jangka panjang (colour revolution) dapat tercapai dengan mulus.

Setelah insiden tersebut, AS tetap melakukan propaganda secara intensif melalui 
internet. AS tidak segan memutar balikkan fakta, hitam menjadi putih dan 
sebaliknya. Hal ini yang kemudian menyulut kemarahan netizen Tiongkok 
(mainland). Pemuda dan anak belasan tahun, dengan semangat patriotisme 
terpanggil untuk melawan kesewenang-wenangan AS dan sekutunya.

Lahirlah gerakan yang menamakan dirinya 'Ring Rice Girl 814', 'Ekspedisi Diba 
817', dan 'Overseas Student Mengurung Perusuh HK pro kemerdekaan', dst. Mereka 
secara spontan terpanggil untuk melawan opini asing yang menyesatkan. Sebagai 
gantinya, mereka membangun opini publik yang bisa diakses langsung oleh dunia 
internasional.

Mereka terpanggil untuk menyuarakan aspirasi mayoritas rakyat Tiongkok. Mereka 
ikut berjuang membela negaranya melalui media sosial. Opini kontra Tiongkok 
dengan sendirinya redup, terbungkam oleh opini mereka. Bahkan, mereka mampu 
menyingkap konspirasi di balik kerusuhan yang terjadi di HK.

Kelompok separatis dan para perusuh dibuat kehilangan muka. Dengan sendirinya 
pekerjaan pemerintah untuk melawan balik opini negatif yang diciptakan AS dan 
sekutunya, sebagian besar telah beres oleh netizen Tiongkok. AS pun dibuat tak 
berdaya. Betul-betul di luar dugaan. Kerusuhan yang mereka ciptakan justru 
menjadi senjata makan tuan dan secara tidak sengaja telah menumbuhkan 
patriotisme, persatuan dan nasionalisme para pemuda di HK dan pedalaman 
Tiongkok.

Masa Depan Hongkong

Selama tetap mengikuti keinginan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari 
Beijing (sejak 1 Juli 1997 silam), masyarakat HK punya harapan besar. 
Pemerintah Tiongkok sangat unggul dan mapan dalam berbagai bidang. Di bawah 
pemerintah pusat Tiongkok, national dan social security masyarakat HK akan 
terjamin. Tanpa itu, tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk terus hidup di 
HK.

UU keamanan nasional adalah instrumen penting untuk menjaga dan melindungi 
masyarakat HK yang notabene-nya hidup di wilayah administratif khusus. Dengan 
semangat nasionalisme dan keinginan kolektif yang kuat, masyarakat HK bisa 
bangun dari keterpurukan akibat krisis politik dan pandemi COVID-19. Para elit 
dan masyarakat harus sadar bahwa kekerasan tidak akan menguntungkan bagi siapa 
saja dan untuk agenda politik manapun. Kekerasan bukanlah solusi yang baik.

Presiden Xijinping dengan kereta cepat tiba di Hongkong untuk memperingati 25 
tahun Honkong kembali ke RRT Foto: Dok. China Media Group

Beijing tentu punya agenda untuk masa depan HK, yaitu menghapus hak istimewa HK 
dalam konvensi pemisahan HK dari Britania Raya,yang itu diakui oleh PBB. Perlu 
diketahui bahwa Satu Negara Dua Sistem adalah fundamental hukum HK. Dan ini 
akan tetap dipertahankan sampai habis masa berlakunya, yaitu selama 50 tahun 
sejak penyerahan kedaulatan HK oleh Inggris kepada Tiongkok (1997). Sedangkan 
sampai saat ini, durasinya baru berjalan 25 tahun.

Pada 1 Juli nanti, masyarakat HK akan merayakan ultahnya. Perayaan atas 
kembalinya kedaulatan HK dari Britania Raya (Inggris) ke pangkuan ibu 
pertiwinya, Tiongkok. Happy Anniversary yang ke-25! Semoga impian tentang 
kesejahteraan, kemajuan, dan kehidupan yang lebih baik dapat terwujud.

Sukron Makmun, Intelektual muda NU, Wakil Sekjen Perhimpunan Alumni Tiongkok di 
Indonesia (PERHATI), dan Pengamat Geo-Politik Luar Negeri


Simak juga 'Wujud Peti Mati Kardus untuk Jenazah Covid di Hong Kong':







(akd/ega)

Baca artikel detiknews, "Masa Depan Hong Kong di Bawah Dukungan Penuh 
Pemerintah Beijing" selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-6156288/masa-depan-hong-kong-di-bawah-dukungan-penuh-pemerintah-beijing.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3C1513BE91CE4EE0857E346A0BBCB1C2%40A10Live.

Reply via email to