Kalau saja boleh mengajukan berdasarkan pengertian saya sendiri, tidak perlu 
mempertentangkan partai kader atau partai massa, sebaliknya jauh akan lebih 
baik dibuat keseimbangan antara keduanya sebagai partai kader dan juga partai 
massa. 
Mana yang lebih utama (partai kader atau partai massa) harus ditentukan sesuai 
kondisi konkrit, waktu dan tempat yang dihadapi partai saja. TENTU, secara umum 
harus ditekankan yang pokok dan utama pada partai kader! Mempertahankan 
kwalitas setiap kader dan anggota Partai yang sudah lebih 96 juta orang itu! 
Setiap saat harus mengutamakan pendidikan dan meningkatkan kemampuan dan 
kwalitas setiap kader/anggota untuk memimpin, menjadi pelopor elemen termaju 
ditengah masyarakat! Sekali-kali melancarkan pembersihan dalam partai, melalui 
gerakan belajar mengkritik tingkah-laku kader/anggota bahkan memecat keanggotan 
partai! 
Sesaat setelah Xi Jinping pegang tampuk pimpinan, melancarkan pembersihan 
Partai, tidak hanya meringkus koruptor kakap yang selama itu tidak tersentuh, 
belasan ribu pejabat komunis atas sampai bawah dan lebih 3 juta anggota yang 
sudah melempem tidak lagi pantas jadi anggota partai dipecat! Satu langkah yang 
tidak terhindar untuk mempertahankan kwalitas PKT! Bagaimanapun juga PKT yang 
dijadikan Partai TUNGGAL berperan dan bertanggungjawab memimpin negara dan 1,4 
milyar rakyat Tiongkok untuk maju lebih baik dan lebih kuat! 
Dipihak lain tentu juga harus menjadi partai massa, setiap saat menerima 
anggota baru, ... seluas mungkin sesuai ketentuan tanpa menurunkan kwalitas 
anggota! Begitulah PKT yang dimulai hanya puluhan orang saat pembentukkan 1 
Juli 1921 yl, sekarang menjadi partai yang beranggotakan lebih 96 juta! Partai 
terbesar dan terkuat didunia, tiada tandingan!

Partai Kader atau Partai Massa?
  a..  Minggu, 24 Jun 2018 17:07 WIB  
https://analisadaily.com/berita/arsip/2018/6/25/574956/partai-kader-atau-partai-massa/Oleh
 : Pramudito. Salah satu ciri-ciri spesifik partai da­ri segi kapasitas 
ke­anggo­taannya da­pat dibagi menjadi dua, yakni: 1. par­tai ka­der; 2. partai 
massa.

Partai dengan spesifik partai ka­der adalah partai yang mene­kankan 
peng­kaderan sebagai kebijakan yang utama. Partai te­rus berusaha selain 
memperbanyak anggota tapi juga mening­katkan kualitas kader-kader­nya. 
Sedangkan partai massa lebih menitikberatkan pada pencarian anggota 
sebanyak-banyaknya. Kualitas kurang menjadi pertimbangan utama, yang penting 
sebanyak mungkin rakyat berbondong-bondong masuk men­jadi anggota partai, atau 
setidak-tidaknya menjadi simpatisan partai.

Bila kita tengok sejarah sejak zaman kolonial dulu di Indo­nesia sudah mulai 
menunjukkan dua ciri-ciri se­perti tersebut diatas. Apakah suatu partai menjadi 
partai kader atau partai massa, malahan kemudian menjadi perbedaan khas antara 
dua pemimpin nasional utama Indonesia, yakni Bung Hatta dan Bung Karno. Ketika 
Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada pertengahan tahun 
1920-an, maka Bung Karno segera men­deklarasikan partainya sebagai par­tai 
rakyat, partai massa, partainya ka­um marhaen. Bung Karno ber­pen­dapat bahwa 
partai harus menjadi wa­hana atau alat untuk menghimpun mas­sa 
sebanyak-banyaknya. Kekuatan massa adalah sangat penting untuk mencapai 
tujuan-tujuan partai. Apalagi Bung Karno sangat suka berpidato dan untuk itu ia 
suka menghimpun mas­sa yang sangat mengagumi ketrampilan Bung Karno berpidato. 
Tidak seorang pun yang meragukan kelebih­an Bung Karno ini.


Lain halnya dengan Bung Hatta. Hatta berpendapat bahwa dalam suatu partai yang 
penting adalah pendidikan untuk kader sehingga partai itu memiliki kader-kader 
yang benar-benar ber­kualitas. Maka berlainan dengan Bung Karno yang lebih suka 
menghimpun massa anggota, Bung Hatta memandang penting strategi pengembangan 
partai dengan jalan mendidik kader-kader, termasuk kader-kader pemim­pin di 
lingkungan partai yang bersang­kutan. Perlunya, bila seorang pemim­pin partai 
karena satu dan lain hal su­atu ketika berhalangan me­mim­pin par­tai, maka 
karena kader-kader calon pe­mimpin yang berkualitas cukup memadai, maka 
seketika itu pula segera ter­pilih atau ditetapkan pe­mimpin ba­ru partai untuk 
menggantikan pe­mim­pin partai yang lama.


Sejarah membuktikan ketika Bung Karno kemudian ditang­kap, diadili dan ditahan 
oleh pemerintah kolonial Be­landa, maka partai PNI yang didiri­kannya menjadi 
kelimpungan ba­gai­kan anak-anak ayam yang kehilangan in­duknya. PNI terus 
memudar pera­nan­­nya hingga saat proklamasi kemer­­dekaan tahun 1945. 
Sedangkan Bung Hatta sendiri, dengan dibantu Sutan Sjahrir juga mendirikan PNI, 
tapi sebagai singkatan dari Pendidikan Nasional Indonesia. Kiprahnya seperti 
yang di­singgung diatas, lebih difo­kuskan mendidik kader-kader. Mes­ki­pun 
PNI-Hatta ini pun kemudian ku­rang berperanan nyata dalam kan­cah perjuangan 
politik, namun Bung Hatta cukup berhasil mendidik ka­der-kader pemimpin pejuang 
nasional untuk kelak di masanya menjadi pe­mimpin-pemimpin men­jelang dan pasca 
revolusi kemerdekaan.


Di zaman penjajahan Belanda pa­tut juga dicatat kiprah Partai Syarikat Islam 
yang dipimpin HOS Tjokroa­minoto. Partai ini anggotanya banyak sekali, malahan 
seorang ahli seja­rah mencatat keanggotaan Partai Syarikat Islam pernah 
men­capai tiga juta orang, menjadikan partai itu sebagai yang ter­besar di 
zaman penjajahan. Apakah Sya­rikat Islam partai kader atau partai massa? 
Melihat kecen­derungan par­tai itu yang lebih mementingkan pengumpulan anggota 
sebanyak-banyaknya tanpa seleksi yang spesifik, sa­ya lebih condong menyebut 
Partai Syarikat Islam sebagai partai massa.

Namun ada pula partai yang berusaha untuk menjadikan dirinya baik sebagai 
partai kader atau pun partai massa. Di zaman kolonial partai semacam ini 
ditunjukkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI ber­kembang mula-mula 
de­ngan merekrut kader-kadernya yang militan, kemudian dike­rahkan untuk meraih 
massa sebanyak-banyaknya. Massa yang banyak memang dibutuhkan oleh PKI sebagai 
kekuatan politik yang sewaktu-waktu dibutuhkan, misalnya untuk mencetuskan 
revolusi atau pemberontakan terhadap penguasa kolonial Belanda pada tahun 1926, 
tapi gagal total. Sebagian pemimpin Komunis Indonesia seperti Tan Malaka 
menilai pemberontak­an PKI tersebut gagal karena situasinya belum matang, belum 
lagi kesiapan kader-kadernya yang jauh dari memadai. Seba­gaimana diketahui 
dengan mengerahkan ka­der-kader dan massa­nya pula PKI berupaya melancarkan 
pemberontakan pada tahun 1948 (di Madiun) dan 1965 (di Jakarta) yang juga 
menemui ke­gagalan total. Terkuburlah cita-cita partai itu untuk menjadikan 
Indonesia sebagai negara komunis.


Setelah kemerdekaan partai yang bercirikan partai massa kembali muncul dan kita 
lihat PNI (Partai Nasional Indonesia) tampil sebagai partai massa yang terbesar 
selama dekade 1950-an hingga pertengahan dekade 1960-an. Sementara itu PKI 
tampil kembali baik sebagai partai kader maupun partai massa dan seperti 
di­singgung di atas, partai ini hancur lebur dan di­bubarkan akibat kegagalan 
upaya kudeta tahun 1965. Sebagai partai kader PKI semasa hidupnya menyeleksi 
ketat kader-kadernya dan tidak mudah untuk mencapai karir di puncak pimpinan 
partai, yang dalam hirarki partai komunis dikenal dengan sebutan politbiro 
partai.


Satu contoh lagi partai massa yang juga partai kader adalah partai Ma­syumi 
(Majelis Syura Muslimin Indonesia). Partai ini pernah memiliki keanggotaan 
terbesar nomor dua setelah PNI. Namun juga merekrut kader-kadernya secara 
selektif untuk duduk dalam jajaran pimpinan partai dan jabatan-jabatan politis 
baik di legislatif maupun eksekutif. Hasilnya partai ini menjadi pemenang nomor 
dua dalam pemilu pertama 1955. Seperti PNI partai Masyumi sama-sama memiliki 52 
kursi di DPR. Akhirnya partai ini dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 
1960 dengan dalih beberapa pemimpinnya terlibat dalam pemberontakan 
PRRI/Permesta.

Setelah kemerdekaan masih dapat kita catat pula beberapa partai kecil yang bisa 
disebut sebagai partai kader, seperti Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan 
Sutan Sjahrir dan Partai Murba yang didirikan Tan Malaka.


Kedua partai itu, meskipun memiliki kader-kader yang berkualitas namun tidak 
bisa ber­kembang dengan baik, namun pengaruh politiknya cukup besar karena 
seba­gian kader atau pemimpinnya menjadi pe­mikir-pemikir yang brilian dan 
tek­nokrat serta memberikan sum­bangan cukup berarti dalam mengisi kemerdekaan 
dimana kedua partai itu juga ikut berperanan.

Masa reformasi

Dari gambaran singkat diatas kita mulai dapat melakukan pe­nilaian terhadap 
partai-partai yang tumbuh dalam alam refor­masi ini. PDI-P tetap leading 
sebagai partai massa terbesar. Memenangi pemilu nasional pada tahun 1999 dan 
2014.

Dua pemimpinnya menjadi presiden yakni Megawati Soekarnoputri dan sekarang 
Jokowi. Tidak mudah untuk memberikan sebutan apakah partai-partai di zaman now 
ini sebagai partai kader atau partai massa. Kita melihat bahwa secara umum 
semua partai berusaha untuk kedua-duanya, yakni baik sebagai partai kader mau 
pun partai massa.

Seperti PAN dan PKS berusaha untuk merekrut kader-kadernya dan meningkatkan 
kualitasnya, sembari juga menjaring anggota sebanyak-banyaknya. Ada 
partai-partai yang terus tumbuh meskipun tidak signifikan, ada pula partai yang 
menurun secara perlahan pula.

Pada zaman reformasi ini partai-partai makin cair ideo­loginya. Padahal pada 
masa yang lalu ideologi memegang peran­an penting untuk mendidik 
kader-kadernya. Kecende­rung­an yang menjadi ciri-ciri khas partai-partai dalam 
kurun reformasi sekarang ini adalah: oportunisme dan pragmatisme, sebagai 
"ideologi" baru yang kian dominan?

Bagaimana masa depan partai-partai kita kelak, baik partai kader mau pun partai 
massa? Itu banyak tergantung pada daya juang masing-masing partai yang 
bersangkutan dan juga du­kungan dari rakyat yang makin bebas untuk menjatuhkan 
pilihan pada partai yang disukainya. Wallahualam! ***

* Penulis pemerhati politik, mantan diplomat


Hanya PKS dan PDIP yang Murni Partai Kader  
Reporter
Editor
A.a.Gde Bagus Wahyu Dhyatmika
Senin, 11 Februari 2013 11:55 WIB
https://nasional.tempo.co/read/460485/hanya-pks-dan-pdip-yang-murni-partai-kader

Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, melakukan simulasi pencontrengan saat 
berlangsung kampanye putaran terakhir di Gelora 10 November, Surabaya, Minggu 
(5/4). ANTARA/Saiful Bahri


TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Syariah PKS Surahman Hidayat menegaskan bahwa 
sejak awal berdiri, partainya mengusung konsep partai kader. Dibandingkan 
ketika awal dideklarasikan pada Juli 1998, Surahman menilai partainya sekarang 
lebih modern dari aspek teknis dan administratif.

Untuk menjamin kadernya militan, pengurus PKS mengharuskan setiap kader intinya 
memiliki halaqoh atau pengajian beranggotakan 18-20 orang. Selain itu, 
pengajian rutin juga harus dihadiri oleh para kader.


"Menurut disertasi S3 Pramono Anung di Unpad, yang bisa digolongkan partai 
kader sejati itu hanya dua: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan 
PKS," kata Surahman. "Ini partai kader yang ideologis," katanya lagi.

Untuk menjamin ideologi partai dipahami para kader, Surahman menegaskan mereka 
punya agenda pengajian rutin. Agendanya: tilawah (mengaji), tadabur ayat 
Alquran (mengkaji), kemudian ada tausyiah (nasihat) tentang perkembangan 
politik nasional dari perspektif Islam.

"Kami adakan sering, kadang lebih sering dari sepekan sekali," katanya. 
Frekuensi pertemuan harus intens, kata Surahman, untuk menebalkan iman kader 
PKS. "Godaan di dunia politik amat tinggi," katanya. Kasus suap daging impor 
yang melibatkan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq bisa jadi buktinya.


From: kh djie 
Sent: Friday, July 1, 2022 5:08 PM
To: Chan CT ; GELORA45_In 
Subject: Re: [GELORA45] Anggota Partai Komunis China Didominasi Anak Muda 
Terpelajar, Ini Jumlahnya

TETAP PARTAI KADER ATAU JADI PARTAI MASSA?

Op vr 1 jul. 2022 om 10:27 schreef Chan CT <[email protected]>:

  Anggota Partai Komunis China Didominasi Anak Muda Terpelajar, Ini Jumlahnya
  Jumat, 1 Juli 2022 11:38Reporter : Hari Ariyanti
  
https://www.merdeka.com/dunia/anggota-partai-komunis-china-didominasi-anak-muda-terpelajar-ini-jumlahnya.html
  Anggota Partai Komunis China. ©AFP
  Merdeka.com - Partai Komunis yang berkuasa di China tumbuh semakin besar dan 
terdidik, di mana jumlah anggotanya mencapai rekor 96,71 juta pada akhir tahun 
lalu, menurut data statistik resmi.

  Departemen organisasi Komite Pusat Partai Komunus menyampaikan pada Kamis 
(30/6) malam menjelang HUT partai, ada peningkatan jumlah anggota sebesar 3,7 
persen dari tahun ke tahun.




  Partai Komunis telah berusaha mengendalikan pertumbuhan anggotanya sejak Xi 
Jinping berkuasa pada 2012. Pengawasan perekrutan anggota baru berlangsung 
ketat.

  Tapi tahun lalu, ketika partai ini menggelar HUT ke-100 tahun, jumlah 
rekrutmen baru naik 80 persen menjadi 4,38 juta.


  BACA JUGA:
  Terungkap Bule Gondrong Jaga Ketat Jokowi di Bandara Polandia Ternyata Secret 
ServiceMereka Bermewah-mewah di Dubai Saat Rakyat Sebangsa Setanah Air Menderita
  "Peringatan 100 tahun berdirinya partai itu dirayakan dengan khidmat tahun 
lalu dan semangat mudanya ditunjukkan sepenuhnya, yang menarik para peminat 
dari berbagai industri dan bidang melamar untuk bergabung dengan partai dalam 
jumlah besar," jelas departemen organisasi partai, dikutip dari South China 
Morning Post, Jumat (1/7).

  Sejak 1980-an, Partai Komunis mendorong anggota yang lebih muda dan terdidik. 
Saat ini, lebih dari 52,46 juta atau 53,2 persen anggota partai bergelar 
sarjana, 1,3 poin persentase lebih tinggi dari tahun lalu dan 13,2 poin 
persentase lebih tinggi dari tahun 2012.

  Sampai 2021, lebih dari 35 persen anggota partai berusia di bawah 40 tahun, 
dan anggota dari kalangan mahasiswa mencakup 3,16 persen dari total keanggotaan.

  Jumlah anggota partai yang berusia 61 tahun atau lebih memang meningkat, 
tetapi dari keseluruhan keanggotaan partai mengalami penurunan. Pada 2021, 
sekitar 28,1 persen anggota partai setidaknya berusia 61 tahun dibandingkan 
dengan 28,9 persen pada 2019.


  BACA JUGA:
  Hari ini, Tarif Listrik Resmi Naik dan Pembukaan Pendaftaran Beli Pertalite & 
SolarBuruan Daftar, Kabupaten Bogor Masih Kekurangan Guru
  "Sejak 2012, partai fokus pada peremajaan nasional dan suksesi anggota partai 
dan secara aktif mempromosikan rekrutmen di kalangan pemuda," jelas pejabat 
partai komunis dari departemen organisasi, Qi Jiabin pada Kamis.

  "Setiap tahun, sekitar 4 juta anggota baru mendaftar untuk bergabung dengan 
partai, dan lebih dari 80 persen anggota baru partai setiap tahunnya berusia 35 
tahun ke bawah."



  2 dari 2 halaman
  Ketidaksetaraan gender
  Statistik terbaru menunjukkan persentase buruh dan petani – keanggotaan inti 
awal partai – terus menyusut dengan 33,6 persen anggota berasal dari 
sektor-sektor tersebut.
  Dalam beberapa tahun terakhir, proporsinya mencapai sekitar sepertiga dari 
jumlah total anggota dan departemen organisasi mengatakan sektor-sektor ini 
masih menyumbang sebagian besar keanggotaan partai.

  Ketidaksetaraan gender dalam politik China juga tercermin dalam keanggotaan 
partai komunis. Jumlah perempuan di China yaitu 49 persen dari 1,4 miliar 
populasi, tapi kurang dari sepertiga perempuan terdaftar dalam keanggotaan 
partai.


  BACA JUGA:
  Analisis Pakar, Pertama Kali Danpaspampres Perwira Tinggi AUDieksekusi Tengah 
Malam, Ini Rencana Jahat Irjen Napoleon Lumuri M Kece Pakai Kotoran
  Kendati demikian, jumlah anggota partai perempuan naik dari 27,45 juta pada 
pertengahan 2021 menjadi 28,43 juta pada akhir 2021.

  Anggota partai dari kelompok etnis minoritas terus bertambah, naik sampai 
150.000 dalam enam bulan walaupun persentasenya masih tetap 7,5 persen.

  Pertumbuhan ini bertepatan dengan penegakan visi Presiden Xi Jinping untuk 
"menempa rasa kebersamaan bangsa China", yang menyerukan integrasi kelompok 
etnis minoritas untuk mengutamakan kepentingan bangsa China.

  Advertisement


  [pan]
  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5891816EFA9941CCABEC70A110F61281%40A10Live.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D88B3D372B764CBFAF1F968D1DD50E70%40A10Live.

Reply via email to