Jokowi-Putin Bangun Poros Baru?Written byA43Friday, July 1, 2022 22:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-putin-bangun-poros-baru/
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di 
Kremlin, Moskow, Rusia, pada 30 Juni 2022 lalu. Terdapat juga wacana agar dua 
negara ini masuk dalam satu blok yang sama di tengah menurunnya dominasi 
Amerika Serikat (AS) dalam panggung politik dunia.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “If I respect you, we unify and stop the enemy from killing us” – Kendrick 
Lamar, “Mortal Man” (2015)

Dalam seri, film, dan komik yang bertemakan pahlawan super, kerap kali penonton 
dan pembaca disajikan narasi permusuhan antara dua pihak, yakni pihak pahlawan 
(heroes) dan pihal musuh (villains). Pada umumnya, heroes memiki tujuan baik 
untuk memerangi kejahatan para villains.

Namun, terdapat juga manusia dan makhluk super yang tidak jatuh pada dua 
kategori tersebut. Biasanya, karakter-karakter yang memiliki kemampuan khusus 
ini disebut sebagai anti-heroes.

Biasanya, karakter-karakter yang jatuh pada kategori ini adalah mereka yang 
tidak memiliki kesamaan visi dan nilai dengan para heroes. Namun, ini bukan 
berarti mereka tidak memiliki semangat untuk membela apa yang mereka yakini 
benar.

Salah satu contoh karakter anti-hero yang paling populer adalah Deadpool. 
Namun, sosok manusia berkemampuan untuk regenerasi selnya sendiri ini 
sebenarnya tidak sendiri. Masih ada banyak tokoh anti-heroes lain di dunia 
komik.

Bahkan, para anti-heroes ini membentuk kelompok mereka sendiri. Salah satunya 
adalah Thunderbolts. Kelompok yang dipimpin oleh Red Hulk dan beranggotakan 
Deadpool, Elektra, Agent Venom, dan Punisher ini merupakan inisiatif yang tidak 
disponsori oleh pemerintah – berbeda dengan Avengers yang memiliki 
tangan-tangan pemerintah di baliknya.

Boleh dibilang Thunderbolts ini adalah kelompok “tandingan” bagi 
kelompok-kelompok superheroes seperti Avengers. Pasalnya, ada juga beberapa 
tindakan Thunderbolts yang bergerak di luar tatanan aturan yang established – 
seperti ketika Deadpool ingin menculik aktor Ryan Reynolds.

Mungkin, kelompok “tandingan” ala anti-heroes ini juga hadir di dunia nyata, 
seperti dalam panggung politik internasional. Pasalnya, mulai muncul wacana 
dari Ketua Duma Negara Rusia Vyacheslav Volodin agar Rusia bersama 
negara-negara seperti Indonesia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, Brasil, 
Meksiko, Iran, dan Turki membentuk sebuah kelompok ‘G8’ baru – yang mana bisa 
saja menandingi dominasi G7.

Seperti yang diketahui, G7 merupakan kelompok tujuh negara yang berisikan 
Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya – seperti Britania (Inggris) 
Raya, Prancis, Jerman, Jepang, Italia, dan Kanada, serta Uni Eropa (UE). 
Sebelumnya, kelompok ini adalah G8 – yang mana Rusia akhirnya didepak akibat 
manuvernya untuk menganeksasi Krimea.

 
Lantas, mengapa Rusia kini semacam mengajak-ajak negara-negara lain untuk 
membentuk semacam kelompok “tandingan”? Apakemudian dampak lanjutan dari 
kemunculan G8 baru di masa mendatang?

Poros Baru, Kekuatan Baru?
Seperti yang dijelaskan di atas, kelompok-kelompok “tandingan” seperti ini 
biasanya hadir sebagai alternatif. Bukan tidak mungkin, kelompok “tandingan” 
juga memiliki tujuan untuk mengimbangi kekuatan kelompok yang asli.

Strategi seperti ini sebenarnya umum dalam dinamika dan permainan politik, 
termasuk dalam panggung politik dunia. Layaknya politik domestik, distribusi 
kekuatan di antara negara-negara.

Mengacu pada penjelasan John J. Mearsheimer dalam tulisannya yang berjudul 
Bound to Fail: The Rise and Fall of the Liberal International Order, tatanan 
inilah yang mengatur berbagai interaksi yang dijalankan antar-negara – misal 
melalui rangkaian rezim, aturan, dan norma. Tatanan dunia yang paling terlihat 
jelas sejak Perang Dingin berakhir pun adalah tatanan liberal yang dibangun 
oleh AS.

Tatanan ini sebagian besar memiliki ciri-ciri keterbukaan sebagai normanya. 
Soal perekonomian dan perdagangan, misalnya, perdagangan bebas tanpa batas 
seakan-akan menjadi norma utama dalam rezim tersebut – melalui pendirian 
organisasi-organisasi internasional seperti Bank Dunia (WB), Dana Moneter 
Internasional (IMF), dan World Trade Organization (WTO) yang sebelumnya 
didahului oleh General Agreement on Tariffs and Trade (GATT).
Seiring berjalannya waktu, tatanan dunia liberal yang dibangun AS tidaklah 
hanya berbatas pada organisasi-organisasi tersebut saja. Muncul 
kerangka-kerangka organisasional lainnya yang turut menentukan tatanan dunia 
liberal – salah satunya melalui G7.

Organisasi yang terdiri dari tujuh demokrasi dengan ekonomi maju – dan UE – 
tentu saja memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menentukan pilihan-pilihan 
kebijakan negara-negara lain. Bukan tidak mungkin, akhirnya pilihan-pilihan ini 
hanya ditentukan oleh negara-negara tersebut.

Gambaran ini setidaknya sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Stewart M. 
Patrick dalam tulisannya yang berjudul The G7 Summit: An Exclusive Club. 
Setidaknya, G7 sebagai organisasi memiliki peran untuk menentukan agenda-agenda 
dunia, seperti persoalan ekonomi dan isu perubahan iklim.

 
Namun, keanggotaannya yang eksklusif membuat G7 dinilai seenaknya sendiri. Acap 
kali, kegiatan-kegiatan KTT G7 juga didatangi oleh berbagai demonstran 
anti-globalisasi yang mengkritik G7 karena nasib banyak negara hanya ditentukan 
oleh segelintir negara.

Bisa jadi, kehadiran G8 yang baru – di luar eksistensi G20 – dapat memberi 
wadah suara bagi negara-negara di luar G7. Apalagi, Rusia yang sebelumnya 
merupakan salah satu anggota dari kelompok G8 yang lama (kini G7) bisa saja 
kini memiliki urgensi lebih untuk mendapatkan wadah baru di tengah kepungan 
sanksi dari Barat.

Meski Rusia merasa tidak puas dengan tatanan dunia saat ini, mengapa lantas 
negara tersebut mengajak negara-negara lain – mulai dari India, Tiongkok, 
hingga Indonesia? Mungkinkah ajakan “poros” baru ini memiliki dasar yang masuk 
akal bagi Indonesia dkk?

Jokowi-Putin Sama-sama Kesal?
Politik internasional memang merupakan anarki. Setiap negara pun memiliki 
kepentingan mereka masing-masing. Namun, di tengah anarki tersebut, bukan tidak 
mungkin kerja sama bisa terbentuk dan terbangun.

Pandangan soal kemungkinan kerja sama dalam anarki ini setidaknya bisa 
dijelaskan oleh pendekatan neoliberalisme karena kepentingan negara-negara bisa 
bertemu – menjadi kepentingan bersama (common interests). Dengan 
strategi-strategi kerja sama, negara pun bisa mendapatkan potensi manfaat dan 
keuntungan – mengacu pada buku Robert Keohane yang berjudul After Hegemony.

Bukan tidak mungkin, dalam wacana soal pembentukan G8, kepentingan bersama ini 
pun hadir di antara delapan negara potensial tadi. Tentunya, untuk 
mendalaminya, perlu juga mengetahui posisi negara-negara tersebut terhadap 
negeri Paman Sam yang merupakan pembangun utama tatanan dunia liberal.

George Friedman dalam bukunya yang berjudul The Next 100 Years menyebutkan 
sejumlah negara yang bisa berusaha mengancam dominasi AS pada abad ke-21. 
Beberapa di antaranya adalah Meksiko, Tiongkok, hingga Rusia yang menginginkan 
“pertandingan ulang” (rematch). 

Seperti yang disebutkan di atas, Rusia memiliki ketidakpuasan tersendiri akibat 
serbuan sanksi ekonomi dan arsitektur keamanan di Eropa. Dan, bila mengacu pada 
teori pergeseran kekuatan (power transition theory) dari buku A.F.K. Organski 
berjudul World Politics, bila ketidakpuasan ini semakin memuncak, semakin 
memuncak pula potensi konflik antara negara penantang dan negara hegemon.
Persoalannya adalah negara penantang tidak hanya datang dari Rusia. Tiongkok 
juga disebut-sebut menjadi negara penantang bagi AS. Dengan diplomasi Xi 
Jinping yang semakin asertif, ketidakpuasan Tiongkok terhadap AS juga semakin 
memuncak – disertai dengan tudingan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan 
perang dagang.

 
Tidak hanya Tiongkok dan Rusia, kekesalan yang memuncak terhadap AS juga 
dimiliki oleh Iran. Dengan geo-strategi AS – bersama Israel dan Arab Saudi – 
yang berusaha mengepung Iran di kawasan Timur Tengah, Iran memiliki perasaan 
tidak aman yang besar.

Setelah berkeliling di Eurasia dan Timur Tengah, lantas, bagaimana dengan 
Meksiko dan Brasil yang letaknya berada di halaman belakang AS langsung? 
Justru, ini adalah alasan yang lebih besar mengapa Meksiko dan Brasil memiliki 
ketidakpuasan terhadap AS.

Sebagai “domain” dari kawasan “halaman belakang” AS, dua negara ini secara 
tidak langsung dan mau tidak mau harus mengikuti apa kata sang hegemon. 
Meksiko, misalnya, sempat dipaksa AS untuk membangun tembok di perbatasan. 

Sementara, Brasil – dan negara-negara Amerika Latin – memiliki ketidaksukaan 
terhadap bagaimana AS suka mencampuri urusan politik di kawasan ini. Pada era 
Perang Dingin, Brasil menjadi salah satu negara yang politik domestiknya 
dicampuri oleh Paman Sam – melalui penggulingan João Goulart pada tahun 1964.

Lantas, bagaimana dengan tiga negara lainnya – yakni Turki, India, dan 
Indonesia? Mungkinkah tiga negara ini juga memiliki kepentingan yang sejalan 
dengan Rusia, Tiongkok, dan kawan-kawan?

Tiga negara ini bisa dibilang memiliki dilema yang cukup besar dengan semakin 
terbelahnya masyarakat internasional antara dua kekuatan, yakni AS dan 
Tiongkok. Sejauh ini, baik Recep Tayyip Erdoğan, Narendra Modi, maupun Joko 
Widodo (Jokowi), mereka memainkan upaya pengimbangan (balancing) di antara dua 
raksasa geopolitik – baik secara ekonomi maupun strategis.

Namun, bukan tidak mungkin ketidakpuasan bisa hadir di antara negara-negara 
ini. Indonesia – serta negara-negara ASEAN, misalnya, semakin tidak puas dan 
tidak sabar dengan pasifnya peran AS di kawasan Asia Tenggara. Sejauh ini, 
ancaman dari Tiongkok tetap hadir sedangkan ketergantungan ekonomi terhadap 
negeri Tirai Bambu semakin meningkat.

Di sisi lain, AS hingga kini tidak memberikan “tandingan” nyata atas apa yang 
dibutuhkan oleh Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara, misal kepentingan 
perdagangan dan investasi. Bukan tidak mungkin, pemerintahan Jokowi semakin 
kehabisan kesabaran atas pemerintahan Biden.

Pada intinya, wacana G8 yang baru ini bisa saja terwujud apabila kepentingan 
negara-negara ini semakin konvergen. Bila Paman Sam tetap diam dan tidak 
“berkutik”, bukan tidak mungkin kemunculan organisasi “anti-heroes” ini 
benar-bener terjadi di masa mendatang. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7BC4AD570BD2407087B5FDA6A486FD78%40A10Live.

Reply via email to