Written byJ61Saturday, July 2, 2022 19:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/laksamana-yudo-pasti-panglima/
Laksamana Yudo Pasti Panglima?
Road to 2024: The Next Panglima TNI #1

Ditunjuknya Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) pertama dari 
matra udara tampak menjadi impresi fairness jelang pergantian Panglima TNI. 
Lantas, apakah itu dapat bermakna bahwa Laksamana Yudo Margono dipastikan 
menjadi suksesor Jenderal Andika Perkasa?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pergeseran jabatan yang tampak menarik baru saja terjadi di tubuh institusi 
kepercayaan rakyat, TNI. Melalui surat Keputusan Panglima TNI Nomor 
Kep/558/VI/2022 tertanggal 27 Juni 2022, Jenderal Andika Perkasa melakukan 
sejumlah rotasi jabatan strategis perwira tinggi.

Satu di antaranya adalah penggeseran Mayor Jenderal (Mayjen) Tri Budi Utomo 
dari jabatan Komandan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) 
menjadi Panglima Kodam (Pangdam) VI/Mulawarman.

Komando pertahanan wilayah yang diampu Mayjen Tri sendiri meliputi Provinsi 
Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Utara (Kaltara), dan Kalimantan Timur 
(Kaltim). Provinsi terakhir menjadi esensial dikarenakan telah diproyeksikan 
menjadi lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang tengah dalam proses 
pembangunan.

Penempatan “perwira lingkaran istana” itu kemudian terasa kental dengan 
korelasi bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memberikan posisi 
strategis kepada orang kepercayaannya, sebagaimana disiratkan Nicollo 
Machiavelli dalam Il Prince.

Di dalam karya yang dipublikasikan pada tahun 1532 itu dijelaskan bahwa 
keberadaan orang-orang kepercayaan di lingkar kekuasaan cukup penting agar 
seorang penguasa dapat melakukan kendali dan melaksanakan kebijakan dengan 
lebih mudah.

  
Hal tersebut secara spesifik senada dengan respons pengamat militer dari Center 
for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE) Anton Aliabbas, yang menyebut 
rotasi Mayjen Tri memiliki keterkaitan erat dengan pengamanan proyek Ibu Kota 
Nusantara (IKN).

Ya, meskipun berada di bawah kewenangan Panglima TNI, rotasi jabatan strategis 
perwira tinggi TNI agaknya tak dapat dilepaskan dari restu sang panglima 
tertinggi, yakni Presiden Jokowi. Relevansinya boleh dikatakan paralel dengan 
apa yang dikemukakan Machiavelli atau bahasa kekiniannya, chemistry.

Tak hanya itu, pengganti Mayjen Tri sebagai Danpaspampres juga tak kalah 
menarik untuk diperhatikan. Marsekal Pertama (Marsma) Wahyu Hidayat Sudjatmiko 
dari Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU memegang kehormatan istimewa 
karena menjadi orang pertama dari matra udara sebagai Danpaspampres.

Jika dimaknai, torehan sejarah itu secara tidak langsung turut mengesankan 
bahwa Presiden Jokowi sedang mengimplementasikan prinsip fairness atau keadilan 
rotasi matra di tubuh pasukan yang dahulu bernama Resimen Tjakrabirawa.

Satu yang menarik adalah impresi pergeseran berbasis prinsip keadilan itu 
ditunjukkan bersamaan dengan semakin dekatnya masa purna tugas Jenderal Andika 
sebagai orang nomor satu di TNI.

Lalu, mengapa kesan fairness rotasi matra seolah ingin ditunjukkan saat ini? 
Benarkah hal itu berkorelasi dengan rotasi matra jelang pergantian Panglima TNI?

 
Urgensi Matra Laut
Secara momentum, kesan rotasi matra berimbang posisi Danpaspampres agaknya 
dapat mengindikasikan impresi tidak langsung atas pergantian Panglima TNI yang 
akan terjadi lima bulan lagi.

Apalagi, tidak ada alasan lain kiranya bagi Presiden Jokowi untuk tak 
menyerahkan tongkat estafet pimpinan tertinggi angkatan bersenjata ke matra 
laut, yang terakhir kali diemban Laksamana Agus Suhartono pada September 2010 
hingga Agustus 2013 silam.

John Rawls mengemukakan konsep fairness atau keadilan dalam publikasinya yang 
berjudul Theory of Justice. Secara garis besar, Rawls mengatakan bahwa demi 
menciptakan kondisi yang memuaskan, diperlukan adanya skema kerja sama dengan 
pembagian sama rata di mana kerja sama tersebut melibatkan semua pihak.

Fairness juga disinggung oleh Andi Tarigan dalam Tumpuan Keadilan Rawls. Salah 
satu kategorinya, yakni keadilan distributif, disebutnya membicarakan mekanisme 
atau prosedur pembagian sesuatu secara proporsional, termasuk yang intangible 
seperti otoritas.

Selain itu, Presiden Jokowi juga dikenal memegang teguh filosofi politik Jawa. 
Agaknya, hampir dapat dipastikan bahwa mantan Wali Kota Solo itu cukup memahami 
filosofi kepemimpinan Hasthabrata yang mana di dalamnya menekankan pentingnya 
asas keadilan.

Tak hanya dari segi pertimbangan keadilan sebagai prioritas dalam pergantian 
Panglima berikutnya, urgensi kepemimpinan TNI dari matra darat pada pesta 
demokrasi 2024 agaknya membuat penunjukkan Laksamana Yudo – yang pensiun pada 
2023 – semakin menemui relevansinya.

Sementara dari sisi teknis, mantan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan 
(Kogabwilhan) I itu agaknya dapat memperkuat lini plus antisipasi ancaman 
iminen terhadap pertahanan Indonesia di sektor laut.

Ancaman yang utamanya yang berasal dari manuver agresif Tiongkok di Laut China 
Selatan (LCS), bahkan sempat disinggung oleh sejumlah tokoh.

Terhitung mulai dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar 
Prasetyo, Gubernur Lemhanas Andi Widjajanto, bahkan hingga sebuah analisis dari 
Sekolah Staf Umum dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) yang terekspos ke publik 
pada Desember 2020 lalu, membicarakan ancaman yang berasal dari proyeksi 
peningkatan ketegangan di LCS.

Terlebih, letak IKN Nusantara yang semakin dekat dengan episentrum ancaman 
membuat referensi konsep pertahanan berdasarkan pengalaman dan kemampuan 
Laksamana Yudo kiranya cukup dibutuhkan.

Selain deretan faktor tersebut, ada sejumlah aspek non-teknis lainnya yang 
kemungkinan dapat memperkuat daya tawar Laksamana Yudo sebagai Panglima TNI 
penerus Jenderal Andika. Apakah itu?

 
Laksamana Yudo Lebih Bersahabat?
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhamad Haripin mengingatkan 
kembali bahwa angkatan bersenjata Indonesia hingga kini tak dapat dilepaskan 
dari politik.

Dia mengatakan sistem presidensial yang dianut Indonesia saat ini cukup erat 
dan bersinggungan dengan dinamika multi-partai di parlemen.

Hal itu kemudian dinilai membuat TNI, meski telah dua dekade lebih melepas 
karakteristik Dwifungsi ABRI, tetap menjadi bagian dari pengungkit politik.
Satu hal yang membedakan Laksamana Yudo dibandingkan calon Panglima TNI 
lainnya, yakni Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurrahman, 
adalah sosoknya yang tak kontroversial serta tidak memiliki tendensi apapun 
secara politik.

Kendati begitu, Laksamana Yudo tampaknya telah memahami prasyarat “adat 
istiadat politik” dengan dua pendekatan yang apik.

Paling tidak itu dapat terlihat melalui penamaan kapal kepresidenan baru KRI 
Bung Karno-369 serta membangkitkan memori legacy Presiden RI pertama Soekarno 
saat hari ulang tahun (HUT) Penerbal pada 17 Juni lalu.

Signifikansi untuk menetralkan politik de-soekarno-isasi plus korelasinya 
dengan Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi sendiri sebelumnya telah 
dijelaskan dalam artikel Pinter Politik yang berjudul Jenderal Dudung Panglima 
Selanjutnya?.

Eric Posner dalam publikasi berjudul Symbols, Signals, and Social Norms in 
Politics and The Law menyebutkan bahwa aspek sejarah merupakan salah satu 
faktor yang memengaruhi makna dan sinyal politis tertentu.

TNI AL sendiri memiliki kenangan manis di saat kepemimpinan Presiden Soekarno. 
Dalam rangka Operasi Trikora merebut Irian Barat, Bung Karno berhasil 
menasbihkan angkatan laut Indonesia menjadi yang terkuat di Asia dengan 
alutsista termutakhir sokongan Uni Soviet.

Kedigdayaan TNI AL kala itu seolah menjadi politik mercusuar Soekarno, baik di 
level domestik maupun internasional, terutama saat berbuah penyerahan Irian 
Barat oleh Belanda.

Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) – yang kini bernama Korps Marinir – juga 
memiliki reputasi loyalitas terhadap Soekarno. Pada masa ketegangan politik 
1965-1966, Letjen Hartono disebut menjadikan KKO sebagai benteng pelindung Bung 
Karno dari serangan politik Soeharto.

“KKO selalu kompak di belakang Bung Karno,” menjadi pekikan ikonik pidato 
Letjen Hartono saat demonstrasi pro-Soekarno pada tahun 1966.

Dengan setting politik saat ini, penunjukkan Laksamana Yudo sebagai Panglima 
TNI kiranya dapat pula merepresentasikan kembali romansa kedekatan dan 
loyalitas tersebut.

Eksistensi Laksamana Yudo sebagai orang kepercayaan baru Presiden Jokowi kelak 
agaknya juga bisa melengkapi jejaring koordinasi yang lebih kuat di bidang 
pertahanan dari tiga matra.

Tentu dalam rangka menghadapi dua tantangan pamungkas pemerintahan Jokowi yakni 
pembangunan tahap awal IKN Nusantara dan jelang tahun politik 2024.

Di atas semua itu, jika skenario Laksamana Yudo sebagai Panglima TNI 
benar-benar terjadi, dampak signifikan akan hadir di matra darat dan akan cukup 
menarik untuk dianalisa. Bersambung. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CDBFC733ADC7439896A3F10551FEB4B1%40A10Live.

Reply via email to