Written byR53Monday, July 4, 2022 07:09

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-lengser-luhut-tersungkur/
Jokowi Lengser, Luhut Tersungkur?
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan sangat dipercaya oleh Presiden Jokowi. 
Setelah Jokowi lengser pada 2024, apakah Luhut masih memiliki pengaruh besar di 
pemerintahan? Apakah Luhut akan tersungkur?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Rasa-rasanya, banyak pihak sudah menyadari bahwa Luhut Binsar Pandjaitan adalah 
sosok yang sangat dipercaya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saking 
banyaknya tugas yang diberikan RI-1, Luhut sampai mendapat berbagai julukan, 
seperti “Menteri Segala Urusan”, “Perdana Menteri”, hingga “Lord”. Sejauh ini, 
setidaknya ada 27 tugas yang diberikan kepada Luhut.

Pada 24 Mei 2022, politisi PDIP Masinton Pasaribu terlihat memberikan komentar 
negatif terhadap banyaknya penugasan Luhut. Ketika ditunjuk mengurus masalah 
minyak goreng oleh Presiden Jokowi, Masinton menyebut itu sebagai indikasi 
adanya posisi “Perdana Menteri” dalam sistem ketatanegaraan kita. 

Menariknya, berbeda dengan Masinton, pengamat politik Rocky Gerung yang dikenal 
keras mengkritik pemerintah, justru memberikan respons bernada positif atas 
banyaknya penugasan itu. Menurut Rocky, latar belakang Luhut sebagai militer 
telah membentuknya untuk bekerja secara efisien dan segera menuntaskan tugas.

Nah, pada titik ini ada sebuah pertanyaan menarik yang dapat diajukan. Setelah 
Presiden Jokowi purna tugas pada 2024, apakah Luhut masih menjadi sosok sangat 
berpengaruh di pemerintahan?

Masalahnya, dengan berbagai intrik Luhut dengan PDIP, bukankah sang Menko 
Marves akan sulit mendapatkan tempat jika nantinya partai banteng kembali 
berkuasa di 2024?

Sahabat Lama
Seperti yang disebutkan Rocky, besarnya kepercayaan Jokowi terhadap Luhut juga 
dipengaruhi oleh faktor kedekatan. Hubungan mereka berdua diketahui sudah 
terjalin lama. Menurut Aaron L Connelly dalam tulisannya Indonesia Foreign 
Policy Under President Jokowi, hubungan Luhut dan Jokowi sudah terjadi sejak 
tahun 2008.

Namun menurut politisi senior PDIP Panda Nababan dalam bukunya Panda Nababan 
Lahir Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Kedua: Dalam Pusaran 
Kekuasaan, hubungan itu terjalin sejak tahun 2006. Adalah bisnis mebel yang 
mempertemukan keduanya.

Luhut membutuhkan pengusaha mebel untuk mengubah konsesi hutannya di Kalimantan 
menjadi produk jadi. Jokowi yang merupakan pengusaha mebel kemudian 
dipertemukan dengan Luhut. Menurut Panda, Luhut tidak pernah menyangka Jokowi 
akan menjadi presiden, bosnya saat ini.

 
Selain soal pertemuan awal keduanya, Panda juga menceritakan berbagai bentuk 
dukungan setia Luhut terhadap Jokowi. Pada Pilpres 2014, menurut Panda, Luhut 
sebenarnya berkeinginan menjadi cawapres Jokowi. 

Tim Bravo 5 yang dibentuk Luhut pada 2013 sebenarnya ditujukan untuk 
mengkampanyekan Luhut sebagai cawapres. Saat itu, uang tunai Rp300 miliar telah 
disiapkan Luhut. Namun, pandangan Panda mengubah sikap Luhut. Tim Bravo 5 yang 
berisi Akabri ’70 – angkatan Luhut – kemudian difokuskan untuk memenangkan 
Jokowi.

Ada pula dialog menarik Luhut dengan Prabowo Subianto. Menurut Panda, pada 
Pilpres 2014 Prabowo bertanya kenapa Luhut kenapa lebih memilih mendukung 
Jokowi daripada dirinya. Menariknya, Luhut menjawab bahwa Jokowi lebih hebat 
dari Prabowo. 
Politik Jawa Jokowi
Kembali mengutip buku Panda Nababan. Ternyata, hubungan Luhut-Jokowi berjalan 
secara dua arah. Ketika pengumuman kabinet pada Oktober 2014, Luhut sebenarnya 
terkejut kenapa namanya tidak masuk kabinet.

Luhut kemudian meminta Panda untuk menanyakan hal itu. Jawab Jokowi, nama Luhut 
sebenarnya sudah dimasukkan, tapi ditolak oleh Megawati Soekarnoputri, Surya 
Paloh, dan Jusuf Kalla (JK) karena dinilai sebagai representasi Partai Golkar. 
Sedikit memberi konteks, Partai Golkar yang mendukung Prabowo pada Pilpres 2014 
belum masuk koalisi saat itu.  

Jokowi kemudian melakukan manuver politik cerdas untuk menjawab permasalahan 
itu. Pada 31 Desember 2014, setelah melantik Laksamana Madya Ade Supandi 
sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL), Jokowi membentuk Kantor Staf 
Kepresidenan (KSP) dan langsung melantik Luhut sebagai Kepala KSP. 

Yang membuat ini menarik, menurut Panda, JK saat itu tidak mengetahui Jokowi 
akan melantik Luhut sebagai Kepala KSP. Menurutnya, apa yang dilakukan Jokowi 
adalah khas politik Jawa. Alon-alon waton kelakon – pelan-pelan asal terwujud.

Mengutip Kanupriya Kapoor dalam tulisannya Indonesian President Treads Fine 
Line by Empowering Chief of Staff, kepercayaan besar Jokowi dibalas Luhut 
dengan baik. Menurut Kapoor, Luhut menjadi semacam “bemper” Jokowi dari 
berbagai tekanan politik dan kelompok kepentingan.

Pertemanan lama yang berbuah pada relasi mutual Luhut-Jokowi dalam politik, 
mengingatkan kita pada istilah politikke philia yang dicetuskan oleh filsuf 
Aristoteles. Istilah itu diterjemahkan sebagai pertemanan politik (political 
friendship). Kesamaan sejarah dan emosi, kemudian berbuah menjadi kesamaan visi 
kerja. 

 
Saatnya ke Prabowo?
Setelah membahas kedekatan hangat Luhut dengan Jokowi, sekarang kita kembali ke 
pertanyaan awal. Setelah sang sahabat, yakni Jokowi tidak lagi menjabat pada 
2024, apakah Luhut masih memiliki pengaruh yang kuat di pemerintahan?

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Prabowo, “Senjata” Luhut Bendung 
Megawati?, pertanyaan itu juga menjadi jantung tulisan. 

Menurut Niccolò Machiavelli dalam bukunya Il Principe, penguasa baru mestilah 
akan mendepak orang-orang penguasa lama. Dengan berbagai intrik Luhut dengan 
PDIP, jika partai banteng tetap menjadi penguasa pada 2024, besar kemungkinan 
Luhut akan disingkirkan. Seperti yang diceritakan Panda Nababan, Megawati 
menjadi salah satu pihak yang menolak Luhut masuk kabinet pada 2014 lalu.

Tidak hanya PDIP, hal yang sama juga akan terjadi pada pihak lain. Siapa pun 
yang nantinya berkuasa, jika terdapat ketidaksukaan atau intrik dengan Luhut, 
sang Menko Marves akan tersungkur seiring dengan berakhirnya kekuasaan Jokowi.
Kasusnya dapat kita lihat pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Setelah purna 
tugas pada 2014, berbagai isu langsung menyerangnya. Partai Demokrat yang 
berkuasa selama 10 tahun bahkan turun takhta menjadi partai tengah.

Bukan tidak mungkin, Luhut akan merasakan skenario terburuk, yakni dibusuki 
secara politik setelah 2024 nanti. Pihak-pihak yang memiliki ketegangan dengan 
Luhut selama ini akan memanfaatkan momentum pergantian kursi kekuasaan.

Dengan demikian, kembali mengutip konsep politikke philia dan Machiavelli, 
Luhut perlu membangun hubungan emosi yang dekat dengan sosok potensial untuk 
menjadi presiden di 2024. Melihat nama-nama potensial yang ada, sosok itu 
sekiranya tertuju pada Prabowo Subianto.

Sama seperti Jokowi, hubungan Luhut dengan Prabowo juga sudah terjalin lama. 
Bahkan, seperti pernyataan Staf Khusus Menko Kemaritiman Atmadji Sumarkidjo 
pada 25 April 2019, hubungan Luhut-Prabowo sudah terjalin selama puluhan tahun 
sejak mereka masih aktif di militer.

Bukan tidak mungkin, Prabowo akan kembali memberikan tawarannya kepada Luhut 
seperti pada Pilpres 2014 lalu. Jika Luhut mendukungnya di Pilpres 2024, 
Prabowo akan memberikan Luhut posisi menteri yang diinginkannya.

Terlebih lagi, melihat peta koalisi saat ini, Prabowo tampaknya adalah yang 
terdepan untuk mendeklarasikan diri sebagai capres. Koalisi Silaturahmi 
Indonesia Raya yang dibentuk Partai Gerindra bersama PKB dengan jelas 
menempatkan Prabowo sebagai capres.

Menurut pengamat politik Ujang Komarudin, masuk ke koalisi pemerintah telah 
memberikan keuntungan bagi Prabowo. Selain mendapatkan ekspos pemberitaan 
karena menjadi Menteri Pertahanan, Ujang juga menyebut itu dapat memberikan 
tambahan kekuatan kapital bagi Prabowo.

Well, sebagai penutup, seperti yang dilakukan Luhut pada Pilpres 2014, sang 
Menko Marves harus bergerak cepat. Jika tidak ingin tersungkur, Luhut harus 
sudah memetakan philia barunya dan mulai membangun tim dukungan. Kita lihat 
saja apa langkah Luhut dalam menyikapi 2024. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/039189B12EA2458BA961377F5C4E104C%40A10Live.

Reply via email to