Kekerasan terhadap Keturunan Afrika Permalukan Hari Kemerdekaan AS
2022-07-05 
14:48:02https://indonesian.cri.cn/2022/07/05/ARTId20kOlyKHVPO4KOzEoMi220705.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.13

“Aku tidak bisa bernapas”, teriak George Floyd yang tewas dua tahun lalu masih 
terngiang di telinga, tindakan kekerasan polisi AS terhadap keturunan Afrika 
semakin bertambah.

Pada tanggal 3 Juli lalu, pihak kepolisian Kota Akron, Negara Bagian Ohio, AS 
mengumumkan sebuah video langsung seorang pria keturunan Afrika Jayland Walker 
ditembak mati oleh polisi. Delapan orang polisi terus menembaki Walker yang 
melarikan diri dalam pemeriksaan lalu lintas, pihak kepolisian lokal 
mengatakan, 8 polisi tersebut melakukan lebih dari 90 kali penembakan, dan 
forensik memastikan di tubuh Walker terdapat sekitar 60 luka.

Menjelang Hari Kemerdekaan AS pada tanggal 4 Juli kemarin, darah Walker 
menjadikan kredo pendirian negara ‘semua orang diciptakan sama derajat’ dalam 
Deklarasi Kemerdekaan AS seperti sebuah lelucon. Harian Boston Globe AS 
mengkritik, tanggal 4 Juli (Hari Kemerdekaan) ini tiba setelah bulan Juni yang 
menyedihkan, apa yang patut dirayakan? Kini, di Kota Akron terdapat banyak 
unjuk rasa yang memprotes tindakan kekerasan polisi, dan Kota Akron telah 
membatalkan kegiatan perayaan Hari Kemerdekaan.

Data dari situs web Peta Kekerasan Polisi menunjukkan, dari tahun 2020 sampai 
sekarang, jumlah korban tewas akibat tindakan kekerasan polisi di AS mencapai 
2.536 orang,  dan di antaranya keturunan Afrika sebanyak 565 orang, melebihi 
22%. Sejak tahun ini, terdapat 49 orang keturunan Afrika yang tewas ditembak 
oleh pihak kepolisian. Situs web menunjukkan pula bahwa di AS, kemungkinan 
warga keturunan Afrika tewas tertembak polisi adalah 2,9 kali lipat dari pada 
orang kulit putih.

Bukan hanya tindakan kekerasan saja, diskriminasi ras sistematis ala AS di 
berbagai bidang berakar dalam masyarakat AS, diskriminasi dan penindasan yang 
ada di mana-mana menyebabkan keturunan minoritas di AS tidak dapat bernapas. Di 
belakangnya, terdapat unsur sejarah perbudakan yang penuh dosa, faktor struktur 
ras yang memprioritaskan orang kulit putih dan suasana sosial juga berhubungan 
dengan kesibukan politikus AS dalam pertarungan partai dan kegagalan 
pemerintahan.

Presiden AS Joe Biden mengatakan, diskriminasi ras sistematis adalah noda dalam 
jiwa AS. Sampai sekarang, noda ini tidak hanya tak terhapus, namun bekasnya 
malah lebih parah. Slogan ‘Kesetaraan dan Inklusivitas’ yang disebut politikus 
AS sudah tak bisa menutupi kejahatan ‘Pembela HAM’. Pada tanggal 4 Juli itu, 
menghadapi AS yang penuh dengan kekerasan, perpecahan etnis dan tekanan emosi, 
entahlah bagaimana politikus AS menanggapi harapan pendiri AS dua ratus tahun 
yang lalu itu?

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D0D8F3C4A7984C1CBA4E9C34103715B0%40A10Live.

Reply via email to