https://www.sinarharapan.co/politik/pr-3853812564/imam-besar-istiqlal-bicara-blak-blakan-penyebaran-narasi-intoleran-di-mimbar-agama-nyata
Imam Besar Istiqlal Bicara Blak-blakan: Penyebaran Narasi Intoleran di
Mimbar Agama Nyata

Norman Meoko <https://www.sinarharapan.co/author/8385/Norman-Meoko>

- Senin, 4 Juli 2022 | 15:48 WIB

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar
MA.(Antara/HO-BNPT)


*SINAR HARAPAN *- Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH Nasaruddin Umar
<https://www.sinarharapan.co/tag/KH-Nasaruddin-Umar> mengatakan praktik
penyebaran <https://www.sinarharapan.co/tag/penyebaran> radikalisme,
intoleransi, dan kebencian di mimbar keagamaan nyata
<https://www.sinarharapan.co/tag/nyata> terjadi dan harus diakui guna
memunculkan kewaspadaan dini.

"Pertama, saya ingin berikan pernyataan bahwa itu ada, susah untuk
mengatakan bahwa itu tidak ada. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi
agar ini tidak terus menerus terjadi," kata Nasaruddin dalam keterangan
yang diterima di Jakarta, Senin 4 Juli 2022.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjutnya, perlu upaya maksimal dan tepat,
karena maraknya generasi muda penerus bangsa yang jatuh dalam jeratan
narasi ideologi radikal dan terorisme sangat berbahaya bagi keberlangsungan
bangsa dan eksistensi Pancasila sebagai pedoman bangsa.

*Baca Juga: BNPT: Politisasi Agama Bisa Picu Radikalisme dan Terorisme
<https://www.sinarharapan.co/politik/pr-3853524998/bnpt-politisasi-agama-bisa-picu-radikalisme-dan-terorisme>*

"Kita perlu dekati, sebagai seorang bapak dan mereka adalah anak kita,
rangkul mereka beri perhatian supaya energi mereka yang besar tersalurkan,
agar tidak digunakan untuk memecah belah bangsa. Energi mereka itu jangan
digunakan untuk menyerang orang, tapi untuk merangkul orang," ia
menjelaskan.

Dia menilai penanganan korban dan pelaku narasi radikal dan intoleran di
ruang agama harus dilihat sebagai faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi kerentanan. Mungkin mereka melakukan hal itu karena faktor
pengetahuan keagamaannya dan faktor historis lainnya, sebutnya.

Kedua, dia menambahkan perlu upaya pembatasan ruang gerak terhadap kelompok
radikal yang memanfaatkan mimbar keagamaan untuk menyebarkan paham radikal,
ekstem, dan intoleran. Menurutnya, hal itu penting agar tidak menyebarkan
virus yang membawa bencana bagi keberlangsungan dan persatuan bangsa.

*Baca Juga: BNPT Ajak Lembaga Internasional Kerja Sama Putus Penyebaran
Terorisme
<https://www.sinarharapan.co/hukum/pr-3853464896/bnpt-ajak-lembaga-internasional-kerja-sama-putus-penyebaran-terorisme>*

"Pendekatan berikutnya yaitu kita batasi pergerakan mereka agar nanti tidak
seperti virus, yang justru membawa bencana kemana-mana. Jadi harus
dilokalisir, aparat keamanan kita sudah harus memberi warning, kalau sudah
menyerang ya harus dilawan," ia menegaskan.

Dia mengungkapkan kelompok radikal kerap memutarbalikkan narasi yang
menggiring opini masyarakat, seakan-akan Pemerintah telah melakukan praktik
Islamofobia.

"Islamofobia kan itu kelompok yang tidak mau islam dan muslim berkembang,
tidak ada itu di Indonesia. Bahkan kita punya Kementerian Agama dan lembaga
lainnya yang mengatur dan mendukung jalannya kehidupan beragama di
Indonesia. Masa ini Islamofobia, saya kira tidak tepat," kata mantan wakil
menteri agama itu.

*Baca Juga: BNPT Imbau Masyarakat Hindari Narasi Agama yang Mengandung
Kebencian
<https://www.sinarharapan.co/hukum/pr-3853328296/bnpt-imbau-masyarakat-hindari-narasi-agama-yang-mengandung-kebencian>*

Dia juga menilai hal itu terkait cara pandang individu terhadap suatu
permasalahan, sehingga Pemerintah wajib melaksanakan tugas-tugas
kenegaraannya untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Imbauan serta temuan aparat terkait radikalisme dan upaya
penanganan yang tidak tepat dikatakan sebagai Islamofobia.

"Oleh karenanya, saya kira penting bagi seseorang untuk memiliki pemahaman
agama yang komprehensif, memperkuat akidah agar tidak mudah terpancing dan
terprovokasi," katanya.

Dia menilai upaya Pemerintah selama ini patut diapresiasi, apalagi
belakangan ini masyarakat dapat menikmati kehidupan yang aman dan damai
dari tindak pidana terorisme.

"Selama ini kita bertahun-tahun menikmati kehidupan yang aman damai, itu
kan karena ada sistem yang bekerja, bukan hal yang terjadi begitu saja,"
tuturnya.

Dia berharap seluruh tokoh agama dan masyarakat dapat membekali umat dan
pengikutnya agar tidak mudah terpengaruh paham radikal dan terorisme serta
mengedepankan ilmu agama yang komprehensif.

"Jangan sampai karena persoalan subjektif kita lantas marah-marah,
membenci. Jadi harus kedepankan objektivitas, itu kan cara Nabi," ia
menambahkan.***

Editor: Norman Meoko

Sumber: Antara

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2APRJyR5aa_Qp5Oh2yhuE0WJHUPCy2tehuyu-%2BAsn8PJg%40mail.gmail.com.

Reply via email to