Apakah pemilu = jual beli dagang sapi. Masih lumayan kalau sapi, tetapi
kalau kerbau yang dianggap dungu?

On Wed, Jul 13, 2022 at 3:04 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Written by*R53* <https://www.pinterpolitik.com/author/r53/>
> Tuesday, July 12, 2022 18:42
>
> https://www.pinterpolitik.com/sapi-kurban-024-panggung-politik-anies/
> Sapi Kurban 024, Panggung Politik Anies?
> [image: Sapi Kurban 024, Panggung Politik Anies?]
>
> *Kendati disebut tidak disengaja, sapi kurban bernomor 024 Anies Baswedan
> banyak ditafsirkan sebagai sinyal maju di Pilpres 2024. Apakah ini
> menunjukkan Anies tetap memiliki panggung politik setelah purna tugas
> sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2022?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://pinterpolitik.com/>
>
> Mungkin, bukan Anies Baswedan namanya jika tidak mengundang atensi publik.
> Di momen perayaan Idul Adha 2022, sapi kurban Anies menjadi buah bibir
> publik. Ini bukan soal berat atau harganya, melainkan nomor 024 yang
> tersematkan di sapi tersebut. Menariknya, pada Idul Adha 2019, sapi kurban
> Anies juga bernomor 024.
>
> Kendati telah diklarifikasi sebagai sebuah kebetulan, berbagai pihak
> nyatanya tetap melihatnya sebagai sinyal politik. Direktur Eksekutif Voxpol
> Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, misalnya, menyebut
> sapi kurban berwarna hitam itu sebagai makna Anies akan menjadi kuda hitam
> di Pilpres 2024.
>
> Di kesempatan berbeda, pengamat politik Hendri Satrio menyebut angka 024
> yang merupakan kebetulan itu bisa saja dimaknai sebagai tanda alam. “Kalau
> cuma nomor urutan sih menurut saya ya kebetulan, walaupun gelombang
> perubahan itu ya kadang memang suka dikasih tanda-tanda oleh alam,”
> ungkapnya pada 11 Juli 2022.
>
> Di sini, tentu pertanyaannya menarik. Mengapa perkara nomor sapi kurban
> saja menimbulkan reaksi politik seluas ini?
> *Kita Suka Bergosip *
>
> Buku Jared Diamond yang berjudul *The World Until Yesterday: Apa yang
> Dapat Kita Pelajari dari Masyarakat Tradisional?* sekiranya dapat
> digunakan untuk menjawab pertanyaan itu. Dalam bukunya, Jared menceritakan
> pengalaman menariknya mengunjungi suku Fore di Papua.
>
> Dalam temuannya, Jared melihat orang-orang Fore sangat gemar bergosip atau
> membicarakan hal-hal remeh, seperti berapa ubi yang belum dimakan. Tidak
> hanya orang-orang Fore, orang-orang Pigmi di Afrika juga dilihat Jared
> memiliki kegemaran serupa.
>
> Melihat fenomena itu, seperti halnya orang-orang Barat, Jared awalnya
> memandang peyoratif kebiasaan bergosip suku Fore dan Pigmi. Namun, ketika
> kembali ke Amerika Serikat (AS), Jared menyadari satu hal menarik.
>
> Menurutnya, kebiasaan bergosip suku tradisional tidak ubahnya seperti
> kebiasaan kita. Mereka melakukannya sebagai sarana hiburan karena tidak
> memiliki radio atau majalah seperti masyarakat perkotaan.
>
> Lagipula, interaksi kita di internet saat ini juga merupakan aktivitas
> bergosip. Kita membahas pakaian artis, kontroversi tokoh publik, hingga
> hal-hal remeh seperti makan bubur harus diaduk atau tidak.
>
> Lantas, apa bedanya kita dengan orang-orang Fore atau Pigmi?
> [image: sapi 024 alat peraga kampanye anies ed.]
> <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/sapi-024-alat-peraga-kampanye-anies-ed.-819x1024.jpg>
>
> Robin Dunbar dalam tulisannya *Gossip in Evolutionary Perspective* bahkan
> menyebut bahwa mulanya gosip merupakan mekanisme untuk mengikat kelompok
> sosial. Dan, kini, fungsi awal itu tampaknya masih berlaku. Banyak dari
> kita misalnya memiliki grup gosip sendiri.
> Ini kemudian menjawab mengapa sapi kurban bernomor 024 Anies mendapat
> atensi luas publik meskipun telah dikonfirmasi sebagai sebuah kebetulan.
> Harus diakui bahwa politik merupakan salah satu objek gosip yang paling
> sulit untuk dihindari.
>
> Sejarawan Yuval Noah Harari juga pernah menyebutkan bahwa masyarakat
> selalu lebih tertarik pada isu-isu politik daripada isu bencana alam,
> seperti pandemi. Kita lebih tertarik membahas makna nomor sapi kurban Anies
> daripada timbunan sampah plastik di Samudra Pasifik.
>
> Dengan kata lain, sekalipun sapi kurban bernomor 024 Anies tidak
> disengaja, kegemaran masyarakat melakukan gosip akan membuat sapi kurban
> itu mendapatkan tafsiran-tafsiran politik. Diniatkan atau tidak, itu akan
> menjadi panggung politik.
> *Politik Simbol: dari Jokowi ke Anies*
>
> Ketertarikan luas masyarakat pada isu politik kemudian membuat politik
> simbol menjadi begitu signifikan. Kimly Ngoun dalam tulisannya *What
> Southeast Asian Leaders Can Learn from Jokowi*, misalnya, menyebut
> Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki kemampuan memainkan simbol politik
> yang sangat mumpuni. Kemampuan mengkonstruksi simbol ini bahkan disebutnya
> menjadi pembeda Jokowi dengan pemimpin di Asia Tenggara lainnya.
>
> Politikus senior PDIP Panda Nababan dalam bukunya *Panda Nababan Lahir
> Sebagai Petarung: Sebuah Otobiografi, Buku Kedua: Dalam Pusaran kekuasaan*,
> juga banyak menceritakan kehebatan Jokowi dalam memainkan politik simbol.
> Salah satu yang paling menarik adalah gestur Jokowi naik andong ketika
> memenangkan Pilpres 2014.
>
> Menurut Panda, gestur itu sebenarnya adalah sindiran kepada Prabowo
> Subianto yang pernah menyebut Jokowi sebagai “si tukang andong”. Di sebuah
> acara makan malam sebelum pengumuman hasil Pilpres 2014, Prabowo bertanya
> kepada Luhut Binsar Pandjaitan mengapa justru mendukung Jokowi si tukang
> andong. Luhut kemudian membalas dengan menyebut Jokowi lebih hebat dari
> Prabowo.
>
> Ketika Panda bertanya kepada Jokowi apakah sudah mendengar cerita itu dari
> Luhut, Jokowi merespons bahwa ia telah memesan andong dari Solo untuk
> dikirim ke Jakarta. Dan terbukti, setelah pelantikannya, Jokowi dan Jusuf
> Kalla (JK) berpindah kendaraan dan naik andong selama berjam-jam.
>
> Menurut Panda, itu adalah balasan politik yang hebat. Alih-alih merespons
> Prabowo dengan kata-kata atau perbuatan, Jokowi justru menampilkan politik
> simbol yang begitu menyindir.
>
> Menariknya, keterampilan memainkan politik simbol juga ditunjukkan oleh
> Anies. Kemampuan ini, misalnya, ditunjukkan ketika mengunggah foto sedang
> membaca buku *How Democracies Die*
> <https://www.pinterpolitik.com/cerdik-anies-kritik-pemerintah-otoriter/> karya
> Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt pada November 2020. Menurut banyak
> pihak, unggahan foto itu adalah kritik simbolis Anies terhadap pemerintah
> yang dinilai bertendensi otoriter.
> [image: anies menggemaskan ed.]
> <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/anies-menggemaskan-ed.-819x1024.jpg>
> *Anies Pertahankan Panggung?*
>
> Nah, kemampuan Anies memainkan politik simbol seperti Jokowi, dapat
> menjadi bantahan atas analisis pengamat politik Refly Harun. Menurutnya,
> panggung politik Anies akan selesai setelah purna tugas sebagai Gubernur
> DKI Jakarta pada Oktober 2022. “Dia tidak punya lagi panggung, dia tidak
> punya lagi apa-apa,” ungkap Refly pada 2 Juli 2022.
>
> Refly sangat pesimis bahwa media masih menyorot Anies ketika sudah tidak
> menjadi pejabat publik. Ada pula kekhawatiran bahwa penguasa akan membeli
> slot-slot TV agar tidak menampilkan Anies.
>
> Lantas, apakah kekhawatiran Refly ini akan menjadi kenyataan? Sayangnya,
> besar kemungkinan tidak.
>
> Jawaban itu mengacu pada penjelasan Tom Nichols dalam bukunya yang berjudul
>  *The Death of Expertise*. Menurut Nichols, saat ini media lebih mencari
> *rating* dan klik daripada melahirkan produk berita yang berkualitas.
>
> Bahkan getirnya, kualitas berita telah menjadi begitu kuantitatif karena
> dinilai dari banyaknya klik yang didapatkan. “Kini ada sumber berita untuk
> setiap selera dan pandangan politik, dengan batas antara jurnalisme dan
> hiburan yang sengaja dikaburkan untuk mendapatkan *rating* dan klik,”
> tulis Nichols.
>
> Artinya apa? Dengan habituasi industri media yang mencari klik dan
> sensasi, keterampilan Anies dalam memainkan politik simbol akan menjadi
> objek pemberitaan yang menarik. Anies juga dikenal memiliki kemampuan
> komunikasi dan perpustakaan diksi yang luas.
>
> Media tentu tidak ingin melewatkan klik dari massa yang telah menjadi
> pendukung Anies sejak Pilgub DKI Jakarta 2017.
>
> Selain itu, dengan habituasi berbagai partai untuk mengusung
> capres-cawapres di akhir waktu, pemberitaan terhadap Anies selaku salah
> satu capres potensial tentu tidak akan berhenti. Selain konsisten memiliki
> elektabilitas yang tinggi, berbagai partai politik seperti NasDem juga
> telah menunjukkan ketertarikan terbuka.
>
> Dengan status Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sebagai pengusaha
> media, tentu mudah memberi panggung bagi Anies.
>
> *Well*, sebagai penutup, ada tiga hal yang dapat disimpulkan dari
> fenomena luasnya atensi terhadap sapi kurban Anies. *Pertama*, ini
> kembali menegaskan bahwa politik adalah objek gosip yang sangat menarik.
> *Kedua*, Anies memiliki kemampuan memainkan politik simbol yang baik
> seperti Jokowi.
>
> *Ketiga*, kemampuan memainkan politik simbol merupakan modal Anies untuk
> tetap mempertahankan panggung politik setelah purna tugas sebagai Gubernur
> DKI Jakarta. (R53)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6C1C25EB959D40049EA59008178D9197%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6C1C25EB959D40049EA59008178D9197%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BGBwoM9YJ3y%2BUoyV2zgysAVEXxpqvG7sgvvA5NKuh7KQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to