https://www.antaranews.com/berita/2997693/sri-mulyani-276-juta-orang-di-dunia-hadapi-kerawanan-pangan-akut?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=top_news



G20 Indonesia

Sri Mulyani: 276 juta orang di dunia hadapi kerawanan pangan akut

Jumat, 15 Juli 2022 09:04 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) bersama Gubernur Bank Indonesia 
Perry Warjiyo (kanan) menyampaikan sambutan pembukaan Pertemuan Menteri 
Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat 
(15/7/2022). ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/hp/aa.
Ada urgensi dimana krisis pangan harus ditangani
Badung, Bali (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebutkan 
sebanyak 276 juta orang di dunia menghadapi kerawanan pangan akut saat ini, 
meningkat dua kali lipat sejak 2019 sebelum pandemi COVID-19 yakni 135 juta 
orang, berdasarkan catatan Program Pangan Dunia.

"Ada urgensi dimana krisis pangan harus ditangani," ujar Sri Mulyani dalam 
Pembukaan Pertemuan Ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (3rd 
FMCBG) G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali.

Ia menjelaskan peningkatan risiko keamanan pangan yang mengkhawatirkan 
merupakan dampak perang di Ukraina dan sanksinya, serta pembatasan ekspor yang 
memperburuk dampak pandemi sehingga telah mendorong harga pangan mencapai rekor 
tertinggi.

Peningkatan harga pangan mendorong tambahan jutaan orang ke dalam keadaan 
kerawanan pangan. Oleh karenanya, terdapat urgensi dimana krisis pangan harus 
ditangani.

Menurut Sri Mulyani, penyebaran mekanisme pembiayaan yang lebih tersedia segera 
diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat stabilitas keuangan dan 
sosial.

Selain itu, kebijakan ekonomi makro yang baik juga menjadi penting secara 
fundamental, karena telah membantu banyak negara dalam menghadapi krisis.

Tak hanya pangan, komoditas yang sangat penting dan melonjak harganya saat ini 
salah satunya adalah energi, yang menjadi tantangan besar.

Ia menuturkan lanskap energi global telah diubah atau dibentuk kembali secara 
radikal. Harga komoditas energi pun meroket.

"Saya yakin Anda semua sebagai Menteri Keuangan sekaligus Gubernur Bank Sentral 
melihat ini sebagai ancaman bagi stabilitas makro ekonomi kita, serta 
lingkungan yang kondusif bagi kita untuk mempertahankan pemulihan," ungkapnya.

Bank Dunia, kata dia, memperkirakan harga minyak mentah naik 350 persen dari 
April 2020 hingga April 2022.Peningkatan ini merupakan yang terbesar untuk 
periode dua tahun sejak 1997.

Pada bulan Juni 2022, terdapat pula kenaikan harga gas alam di Eropa sebesar 60 
persen hanya dalam dua minggu. Kekurangan bahan bakar pun sedang berlangsung di 
seluruh dunia dan memiliki implikasi politik dan sosial yang besar di Sri 
Lanka, Ghana, Peru, Ekuador, dan di tempat lain.

Dirinya menjelaskan, kelangkaan ini terjadi lantaran harga gas yang tinggi 
benar-benar menjadi masalah yang mengancam pemulihan ekonomi.

"Dunia berada di tengah krisis energi global," tambah Sri Mulyani.

Baca juga: Guru Besar IPB: kebijakan pangan perlu perhatikan kesejahteraan 
petani
Baca juga: G20 suarakan kekhawatiran tentang melonjaknya harga pangan, energi
Baca juga: Indonesia perlu lakukan mitigasi cegah situasi seperti di Sri Lanka
 

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220715214137.463b4f217074d49b10d84f72%40upcmail.nl.

Reply via email to