Written byR53Saturday, July 23, 2022 22:51
Surya Paloh Takut dengan Prabowo?
Politisi NasDem Zulfan Lindan menyebut Surya Paloh berpesan ke Prabowo Subianto 
untuk mengingat usia dan memberikan kesempatan kepada yang muda di Pilpres 
2024. Jika pesan itu benar, apakah Surya Paloh takut dengan Prabowo?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Partai NasDem dapat dikatakan sebagai partai yang paling aktif melakukan 
manuver politik. Satu yang paling menarik adalah Rakernas partai yang 
melahirkan tiga rekomendasi kandidat. Mereka adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar 
Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Panglima TNI Andika Perkasa.

Rekomendasi itu terbilang menarik karena partai lain masih belum berani 
mengerucutkan nama. Bahkan PDIP yang memenuhi presidential threshold (preshold) 
saja belum mengumumkan nama spesifik, kendati desas-desus menyebut nama Puan 
Maharani. 

Selain soal sudah berani memunculkan nama, ada satu lagi pertanyaan yang 
mencuat. Kenapa nama Prabowo Subianto tidak muncul di Rakernas NasDem?

Sama dengan Ganjar dan Anies, Prabowo juga memiliki elektabilitas yang tinggi. 
Sementara Andika, namanya terbilang kejutan karena baru masuk radar setelah 
dilantik sebagai Panglima TNI.

Melihat habituasi Surya Paloh sejak Pilpres 2014 yang selalu mengusung kandidat 
potensial, kenapa Paloh justru berjudi dengan tiga nama tersebut? Anies dan 
Andika tidak memiliki partai politik. Sementara Ganjar, intriknya dengan PDIP 
membuatnya sulit untuk maju.

Jika mengusung Prabowo, duet NasDem dan Gerindra sudah memenuhi preshold 20 
persen. Gerindra memperoleh 12,57 persen, sedangkan NasDem 9,05 persen.

Selain itu, seperti yang dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Habib 
Luthfi Jadi Cawapres Prabowo?, Ketua Umum Partai Gerindra itu adalah kandidat 
dengan modal politik (political capital) paling lengkap saat ini. Dapat 
dikatakan, jika menghitung di atas kertas, Pilpres 2024 mungkin adalah milik 
Prabowo.

Jika demikian keadaannya, lantas mengapa nama Prabowo tidak muncul di Rakernas 
NasDem? Kenapa Surya Paloh tidak melamar Prabowo dari jauh-jauh hari seperti 
melamar Joko Widodo (Jokowi) di dua gelaran pilpres sebelumnya?

 
Surya Paloh si Penarik Tali?
Pernyataan politisi NasDem Zulfan Lindan di acara Total Politik banyak 
dijadikan sebagai jawaban. Menurut Zulfan, ketika bertemu di NasDem Tower, 
Surya Paloh berpesan ke Prabowo untuk mengingat usia yang sudah tua dan 
memberikan kesempatan kepada yang muda.

Lanjut Zulfan, pesan itu tertangkap oleh kader-kader NasDem sehingga tidak ada 
yang mengusung nama Prabowo di Rakernas.
Menariknya, Juru Bicara Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo, Dahnil Anzar 
Simanjuntak membantah adanya pesan itu. Bahkan menurut Dahnil, pernyataan 
Zulfan itu adalah suatu kebohongan dan sangat tidak elok karena merusak 
silaturahmi yang dibangun.

Well, terlepas dari pernyataan Zulfan Lindan itu benar atau tidak, yang jelas, 
faktanya memang tidak ada nama Prabowo di Rakernas NasDem.

Dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Apakah Surya Paloh Jadi Capres?, telah 
dijelaskan bahwa Surya Paloh merupakan politisi pemikir tipe pemain catur. Tipe 
politisi ini memiliki kemampuan prediksi yang baik, sehingga dapat menentukan 
mana bidak yang dapat dijalankan atau tidak.

Yang menarik adalah, tipe politisi pemain catur memiliki tendensi psikologis 
untuk mengatur, bukan diatur. Mereka kerap membayangkan dirinya sebagai Kaisar 
Romawi.

Jika benar Surya Paloh adalah politisi jenis ini, maka ada satu kemungkinan 
yang dapat dibayangkan di balik nihilnya nama Prabowo di Rakernas NasDem.

Ini sepertinya bukan soal usia seperti yang disebutkan Zulfan Lindan, melainkan 
soal keinginan Surya Paloh untuk menjadi king maker di 2024. Jika membandingkan 
dengan ketua umum parpol lainnya, Paloh menang menarik. Jika yang lain 
berbondong-bondong ingin maju sebagai capres atau cawapres, Paloh justru 
konsisten berada di belakang layar.

Mengutip tulisan Dennis R. Young yang berjudul Puppet Leadership: An Essay in 
Honor of Gabor Hegyesi, Surya Paloh sepertinya bertindak sebagai string-pullers 
atau penarik tali, yakni pihak yang memiliki kontrol atau pengaruh terhadap 
keputusan pejabat pemerintahan.

Mungkin dalam benak Surya Paloh, “Jika tetap dapat berpengaruh, untuk apa 
menjadi presiden atau wakil presiden.”

Lantas, apa hubungannya antara keinginan Surya Paloh untuk menjadi king maker 
dengan nihilnya nama Prabowo di Rakernas NasDem?

 
Prabowo si Alpha
Jawabannya sederhana, yakni Prabowo bukan sosok yang mudah dikontrol. Kembali 
mengutip Dennis R. Young, syarat untuk menjadi penarik tali adalah adanya sosok 
yang bersedia untuk dikontrol atau setidaknya dipengaruhi.

Melihat karakter dan rekam jejaknya, dapat dikatakan Prabowo bukan termasuk 
sosok seperti itu. Jika nantinya Prabowo menjadi presiden, besar kemungkinan ia 
akan menampilkan diri seperti pemimpin batalyon atau pasukan.
Terkait sifat Prabowo saat ini yang terlihat pasif setelah masuk kabinet 
Jokowi, ini juga dipengaruhi oleh karakter militernya. Seperti kata ilmuwan 
politik Francis Fukuyama, militer dikenal dengan hierarki kepemimpinan dan 
komandonya.

Saat ini, posisi Prabowo merupakan bawahan Jokowi. Sebagai menteri, ia adalah 
pembantu presiden. Oleh karenanya, tidak boleh bawahan bersuara lebih keras 
dari pemimpin pasukan.

Nah, jika nantinya terpilih menjadi RI-1, besar kemungkinan Prabowo akan 
menunjukkan dirinya sebagai Alpha Instinct atau Insting Alfa.

Dalam kajian psikologi kepemimpinan, Alpha Instinct adalah kecenderungan 
seseorang untuk menjadi pemimpin yang dominan dan cenderung agresif. Tujuannya 
adalah untuk mendapatkan rasa hormat, didengarkan, atau diikuti oleh orang lain.

Jika berbicara pemimpin dunia, Presiden Rusia Vladimir Putin adalah sosok yang 
menunjukkan Alpha Instinct. Bayangkan saja, di tengah tidak populernya perang 
berdarah, Putin justru memutuskan untuk menyerang Ukraina. Ia juga tidak 
menghiraukan berbagai sanksi dari Amerika Serikat (AS) dan sekutu.

Putin tidak membiarkan dirinya didikte. Sebaliknya, Putin yang akan mendikte 
lawan-lawan politiknya.

Jika benar Prabowo memiliki Alpha Instinct, ini jelas menjadi rintangan Surya 
Paloh untuk menjadi king maker di 2024. Dengan karakter Prabowo yang dominan 
dan determinan, Paloh akan kesulitan menancapkap pengaruh-pengaruhnya. Pada 
konteks ini, dapat dikatakan Paloh takut dengan Prabowo.

Selain itu, hubungan NasDem dengan Gerindra juga terbilang kurang mulus. Ketika 
Gerindra bergabung dengan koalisi, NasDem secara kentara terlihat begitu tidak 
setuju.

Bahkan, saat itu ada ancaman Surya Paloh untuk menjadi oposisi pemerintah. Kita 
tentu mengingat gestur Paloh berpelukan dengan eks Presiden PKS Sohibul Iman.

Well, sebagai penutup, dengan mengacu pada asumsi Surya Paloh ingin menjadi 
king maker di 2024, karakter Prabowo sebagai seorang alpha tampaknya menjadi 
batu ganjalan bagi NasDem untuk mengusung sang Ketua Umum Partai Gerindra. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3358BD2A9D85403E8121ABBD4E6715BF%40A10Live.

Reply via email to