Written byJ61Tuesday, July 26, 2022 17:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-dijerumuskan-pdip/
Puan Dijerumuskan PDIP?
Belakangan ini, narasi positif mengiringi langkah kader PDIP Puan Maharani 
jelang semakin dekatnya penentuan sosok calon presiden (capres) di Pemilu 2024. 
Lalu, mengapa Puan tetap mendapat narasi itu meski jamak dianggap tak sesuai 
realitas?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Secara perlahan, nama Ketua DPR RI yang juga kader PDIP Puan Maharani dinaungi 
atmosfer positif seiring dengan semakin dekatnya penentuan sosok calon presiden 
(capres) di kontestasi elektoral 2024.

Narasi baik datang, misalnya, dari pendiri lembaga KedaiKopi Hendri Satrio. 
Hensat, sapaan karibnya, menilai jejak karier politik Puan cukup baik selama 
ini. Hal itu dinilai telah dimulai sejak menjadi “anggota biasa” PDIP, menjadi 
ketua fraksi di parlemen, dipercaya sebagai menteri koordinator (menko), hingga 
menjabat Ketua DPR saat ini.

Oleh karena itu, sosok anak kandung Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati 
Soekarnoputri dinilai menjadi yang paling rasional maju sebagai capres. Hal 
itu, menurut Hensat, diperkuat dengan upaya PDIP mencatatkan Puan dalam sejarah 
sebagai penerus trah Soekarno.

Tidak hanya itu, impresi positif juga muncul dari analis politik Bambang 
Haryanto yang menilai Puan telah memeragakan kepemimpinan merakyat. Bambang 
mengatakan hal itu mengacu pada safari Puan keliling Indonesia dengan 
mengunjungi para petani, nelayan, hingga pedagang pasar beberapa waktu 
belakangan.

Bambang juga menyebutkan Undang-undang (UU) Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak 
Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) sebagai indikator yang berhasil dieksekusi Puan 
setelah mandek sekian lama.

Selaras dengan Hensat, Puan dinilai juga layak untuk naik kelas ke kepemimpinan 
nasional sebagai seorang presiden.

  
Satu analisis lain turut hadir dari pengamatan di linimasa yang dipaparkan 
pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi. Puan menjadi tokoh politik yang dibicarakan 
dengan nada positif tertinggi (89 persen) dalam pemberitaan dan perbincangan 
media online serta media sosial sejak 11 sampai 17 Juli 2022.

Aspek rinci temuan tersebut adalah keunggulan Puan dalam inisiasi anjuran untuk 
mengatasi kenaikan harga dengan memperbaiki tata kelola komoditas pangan. Puan 
juga disebut cukup banyak dibicarakan menjadi sosok yang layak maju sebagai 
capres lantaran didukung struktur politik solid.

Akan tetapi, respons yang berseberangan dengan narasi tersebut turut eksis. 
Nada positif itu dianggap hanya bentuk sarkasme atas nihilnya prestasi Puan 
secara konkret yang terasa bagi masyarakat selama ini.

Tidak sedikit pula yang menyebut konstruksi kesan positif terhadap Puan hanya 
merupakan kosmetik untuk memuluskan langkah pencapresan dirinya.

Mengacu pada intrik tersebut, satu pertanyaan kemudian muncul, mengapa narasi 
positif kepada Puan mengemuka? Benarkah itu hanya demi melancarkan dukungan 
sebagai capres PDIP?

Pujian Mematikan?
Satu kemungkinan pertama mengapa impresi positif muncul terhadap Puan kiranya 
adalah ambisi PDIP itu sendiri.

Selagi masih ada waktu sebelum ketuk palu sosok capres dari Komisi Pemilihan 
Umum (KPU), Puan tampaknya akan terus dinarasikan positif oleh PDIP – baik 
secara langsung maupun tidak langsung – sebagai sosok paling tepat sebagai 
penerus Joko Widodo (Jokowi), plus trah Soekarno.

Itu bisa dimaknai dari perspektif Francis Fukuyama dalam bukunya yang berjudul 
State-Building: Governance and World Order in the 21st Century.

  
Ilmuwan politik asal Amerika Serikat (AS) itu mengutip konsep satisficing dari 
Herbert Simon dalam Administrative Behavior, dan menegaskan bahwa tiap-tiap 
individu dalam organisasi mempunyai rasionalitas yang terbatas.

Singkatnya, apa yang dipahami sebagai “kebenaran” oleh organisasi, belum tentu 
selaras sebagai “kebenaran” oleh individu dalam organisasi.

Rasionalitas individu berupa asumsi bahwa elektabilitas Puan yang stagnan di 
papan bawah, ditambah dengan pesimisme yang tampak menggelayutinya apabila 
bertarung dalam pemilihan presiden (pilpres), tidak lantas serupa dengan 
rasionalitas PDIP yang memiliki ekspektasi lain terhadap cucu Proklamator itu.

Sekali lagi, trah Soekarno yang dianggap sebagai identitas inheren partai 
banteng bisa saja menjadikan Puan sebagai harapan pamungkas di saat regenerasi 
PDIP dari Megawati dapat dipastikan akan terjadi cepat atau lambat.

Tapi, selain kemungkinan itu, gelombang narasi positif yang ada boleh jadi 
ditunggangi pula oleh rival politik Puan dan PDIP, terutama sebagai upaya untuk 
menjerumuskan. Mengapa demikian?

Jonathan W. Kunstman dalam Poisoned Praise menguak karakteristik narsistik 
pemimpin terhadap pujian dan motif dalam menghadapi sanjungan.

Menurut analisisnya, terdapat pemimpin yang tak terpengaruh atas sebuah pujian, 
namun jamak pula pemimpin yang justru terbuai, padahal pujian tersebut 
dimaksudkan untuk menjerumuskannya atau berlandaskan kepentingan tertentu.

Dalam naskah klasik Tiongkok yang berjudul Tiga Puluh Enam Strategi yang kerap 
diidentikkan dengan filosofi Sun Tzu, disebutkan pula strategi xiào lǐ cáng dāo 
atau pisau yang tersarung dalam senyum.

Taktik itu sendiri mengedepankan sanjungan untuk menjilat musuh hingga terlena 
dan menjadi lebih mudah dikalahkan, atau bahkan takluk dengan sendirinya karena 
sentimen positif tersebut.

Pada konteks Puan, dengan elektabilitasnya yang rendah serta kerap dinilai 
minim prestasi konkret, membuatnya tampak menjadi lawan empuk dalam sebuah 
pertarungan pilpres.

Ini tentu bisa dimanfaatkan dengan konstruksi pujian-pujian dan dibumbui dengan 
justifikasi lainnya agar PDIP benar-benar mengusung Puan sebagai capres di 
Pemilu 2024 nantinya.

Selain dua kemungkinan tersebut, terdapat satu lagi alasan mengapa nada positif 
terhadap Puan semakin masif, yakni karena PDIP kemungkinan justru ingin 
menjerumuskan Puan. Mengapa hal itu bisa terjadi?

 
Inisiasi Kubu Anti-Trah?
Adanya respons berkebalikan dengan narasi positif yang coba dibangun terhadap 
Puan tampaknya menguak probabilitas taktik oportunisme dan “penjerumusan” yang 
dilakukan sendiri oleh PDIP.

Jika kemungkinan itu benar adanya, dramaturgi tampak tengah diperagakan PDIP 
untuk tidak menjatuhkan vonis lebih awal dengan menggugurkan Puan sebagai 
capres karena elektabilitasnya yang rendah.

Hal itu tidak lain dikarenakan sebuah organisasi dapat menganut egoisme dalam 
derajat tertentu. James Rachel dalam Egoism and Moral Skepticism menjelaskan 
fenomena tersebut sebagai egoisme etis yang memiliki makna bahwa semua 
tindakan, baik individu maupun kelompok, dimotivasi oleh kepentingan 
(self-interest).

Ketika egoisme etis muncul, etika seketika tidak berguna. Begitupun dengan 
altruisme yang tak menemui relevansinya, yang mana kecenderungan semacam itu 
acapkali lumrah dalam politik.

Dalam konteks Puan, PDIP kiranya memiliki egoisme tersendiri jika mengacu aspek 
historis dan riwayat tak pernah absen mengusung capres mumpuni dalam setiap 
edisi pilpres sejak era Reformasi.

Terlebih, jika mengacu pada Alexander Moseley dalam Political Realism dan 
Utopianism, praktik politik sarat dengan egoisme dan banalitas untuk mencapai 
kekuasaan, termasuk di dalamnya sikap oportunisme.

PDIP pun lekat dengan riwayat karakteristik itu saat drama intrik di antara 
sosok internal terjadi, namun pada akhirnya memilih Jokowi sebagai capres pada 
Pilpres 2014 karena memiliki elektabilitas mentereng.

Bertolak dari sana, ada kemudian yang membaca bahwa PDIP pada akhirnya 
kemungkinan akan mengusung Ganjar sebagai capres, bukan Puan.

Akan tetapi, jika dinamika di atas menjadi kenyataan, hal tersebut dapat pula 
kiranya dimaknai lebih dalam. Yakni sebagai cara kelompok anti-trah Soekarno di 
internal partai untuk memberikan argumentasi bahwa PDIP tidak harus dipimpin 
oleh sosok berdarah Putra Sang Fajar.

Berbaliknya citra Puan di akhir skenario pencapresan 2024, tampaknya akan cukup 
ideal untuk menjadi rasionalisasi kubu anti-trah Soekarno.

Dengan kata lain, jika kubu tersebut eksis, terdapat hal yang lebih jauh 
terkait potensi perubahan identitas PDIP. Hal itu berkaca pada kemunculan 
kelompok non-trah yang cukup militan dalam mendukung Ganjar, sebagaimana hal 
serupa terjadi pada kelompok yang mendukung Jokowi.

Akan tetapi, penjabaran di atas masih sebatas interpretasi semata. Satu esensi 
yang kiranya dapat dicermati adalah bahwa narasi positif belum cukup untuk 
mengalahkan reputasi positif yang dapat secara nyata dirasakan masyarakat luas 
dari sosok seorang pejabat publik. (J61)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BD6233A993CB4345B7CB8DE0A204B1FC%40A10Live.

Reply via email to