Written byR53Wednesday, July 27, 2022 18:51

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/surya-paloh-salah-kaprah/
Surya Paloh Salah Kaprah?
Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh menilai pemilihan umum (pemilu) 
sebaiknya tidak dilaksanakan jika berkonsekuensi pada perpecahan bangsa. 
Mungkinkah Paloh salah kaprah soal pemilu?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Surya Paloh tentu tengah berbahagia. Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem itu 
dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) Sosiologi dari Fakultas Ilmu Sosial 
dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Brawijaya (UB).

Dalam orasi ilmiahnya, Paloh memaparkan sejumlah poin yang sangat menarik. Satu 
yang paling menarik perhatian adalah pandangannya soal tidak perlu diadakan 
pemilihan umum (pemilu). Menurutnya, jika berkonsekuensi pada perpecahan 
bangsa, pemilu sebaiknya tidak diadakan.

Sontak saja, pernyataan itu memantik respons luas. Di satu sisi, ada yang 
mendukung Paloh. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKB Hasanuddin Wahid, misalnya, 
juga berpandangan bahwa persatuan bangsa harus diletakkan di atas kepentingan 
politik. Jika pemilu justru menumbuhkan polarisasi, maka sebaiknya tidak perlu 
digelar. 

Tak Terhindarkan?
Meminjam pandangan pemikir-pemikir besar seperti Francis Fukuyama dan Amartya 
Sen, kita dapat sangat memahami pernyataan Surya Paloh. Dalam bukunya yang 
fenomenal, The End of History and the Last Man, pada pembahasan yang berjudul 
Manusia Tanpa Kepala, Fukuyama menjelaskan bahwa persoalan vital yang sulit 
diselesaikan demokrasi liberal adalah bagaimana membuat setiap individu 
mendapatkan kualitas pengakuan yang sama.

Fukuyama bertolak pada dua konsep filosofis untuk menjelaskan masalah itu. 
Pertama adalah konsep thymos, atau thumos, atau thymia dari Plato. Thumos 
adalah bagian dari jiwa manusia yang sangat membutuhkan pengakuan akan 
martabat. 

Thumos memiliki dua elemen, yakni isothymia dan megalothymia. Isothymia adalah 
tuntutan untuk dihormati atas dasar kesetaraan dengan orang lain. Sementara, 
megalothymia adalah keinginan untuk diakui sebagai yang lebih unggul.

Menurut Fukuyama, demokrasi liberal adalah pilihan tak tertandingi untuk 
menjawab isothymia. Namun, yang menjadi masalah serius adalah bagaimana caranya 
meredam megalothymia.

Di sini, Fukuyama mengutip konsep filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, soal 
adanya manusia paripurna yang terpuaskan dari segala hasrat pengakuan. Tanya 
Fukuyama, apakah manusia seperti itu ada? 

Seperti yang menjadi kritik Plato dalam buku Republic, ketika diberikan 
kebebasan, manusia akan menuntut kebebasan lainnya. Ketika isothymia sudah 
terpenuhi – bahkan juga belum, manusia akan menuntut megalothymia. 

Atas realitas itu, Fukuyama menggunakan diksi “manusia tanpa kepala” sebagai 
metafora.  Itu adalah satir bahwa manusia yang dibayangkan Nietzsche bukanlah 
manusia – seseorang akan meninggal jika kehilangan kepalanya.

 
Atas sulitnya menyelesaikan masalah megalothymia, dalam bukunya Identity: The 
Demand for Dignity and the Politics of Resentment, Fukuyama menerangkan 
persoalan penting yang intangible (tidak berwujud) sebagai masalah utama untuk 
mewujudkan demokrasi liberal modern, yakni masalah identitas.

Menurut Fukuyama, ancaman besar demokrasi saat ini adalah menjawab masalah 
pengentalan identitas dan politik kebencian yang masif terjadi. Poin ini persis 
seperti yang disinggung Surya Paloh dalam orasi ilmiahnya. Paloh sangat 
prihatin atas penggunaan politik kebencian sebagai strategi dalam pemilu.
Dalam bukunya Identity and Violence: The Illusion of Destiny, Amartya Sen 
dengan tegas menyebut konflik dan kekerasan yang terjadi berasal dari masalah 
identitas. Kita dapat tidak menyukai, menghardik, memukul, hingga membunuh 
orang lain karena identitasnya berbeda dengan kita.

Lantas, jika politik identitas tidak bisa dihindari, apakah pemilu harus 
ditiadakan seperti pandangan Surya Paloh?

Tentu jawabannya tidak. Setidaknya ada dua argumentasi yang dapat digunakan 
untuk membantah pandangan Paloh. Pertama, seperti kritik Ketua DPP PKS Mardani 
Ali Sera, pemilu adalah hak masyarakat. Pemilu adalah mandat undang-undang yang 
harus dilaksanakan. 

Mardani juga menambahkan, jika masalahnya ada pada praktik pemilu, maka praktik 
itu yang harus diperbaiki, bukan menghilangkan pemilunya. Pernyataan Mardani 
ini mengingatkan kita pada pepatah, “untuk membunuh tikus tidak harus dengan 
membakar lumbung.”

Lagipula, pada kaedahnya pemilu memang kompetisi. Secara gamblang, dapat 
dikatakan bahwa pemilu adalah ajang pertarungan yang sah, dan bahkan 
pertarungan ini dibiayai oleh negara.

Kedua, politik kebencian yang menjadi jantung masalah dapat dihindari. Untuk 
ini, kita perlu meminjam konsep category-mistake dari Gilbert Ryle dalam 
bukunya The Concept of Mind. Category-mistake adalah kekeliruan logis yang 
terjadi ketika seseorang keliru dalam menentukan kategorisasi.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah politik kebencian adalah konstruksi – 
artinya diciptakan, atau merupakan suatu kondisi sosial yang sudah dan tetap 
ada?

Jika politik kebencian adalah kondisi sosial yang sudah ada, maka pandangan 
Surya Paloh harus diimplementasikan. Namun, jika politik kebencian adalah 
konstruksi, maka pandangan Mardani Ali Sera yang tepat.

Bantahan-bantahan
Untuk menjawabnya, kita dapat melihat dua hal. Pertama dengan melihat literatur 
atau pembuktian teoretis. Kedua dengan melihat fakta lapangan atau pembuktian 
empiris.

Untuk pembuktian teoretis, kita akan mulai dari buku Karen Amstrong yang 
berjudul Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme. 
Menurutnya, terdapat kekeliruan dan pemikiran yang dangkal di balik klaim bahwa 
identitas keagamaan adalah sumber konflik dan musuh perdamaian.

Tegas Amstrong, banyak konflik justru disebabkan oleh ketidakseimbangan 
kekuatan politik, nasionalisme sekuler, dan keinginan menguasai dunia atau 
invasi.

Dalam bukunya The Origin of Political Order: From Prehuman Times to the French 
Revolution, Francis Fukuyama juga berpendapat demikian. Menurut Fukuyama, jika 
melihat pada sejarahnya, agama justru muncul dan berperan dalam membentuk 
kohesi sosial. Agama justru adalah respons peradaban dalam menjawab pertikaian. 

Kemudian, jika mengacu pada sejarah, usia konflik manusia jauh lebih tua dari 
usia agama yang menjadi sasaran kritik. Agama-agama besar seperti Islam dan 
Kristen misalnya, usianya tidak lebih dari 3.000 tahun. 
Sekalipun mengacu pada Hinduisme yang disebut sebagai agama pertama – sudah ada 
antara abad ke-15 dan ke-5 SM – usianya masih sangatlah muda karena bukti 
pertikaian telah ditemukan sejak era Neanderthal (genus Homo sebelum Sapiens). 
Neanderthal sendiri disebut telah ada setidaknya sejak 200.000 tahun yang lalu.

Artinya apa? Seperti pernyataan Amstrong, konflik akibat pertikaian politik 
justru merupakan akar masalah yang sebenarnya.

 
Sekarang kita lanjut ke pembuktian empiris. Untuk ini, kita dapat menggunakan 
penelitian Diego Fossati, Edward Aspinall, Burhanuddin Muhtadi, dan Eve 
Warburton yang berjudul Ideological representation in clientelistic 
democracies: The Indonesian case.

Penelitian itu terbit pada Februari 2020. Mereka meneliti sepuluh partai, yakni 
NasDem, PDIP, Gerindra, PPP, PKB, PKS, Demokrat, Golkar, PAN, dan Hanura. Dari 
sepuluh partai itu, hanya Hanura yang tidak lolos ke Parlemen. 

Mereka mencoba menjawab pertanyaan, apakah partai politik menunjukkan perbedaan 
ideologi dan sikap terhadap suatu isu di tengah sistem klientelisme di 
Indonesia. Dalam temuannya, perbedaan ideologi dan sikap ternyata kentara 
terlihat pada isu Islam. 

Sementara, soal ekonomi, semua partai memiliki cara pandang yang sama. Menurut 
mereka, keseragaman ini menunjukkan partai politik di Indonesia gagal dalam 
mengartikulasi isu-isu ekonomi.

Dari temuan itu kita dapat menarik satu kesimpulan penting. Alasan politik 
kebencian berbasis agama masif di Indonesia adalah karena partai politik tidak 
menjadikan isu ekonomi sebagai konsentrasi utama. Partai lebih dominan 
memainkan isu budaya dan agama sebagai branding dan strateginya di pemilu. 

Nah, dari dua pembuktian itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa politik 
kebencian adalah konstruksi. ada category-mistake yang terjadi. Ini bukan salah 
pemilu, melainkan salah partai politik dan pihak-pihak terkait yang menggunakan 
politik kebencian sebagai strategi dalam pemilu.

Simpulan ini persis seperti tanggapan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto terhadap 
pernyataan Surya Paloh. Ungkapnya, “jangan pernah ragukan kedewasaan rakyat. 
Persoalan justru sering muncul di elite.”

Well, sebagai penutup, tampaknya dengan cukup meyakinkan kita dapat mengatakan 
Surya Paloh telah salah kaprah. Partai politik dan mesin-mesin pemenangan 
memiliki peran vital untuk mencegah perpecahan bangsa. 

Seperti pernyataan Paloh, jangan hanya karena nafsu politik untuk meraih 
kemenangan, kemudian membuat kita mengorbankan persatuan bangsa. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1F13C071E99947498538E9D1715EBF8B%40A10Live.

Reply via email to