Menurut keterangan seorang pakar (almarhum) yang cukup terkenal beliau katakan bahwa ketika peristiwa ini terjadi, Megawati diajak untuk bersama-sama para pendukung tetapi Megawati bilang mau tidur siang.
On Thu, Jul 28, 2022 at 4:29 AM Chan CT <[email protected]> wrote: > Written by*J61* <https://www.pinterpolitik.com/author/j61/> > Wednesday, July 27, 2022 17:30 > > https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kudatuli-jenderal-abri-dan-megawati/ > Kudatuli, Jenderal ABRI, dan Megawati > [image: andika puan] > > *Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) agaknya hanya menjadi salah > satu jawaban mengapa Megawati Soekarnoputri dan PDIP bisa begitu kuat. > Intrik penunjukkan Soedharmono sebagai Wakil Presiden (Wapres) dan > perseteruan ABRI vs Soeharto agaknya juga memiliki keterkaitan. Mengapa > demikian?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com <https://www.pinterpolitik.com/>* > > Presiden ke-2 RI Soeharto disebut tidak senang dengan terpilihnya Megawati > Soekarnoputri sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) > pada Desember 1993 karena menjadi sosok vokal nan kritis terhadap > pemerintah Orde Baru (Orba). > > Skenario kemudian dibuat untuk menaikkan kembali Soerjadi sebagai Ketum > PDI lewat Kongres di Medan. Aktualisasi skenario itu terwujud saat massa > pendukung Soerjadi menyerang markas PDI di Jalan Diponegoro 58 Jakarta > Pusat yang diduduki kubu Megawati pada 27 Juli 1996, atau jatuh tepat pada > hari ini, 26 tahun silam. > > Di akhir cerita, Megawati berhasil didongkel melalui peristiwa yang > dikenal sebagai Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) tersebut. > > Namun, putri kedua Soekarno itu tak patah arang dengan mendirikan > PDI-Perjuangan (PDIP) dan secara fantastis berhasil meraih lebih dari 35,6 > juta dukungan rakyat atau 33,12 persen suara di Pemilihan Umum (Pemilu) > 1999. Itu adalah perolehan suara terbesar PDIP sejauh ini. > > Sejak saat itu, Megawati bersama PDIP bertransformasi menjadi kekuatan > prominen yang secara konsisten berada di jajaran elite dalam blantika serta > pasang surut politik nasional. > > Konsistensi PDIP sendiri bahkan terus terjaga hingga kini, termasuk dalam > proyeksi di Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang. Partai berlambang > banteng selalu kokoh di puncak dalam sejumlah survei keterpilihan partai > politik (parpol). > <https://www.instagram.com/p/Cgf4enyh4u_/>[image: image 69] > <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/image-69.png> > > Terbaru, Lembaga Suara Politik Publik (SPP) merilis hasil survei terkait > pilihan publik atas parpol pada Minggu, 24 Juli kemarin. Hasilnya, PDIP > menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi dan hanya bisa disaingi oleh > Gerindra di urutan kedua. Itupun disebut akibat efek sosok Prabowo Subianto > sebagai calon presiden (capres) terfavorit di pesta demokrasi 2024. > > Senada dengan SPP, hasil survei dari Politika Research & Consulting (PRC) > juga menunjukkan hal yang sama. Jajak pendapat yang dilakukan pada 12 Juni > hingga 3 Juli 2022 lalu menasbihkan PDIP sebagai pemuncak sementara > elektabilitas parpol dengan torehan 18,2 persen. > > Belum cukup? Survei Litbang Kompas pada Juni lalu juga bermuara pada hasil > identik. Elektabilitas sebesar 22,8 persen membuat PDIP bertengger di > posisi nomor wahid dan tak tertandingi oleh Partai Gerindra yang hanya > meraup 12,5 persen suara. > > Hasil tersebut kiranya cukup menarik mengingat PDIP sebagai partai > penguasa diiringi bermacam isu minor. Sebut saja kasus rasuah bantuan > sosial (bansos) yang menyeret kadernya Juliari Batubara saat menjabat > sebagai Menteri Sosial (Mensos). > > Tak ketinggalan mengenai raibnya Harun Masiku dalam kasus suap pergantian > antarwaktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024. Ditambah, kinerja > Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai kader PDIP dengan posisi tertinggi > dalam pemerintahan yang kerap dinilai kurang memuaskan dalam sejumlah > kebijakan. > Lantas, hal itu menyisakan satu pertanyaan sederhana namun kiranya sangat > menarik, yakni mengapa PDIP bisa se-begitu kuat? > *Dampak Kudatuli?* > > Reputasi dan torehan historis peristiwa Kudatuli dan dinamika setelahnya, > tampak menjadi poin pertama yang dapat menjawab asal-muasal konsistensi > kekuatan PDIP. > > Dalam teori solidaritas sosial yang diperkenalkan sosiolog Prancis Émile > Durkheim, peristiwa Kudatuli dapat dimaknai sebagai pengalaman emosional > bersama yang berasal dari keyakinan yang dianut oleh setiap individu > loyalis PDI kubu Megawati. > <https://www.instagram.com/p/Cgbl05whavV/>[image: image 70] > <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/image-70.png> > > Karakteristik “kritis” yang cukup langka di era Orba, membuat daya tarik > PDI dibawah kepemimpinan Megawati cukup tinggi dan siapapun yang terlibat > di dalamnya kemudian merasa terwakilkan. > > Meski sempat ditaklukkan melalui peristiwa Kudatuli, kemenangan Megawati > bersama PDIP setelah Soeharto tumbang kemudian membentuk semacam identitas > sosial kuat, yakni mereka menjadi kubu yang berhasil meraih kejayaan > setelah melewati pahitnya represi politik penguasa. > > Menariknya, parpol-parpol lain tidak memiliki identitas seperti itu. Ihwal > yang memunculkan presumsi bahwa menjadi bagian dari PDIP adalah identitas > yang melahirkan kebanggaan tersendiri. > > Karakteristik itu lantas menjawab mengapa PDIP konsisten menjadi parpol > tangguh yang berkaitan dengan akar rumput (*grass root*) serta > simpatisannya yang kuat. > > Ya, akar rumput tampaknya menjadi penyokong utama kekuatan Megawati dan > PDIP secara kelembagaan. Dalam *Political Order in Changing Societies*, > Samuel Huntington mengemukakan definisi pelembagaan sebagai sebuah proses, > di mana organisasi secara berangsur-angsur menetapkan prosedur untuk > mencapai visi dan stabilitas. > > Kunci dari pelembagaan itu disebut berasal dari kesepahaman di antara > individu dalam menyokong keberhasilan organisasi. > > Seolah menawarkan diri sebagai antitesis Soeharto secara tidak langsung > sejak era PDI, Megawati didukung oleh disiplin kader yang sangat militan. > Sekali lagi, itu terbukti dari keteguhan kader dan simpatisan saat dan > setelah pecahnya peristiwa Kudatuli. > > Adanya simbol partai yang diasosiasikan secara empiris via ketokohan > Megawati sebagai “titisan” Soekarno, turut membuat persatuan PDI dan PDIP > seolah memiliki relevansi untuk diperjuangkan oleh para kader dan > simpatisan. > > Shahla Haeri dalam buku berjudul *Unforgettable Queens of Islam* yang > diterbitkan Cambridge University Press, membahas ketokohan Megawati dalam > satu bab khusus mengenai progres kekuasaan dan posisi politiknya. > > Haeri menyebut Megawati bagaikan limbuk dalam pewayangan. Sesosok karakter > yang ceplas-ceplos, berdaya nalar kurang, namun bisa menjadi jalan > penghubung ke banyak pihak. > > Seiring waktu, sosok limbuk itu kemudian disebutnya bertransformasi > menjadi seorang ratu yang begitu penting dalam menentukan arah perpolitikan > di Indonesia. > > Kuatnya Megawati sebagai simbol, plus peristiwa Kudatuli sebagai > pengalaman emosional dan membentuk identitas bersama, tampaknya membuat > mesin partai PDIP selalu berjalan prima dari waktu ke waktu. > > Namun, kebangkitan Megawati kiranya juga dipengaruhi oleh dinamika yang > terjadi di antara militer dan Soeharto saat itu. Mengapa itu bisa terjadi? > <https://www.instagram.com/p/CgguxwrhMEN/>[image: risalah anti soeharto > dan peristiwa kudatuli ed.] > <https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/07/risalah-anti-soeharto-dan-peristiwa-kudatuli-ed.-819x1024.jpg> > *Gara-Gara Soedharmono?* > > Sejumlah jenderal Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) secara > langsung maupun tidak langsung kiranya berkontribusi memperkuat posisi > politik Megawati beserta parpol besutannya. > > Awalnya, pada tahun 1987 Megawati dirangkul oleh Ketum PDI Soerjadi untuk > menarik massa. Akan tetapi, ketokohan Megawati di mata kader dan simpatisan > seketika berhasil menyalip Soerjadi. > > Di saat bersamaan, keretakan terjadi di antara ABRI dan Soeharto. > Penyebabnya, penunjukan Soedharmono sebagai Wakil Presiden (Wapres) pada > tahun 1988 tidak disetujui oleh beberapa petinggi militer karena dianggap > hanya merupakan “tentara belakang meja”. > > Jenderal Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani yang menjabat sebagai > Panglima ABRI sampai diberhentikan karena dinilai menjadi aktor prominen > dalam intrik itu. Pada konteks berbeda, Benny sendiri sebelumnya sempat > mengkritik nepotisme dan korupsi di pemerintahan Pak Harto. > > Max Lane dalam *Soeharto vs ABRI at MPR* menyebut bahwa pangkal > persoalannya sesungguhnya disebabkan oleh pergeseran basis kekuatan politik > Soeharto dari militer ke konglomerat, termasuk bisnis keluarganya sendiri. > > Oleh karena itu, Benny yang telah diberhentikan sebagai Panglima dan > menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) bertekad > mendongkel Soedharmono dengan menyokong Jenderal Try Sutrisno. > > Menurut Lane, itu baru terwujud pada tahun 1993 ketika Fraksi ABRI di > parlemen mengusulkan Try yang langsung didukung oleh Menteri Dalam Negeri > (Mendagri) Jenderal Purn. Rudini serta Panglima ABRI teranyar Jenderal Edi > Sudrajat, dan langsung disepakati kubu parpol, terutama PDI. > > Soeharto yang kala itu merasa tidak dilibatkan dalam penentuan itu merasa > gusar, namun pada akhirnya tetap menerima Try sebagai wakilnya. > > Meski begitu, tensi ABRI vs Soeharto tetap berlangsung dan tercermin dari > sentilan Try saat menyinggung perilaku bisnis keluarga Soeharto pada tahun > 1995. > > Secara paralel, ketegangan dua poros itu sekilas memiliki benang merah > dengan karakteristik kritis Megawati dan PDI terhadap Soeharto. > > Bahkan, Jusuf Wanandi dalam *Menyibak Tabir Orde Baru* mengatakan bahwa > sebelumnya, sosok jenderal lainnya, yakni A.M. Hendropriyono sebagai > Pangdam Jaya kala itu terkesan melakukan “pembiaran” Musyawarah Nasional > (Munas) penetapan Megawati sebagai Ketum PDI di Kemang, Jakarta Selatan > pada Desember 1993. > > Faktor “kebetulan” itu tampaknya membuat posisi politik Megawati tetap > atau bahkan semakin kuat seiring melemahnya kekuasaan Soeharto hingga > tumbangnya sang *Smiling General* pada 1998. > > Kembali, ditambah dengan kombinasi faktor solidaritas berbasis pengalaman > emosional Kudatuli plus ketokohan Megawati, agaknya membuat PDIP menjadi > parpol yang begitu kuat setelahnya, sampai saat ini. > > Kendati demikian, pertalian sebenarnya antara faksi ABRI anti-Soeharto > dengan Megawati dan PDIP masih sebatas interpretasi semata. Namun, esensi > dari peristiwa Kudatuli akan terus menjadi variabel penting dalam demokrasi > Indonesia, terutama soal eksistensi dan reputasi Megawati. (J61) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2BF2725498F745BFA60A9A03C8922E6F%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2BF2725498F745BFA60A9A03C8922E6F%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2D1da3C4V_ejMViF5VuJ1Cr8UMGNb_S94ZqVGC%3DSR8yNQ%40mail.gmail.com.
