https://news.detik.com/kolom/d-6203748/menelisik-bunyi-yang-menyembuhkan




detikNews


Kolom

Menelisik Bunyi yang Menyembuhkan

Ch. Eviutami Mediastica - detikNews
Kamis, 28 Jul 2022 15:00 WIB
0 komentar
BAGIKAN
URL telah disalin
NEW YORK, NY - NOVEMBER 08: (EDITORS NOTE: Image has been converted to black 
and white.) JBL headphones on display during the TBS Comedy Festival 2017 - 
Search Party Presents: The Guilty Party on November 8, 2017 in New York City. 
27441_001 (Photo by Jason Kempin/Getty Images for TBS)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Terminologi metafakta dan oxytron sedang ramai dibicarakan menyusul kasus 
putera kiai pemilik pesantren di Jombang. Konon, bebunyian dalam bentuk musikal 
yang dipopulerkan putera sang kiai untuk penyembuhan inilah yang memicu kasus 
yang menyita perhatian publik. Benarkah bebunyian bisa menimbulkan efek positif 
bahkan bisa menyembuhkan sakit yang diderita pendengarnya?

Kemampuan bunyi mempengaruhi manusia bukanlah sesuatu yang baru. Julian 
Treasure, lewat Ted's Talk (2012) menyimpulkan dan menunjukkan bukti-bukti 
bahwa bunyi memang mempengaruhi manusia secara fisik, psikis, kognitif, dan 
perilaku. Bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan --terutama terkait pengaruh 
secara fisik?

Bunyi dihasilkan oleh suatu sumber yang bergetar, entah getarannya terlihat 
kasat mata atau tidak. Jumlah getaran atau gelombang yang terjadi tiap detik 
ketika suatu benda bergetar disebut frekuensi. Semua benda memiliki frekuensi 
yang khas, sehingga akan menghasilkan bebunyian yang khas pula. Ambil contoh, 
tanpa perlu melihat, kita paham bahwa benda yang jatuh di dapur terbuat dari 
kaca atau logam, karena getaran kaca dan logam yang menghasilkan bunyi unik, 
mudah dikenali bedanya.

Kita baru sulit membedakan tanpa melihat, jika misalnya, yang jatuh di dapur 
gelas kaca atau piring keramik; atau, sendok kuningan atau sendok mewah dari 
perak. Hal ini karena molekul penyusun kaca dan keramik cukup mirip jika 
dibandingkan molekul kuningan yang mirip perak. Bahkan suara manusia pun 
memiliki frekuensi yang khas, sehingga kita mengenali suara orang-orang yang 
akrab dengan kita.

Dulu, Gaston, melalui bukunya Music in Therapy (1968) menyatakan bahwa musik 
adalah alat yang sangat baik untuk terapi, tetapi tidak secara langsung 
menyembuhkan penyakit atau merehabilitasi suatu kondisi. Namun 
penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa bunyi memang sungguh 
memiliki dampak pada tubuh, baik langsung maupun tak langsung.

Penelitian yang berfokus pada noise (gangguan bunyi) cukup banyak jumlahnya dan 
berhasil membuktikan adanya dampak negatif langsung pada tubuh. Salah satu yang 
terlengkap dipaparkan MacCutcheon dalam Jurnal Noise & Health (2021). 
Sementara, Kujawa dan Liberman melalui Journal of Neuroscience (2009) bahkan 
menunjukkan foto-foto sel dan saraf pendengaran yang berubah drastis setelah 
terpapar bebunyian tertentu selama 64 minggu.

Berikutnya, Castelo Branco lewat Jurnal Progress in Biophysics and Molecular 
Biology menunjukkan munculnya penyakit vibroacoustic (VAD = vibroacoustic 
disease) pada orang-orang yang terpapar bunyi berfrekuensi rendah di tempat 
kerjanya sehari-hari, berupa munculnya fibrosis pada jaringan tisu.

Bagaimana dengan efek positif bebunyian, khususnya yang berupa musik, seperti 
yang diklaim oxytron? Tubuh manusia beserta organ tubuh di dalamnya juga 
memiliki frekuensi yang khas, meski ketika bergetar tidak serta-merta kita 
dengar bunyinya, kecuali detak jantung atau perut melilit karena lapar.

Lewat bukunya The Healing Forces of Music (1991), McClellan menyatakan bahwa 
getaran atau gelombang dalam tubuh manusia juga memancar ke luar tubuh, sebagai 
suatu energi, sejauh kira-kira 7,5 cm di sekeliling tubuh. Energi yang memancar 
ini berupa gelombang, dan tidak sepenuhnya terpisah dari gelombang energi di 
dalam tubuh, demikian Gerber lewat bukunya Vibrational Medicine (1988).

Ketika di sekitar tubuh muncul bebunyian tertentu yang berasal dari suatu benda 
yang bergetar, maka gelombangnya akan merambat mengenai gelombang energi yang 
memancar dari tubuh sehingga beresonansi. Resonansi ini tidak hanya terjadi di 
luar tubuh, tapi menerus dalam tubuh. Resonansi gelombang di luar tubuh dengan 
mudah beresonansi pula di dalam tubuh, karena tubuh manusia terdiri 70% air.

Padahal, gelombang bunyi merambat dengan baik dalam air. Aktivasi atau 
resonansi gelombang luar tubuh ini tidak ubahnya akupuntur yang hanya menyentuh 
pusat energi tubuh atau 7 cakra pada yoga, namun mampu memberikan resonansi ke 
seluruh tubuh. Cosic dkk melalui Jurnal EPJ Nonlinear Biomedical Physics (2015) 
menunjukkan bahwa DNA manusia mampu beresonansi pada rentang frekuensi yang 
luas dari KHz sampai THz.

Oxytron yang diklaim dapat menyembuhkan tubuh sakit, dijelaskan secara 
sederhana oleh Fernandez lewat Jurnal Pediatric Annals (2018) dan Haslbeck dkk 
lewat Jurnal NeuroImage (2020). Fernandez dan Haslbeck dkk menyebutkan bahwa 
pada keadaan sakit, organ tubuh bergetar dalam frekuensi yang berbeda dari 
frekuensinya ketika sehat. Bebunyian yang sesuai dan didengarkan rutin 
terus-menerus oleh penderita akan meresonansi tubuh dan organ yang bermasalah 
kembali ke frekuensi alamiahnya ketika sehat.

Sementara, Maschke dkk lewat International Journal of Hygiene and Environmental 
Health (2000) dan Noise & Health (2004) menyatakan bahwa pengalaman 
mendengarkan musik melibatkan aktivasi simultan dari berbagai modalitas 
sensorik. Alam bawah sadar manusia akan terus memproses gelombang bunyi yang 
diterima tubuh melalui musik dengan mengaktifkan sistem saraf otonom, yang 
mengontrol fungsi fisiologis seperti pernapasan, fungsi jantung, pencernaan, 
sistem hormonal, dan sistem kekebalan tubuh. Inilah yang didefinisikan oleh 
oxytron sebagai musik yang menyembuhkan dan memicu energi positif tubuh.

Kemampuan musik tertentu yang benar-benar mampu meresonansi tubuh manusia 
dikupas secara mendalam oleh Crowe dan Scovel melalui tulisannya berjudul An 
Overview of Sound Healing Practices: Implications for the Profession of Music 
Therapy yang diterbitkan oleh Jurnal Music Therapy Perspectives (1996). Bahkan, 
sebenarnya tidak hanya dengan mendengarkan musik tertentu, bernyanyi pun dapat 
membuat tubuh beresonansi akibat getaran yang ditimbulkan pita suara.

Bagaimana dengan klaim gelombang musik tertentu yang dapat menghasilkan oksigen 
dan membersihkan udara seperti dituliskan dalam Instragram Musik Metafakta 
Oxytron? Rasanya agak berlebihan dan masih harus ada pembuktian ilmiah. 
Logikanya sederhana, bunyi adalah getaran atau gelombang yang berambat, 
gelombang ini tentu tidak dapat memproduksi objek lain termasuk oksigen (yang 
merupakan molekul) atau menyingkirkan molekul pencemar (karbonmonoksida, 
karbondioksida, dll).

Yang ada adalah, bunyi merambat dengan perantaraan (molekul) udara yang berupa 
rapatan dan renggangan molekul tersebut. Perambatan bunyi inilah yang menyentuh 
gelombang yang terpancar keluar tubuh untuk selanjutnya meresonansi organ tubuh 
yang bertugas menyerap oksigen agar kembali ke frekuensi alamiah guna menyerap 
oksigen secara maksimal. Sayangnya, Nuttall dkk lewat Jurnal Hearing Research 
(1981) menyebutkan, sejauh ini belum ada pengaruh berarti pada penyerapan 
oksigen oleh plasma, kecuali karena adanya pengaruh tekanan darah.

Jika Metafakta Oxytron menyebutkan, nantinya akan ada musik yang sesuai dengan 
penyakit yang diidap, ini baru mendekati kebenaran, karena tiap organ tubuh 
memiliki frekuensi alamiah yang berbeda-beda, sehingga untuk meresonansinya 
kembali ke frekuensi alamiah, juga diperlukan gelombang yang berbeda. Sekalipun 
demikian, penelitian ilmiah sangat dibutuhkan untuk membuat pernyataan ini 
valid.

Christina Eviutami Mediastika Guru Besar Ilmu Bangunan dan Akustika Universitas 
Ciputra Surabaya

(mmu/mmu)
metafakta
oxytron
musik metafakta
musik metafakta oxytron
0 komentar


Baca artikel detiknews, "Menelisik Bunyi yang Menyembuhkan" selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-6203748/menelisik-bunyi-yang-menyembuhkan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220728192815.41550b005b009b3bb69fdc9b%40upcmail.nl.

Reply via email to