Tiongkok Harusnya Ikut Perang Ukraina?Written byD74Thursday, July 28, 2022 19:44

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tiongkok-harusnya-ikut-perang-ukraina/
Jet tempur siluman J-20, Tiongkok.Perkembangan teknologi jet tempur Tiongkok 
belakangan ini terlihat semakin mengesankan. Meski begitu, hampir tidak ada 
negara yang berminat beli jet tempur mereka. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Tidak diragukan lagi bahwa Tiongkok saat ini telah menjadi sebuah negara yang 
kuat.

Kebangkitan Tiongkok pun tidak hanya tersorot dari aspek ekonominya saja. 
Belakangan ini, Tiongkok kerap jadi headline pemberitaan karena perkembangan 
militernya yang luar biasa. 

Hanya dalam kurun waktu beberapa dekade saja, negara yang tadinya hanya 
andalkan jet tempur murah dari Uni Soviet ini sekarang sudah mampu ciptakan jet 
tempur silumannya sendiri, dalam bentuk pesawat J-20 dan FC-31.

Banyak pengamat militer menilai jet-jet tempur tersebut bahkan bisa bersaing 
dengan jet unggulan buatan AS dan Rusia, seperti F-22 Raptor dan Sukhoi SU-57. 
Ini tentu jadi catatan yang menarik mengingat perkembangan teknologi yang 
digunakan jet tempur Tiongkok sebagian besar murni dikembangkan dalam negeri.

Karena pencapaian yang luar biasa itu, banyak pengamat memprediksi Tiongkok 
akan jadi eksportir besar jet tempur di masa depan, yang mampu menyaingi AS. 
Dengan kapabilitas yang tidak jauh beda dengan produk asal AS dan Rusia, namun 
dengan harga penjualan yang lebih murah, Tiongkok akan menjadi pemain besar 
pasar pertahanan udara selanjutnya.

Tapi anehnya, fakta justru berkata sebaliknya. Sejak pertama kali kembangkan 
jet tempur sendiri, hampir tidak ada negara asing yang membeli jet tempur 
buatan Tiongkok. 

Para pelanggan setia Tiongkok hanyalah negara-negara tetangga dengan 
perekonomian yang masih berkembang, seperti Myanmar, Pakistan, dan Bangladesh. 
Itu pun yang dibeli hanya jet-jet kelas bawah seperti JL-10, yang seharusnya 
digunakan untuk latihan saja.

Di sisi lain, negara dengan perekonomian yang meningkat, seperti Indonesia 
misalnya, tidak pernah terlihat tertarik membeli jet tempur buatan Tiongkok, 
padahal kualitas yang didapat cukup lumayan dan harganya lebih terjangkau 
dibanding jet Rusia ataupun Barat. 

Mengapa bisa demikian? Beberapa orang berasumsi ini akibat potensi embargo AS. 
Benarkah anggapan tersebut?

 
Embargo AS Bukan Alasannya?
Meski secara sekilas potensi embargo AS terlihat masuk akal, kenyataannya 
alasan tersebut kurang tepat. Melalui Undang-Undang Melawan Musuh Amerika 
Melalui Sanksi (CAATSA), AS memang berhak memberikan sanksi pada siapapun yang 
berani membeli persenjataan dari negara “musuh AS”.

Namun, Tiongkok tidak pernah termasuk dalam negara yang dilarang dalam CAATSA, 
aturan tersebut hanya mem-blacklist Rusia, Iran, dan Korea Utara (Korut). 

Lantas, kenapa masih banyak negara yang enggan beli jet tempur dari Tiongkok? 
Well, setidaknya ada tiga alasan.

Pertama, ini karena Tiongkok tidak memiliki sejarah penjualan jet tempur 
internasional yang kuat. Richard Aboulafia, pengamat pertahanan dari 
AeroDynamic Advisory mengatakan bahwa pembelian jet tempur lebih bersifat 
sebagai penghargaan keterikatan politik dibandingkan pertimbangan kualitas. 

Rusia dan AS adalah dua negara besar yang memiliki banyak ikatan penjualan 
alat-alat militer dengan banyak negara dari puluhan tahun yang lalu, karena 
itu, mereka akan selalu memiliki pelanggan tetap, meski terkadang saling 
mengecam posisi politik satu sama lain. 

Dengan demikian, negara-negara yang membeli senjata AS dan Rusia melakukan 
pembelian jet tempur sebagai upaya menghargai dan memperkuat keterikatan 
politik yang sudah dijalin dalam waktu yang lama. Selain itu, juga untuk 
mengurangi biaya perawatan, karena tidak perlu mendatangkan suku cadang yang 
berbeda jenis bila harus beli ke produsen senjata baru, seperti produsen jet 
tempur Tiongkok, misalnya. 
Sementara itu, Tiongkok belum pernah menjadi pemasok jet tempur ke banyak 
negara asing, sehingga, mereka kesulitan menarik perhatian negara-negara yang 
melihat akan mendapat lebih banyak manfaat politik jika beli jet tempur ke AS 
ataupun Rusia.

Kedua, ini juga akibat ketidak percayaan internasional pada Tiongkok. Kembali 
mengutip Richard dalam artikelnya The World Doesn’t Want Beijing’s Fighter 
Jets, ia mengatakan bahwa industri persenjataan yang super canggih hampir tidak 
bermakna apa-apa bila Anda tidak memiliki “teman”. 

Karena saat ini Tiongkok selalu dicitrakan sebagai negara yang berpotensi 
menimbulkan ancaman geopolitik, banyak negara akan berpikir dua kali bila ingin 
memiliki hubungan politik yang mendalam dengan Xi Jinping. Di Asia Tenggara, 
Tiongkok dianggap sebagai bahaya dalam Laut China Selatan (LCS). Di Asia Timur, 
Tiongkok juga dianggap sebagai bom waktu terhadap Taiwan dan juga menjadi 
pendukung setia Korut.

Memang, dalam aspek ekonomi banyak negara yang ingin kerja sama dengan 
Tiongkok, tapi itu hanya sebatas ekonomi. Sementara, penjualan jet tempur tidak 
hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang dukungan politik (political favour) dan 
kepercayaan politik (political trust). 

Dengan alasan ini, Richard menduga bahwa salah satu alasan kuat kenapa Tiongkok 
kesulitan menjual jet tempurnya adalah karena saat ini hampir tidak ada negara 
yang menganggap Tiongkok sebagai “teman” dalam politik internasional. 

Segala hal yang berhubungan dengan Tiongkok dilakukan murni untuk tujuan 
bisnis, bukan untuk perkerat ikatan politik. Ini juga menjadi pertanda bahwa 
belum ada negara yang melihat Tiongkok sebagai rekan strategis, karena berbeda 
dengan AS, Tiongkok dianggap tidak bisa beri perlindungan geopolitik bila ada 
negara yang memang ingin mendekatkan diri dengan mereka.

Ketiga, dan ini yang jadi tantangan terbesar industri militer Tiongkok, jet 
tempur Tiongkok tidak pernah terlibat dalam konflik bersenjata kontemporer. 
Kenapa ini penting? Well, suka atau tidak, perang adalah satu-satunya media 
nyata yang mampu membuktikan kapabilitas sebuah senjata. 

Sebagai contoh, jika dalam suatu peperangan senjata yang diproduksi AS ternyata 
tampil lebih baik dari senjata buatan Rusia, maka secara otomatis banyak negara 
akan melirik senjata buatan AS itu. 

Sementara itu, meski selalu tampil sebagai negara yang agresif, Tiongkok tidak 
pernah terlibat dalam pertempuran modern. Berbeda dengan industri senjata AS, 
Rusia, maupun Eropa, dari tahun ke tahun mereka selalu terlibat dalam 
pertempuran, entah itu di Afganistan, Suriah, atau Irak. 

Karena hal ini, banyak negara yang meragukan kapabilitas jet tempur Tiongkok, 
meskipun secara teoritis sebenarnya mereka tidak kalah kuatnya dengan jet-jet 
AS ataupun Rusia.

Lantas, apakah ini artinya penjualan alat utama sistem senjata (alutsista) 
Tiongkok akan terus “tiarap” di bawah bayang-bayang AS dan Rusia?
 
Tiongkok Perlu Terlibat Perang?
Mantan Perdana Menteri (PM) Uni Soviet, Vladimir Lenin pernah membuat beberapa 
opini menarik tentang perdagangan senjata internasional dengan judul Who Stands 
to Gain? dan Armaments and Capitalism. Dalam dua tulisan ini, Lenin menilai 
bahwa para kaum kapitalis dengan sengaja menebar konflik di dunia untuk 
kepentingan bisnis industri militernya.

Dengan beberapa alasan, seperti kepentingan nilai-nilai demokrasi, patriotisme, 
dan ide-ide liberal lainnya, negara-negara Barat telah mampu mencari 
justifikasi agar konflik bisa terus terjadi di berbagai belahan dunia. Mereka 
kemudian menggunakan konflik yang terjadi sebagai upaya marketing senjata 
canggih yang mereka kembangkan.

Walau tulisan-tulisan Lenin ini bisa dianggap sebagai kepingan propaganda 
melawan kapitalisme Barat, kita tidak bisa pungkiri bahwa perang memang menjadi 
ladang bisnis  bagi para produsen senjata. Dengan demikian, bisa dikatakan 
bahwa mungkin penghambat Tiongkok menjadi eksportir jet tempur besar dunia 
adalah keengganannya melibatkan diri dalam konflik.

Karena itu, bila Tiongkok memang ingin lepas dari tembok yang selama ini 
memisahkan dirinya dari kekuatan hegemoni Barat, khususnya dalam industri 
senjata internasional, Tiongkok perlu mulai berani terlibat dalam konflik 
bersenjata internasional. 

Dari sini kemudian kita bisa berandai-andai, apa jadinya bila Tiongkok ikut 
memberi bantuan senjata dalam konflik yang sedang berlangsung, seperti di 
Ukraina? Well, yang jelas ini akan jadi salah satu jawaban atas buntunya 
penjualan alutsista mereka. 

Tiongkok tidak perlu menjual jet canggihnya, tapi bisa memberi bantuan-bantuan 
kecil, seperti drone militer yang menggunakan teknologi targetting yang sama 
digunakan oleh jet-jet tempur canggihnya. Tiongkok pun tidak perlu melakukan 
serangan mematikan, mereka bisa hanya cukup lakukan serangan yang dapat 
lumpuhkan peralatan militer musuh.

Jika komponen-komponen teknologi yang digunakan dalam jet tempur ini akhirnya 
terbukti membawa dampak yang signifikan dalam peperangan di Ukraina, bukan 
tidak mungkin bila nantinya banyak negara takut akan kapabilitas jet tempur 
Tiongkok, dan akhirnya berusaha mencari perlindungan dengan membeli teknologi 
itu sendiri.

Peran yang demikian sebenarnya saat ini sedang dimainkan oleh Turki. Dengan 
mengirimkan drone Bayraktar ke Perang Ukraina, Turki disebutkan telah mendapat 
banyak pesanan internasional, padahal seperti yang diketahui, Turki dan Rusia 
sebenarnya memiliki hubungan politik yang bisa dibilang cukup dekat. 

Ini membuktikan bahwa peperangan nyata sebetulnya memiliki dimensi yang berbeda 
dengan realita hubungan politik, dengan demikian, Tiongkok sebenarnya bisa 
gunakan celah-celah konflik untuk meningkatkan penjualan alutsista udaranya. Di 
sisi lain, kapabilitas efektif dari sebuah senjata dalam perang justru 
sebenarnya dapat mengakhiri perang itu sendiri dengan lebih cepat.

Anyway, ini semua hanya perandaian belaka. Tentunya, perang adalah sesuatu yang 
harus selalu kita hindari. Namun, seperti yang diyakini dalam detterence theory 
atau teori pencegahan dalam studi hubungan internasional, pembuktian senjata 
yang kuat justru dapat mencegah perang. (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1F121D80EB7A47159A1DC5ACC56312C3%40A10Live.

Reply via email to