https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2516-bukan-bangsa-kaleng-kaleng


 Sabtu 30 Juli 2022, 05:00 WIB 

Bukan Bangsa Kaleng-kaleng 


  Bukan Bangsa Kaleng-kaleng MI/EBET . SAYA tidak akan pernah bosan 
meresonansikan kabar baik di forum ini. Salah satu tujuannya untuk ikut 
memasalkan adagium good news is a good news too. Bukan melulu narasi kuno bad 
news is a good news. Selain itu, kabar baik bakal memupuk optimisme. 
Menumbuhkan harapan. Maka, saat kabar baik datang bertubi-tubi, saya juga penuh 
antusias menggemakannya bertubi-tubi pula. Seperti yang datang tengah pekan 
ini. Sang pemberi kabar baik kali ini ialah Kristalina Georgieva, Direktur 
Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF). Ia mengatakan bahwa Indonesia 
menjadi salah satu negara yang berhasil tumbuh tinggi di tengah suramnya 
ekonomi global. Bahkan, Georgieva memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 
bakal menyalip ekonomi dua raksasa dunia: Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. 
Dalam laporan IMF terbaru itu disebutkan ekonomi Indonesia akan melesat 5,3% 
pada 2022. Meskipun lebih rendah daripada perkiraan awal, namun prediksi iti 
masih lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi pada 2021 yang mencapai 3,7%. 
Sementara itu, tahun ini, Amerika Serikat diprediksi hanya mampu merealisasikan 
pertumbuhan 2,3% atau lebih rendah daripada capaian pada 2021 yang sebesar 
5,7%. Pun pula dengan Tiongkok, yang pertumbuhan ekonominya tahun ini 
diprediksi oleh IMF jatuh dari sebelumnya 8,1% menjadi hanya 3,3%. Ada beberapa 
alasan, kata Georgieva, yang bakal menjauhkan Indonesia dari resesi. Antara 
lain, penanganan covid-19 yang tepat dan kemampuan dalam mencegah penurunan 
ekonomi yang terlalu dalam. "Saat covid-19, Indonesia berhasil mencegah 
penurunan output ekonomi yang signifikan, tidak sedalam di banyak tempat," kata 
Georgieva. Meski menghadapi 'kejutan', yakni efek serangan Rusia ke Ukraina, 
Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif dan diyakini akan terus meningkat. 
Sebagian besar analis dan lembaga ekonomi meyakini pertumbuhan ekonomi kita 
akan di atas 5%, dengan inflasi 4%, dan dengan anggaran yang sangat baik yang 
mampu memberikan dukungan, terutama kepada penduduk yang rentan. Keyakinan 
Georgieva cukup tebal, khususnya terkait dengan angka inflasi yang di akhir 
tahun diprediksi ada di rentang 4% hingga 4,5%. Angka itu jauh lebih rendah 
jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia yang sebagian besar ada di 
dua digit. Pujian dan analisis positif IMF tersebut memang membanggakan. Itu 
artinya, jalur ekonomi di negeri ini bukan saja telah dikelola secara on the 
right track, melainkan juga dijalankan secara efektif. Kuncinya ada pada 
pengendalian dan penanganan pandemi covid-19. Urusan kapan menginjak rem, 
sedalam apa rem diinjak; kapan menekan gas, selaju apa gas digenjot, dijalankan 
dengan seksama dan dalam respons secepat-cepatnya. Pada awalnya banyak yang 
meragukan pemerintah. Malah, tidak sedikit pula saat awal pandemi ramai-ramai 
menyarankan agar pemerintah menerapkan lock down total. Pemerintah menolak 
dengan argumentasi yang masuk akal, meski terus-menerus dicibir. Bagi 
pemerintah, skema PSBB yang bermatomorfosis menjadi PPKM merupakan langkah 
paling masuk akal. Terbukti, cara itu sangat efektif. Refocusing dan realokasi 
anggaran dijalankan dengan cermat. Mendahulukan penanganan terhadap kelompok 
paling rentan dengan menginjeksi bantuan untuk menahan daya beli, bisa dibilang 
sangat sukses. Pelonggaran pajak, beragam insentif, juga restrukturisasi 
kredit, kiranya menjadi skema yang akhirnya mampu menahan laju kian amblesnya 
perekonomian. Kita memang sempat tidak bisa mengelak dari resesi, saat ekonomi 
dalam dua kuartal berturut-turut tumbuh negatif. Tapi, itu cuma sementara. 
Ketika skema yang diyakini mampu menjadi resep cepat itu diterapkan secara 
disiplin dan konsisten, Indonesia bisa melalui resesi itu dalam tempo 
sesingkat-singkatnya. Tapi, kiranya capaian dan sanjungan IMF itu tak boleh 
membuat kita mabuk kepayang. Kita memang telah membuktikan bahwa bangsa ini 
bukan bangsa 'kaleng-kaleng', bukan negara 'ecek-ecek'. Tapi, itu mestinya 
tidak membuat kita terus menepuk dada, tak henti-hentinya jemawa. Karena 
faktanya, masih jutaan rakyat yang hidupnya kembang-kempis. Karena itu, sangat 
penting bagi kebijakan fiskal pemerintah untuk tetap fokus dalam memberikan 
bantuan dengan sasaran yang tepat. Pemerintah harus fokus kepada mereka yang 
sangat membutuhkan, bukan memberikan subsidi kepada semua orang, termasuk 
masyarakat kaya. Mengapa? Karena jika kebijakan fiskal menghabiskan terlalu 
banyak untuk subsidi kepada yang bukan berhak, defisit akan menganga dan 
betpotensi meledakkan inflasi. Kebijakan Indonesia dalam melakukan burden 
sharing melalui kerja sama antara pemerintah dan Bank Indonesia yang telah 
berjalan mulus, mestinya perlu dilanjutkan. Selama krisis akibat pandemi 
covid-19, Bank Indonesia memberikan beberapa dukungan moneter bekerja sama 
dengan pemerintah untuk melindungi ekonomi dari guncangan. Kerja sama serupa 
kiranya pantas dilanjutkan guna menghadapi guncangan ekonomi global, yang 
getarannya diprediksi akan terus terasa hingga akhir tahun. Sekali lagi 
buktikan bahwa kita bukan bangsa kaleng-kaleng. ***  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2516-bukan-bangsa-kaleng-kaleng







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220731231815.8d3feb1300822006fcf3bfdb%40upcmail.nl.

Reply via email to