Artikel
Penguatan internal dan diplomasi untuk hadapi ancaman resesi
Oleh Satyagraha  Minggu, 31 Juli 2022 16:17 WIB
 
Presiden RI Joko Widodo berbincang dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan 
Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat menghadiri forum KTT G7 di Elmau, 
Jerman, Senin (27/6/2022). ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Kepresidenan/Laily 
Rachev/aa

Jakarta (ANTARA) - Konflik antara Ukraina dan Rusia yang berjalan sejak 
Februari 2022 belum menunjukkan titik temu dan masih menimbulkan ketidakpastian 
di perekonomian global.

Perseteruan geopolitik yang berlarut-larut itu telah mengganggu rantai pasok 
dan menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dengan penawaran di tengah kondisi 
dunia yang belum sepenuhnya pulih.

Kondisi itu menyebabkan rangkaian efek yang panjang karena telah menyebabkan 
harga komoditas pangan maupun energi menjadi mahal dan tingkat inflasi melonjak 
tinggi.

Itulah salah satu pemicu Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada Rabu 
(27/7) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, mendekati level 2,25 
persen dan 2,5 persen, karena peningkatan inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda 
pelonggaran yang jelas.

Kenaikan ini langsung direspons oleh bank-bank besar AS, JPMorgan Chase & Co, 
Citigroup dan Wells Fargo untuk menaikkan suku bunga pinjaman utama sebesar 75 
basis poin menjadi 5,5 persen. Saham-saham di Wall Street ikut menguat pada 
akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB).

Penguatan suku bunga paling tajam sejak 1994 ini jelas dilakukan untuk meredam 
inflasi AS yang tercatat mencapai 9,1 persen pada Juni 2022 atau yang tertinggi 
dalam empat dekade sebagai langkah pengetatan moneter. Dengan demikian, total 
kenaikan suku bunga (Fed Fund Rate) sejak Maret 2022 menjadi 225 basis poin.

Kondisi ini bisa menjadi alarm berbahaya mengingat setiap AS menaikkan suku 
bunga acuan, terlebih lagi secara sangat agresif, biasanya diikuti oleh krisis 
keuangan di negara-negara emerging seperti yang terjadi pada 1974 dan 1980-an.

Profesor Departemen Hubungan Internasional di London School of Economics and 
Political Science James Morrison menilai langkah pengetatan tersebut berpotensi 
memperlambat perekonomian AS dan berdampak negatif terhadap perekonomian global.

Secara lebih substantif, implikasi dari kebijakan ini adalah adanya perubahan 
pola perdagangan antara AS dan Uni Eropa dan juga pola investasi, tidak hanya 
antara dua ekonomi besar ini, tetapi antara kedua ekonomi dan seluruh dunia, 
seiring dengan penguatan dolar AS.

Menanggapi kondisi saat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan 
Indonesia harus tetap waspada karena semua indikator ekonomi dunia mengalami 
pembalikan yaitu dari sebelumnya pemulihan menjadi pelemahan.

Pada saat yang sama, ia juga melihat kompleksitas dari kebijakan moneter di 
negara maju, telah berpotensi menimbulkan imbas negatif ke negara-negara di 
seluruh dunia termasuk Indonesia.

Salah satu indikator makro yang harus diwaspadai adalah laju inflasi nasional 
yang secara tahunan hingga Juni 2022 telah tercatat 4,35 persen, atau tipis di 
batas target tiga persen plus minus satu persen.

Bank Indonesia (BI) melalui survei pemantauan harga minggu keempat Juli 2022 
bahkan mencatat inflasi Juli bisa mencapai 0,5 persen secara bulanan, atau 
mendekati inflasi Juni 2022 sebesar 0,61 persen.

Perkuat internal

Pemerintah menyadari penguatan kondisi internal perekonomian harus dilakukan 
dalam masa-masa sulit melalui instrumen fiskal, yang disertai dengan koordinasi 
bersama pemangku kepentingan terkait, termasuk Bank Indonesia (BI) sebagai 
otoritas moneter, agar tidak rentan terdampak gejolak global.

Di Indonesia, sejak terjadi tren kenaikan harga energi dan pangan, pemerintah 
telah berupaya agar masyarakat dapat membeli BBM dan LPG dengan harga yang 
tidak berubah serta menjaga agar penyaluran BBM maupun LPG bisa tepat sasaran.

Konsekuensinya, terdapat pelebaran anggaran subsidi energi dari Rp443 triliun 
menjadi Rp520 triliun serta belanja perlindungan sosial agar tidak ada 
masyarakat miskin terdampak gejolak tersebut.

Selain itu, sejak adanya pandemi, pemerintah juga memberikan relaksasi maupun 
insentif perpajakan kepada dunia usaha maupun pelaku UMKM agar perekonomian 
tetap berjalan optimal dan tidak terdampak oleh pembatasan aktivitas manusia.

Hal ini sejalan dengan niat pemerintah untuk memperkuat daya tahan sektor usaha 
prioritas yang memiliki dampak langsung ke masyarakat melalui optimalisasi 
instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Instrumen APBN tersebut masih berperan penting sebagai shock absorber atau 
peredam gejolak hingga akhir tahun, mengingat terdapat surplus sebesar Rp73,6 
triliun atau 0,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di semester 
I-2022.

Sementara itu, kebijakan The Fed yang hawkish bisa berdampak langsung ke 
perekonomian Indonesia yaitu terhadap cadangan devisa dan stabilitas nilai 
tukar rupiah karena kemungkinan adanya aliran modal keluar atau capital outflow.

BI sebagai penjaga gawang kebijakan moneter juga terus mewaspadai risiko 
kenaikan ekspektasi inflasi dan inflasi inti serta memperkuat respons bauran 
kebijakan moneter.

Kepala Grup Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Wira Kusuma mengatakan 
operasi moneter menjadi langkah pre-emptive dan forward looking untuk 
memitigasi risiko kenaikan ekspektasi inflasi dan inflasi inti yang dapat 
terjadi.

BI juga berupaya terus menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah dan suku bunga 
untuk pengendalian inflasi, melalui intervensi di pasar valas yang didukung 
dengan penguatan operasi moneter.

Hingga saat ini, BI yang telah memperkirakan kenaikan FFR hingga 75 basis poin 
di Juli 2022 dan masih mempertahankan suku bunga acuan alias BI-7 Day Reverse 
Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen karena inflasi inti masih terjaga.

Inflasi inti yang mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran pada Juni 
2022 tercatat masih berada pada level yang rendah, yakni 2,63 persen jika 
dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).

Sementara itu, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan 
bias ke bawah level titik tengah kisaran proyeksi bank sentral yang berada 
dalam rentang 4,5 persen sampai 5,3 persen, yakni 4,9 persen.

Diplomasi

Tidak hanya BI yang mempunyai prospek bagus hingga akhir tahun, karena Bank 
Pembangunan Asia (ADB) bahkan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 
menjadi 5,2 persen pada 2022, melalui dukungan permintaan dalam negeri yang 
bagus dan pertumbuhan ekspor yang stabil.

Revisi proyeksi tersebut diberikan dalam Asian Development Outlook (ADO) 
Supplement dirilis Kamis (21/7), atau naik dari prakiraan ADB sebelumnya pada 
April sebesar 5 persen.

ADB memperkirakan tingginya harga sejumlah komoditas ekspor utama bisa 
mendatangkan keuntungan berupa penghasilan ekspor dan pendapatan fiskal, 
sehingga memungkinkan pemerintah untuk memberi bantuan di tengah kenaikan harga 
pangan, listrik, dan bahan bakar.

Sentimen positif ini menjadi pertanda bahwa Indonesia dinilai menjadi kekuatan 
ekonomi di regional yang mempunyai kesempatan untuk bertahan dari ancaman 
resesi global.

Survei Bloomberg terbaru juga menyakini probabilitas Indonesia mengalami resesi 
hanya 3 persen, bandingkan dengan negara-negara kuat lainnya seperti China yang 
kemungkinannya mencapai 20 persen, Jepang 25 persen dan AS 40 persen.

Indonesia pun bisa memaksimalkan momentum Presidensi G20 di 2022 untuk 
menunjukkan peran di tingkat global dan ikut mencari solusi dari rantai pasok 
yang terhambat akibat faktor geopolitik.

Selain itu, Indonesia bisa memanfaatkan Presidensi G20 untuk mencari dukungan 
investasi maupun perdagangan, yang selama bertahun-tahun telah berperan penting 
dalam penguatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Presiden Joko Widodo bahkan telah memberikan sinyal untuk memperkuat diplomasi 
ekonomi tahun ini dengan melakukan kunjungan ke berbagai negara maju maupun 
mitra dagang untuk mengurai persoalan global.

Jokowi tidak hanya bertemu Presiden AS Joe Biden maupun pemimpin Uni Eropa 
dalam pertemuan KTT G7 pada Juni 2022, tetapi juga mengunjungi daerah konflik 
di Ukraina untuk bertemu Presiden Zelenskyy.

Jokowi juga baru saja melakukan kunjungan singkat ke China, Jepang dan Korea 
Selatan pada Juli 2022 untuk memperkuat kerja sama bilateral serta mengundang 
investasi masuk ke tanah air.

Diplomasi serupa juga dilakukan menteri bidang ekonomi untuk mengurai masalah 
investasi dan perdagangan dalam sektor energi bersih, telekomunikasi maupun 
pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan.

Pemerintah menyakini sejumlah investasi akan masuk ke Indonesia dalam waktu 
dekat karena telah melakukan sejumlah pembenahan birokrasi dalam perizinan 
melalui sistem OSS serta penerbitan UU Cipta Kerja.

Di sisi perdagangan, Indonesia masih menikmati euforia dari kenaikan harga 
komoditas unggulan seperti CPO dan batu bara di pasar global yang membantu 
peningkatan kinerja ekspor nasional.

Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemerintah 
perlu menyiapkan langkah tertentu apabila harga CPO dan batu bara sudah 
melandai, sedangkan harga minyak mentah masih naik.

Ia juga mengingatkan pentingnya keberpihakan kepada pelaku usaha melalui 
pembiayaan maupun regulasi karena tekanan terhadap inflasi dan melemahnya nilai 
tukar rupiah akan menyebabkan kenaikan harga bahan baku yang bisa menambah 
beban produksi.

Penguatan produk lokal ini penting karena bisa membantu promosi hasil karya 
anak bangsa di dunia internasional maupun mengurangi ketergantungan terhadap 
impor pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.

Melalui berbagai upaya sinergi penguatan ekonomi domestik maupun diplomasi 
ekonomi di level mancanegara, Indonesia bisa lebih optimistis untuk mengatasi 
ancaman resesi global dalam waktu dekat.

Namun, kerja bisa makin berat ke depan, terutama bila konflik geopolitik tidak 
kunjung usai dan persoalan domestik jelang tahun politik muncul hingga 
menggoyahkan konsistensi dalam kebijakan.

Oleh karena itu, sinergi dan konsistensi merupakan kata kunci yang harus 
dipegang teguh, karena keduanya sudah terbukti mampu menjaga perekonomian untuk 
bertahan selama masa pandemi.

Baca juga: Jokowi minta relawan bantu pemerintah bersiap hadapi potensi resesi

Baca juga: Sri Mulyani: Inflasi AS tinggi tanda pelemahan ekonomi pasti terjadi

Baca juga: Amerika Serikat dihantam resesi teknis, tapi banyak sektor tetap 
sehat
  
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2022

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EA0AEC35D58245B58FBE8B4E58558286%40A10Live.

Reply via email to