https://news.detik.com/kolom/d-6213556/indonesia-menuju-krisis-ekonomi-sri-lanka


Kolom

Indonesia Menuju Krisis Ekonomi Sri Lanka?

Bawono Kumoro - detikNews
Rabu, 03 Agu 2022 13:00 WIB
0 komentar
BAGIKAN
URL telah disalin
Utang Pemerintah
Utang pemerintah menjadi isu yang banyak disorot (Ilustrasi: Andhika 
Akbarayansyah/tim infografis detikcom)
Jakarta -

Dalam beberapa bulan terakhir dunia dikejutkan dengan krisis ekonomi di Sri 
Lanka. Pemerintah Sri Lanka mengumumkan gagal untuk membayar utang senilai US$ 
51 miliar berasal dari pinjaman luar negeri. Selain itu, pemerintah Sri Lanka 
juga mengumumkan bangkrut karena kas negara untuk membeli bahan bakar, listrik, 
dan juga bahan pangan tidak lagi tersedia.

Bahkan, pemerintah Sri Lanka meminta warga di luar negeri untuk mengirimkan 
uang demi membantu warga di dalam negeri dalam membeli kebutuhan pokok dan 
bahan bakar. Krisis hebat ini membuat Presiden Sri Lanka Rajapaksa pergi 
meninggalkan negara tersebut untuk melakukan pelarian luar negeri. Kondisi ini 
menjadi situasi terburuk dialami Sri Lanka sejak kemerdekaan mereka pada tahun 
1948.

Selain nilai utang luar negeri tinggi, hal lain juga berkontribusi terhadap 
kebangkrutan Sri Lanka antara lain karena kehilangan pendapatan dari sektor 
pariwisata akibat pandemi COVID-19 selama hampir tiga tahun, dan juga 
peningkatan harga komoditas sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina.

Krisis hebat yang dialami Sri Lanka tersebut memunculkan analisis sejumlah 
pihak dengan mengatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini yang juga 
memiliki jumlah utang luar negeri tinggi akan membuat negara ini juga mengalami 
krisis seperti terjadi di Sri Lanka.

Merujuk data Kementerian Keuangan hingga 31 Mei 2022 posisi utang mencapai Rp 
7.002,24 triliun, dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto sebesar 
38,88 persen. Realisasi utang itu naik 9,1 persen dibandingkan realisasi posisi 
utang utang pada Mei 2021 sebesar Rp 6.418,5 triliun. Inilah pangkal kemunculan 
dari analisis perbandingan kondisi Indonesia saat ini dengan krisis tengah 
dialami oleh Sri Lanka.

Sebagai sebuah analisis tentu saja itu sah untuk dilontarkan oleh siapa pun. 
Namun, apakah krisis Sri Lanka akan juga dialami oleh Indonesia karena 
semata-mata didasarkan pada kondisi nilai utang luar negeri Indonesia saat ini? 
Untuk itu perlu dilakukan telaah lebih jauh agar analisis semacam itu dapat 
disikapi secara proporsional.

Pertama, harus dilihat bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi sebuah negara 
untuk menilai apakah negara tersebut akan gagal dalam utang luar negeri atau 
tidak. Selama negara tersebut masih memiliki pertumbuhan ekonomi positif dan 
utang luar negeri terus diusahakan turun, maka besar kemungkinan negara itu 
akan mampu bertahan lolos dari jeratan utang dan ketidakpastian ekonomi di masa 
depan.

Bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini? Apabila merujuk data 
terbaru Badan Pusat Statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 
tahun 2022 sebesar 5,1 persen. Pertumbuhan pada kuartal I tahun 2022 sebesar 
5,1 persen tersebut menegaskan tren tumbuh di atas lima persen selama tiga 
kuartal beruntun. Itu berarti pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah kembali pada 
jalur semula seperti sebelum dihantam pandemi COVID-19.

Kedua, bagaimana dengan kondisi utang Indonesia? Merujuk data Kementerian 
Keuangan Republik Indonesia hingga 31 Mei 2022 posisi utang mencapai Rp 
7.002,24 triliun, dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto sebesar 
38,88 persen. Realisasi utang itu naik 9,1 persen dibandingkan realisasi posisi 
utang pada Mei 2021 sebesar Rp 6.418,5 triliun. Adapun bila dibandingkan dengan 
posisi utang pada April 2022 turun 0,54 persen; saat itu mencapai Rp 7.040,32 
triliun.

Posisi rasio utang terhadap produk domestik bruto sebesar 38,88 persen 
merupakan angka cukup aman. Rasio utang terhadap produk domestik bruto di bawah 
60 persen merupakan ambang batas aman utang sebuah negara. Kondisi tersebut 
juga jauh apabila dibandingkan dengan Sri Lanka; rasio utang terhadap produk 
domestik bruto mencapai lebih dari 100 persen.

Selain itu, harus dipahami juga sebagian besar utang Indonesia berupa surat 
berharga negara berdenominasi rupiah. Merujuk data Kementerian Keuangan, 
komposisi utang hingga 31 Mei 2022 berasal dari penarikan Surat Berharga Negara 
sebesar Rp 6.175,83 triliun atau mencapai 88,20 persen. Dalam bentuk rupiah 
domestik sebesar Rp 4.934,56 triliun; berasal dari penerbitan Surat Utang 
Negara sebesar Rp 4.055,03 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara Rp 879,53 
triliun. Hal ini sangat berbeda dengan Sri Lanka terlilit utang valuta asing 
dalam jumlah besar dengan sebagian besar adalah utang luar negeri.

Sementara itu, komposisi utang Indonesia berasal dari pinjaman senilai Rp 
826,41 triliun atau mencapai 11,8 persen. Ini terdiri dari pinjaman dalam 
negeri sebesar Rp 14,74 triliun dan utang berasal pinjaman luar negeri sebesar 
Rp 811,67 triliun. Adapun utang luar negeri terdiri dari pinjaman bilateral Rp 
280,32 triliun, pinjaman multilateral Rp 488,62 triliun, commercial banks Rp 
42,72 triliun. Jadi, komposisi pinjaman luar negeri didominasi oleh pinjaman 
multilateral. Kondisi ini jauh berbeda dengan Sri Lanka yang hampir semua utang 
negara tersebut berasa dalam skema bilateral.

Memang persoalan utang sangat seksi untuk dijadikan isu komoditas politik. Hal 
itu lantaran sebagai besar dari kita sekadar peduli pada besar jumlah utang, 
tidak hingga meneliti lebih jauh komposisi utang tersebut terdiri dari apa 
saja, untuk apa utang itu, dan apakah aman atau tidak secara rasio terhadap 
produk domestik bruto.

Dengan melihat data-data pertumbuhan ekonomi dan utang, memperlihatkan 
Indonesia tengah berada dalam kondisi jauh dari jurang resesi ekonomi. Dengan 
realitas kondisi perekonomian tersebut, tidak berlebihan apabila Menteri 
Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan 
label "sakit jiwa" kepada pihak-pihak yang mengatakan krisis Sri Lanka dapat 
terjadi di Indonesia.

Bawono Kumoro Associate Researcher di Indikator Politik Indonesia

(mmu/mmu)
krisis sri lanka
utang luar negeri

Baca artikel detiknews, "Indonesia Menuju Krisis Ekonomi Sri Lanka?" 
selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-6213556/indonesia-menuju-krisis-ekonomi-sri-lanka.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/






-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220803200249.08169e82a8a2296790baa8a5%40upcmail.nl.

Reply via email to