https://www.antaranews.com/berita/3056669/asean-china-perkuat-kerja-sama-tanggap-darurat-bencana?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=category_home



Laporan dari China

ASEAN-China perkuat kerja sama tanggap darurat bencana

Sabtu, 13 Agustus 2022 20:45 WIB

Para duta besar dan diplomat dari negara-negara ASEAN serta pejabat pemerintah 
China foto bersama Sekretaris Jenderal ASEAN-China Center Chen Dehai (lima 
kanan) di sela-sela simposium manajemen risiko bencana di Beijing, Jumat 
(12/8/2022). ANTARA/M. Irfan Ilmie.
Beijing (ANTARA) - Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) dan China 
memperkuat kerja sama tanggap darurat bencana dengan menggelar simposium yang 
menghadirkan para pakar dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Simposium bertemakan "Bersama untuk Ketahanan Masyarakat" di Beijing pada Jumat 
(12/8) yang digelar oleh ASEAN-China Center (ACC) itu dihadiri para duta besar 
dan diplomat negara anggota ASEAN di Beijing, pejabat pemerintahan China, 
pakar, dan awak media.

"Saya yakin melalui simposium ini, kami bisa mengumpulkan banyak gagasan dan 
saran untuk mendukung peningkatan kerja sama pencegahan dan mitigasi bencana di 
ASEAN dan China," kata Sekretaris Jenderal ACC Chen Dehai.

Ia menganggap Asia merupakan kawasan paling rentan mengalami bencana alam.

China telah mendukung implementasi Kesepakatan ASEAN untuk Program Kerja 
Penanganan dan Tanggap Darurat Bencana 2021-2025.

China juga telah mendukung Komite ASEAN untuk Penanganan Bencana dan Pusat 
Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan.

Sementara dalam Program Lima Tahunan China Periode ke-14 untuk Penanggulangan 
dan Mitigasi Bencana hingga 2035, pemerintah setempat telah menetapkan 
modernisasi sistem pengendalian dan penanggulangan bencana alam agar bisa 
memberikan manfaat bagi masyarakat di kawasan.

"Jadi, ketika bencana datang, ketangguhan masyarakat dengan cepat mampu 
memulihkan fungsi sosial, infrastruktur, dan ekonomi," kata Chen.

Oleh sebab itu, menurut dia, penguatan kerja sama dalam memantau risiko 
bencana, peringatan dini, kesiapsiagaan menghadapi bencana, tanggap darurat, 
dan pemulihan pascabencana sangat diperlukan.

Dalam simposium tersebut, Tunggul Wicaksono, peneliti dari Pusat Studi ASEAN 
pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyampaikan presentasi secara daring 
berjudul "Sekilas tentang Manajemen Risiko Bencana".

Dia memaparkan tentang manajemen penanganan bencana di beberapa negara ASEAN, 
seperti tsunami di Aceh pada 2004, banjir di Thailand (2011), dan topan Haiyan 
di Filipina (2013).

Para pembicara sepakat bahwa kerja sama penanganan bencana harus ditingkatkan, 
mengingat China dan negara-negara ASEAN berada di dalam peta rawan bencana, 
terutama gempa bumi.  


Baca juga: Indonesia jadi ketua Komite ASEAN di Beijing

Baca juga: Menlu RI: ASEAN, China harus berkontribusi bagi stabilitas kawasan

 
China-ASEAN bangun model kerja sama regional paling dinamis
 

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2022







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220813211114.d5d294ea033d880328f9d58d%40upcmail.nl.

Reply via email to