http://kaskuserpolri.blogspot.com/2021/01/tan-ling-djie-adalah-pemimpin-pki-yang.html?m=1
 

Tan Ling Djie Adalah Pemimpin PKI Yang Tersisih
Halo Dunia8:52 AM
Halodunia.net – Tan Ling Djie adalah pemimpin PKI setelah Madiun Affair 1948. 
Awal 1950-an tersisih dari partai sampai akhirnya ditahan militer pada 1966.
Tan Ling Djie lahir di Surabaya pada 1904. Menurut Benny Setiono dalam Tionghoa 
dalam Pusaran Politik (2008), dia belajar di Rechts Hoge School (RHS) Batavia 
dan Fakultas Hukum Leiden, Belanda. Di masa mudanya, tepatnya pada tahun 
1930-an, seperti ditulis Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (1989), Tan Ling 
Djie adalah wartawan dan redaktur Sin Tit Po—koran Tionghoa Surabaya radikal 
pimpinan Liem Koen Hian. Dia juga tergabung dalam Partai Tionghoa Indonesia 
yang didirikan Liem. 
Sejak muda, Tan Ling Djie sudah dianggap kiri. Menurut Harry Poeze dalam Di 
Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008), Tan Ling 
Djie adalah pendorong berdirinya Serikat Peranakan Tionghoa Indonesia (SPTI), 
yakni “suatu organisasi politik kiri orang-orang Tionghoa di Negeri Belanda 
yang didirikan sejak 1932.” Organisasi ini berhubungan dengan Perhimpunan 
Indonesia (PI).

Sementara di tanah air, seperti dicatat Leo Suryadinata dalam Dilema Minoritas 
Tionghoa (1986), “Keberadaan dan eksistensi orang Tionghoa sedikit tersisih 
dalam pergerakan nasional karena perbedaan etnik dengan bumiputra.”

Maka itu, sejumlah partai politik nasionalis sulit menerima mereka. Hal ini 
berbeda dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang lebih bisa menerima mereka.

“PKI menarik sejumlah orang Tionghoa peranakan yang dikecewakan oleh 
partai-partai nasionalis yang tak mau menerima mereka sebagai anggota, dan yang 
tertarik oleh pendekatannya yang radikal dan tidak berdasarkan ras,” tulis Leo 
Suryadinata.

Di mata dokter Abdul Halim dalam Di Antara Hempasan dan Benturan: 
Kenang-kenangan Dr. Abdul Halim, 1942-1950 (1981), “Tan Ling Djie adalah orang 
gerakan underground, kemudian menjadi komunis. Dia pintar bukan main, kepalanya 
botak.“



Ketika berada di Belanda, selain mendirikan Serikat Peranakan Tionghoa 
Indonesia, Tan Ling Djie juga adalah anggota Partai Komunis Belanda alias 
Communistische Partij Netherland (CPN) yang dipengaruhi Paul de Groot. Menurut 
Ben, Tan Ling Djie bukan satu-satunya orang Tionghoa yang kiri, melainkan masih 
ada Oei Gie Hwat, Tjoa Sik Ien, dan Siauw Giok Tjhan.

Dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011), Tan Ling Djie disebut sebagai salah 
satu pimpinan PKI ilegal bersama Amir Sjariffudin, Maruto Darusman, 
Abdulmadjid, Setiadjit, dan Wikana. Mereka mengambil alih kepemimpinan PKI dari 
tangan Alimin dan Sardjono.

“Setelah Peristiwa Madiun, PKI dipimpin oleh Tan Ling Djie, yang menjadi 
sekretaris jenderal dalam Panitia Persiapan Fusi 3 Partai, yaitu PKI, Partai 
Buruh Indonesia, dan Partai Sosialis,” tulis Siauw Giok Tjhan dalam Lima Jaman: 
Perwujudan Integrasi Wajar (1981).

Sementara DN Aidit dalam makalah berjudul Tentang Tan Ling Djie-isme yang 
disampaikan pada Kongres Nasional Ke-V Partai Komunis Indonesia 1954, yang 
kemudian dimuat di Bintang Merah (Tahun ke-IX, 1954, 2-3, Februari/Maret), 
menyebut Tan Ling Djie, “sebagai Sekretaris Jenderal Partai Sosialis merangkap 
sebagai anggota terkemuka daripada Politbiro ‘PKI ilegal’, kemudian sejak bulan 
Agustus 1948 sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PKI.”


Ketika Madiun Affair pecah, Tan Ling Djie bersama Abdulmadjid ditangkap saat 
menghadiri Konferensi Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Yogyakarta. Selama 
tiga bulan, Tan Ling Djie harus mendekam di penjara. Sementara kawan-kawannya 
yang berkeliaran seperti Amir dan Musso harus mengakhiri hidupnya di tangan 
tentara pemerintah.

Serangan mendadak tentara Belanda terhadap ibukota Yogyakarta dalam Agresi 
Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, membuat tahanan politik yang 
dipenjara di Yogyakarta dapat melarikan diri, termasuk Tan Ling Djie. Mereka 
juga tak lagi menjadi buruan tentara pemerintah yang tengah sibuk menghadapi 
militer Belanda.

“Sesudah kawan Musso meninggal, dengan sendirinya [Tan Ling Djie] menjadi orang 
pertama di dalam Central Comite Partai. Singkatnya, Tan Ling Djie sudah 
berkuasa di dalam Partai selama revolusi 1945-1948 dan sampai permulaan 1951,” 
tulis Aidit.

Namun, kepemimpinan Tan Ling Djie di PKI kemudian beralih ke tangan trio Aidit, 
Njoto, dan Lukman. Dia malah dituduh mengecilkan peran PKI sebagai pelopor 
revolusi, dan telah melenyapkan sifat bebas daripada PKI di lapangan 
organisasi. Dia lalu tersisih selama bertahun-tahun sampai terjadinya gempa 
politik 1965 dan PKI dihabisi Angkatan Darat. Seperti para simpatisan dan 
anggota PKI lainnya, dia juga ikut ditangkap militer.

“Tan Ling Djie, mentor Siauw yang ditahan di Surabaya pada tahun 1966, 
menderita penyakit beri-beri karena kekurangan makan dan meninggal dunia dalam 
keadaan yang sangat mengenaskan setelah ditahan penguasa militer,” tulis 
Tiong-djin Siauw dalam Siauw Giok Tjhan: Riwayat Perjuangan Seorang Patriot 
Membangun Nasion Indonesia dan Masyarakat Bhinneka Tunggal Ika (1999).

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh

The post Tan Ling Djie Adalah Pemimpin PKI Yang Tersisih first appeared on Halo 
Dunia.

https://ift.tt/3iDwBJY

from Halo Dunia https://ift.tt/39UgYtN
via Khoirul Amin

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3CC0216D42C94667B79DDFB080205F2D%40A10Live.

Reply via email to