Written byA43Tuesday, August 23, 2022 17:00

https://www.pinterpolitik.com/celoteh/puan-the-new-taufiq-kiemas/
Puan: The New ‘Taufiq Kiemas’?
Ketua DPP PDIP Puan Maharani beberapa waktu lalu bertemu dengan Ketua Umum 
(Ketum) Partai NasDem Surya Paloh di tengah-tengah kabar “keretakan” hubungan 
Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Paloh. Mungkinkah ini pertanda bahwa 
Puan adalah “Taufiq Kiemas” yang baru?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “We’ve come to a dangerous place. We can’t afford to fight a war amongst 
ourselves.” – Lord Eddad Stark, Game of Thrones (2011-2019)

Di mana kita bisa mendapatkan hiburan yang sekaligus mengandung intrik-intrik 
politik di dalam alur ceritanya? Memang, ada banyak jawabannya – mulai dari The 
Crown (2016-sekarang), The Politician (2019-2020), hingga House of Cards 
(2013-2018).

Namun, seri mana lagi yang bisa menyatukan intrik politik dengan kisah abad 
pertengahan bila bukan franchise dari Game of Thrones (2011-2019) – alias GoT? 
Bisa dibilang, seri ini menjadi salah satu seri yang paling digemari pada 
zamannya.

Kurang politis apa lagi? Kisahnya menempatkan persaingan – dan peperangan – di 
antara keluarga-keluarga bangsawan sebagai latar utama, yakni guna 
memperebutkan takhta the Iron Throne. 

Tujuan persaingan di antara mereka pun sama dengan definisi politik yang sering 
dibilang oleh Harold Lasswell – bahwa politik dapat dimaknai sebagai siapa 
(who) yang mendapatkan (gets) apa (what), kapan (when), dan bagaimana (how). 

Memang sih GoT ini berangkat dari persaingan antar-keluarga bangsawan. Namun, 
siapa sangka kalau persaingan di dalam satu keluarga pun bisa terjadi?

Ambil lah seri sekuel terbaru dari GoT yang berjudul House of the Dragon 
(2022-sekarang) sebagai perumpamaan. Dalam seri ini, diceritakan bahwa keluarga 
Targaryen kebingungan untuk mencari ahli waris penerus takhta. 

Alhasil, Raja Viserys Targaryen menunjuk Rhynaera Targaryen yang merupakan 
seorang putri untuk menjadi ahli waris. Sontak saja, saudara Viserys yang 
bernama Daemon Targaryen langsung marah-marah tuh – menganggap sang raja telah 
mengkhianatinya untuk menjadi penerus takhta.

 
Ya, namanya politik kerajaan, ini pun bakal berujung pada perebutan kekuasaan. 
Padahal nih, Rhynaera itu cukup akrab dan dekat dengan pamannya yang bernama 
Daemon tadi.

Hubungan problematis di antara Viserys, Daemon, dan Rhynaera ini kurang lebih 
mirip-mirip lah ya dengan kondisi politik domestik Indonesia di dunia nyata – 
khususnya di antara Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketum 
Partai NasDem Surya Paloh, dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Meskipun Mbak Puan ini adalah putri dari Bu Mega, tampaknya sosok yang juga 
menjabat sebagai Ketua DPR RI itu ternyata juga dekat dengan Pak Paloh. Bahkan, 
Mbak Puan ini sampai berpelukan dengan Ketum NasDem tersebut dan memanggilnya 
sebagai om-nya sendiri.

Padahal, panggilan “om” sendiri bisa bermakna macam-macam ya? Hmm. Benar bukan? 
Bisa jadi panggilan untuk sosok laki-laki yang memang usianya jauh lebih tua.

Namun, terlepas dari itu, panggilan berbau “kekeluargaan” seperti ini 
setidaknya menyadarkan kita akan satu hal, yakni bagaimana politik domestik 
Indonesia dipenuhi dengan politik ala keluarga – mirip-mirip dengan apa yang 
terjadi di GoT.

Wait, kalau begitu, nilai-nilai yang diyakini dalam keluarga itu sendiri juga 
penting dong untuk diwariskan. Misalnya nih, keluarga Stark di GoT kan punya 
prinsip untuk selalu setia terhadap keluarga mereka.

Mungkin, nilai-nilai yang dimiliki oleh House of Soekarno juga terwariskan 
kepada Mbak Puan nih. Bisa jadi, peran “diplomat” ala Mbak Puan yang berkunjung 
ke House of Paloh – meskipun sempat ada kabar renggang dengan Bu Mega – adalah 
prinsip diplomatis Puan yang diturunkan dari mendiang ayahnya, Taufiq Kiemas.

Bisa dibilang, Taufiq Kiemas ini selalu menjadi jembatan politik bagi PDIP 
dengan partai-partai lainnya – meskipun Bu Mega kerap tidak cocok dengan partai 
tersebut. Apakah peran ini kini digantikan oleh Mbak Puan ya?

Wah, kalau benar demikian, Mbak Puan ini jadi “anaknya” siapa ya? Anak 
bapaknya, atau anak ibunya tuh? Kan, pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga 
kerap terlontar ketika mengunjungi keluarga yang baru saja mendapatkan 
putra/putri bayi. Bukan begitu? (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7382A6AB597846789AEE4317CD83CF1F%40A10Live.

Reply via email to