DITUNGGU REALISASINYA NIH…!
Sekber 1965 Dukung Jokowi Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu 
Lewat Non Yudisial 
ByTim 
Redaksi0https://bergelora.com/ditunggu-realisasinya-nih-sekber-1965-dukung-jokowi-selesaikan-kasus-pelanggaran-ham-berat-masa-lalu-lewat-non-yudisial/

Winarso, Koordinator Sekber 1965, (Ist)
JAKARTA- Keputusan Presiden Joko Widodo untuk menyelesai persoalan kasus 
Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu dengan pendekatan non-yudisial merupakan 
langkah besar yang harus didukung semua pihak untuk menegaskan kebijakan 
persatuan nasional ditengah krisis global. Hal ini ditegaskan Winarso, 
Koordinator Sekretariat Bersama 1965 dari Solo kepada Bergelora.com di Jakarta, 
Selasa (23/8).

“Seluruh keluarga penyintas mendukung pendekatan non yudisial dalam 
penyelesaian persoalan HAM Berat Masa Lalu 1965. Disamping mempersiapkan 
hakim-hakim untuk pengadilan HAM Adhoc yang sudah pasti akan menyelesaikan 
persoalan secara yudisial,” ujarnya.

Winarso menjelaskan bahwa dukungan pada pendekatan non-yudisial berdasarkan 
pertimbangan para pelaku utama dalam peristiwa 1965 sudah meninggal dunia.

“Ada ribuan bahkan jutaan korban dan keluarganya yang kehidupannya terbengkalai 
secara sosial dan ekonomi karena ditutup akses ekonomi, sosial dan politiknya. 
Dengan pendekatan non-yudisial, pemerintah dan negara menunjukkan tanggung 
jawab untuk mengurus kehidupan para korban dan keluarganya,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kalau menunggu pendekatan yudisial maka akan membutuhkan waktu 
yang lebih lama lagi memastikan keputusan hukum atas peristiwa 1965 tersebut. 
Sementara para korban sudah banyak yang meninggal dunia, anaknya tidak dapat 
pekerjaan dan kesulitan mendapat akses ekonomi dan bantuan negara,” ujarnya.

Penyelesaian yudisial akan membutuhkan energi luar biasa sebab pelanggaran HAM 
berat itu merata seluruh Indonesia dan masih menyisakan trauma yang berpotensi 
perpecahan.

“Hal ini mudah menimbulkan konflik horisontal. Maka penyelesaian Non Judisial 
adalah langkah awal yang tepat, sampai penyelesaian Yudisial disiapkan 
pemerintah secara matang dan sistimatis,” ujarnya.

Winarso menyampaikan, Sudah dua periode pemerintahan Jokowi berlangsung, namun 
janji awal kampanyenya lewat NAWA CITA belum terwujud tentang penyelesaian 
kasus. kasus pelanggaran HAM Berat Masa Lalu.

Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu terutama tragedi kemanusiaan 
1965/1966 pernah dicoba oleh pemerintan Jokowi dalam simposium di Hotel Arya 
Duta pada 18-19 April 2016.
Sebagai Koordinator Sekber 65, Winarso menjadi salah satu narasumber mewakili 
korban tragedi 1965/1966 saat itu.

Saat itu secara tegas Winarso menyatakan penyelesaian tragedi kemanusiaan 
1965/1966 lewat mekanisme Rekonsiliasi atau Non Yudisial sudah harus segera 
dilakukan.

“Baru saat ini setelah 6 tahun setelah simposium, negara lewat pemerintahan 
Jokowi bisa merealisasikan upaya rekonsiliasi lewat Non Yudisial yang 
disampaikan presiden dalam 16 Agustus 2022 dihadapan Sidang MPR. Betapa berat 
nasib para penyintas,” ujarnya.

“Saat ini masyarakyat khususnya keluarga penyintas menunggu realisasi dari 
pidato kenegaraan,” ujarnya. (Web Warouw)



Rekonsiliasi: Suara dari Dua Simposium



Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Front Pancasila membakar kain 
bersimbol komunis di depan kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur. 
Antara foto/Didik Suhartono

Baca selengkapnya di artikel "Rekonsiliasi: Suara dari Dua Simposium", 
https://tirto.id/bnc3

Rekonsiliasi: Suara dari Dua Simposium Massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan 
Front Pancasila membakar kain bersimbol komunis di depan kantor Gubernur Jawa 
Timur, Surabaya, Jawa Timur. Antara foto/Didik Suhartono 
Rekonsiliasi: Pemulihan di Atas... Rekonsiliasi: Suara dari Dua... 
Rekonsiliasi: Mencari Wadah Paling... "Kami Menyadari Rekonsiliasi Isu... 
Reporter: Maulida Sri Handayani - Senin, 20 Juni 2016 07:11 WIB Dibaca Normal 3 
menit 

Ada dua simposium yang merespons Tragedi 1965 di paruh pertama tahun 2016 ini, 
yakni simposium di Hotel Aryaduta pada 18-19 April dan simposium di Balai 
Kartini, 1-2 Juni. Simposium Aryaduta secara eksplisit mendorong terjadinya 
pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi sebagai penyelesaian nonyudisial atas 
tragedi itu. 

Di sisi lain, Simposium Balai Kartini memandang rekonsiliasi sudah terjadi 
secara alamiah dan meminta pemerintah tidak membuka-buka lagi masa lalu. 
tirto.id - 
Seorang pria berbicara lantang dengan volume tinggi. Suaranya sampai ke telinga 
hadirin dan memantul pada dinding-dinding gedung. Ia sedang mengisahkan 
pejabat-pejabat pemerintahan yang dibunuh pada Peristiwa Madiun 1948 oleh PKI. 
“Kepala stasiun kereta api, kepala provoost, kepala pendidikan, kepala 
kepolisian, kepala pengadilan, bapak saya, dibunuh. Disuruh gali lubang 
sendiri, kemudian dibunuh!” pekiknya. Lelaki itu adalah Sri Edi Swasono, pakar 
ekonomi koperasi dari Universitas Indonesia, yang sedang berbicara pada 
Simposium Nasional Mengamankan Pancasila di Balai Kartini, 1-2 Juni 2016 itu. 

“Mereka [PKI] selalu mulai dulu, tapi setelah kalah, lalu kita disuruh minta 
maaf.” Tahun 1948, titimangsa yang dirujuk Edi, memang situasi pelik bagi 
Indonesia. Secara de facto, republik ini belum merdeka. Perang terjadi di 
mana-mana melawan Belanda yang masih bersikukuh bahwa negara ini masih Hindia 
Belanda; bagian negara Belanda yang terletak di timur atlas dunia. 

Di tengah kesulitan itu, muncul kejadian Madiun 1948. Saat itu sistem 
pemerintahan negara ini masih parlementer. Presiden Soekarno merupakan kepala 
negara, sementara kepala pemerintahan ada di tangan Perdana Menteri M. Hatta. 
Gerakan Madiun 1948 kemudian dipukul oleh pemerintahan Hatta. Tak 
tanggung-tanggung, mantan perdana menteri Amir Sjarifuddin ditembak mati karena 
dianggap sebagai penggerak peristiwa itu. 

Meski ada beberapa versi dan narasi tentang Madiun 1948, ada data yang 
menunjukkan pihak PKI membunuhi pejabat pemerintahan. Sejarawan Harry A. Poeze 
dalam Madiun 1948 PKI Bergerak mencatat pemberontakan dan pembantaian itu, 
meski kemudian gerakan kontra-teror dari pemerintahan Hatta meresponsnya dengan 
sangat keras. Tak sedikit anggota PKI yang dieksekusi secara massal. 

Peristiwa itulah yang kemudian menjadi ingatan kolektif sebagai “kekejaman 
PKI.” Yang dialami oleh Sri Edi Swasono sebagai putra korban pembantaian, 
adalah salah satunya. Pada Simposium Balai Kartini yang merupakan reaksi atas 
Simposium Aryaduta, perihal kekejaman PKI pada 1948 ini menjadi salah satu 
topik sentral dan menjadi poin rekomendasi. 

Tapi, sesungguhnya, soal ini juga dibahas dalam Simposium Aryaduta. Agus 
Widjojo, panitia pengarah Simposium Aryaduta, mengatakan bahwa simposium yang 
digelarnya bertujuan agar para pihak dalam tragedi 1965 bisa saling-mendengar 
kenyataan dan versi kebenaran menurut pihak-pihak lain. Baik pihak korban, 
pihak yang terlibat dalam penyerangan dan pembunuhan, juga pihak yang 
menyalahgunakan kewenangan (aparat negara), diberi kesempatan untuk 
mengemukakan apa yang terjadi pada konflik-konflik itu. 

Termasuk soal ingatan kolektif tentang kekejaman PKI pada 1948. “Tahun 48 juga 
terjadi pembunuhan massal. Saya tidak menggunakan kata pemberontakan, tapi ada 
pembunuhan massal. Juga ada pembunuhan massal pada para kyai. Juga ada 
pembunuhan satu per satu dengan memaksakan kebijakan-kebijakan yang dipandang 
memaksakan terhadap kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada Pancasila. 

Contohnya adalah [program] tanah untuk rakyat. Contohnya [yang lain] adalah 
angkatan kelima kalau dalam fungsi pertahanan. Itu dianggap terlalu keras,” 
papar Agus dalam simposium Aryaduta. Jumlah korban dalam tragedi 1965 adalah 
hal lain yang dibahas, termasuk paparan data-data dari beragam versi. Angka 
umum korban tewas pasca-G-30S menunjukkan 500 ribu korban tewas, seperti 
diutarakan sejarawan Asvi Marwan Adam. 

Tapi rupanya, jumlah itu dibantah oleh Mantan Komandan Peleton 1 Resimen Para 
Komando Angkatan Darat (RPKAD) Letjen Sintong Panjaitan. Ia menyebut angka yang 
jauh lebih kecil, yakni 80 ribu korban. 

Ada pula perdebatan soal sifat dasar tragedi 65 ini: versi konflik horizontal 
melawan versi konflik vertikal. Versi konflik horizontal melihat tragedi 
terjadi karena kaum komunis “mulai duluan” dengan membunuh enam jenderal TNI. 
Sebagai respons, masyarakat antikomunis menghabisi mereka yang dianggap komunis 
dengan pola pikir “jika mereka tidak dibunuh, kita yang akan dibunuh.” 

Tapi, ada pendapat yang lebih melihatnya sebagai konflik vertikal, misalnya 
sosiolog Ariel Heryanto. Ariel berpendapat, tragedi 1965 terjadi karena 
kegagalan negara secara kolektif dalam melindungi warganya. “Apabila konflik 
[…] hanya pada level masyarakat, maka yang terjadi adalah kekerasan yang 
bersifat sporadik, acak, dan lokal. Korbannya mungkin beberapa puluh atau 
beberapa ratus. Saya nggak bisa ngebayangin sampai seribu,” kata Ariel. 

Jika memakai pendapat Ariel, maka jumlah korban versi Sintong Panjaitan yang 
“hanya” 80 ribu pun jadi terlalu besar untuk dikatakan sekadar konflik 
horizontal. Untuk kepentingan mengekspose kebenaran dan fakta-fakta itulah, 
pada simposium Aryaduta, Agus Widjojo menawarkan konsep rekonsiliasi yang harus 
diawali dengan proses pengungkapan kebenaran. 

Harkristuti Harkrisnowo kemudian melengkapi ceramah Agus, bahwa kedua hal itu 
perlu diwadahi dalam Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Namun, simposium yang 
diselenggarakan setelahnya di Balai Kartini pada 1-2 Juni—diinisiasi oleh 
beberapa pensiunan militer, juga beberapa organisasi yang menyatakan diri 
antikomunis seperti FPI (Front Pembela Islam)—bereaksi keras atas seruan untuk 
pencarian kebenaran atas tragedi 1965. 

Pemimpin FPI Rizieq Shihab, misalnya, menyatakan kekecewaannya karena PKI 
disebut sebagai pihak korban. “Kalau PKI itu korban, penjahatnya siapa? Kalau 
mereka jadi korban, berarti penjahatnya NU, penjahatnya umat Islam, penjahatnya 
tentara, penjahatnya polri, penjahatnya negara!” Terkait rekonsiliasi, Menteri 
Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada acara itu pun tak menyambutnya secara 
positif. “Ini pendapat saya. 

Rekonsiliasi dengan siapa? Dengan PKI? Orang [sudah] pada mati kok, nggak usah 
lagi lah,” ucapnya, disambut tepuk tangan dan tawa hadirin. “Yang peru 
direkonsiliasi adalah sekarang itu ada Orde Baru, Orde Lama, Orde Reformasi. 
Kalau masih ada orde-orde ini, berarti kita belum satu. Masih terpecah-pecah, 
padahal kita harus bersatu. 

Ini rekonsiliasi. Jangan dengan unsur yang lain yang sudah dikubur semua tuh. 
Ya nanti habis lebaran maaf-maafan lah. Maaf lahir batin, gitu,” lanjutnya, 
sambil menambahkan bahwa Obama pun tak minta maaf atas nama Amerika Serikat 
yang pada 1945 mengebom Hiroshima dan Nagasaki. Ketua panitia pengarah 
Simposium Balai Kartini, Letjen (purn) Kiki Syahnakri pun berpendapat 
rekonsiliasi sudah terjadi secara alamiah. 

Lembaga khusus untuk menggelar pencarian kebenaran dan rekonsiliasi tidak 
diperlukan karena sudah ada Departemen Dalam Negeri yang bisa didayagunakan 
untuk itu. “Untuk apa bikin bikin, apalagi nanti buat komisi lagi,” tandas 
Kiki. Pada akhir acara, para pemangku acara Simposium Balai Kartini menegaskan 
rekomendasinya agar pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan segenap 
masyarakat tidak membuka kasus masa lalu lagi. 

Permintaan itu merupakan satu dari sembilan rekomendasi yang mereka ajukan. 
Terkait resistensi ini, Agus tak terkejut. Ia sudah memperkirakan reaksi 
penolakan itu sejak mengupayakan digelarnya Simposium Aryaduta. “[...] Ini 
pertama kali sebuah pertemuan dengan ciri yang seperti saya katakan itu bisa 
dilakukan secara terbuka di Indonesia setelah 50 tahun. 

Jadi pasti itu akan ada kekakuan-kekakuan,” katanya, saat diwawancarai secara 
khusus oleh Tirto.id. Baca juga artikel terkait SIMPOSIUM NASIONAL MEMBEDAH 
TRAGEDI 1965 atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani (tirto.id - 
Hukum) Reporter: Maulida Sri Handayani Penulis: Maulida Sri Handayani Editor: 
Nurul Qomariyah Pramisti

Baca selengkapnya di artikel "Rekonsiliasi: Suara dari Dua Simposium", 
https://tirto.id/bnc3

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8B0B4A99F61742D88DD47B74A54B8DF4%40A10Live.

Reply via email to