Dunia Hancur Bila Tiongkok Berkuasa?Written byD74Saturday, August 27, 2022 12:25

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/dunia-hancur-bila-tiongkok-berkuasa/
Tiongkok sering digadangkan akan menjadi pengganti Amerika Serikat (AS) sebagai 
hegemon. Jika terjadi, apakah itu akan jadi berkah, atau masalah bagi kita? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Sepertinya, sebagian besar orang akan menjawab “iya” bila dihadapkan pertanyaan 
“apakah Amerika Serikat (AS) kini menguasai dunia?”. 

Ya, tak dipungkiri, Negeri Paman Sam saat ini memang masih mendominasi berbagai 
aspek kehidupan kita. Mulai dari aspek ekonomi -di mana mata uang dollar kini 
jadi mata uang dunia-, sampai aspek hard power atau tenaga militer yang 
kekuatannya tidak tertandingi. 

Kendati demikian, seperti yang diketahui, beberapa waktu belakangan ini 
hegemoni AS semakin ditantang oleh satu negara raksasa dari Timur, yang tidak 
lain adalah Tiongkok.  

Mengamati perkembangannya yang luar biasa, sejumlah pengamat bahkan 
sampai-sampai memprediksi Tiongkok akan bertempur langsung dengan supremasi 
global AS, dan menjadi kandidat negara paling dominan di dunia selanjutnya.  

Salah satu pendapat yang senada adalah apa yang disampaikan pengamat ternama 
dari Universitas Nasional Singapura, Kishore Mahbubani, dalam bukunya Has China 
Won?. Di dalamnya, Mahbubani bahkan berargumen bahwa kekuatan ekonomi AS kini 
terlihat semakin pantas berada di posisi kedua dunia, sementara kekuatan 
kebangkitan ekonomi Tiongkok pantas menjadikannya sebagai kandidat nomor satu. 

Tentu, apa yang disampaikan Mahbubani juga diamini banyak orang. Terlebih lagi, 
Tiongkok memang semakin menunjukkan kapabilitasnya sebagai negara dengan 
kekuatan militer besar, contohnya adalah peluncuran kapal induk terbarunya, 
Fujian, pada Juli lalu, yang digadang-gadangkan menjadi kapal induk tercanggih 
milik Negeri Tirai Bambu. 

Karena hal ini, pantas bila mulai ada yang bertanya-tanya: jika memang Tiongkok 
semakin kuat, sudah siapkah negara tersebut jadi hegemon yang baru? 

 
Tiongkok Masih Belum Pantas? 
Kalau kita mencoba menguak keadaan sebenarnya di balik tabir kekuatan Tiongkok, 
kita akan menyadari ada beberapa hal yang dapat menjelaskan negara yang 
dipimpin Xi Jinping ini sebenarnya masih jauh dari siap untuk menjadi negara 
pengganti AS. Apa saja alasan-alasan tersebut? 

Pertama, Profesor Ulrich Menzel, pengamat internasional dari Jerman, dalam 
tulisannya The rise of China and the future world order, menjelaskan bahwa 
dalam menakar sebuah negara hegemon, status itu salah satunya hanya bisa 
dicapai jika negara tersebut memiliki global military presence atau kehadiran 
militer global. 

Mengapa hal itu penting? Jawabannya sederhana, yakni karena suatu negara 
hegemon tidak hanya perlu memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang luas, tapi 
mereka juga perlu menjamin keamanan pengaruh geopolitiknya yang lintas-batas. 
Analogi sederhananya, tidak mungkin suatu negara dianggap sebagai kekuatan 
besar jika ia tidak bisa mempertahankan jalur perdagangannya. 

Nah, masalah itu yang saat ini dialami oleh Tiongkok. Meskipun teknologi dan 
jumlah personel militernya semakin menguat, bahkan saat ini menempati posisi 
kedua di dunia, Tiongkok masih belum memiliki pengaruh militer yang mengglobal. 
 

Sebagai catatan tambahan penting, salah satu indikator utama dalam menentukan 
global military presence adalah dengan mendata jumlah kapal induk yang 
operasional. Saat ini, AS memiliki 11 kapal induk operasional yang tersebar di 
seluruh penjuru dunia, sementara itu Tiongkok hanya punya tiga, itupun tidak 
beroperasi secara global seperti kapal induk AS. 

Dan dari sisi lain, global military presence AS juga menjadi ukuran kemampuan 
negara hegemon memberi jaminan keamanan bagi para negara sahabatnya. Jikalau 
Tiongkok memiliki negara sahabat, dengan kekuatan militer yang sekarang, maka 
Tiongkok belum bisa memastikan keamanan negara sahabatnya tersebut. 
Kedua, kembali mengutip Menzel, jika suatu negara ingin jadi hegemon, maka ia 
juga perlu jadi penyedia, sekaligus penjamin international public goods (IPG) 
atau barang publik internasional. 

Apa maksudnya? Well, Menzel mengambil contoh gedung mercusuar pada abad ke-19. 
Kala itu, sebagian besar mercusuar dibuat oleh Kerajaan Inggris, karena saat 
itu mereka lah yang jadi superpower dunia. Nah, di abad ke-21 ini, mercusuar 
itu adalah teknologi Global Positioning System (GPS), dan seperti yang 
diketahui, GPS sampai saat ini adalah barang nasional milik AS.  

Ini kemudian menjadi salah satu contoh bahwa AS sebagai hegemon bisa 
terwujudkan karena mereka adalah penyedia IPG. Negara-negara lain di seluruh 
dunia tidak perlu habiskan banyak tenaga dan biaya untuk punya GPS sendiri, 
sementara warga AS-lah yang menanggung biaya GPS tersebut dengan membayar 
pajak. 

Meski Tiongkok kini tengah berupaya menciptakan IPG-nya sendiri, melalui agenda 
Belt and Road Initiative (BRI) dan sejumlah proyek infrastruktur, belum ada 
barang publik ciptaan Tiongkok yang dijadikan kebergantungan oleh masyarakat 
internasional.  

Oleh karena itu, Menzel menyebutkan bahwa Tiongkok sebenarnya masih menjadi 
free-rider, atau penumpang gratis hegemon AS. Tiongkok belum menjadi kekuatan 
yang baru dalam sektor public goods. 

Menzel juga menyoroti peran free rider Tiongkok dalam aspek ekonomi. Sampai 
saat ini, Tiongkok telah diuntungkan oleh sistem keuangan global yang dikuasai 
AS. Negeri Paman Sam pun menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok.  

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Tiongkok yang sekarang sering dianggap 
sebagai negara besar sebenarnya juga masih membutuhkan dan bergantungan pada 
sistem internasional yang dibuat AS. 

Ketiga, dan mungkin ini yang paling penting, Tiongkok sebenarnya masih memiliki 
sejumlah masalah internal yang tidak pantas menjadikannya sebagai hegemon yang 
baru.  

Luke M. Herrington dalam tulisannya Why the Rise of China Will Not Lead to 
Global Hegemony, menjabarkan beberapa masalah tersebut. Pertama, 20 persen 
total populasi dunia berada di Tiongkok, namun persediaan air di sana ternyata 
hanya memiliki 7 persen dari total pasokan air dunia. Kedua, Tiongkok memiliki 
permasalahan layanan kesehatan, sebagai contoh, penderita kanker di Tiongkok 
disebut meningkat 23 persen sejak tahun 2006.  

Dan yang terakhir, Tiongkok juga masih dilanda permasalahan utang yang cukup 
besar. Menurut data dari S&P Global Ratings, Tiongkok memiliki utang perusahaan 
mencapai US$ 27 triliun, ini membuatnya memiliki rasio utang-produk domestik 
bruto (PDB) mencapai 159 persen, menjadikannya sebagai negara dengan rasio 
utang-PDB yang 60 persen lebih tinggi dari rata-rata internasional. 

Dan mirisnya, rasio utang-PDB Tiongkok disebut tumbuh pada tingkat sekitar 11 
persen per tahun. Karena PDB Tiongkok sendiri tumbuh kurang dari 11 persen 
setiap tahun selama 11 tahun terakhir, bisa disimpulkan bahwa utang Tiongkok 
sebenarnya telah melampaui pertumbuhan PDB-nya. 

Berdasarkan alasan-alasan ini, bagaimana skenarionya bila AS tiba-tiba terpuruk 
dan Tiongkok terpaksa harus menggantikan posisinya sebagai hegemon? 
 
Tiongkok Tidak Boleh Salip AS? 
Ketika dipimpin Presiden Donald Trump, AS menunjukkan sikap politik luar negeri 
yang menarik. Kala itu, Trump kerap kali mengkritik para negara anggota Pakta 
Pertahanan Atlantik Utara (NATO) karena sebagian besar dari mereka tidak pernah 
memenuhi kuota anggaran pertahanan aliansi, yakni 2 persen dari GDP negara. 

Meski tidak segarang Trump, ketika dipimpin Presiden Joe Biden, negara-negara 
NATO kini mulai menyesuaikan sumbangan anggaran pertahanan sesuai dengan kuota 
NATO, utamanya, ini karena konflik Rusia-Ukraina. Kendati demikian, sebagian 
pengamat menilai ini sebagai pertanda bahwa AS mulai ingin membagikan beban 
kepemimpinannya pada negara-negara lain. 

Lantas, bagaimana jika interpretasi itu benar dan ini dijadikan kesempatan bagi 
Tiongkok untuk menyalip kepemimpinan global Negeri Paman Sam? 

Well, berdasarkan pemaparan yang sudah dibahas di tengah tulisan, kita bisa 
prediksi dengan kuat bahwa jika Tiongkok kini jadi hegemon, maka konsekuensinya 
bisa sangat fatal.  

Ilmuwan politik AS, Joseph S. Nye memomulerkan teori menarik terkait skenario 
hegemoni Tiongkok, yang diberi nama Kindleberger trap. Teori ini terinspirasi 
dari Charles Kindleberger, seorang ekonom AS yang mengajar di Institut 
Teknologi Massachusetts (MIT), yang pernah menjelaskan bahwa krisis ekonomi 
tahun 1930-an ternyata terjadi akibat kegagalan AS menggantikan Inggris sebagai 
hegemon global, utamanya dalam menjalankan dan menjamin keteraturan sistem 
internasional. 

Akibatnya, kala itu bencana yang terjadi tidak hanya krisis ekonomi, tapi 
kekosongan kepemimpinan dunia juga telah mendorong meletusnya Perang Dunia II, 
perang yang dianggap sebagai perang paling destruktif dalam sejarah manusia. 

Terkait itu, Nye menjelaskan bahwa dalam tata dunia internasional, kemampuan 
sebuah hegemon untuk memastikan keteraturan sistem internasional sangat 
penting. Jika suatu negara dominan tidak bisa menjamin barang publik 
internasional seperti GPS saja, misalkan, maka itu dapat menciptakan efek 
berantai di mana ujung-ujungnya mungkin berdampak pada rantai pasokan global 
itu sendiri. 

Nah, karena Nye menilai bahwa kesuksesan Tiongkok saat ini hanya merupakan 
akibat menjadi penumpang gratis atau free rider, bila Tiongkok menyalip AS 
sebagai negara digdaya dengan keadaan yang sekarang, maka bisa diprediksi bahwa 
sistem internasional akan sangat kacau balau dan akan menciptakan kekosongan 
kekuatan, seperti ketika Perang Dunia 2 lalu. 

Dengan begitu, maka kita bisa simpulkan bahwa meski Tiongkok kerap disebutkan 
semakin memiliki kekuatan yang luar biasa, sesungguhnya kepemimpinan global 
Tiongkok adalah satu hal yang harusnya kita hindari. 

Di sisi lain, ini juga bisa jadi refleksi bagi sejumlah pemegang kepentingan 
yang terlalu condong ke Tiongkok. Barangkali, ini adalah saatnya kita menyadari 
bahwa Tiongkok memang belum pantas menjadi negara yang dapat menggantikan AS, 
setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/3B4FAA12BA7D4FF6B31E0815F161DBAC%40A10Live.

Reply via email to