*Kekejaman-kekejaman yang berlaku selama ini tidak lain untuk menhabiskan
 warga Papua teristimewa di wilayah pedalam, berakibat banyak tanah kosong
dan bisa diklaim tidak ada pemiliknya dan  dengan mudah diambil alih oleh
yang berkehendak memilikinya dengan sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh
rezim berkuasa.*

https://jubi.id/tanah-papua/2022/dewan-gereja-papua-kekejaman-di-papua-terjadi-karena-fobia-papua-dan-stigma/


*Dewan Gereja Papua: Kekejaman di Papua terjadi karena fobia Papua dan
stigma*

[image:
https://secure.gravatar.com/avatar/ea2be243286c18c214c2fc371f187334?s=32&d=mm&r=g]
<https://jubi.id/author/admin4/>

*Dewan Gereja Papua <https://jubi.id/topic/dewan-gereja-papua/>** - **News
Desk <https://jubi.id/author/admin4/>*

*August 30, 2022*

*Writer: Hengky YeimoEditor: Aryo Wisanggeni G*

Anggota Dewan Gereja Papua, Pdt Dorman Wandikmbo (kiri) bersama Moderator
Dewan Gereja Papua, Pdt Benny Giay (tengah) menyampaikan keterangan pers di
Sentani, Selasa (30/8/2022). - IST
Jayapura, Jubi – Dewan Gereja Papua menilai kekejaman dan kekerasan yang
terus terjadi di Tanah Papua, termasuk kasus pembunuhan dan mutilasi warga
Nduga di Kabupaten Mimika, diakibatkan fobia Papua dan stigma yang
berkembang di kalangan aparat keamanan Indonesia. Fobia Papua dan stigma
itu berkembang dalam pikiran aparat keamanan maupun kebanyakan rakyat
Indonesia karena para tokoh politik Indonesia memiliki padangan yang bias
rasial yang menumbuhkan fobia Papua.

Hal itu dinyatakan Dewan Gereja Papua dalam keterangan persnya di Kantor
Sinode GIDI, Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, Selasa (30/8/2022). Dewan
Gereja Papua menyatakan fobia Papua dan bias rasial terlihat dalam
pernyataan publik Megawati Soekarnoputri dalam Rakernas PDI Perjuangan pada
21 Juni 2022 <https://www.youtube.com/watch?v=COEsOWDB2rc>. Fobia Papua dan
cara pandang yang bias rasial juga terlihat dari pernyataan publik
Hendropriyono
untuk memindahkan 2 juta Orang Asli Papua ke Manado, Sulawesi Utara
<https://www.youtube.com/watch?v=Hu7cCMBhGhE>.

Moderator Dewan Gereja Papua, Pdt Benny Giay menyatakan pernyataan publik
seperti yang dilontarkan Megawati dan Hendropriyono itu mengungkapkan
 fantasi dan psikologi mayoritas masyarakat Indonesia tentang Papua, yang
dikait-kaitkan dengan monyet, ketek, koteka, pemalas, terbelakang, dan
teroris. “Pernyataan itu  dipahami orang Papua [sebagai hasrat] mau
menghilangkan orang Papua kulit hitam dari negerinya sendiri,” katanya.

<https://jubi.id/polhukam/2022/keluarga-makilon-tabuni-sebut-aparat-keamanan-kenal-7-anak-korban-penganiayaan/>

*Baca juga :   Keluarga Makilon Tabuni sebut aparat keamanan kenal 7 anak
korban penganiayaan
<https://jubi.id/polhukam/2022/keluarga-makilon-tabuni-sebut-aparat-keamanan-kenal-7-anak-korban-penganiayaan/>*



Di lapangan, fobia Papua dan stigma melahirkan turunan berupa kekerasan dan
kekejaman aparat keamanan yang membabi buta terhadap Orang Asli Papua.
“Mereka tidak memandang bulu. Pendeta, mantri kesehatan, guru, bupati,
gubernur, Majelis Rakyat Papua, akademisi. Terakhir ini mereka memutilasi
empat warga sipil asal Kabupaten Nduga di Kabupaten Mimika,” kata Giay.

Giay mengatakan fobia Papua dan stigma itu membuat Orang Asli Papua
mengalami banyak masalah berat, mulai dari pelanggaran Hak Asasi Manusia,
marjinalisasi, diskriminasi, rasisme, pembunuhan, pemiskinan, dan berbagai
kekerasan lainnya. Fobia Papua dan stigma juga membuat pemerintah membuat
kebijakan yang justru tidak menyelesaikan persoalan Papua.

“Pada tahun 2019, saat warga Papua melakukan protes atas ujaran rasisme di
Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019, pengiriman militer terus terjadi
hingga saat ini. Kemudian, pada April 2021 kelompok bersenjata dilabeli
teroris. Pada tanggal 15 Juli 2021, terjadi pengesahan Undang-undang Nomor
2 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua
<https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/172403/uu-no-2-tahun-2021> tanpa
melibatkan Orang Asli Papua,” katanya.

Anggota Dewan Gereja Papua
<https://jubi.id/nasional-internasional/2022/dewan-gereja-dunia-sebut-indonesia-gagal-menangani-situasi-kemanusiaan-di-tanah-papua/>
yang
juga Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pdt Dorman Wandikmbo
mengatakan 17 kunjungan Presiden Joko Widodo ke Tanah Papua tidak berdampak
bagi Orang Asli Papua. Jokowi datang ke Papua dengan mengumbar janji-janji,
namun janji-janji itu tidak dipenuhi.

<https://jubi.id/tanah-papua/2022/negara-masih-melindungi-pelaku-tragedi-paniai-berdarah/>

*Baca juga :   Negara masih melindungi pelaku tragedi Paniai Berdarah
<https://jubi.id/tanah-papua/2022/negara-masih-melindungi-pelaku-tragedi-paniai-berdarah/>*



“Misalnya, kasus Paniai berdarah pada tahun 2014, molor bertahun-tahun.
Akhirnya [Kejaksaan Agung] menetapkan [hanya ada] satu orang [tersangka
dugaan pelanggaran HAM berat, yaitu] pensiunan perwira tentara yang tidak
bersangkut-paut [dengan] insiden penembakan [Paniai Berdarah]. Pelaku
[sesungguhnya justru] tidak diadili oleh Negara,” kata Wandikmbo.

Wandikmbo juga mengkritik rezim Jokowi yang memaksakan pemekaran Provinsi
Papua untuk membentuk 3 provinsi Daerah Otonom Baru (DOB). “Dengan adanya
DOB, akan terjadi perampasan tanah adat untuk kepentingan investasi. Hal
itu tentunya menggeser posisi masyarakat adat dari tanah adatnya, ditambah
dengan berbagai pelanggaran HAM di Tanah Papua,” katanya.

Wandikmbo mengatakan pembunuhan dan mutilasi empat warga sipil asal
Kabupaten Nduga yang terjadi di Satuan Permukiman 1, Distrik Mimika Baru,
Kabupaten Mimika pada 22 Agustus 2022 adalah kejahatan Negara. “Pembunuhan
dan mutilasi empat warga Nduga di Timika dan berbagai pelanggaran HAM hanya
menambah luka bagi Orang Asli Papua. Janji-janji pemerintah meresahkan
masyarakat kecil di Tanah Papua,” katanya. (*)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BoVx%3D5ciqcDmgFpq-XHKe_EdT%2BAHv%3D2SdDVmOD%3DAfzqw%40mail.gmail.com.

Reply via email to