Written byJ61Thursday, September 1, 2022 16:30

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/presiden-jokowi-batalkan-proyek-ikn/
Presiden Jokowi Batalkan Proyek IKN?
Wacana kenaikan harga BBM diikuti dengan sentimen minor terhadap pembangunan 
Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang justru meminta kenaikan anggaran ke DPR. 
Respons skeptis bisa saja membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan 
proyek ambisius tersebut. Benarkah demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Diskursus kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terus mengemuka. Itu seiring 
dengan perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih berjuang 
untuk bangkit dari dampak pandemi Covid-19.

Sayangnya, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga produk Pertamina tersebut 
agaknya sudah bulat dengan beredarnya detail harga kenaikan masing-masing jenis 
BBM.

Jauh-jauh hari, pro dan kontra telah mengiringi wacana kenaikan. Pihak yang 
sepakat menilai bahwa memang harus diakui subsidi selama ini telah cukup besar 
membebani anggaran negara.

Ditambah dengan preseden tidak tepatnya subsidi itu juga seolah menambah 
semangat pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menaikkan harga BBM.

Sementara pihak yang kontra, menilai kenaikan harga BBM belum perlu dilakukan 
pemerintah. Para perumus kebijakan dinilai harus bijaksana memperhatikan 
prioritas dan kondisi riil perekonomian masyarakat saat ini.

Kritik itu juga kerap dikorelasikan dengan aspek lain, terutama pembangunan 
infrastruktur dan proyek raksasa yang terus dikebut Presiden Jokowi. Salah 
satunya adalah Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

  
Menariknya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum 
dan Perumahan Rakyat (PUPR) meminta tambahan anggaran sebesar Rp10,3 Triliun 
untuk pembangunan IKN dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR kemarin.

Padahal, Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR telah menerima anggaran sebesar 
Rp25,03 triliun berdasarkan Surat Bersama (SB) Bappenas dan Menteri Keuangan, 
serta Surat Menteri PUPR tentang penyesuaian Pagu Anggaran Tahun Anggaran 2023.

Sebelumnya, keterkaitan antara wacana kenaikan harga BBM dengan skeptisme 
pembangunan IKN sempat disoroti oleh Ekonom dan Direktur Center of Economic and 
Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira.

Dia menilai anggaran pembangunan IKN seharusnya bisa digunakan untuk bantalan 
sosial saat harga BBM naik.

Itu penting untuk dilakukan mengingat kelompok masyarakat ekonomi yang rentan 
dianggap akan sangat terdampak dengan dampak multiaspek kenaikan bahan bakar.

Menurut Bhima, penundaan proyek infrastruktur menjadi salah satu opsi yang 
dapat ditempuh pemerintah untuk memulihkan perekonomian secara maksimal.

Namun, mengapa IKN menjadi sektor yang mendapat sentimen skeptis atas setiap 
kebijakan “memungut dana lebih” dari masyarakat?

IKN Dibiarkan Mangkrak?
Secara umum, proyek IKN kerap mendapat sentimen negatif akibat dianggap terlalu 
ambisius jika dilihat secara politik.

  
Variabel berupa kenaikan harga BBM tampaknya secara otomatis akan menjadikan 
IKN sebagai komparasi utama karena dianggap hanya sebagai kebutuhan tersier 
negara saat ini.

Impresi minor yang muncul dan dikorelasikan terhadap IKN, aganya berasal dari 
kemungkinan miskalkulasi yang dilakukan atas proyek tersebut.

Pada Februari lalu, Presiden Jokowi sempat menyebut akan melakukan upacara 
kemerdekaan di IKN pada 17 Agustus 2024. Artinya, jarak dua tahun pembangunan 
membutuhkan dana segar yang harus segera dikonversi menjadi infrastruktur fisik 
tahap awal IKN.

Di sisi lain, penerimaan negara masih belum sepenuhnya stabil setelah terpuruk 
sebagai dampak pandemi. Terlebih, belum ada investor asing yang diumumkan 
pemerintah secara resmi hingga saat ini.
Nana Shibata dalam tulisannya yang berjudul Jokowi struggles to drum up 
investors for new Indonesia capital mengatakan rencana ambisius IKN Presiden 
Jokowi belum pernah terjadi sebelumnya jika mengacu standar global.

Dari total dana Rp466 triliun yang dibutuhkan, rencana 80 persen didanai dengan 
investasi dari luar, terutama dari sektor swasta dan pemerintah negara-negara 
kaya tampak masih belum menemui titik terang.

Dengan kata lain, 20 persen sisa pendanaan dari kas negara tampaknya mau tidak 
mau harus diakselerasi lebih cepat. Dan boleh jadi itu bermuara pada 
dipungutnya dana dari masyarakat di sektor di mana negara memiliki kewenangan 
dan power untuk itu, seperti tarif listrik, pajak, hingga BBM.

Selain itu, sentimen minor terhadap IKN juga kiranya muncul dari perspektif 
analisis politik.

Ya, periode terakhir PDIP dan Presiden Jokowi berkuasa menimbulkan 
ketidakpastian politik. Shibata juga melihat hal ini sebagai salah satu faktor 
penyebab investor asing cenderung “wait and see” terhadap IKN.

Meskipun telah diatur oleh undang-undang, Shibata menilai pembangunan IKN masih 
dilihat oleh banyak analis belum menjamin bahwa proyek pembangunannya akan 
berlanjut setelah 2024.

Secara politik dan kekuasaan, hal itu dapat dimaknai dari konsep sirkulasi 
elite yang dikemukakan oleh filsuf dan sosiolog Italia, Vilfredo Pareto.

Konsep tersebut menjelaskan di dalam setiap era, akan selalu ada sirkulasi atau 
perputaran elite. Baik elite yang satu digantikan oleh elite yang lainnya, 
maupun aktor atau pihak non-elite yang justru menggantikan elite yang tengah 
berkuasa.

Jika skenario politik di 2024 terpilih presiden yang kemudian menjadikan PDIP 
dan Jokowi sebagai lawan politik, bukan tidak mungkin proyek IKN yang dijadikan 
glorifikasi itu akan dibiarkan mangkrak demi pelimpahan sentimen minor.

Apalagi, justifikasi kendala investor hingga pertimbangan lain yang mengiringi 
pembangunan Nusantara saat ini bisa saja akan menjadi landasan sahih pembiaran 
tersebut.

Lalu, terdapat satu faktor menarik lain yang kiranya membuat skeptisisme 
terhadap IKN muncul, yang bahkan berasal dari calon investor asing. Apakah itu?

 
Kegagalan Diplomasi Marketing?
Satu hal yang kiranya kontraproduktif terhadap impresi positif IKN dihadapan 
investor asing agaknya berasal dari marketing pemerintahan Presiden Jokowi 
sendiri.

Dalam pidatonya yang juga menjadi tagline IKN, salah satu penggalan pernyataan 
Presiden Jokowi menyebut calon ibu kota baru sebagai forest city with world 
class education and health service atau kota hutan dengan layanan pendidikan 
dan kesehatan kelas dunia.

Buzzword semacam itu memang kerap terdengar dari para pejabat eksekutif di 
tanah air dalam mempromosikan proyek-proyek ambisius. Selain konteks IKN, 
gagasan proyek metaverse bukit algoritma juga jamak dinilai hanya menjadi 
tagline berlebihan yang tidak substansial.

Kembali pada konteks IKN, buzzword itu agaknya menjadikan marketing IKN 
cenderung “over-sell”, sebagaimana dijelaskan Kishan S. Rana dalam Economic 
diplomacy: what might best serve a developing country?.
Dalam diplomasi ekonomi antar-negara, over-sell nyatanya justru akan dilihat 
sebagai janji yang tidak realistis atau menyesatkan pihak asing, khususnya 
calon investor.

Masih dalam tulisan Shibata, salah satu komentar yang berasal dari narasumber 
anonim pemerintah Jepang mengatakan “Nusantara lacks a big-picture vision” atau 
jika dimaknai IKN Nusantara minim visi gambaran besar yang konkret.

Selain daripada itu, Presiden Jokowi juga boleh jadi terbuai dalam bias 
optimisme. Professor Emeritus Rutgers University Neil D. Weinstein ialah yang 
pertama kali mengemukakan konsep tersebut dalam Unrealistic Optimism About 
Future Life Events.

Dalam kondisi tertentu, individu dapat mengambil keputusan yang tidak 
realistis. Mereka kerap memprediksi bahwa hasil masa depan akan lebih 
menguntungkan daripada yang disarankan oleh sebuah standar objektif yang 
relevan.

Presiden Jokowi bukan tidak mungkin merasa Indonesia cukup mudah mendapatkan 
investor karena berbagai upaya yang telah ditempuh selama ini. Indonesia pun 
kerap mendapat pujian asing atas torehan di sektor perekonomian.

Mulai dari regulasi kemudahan investasi via Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, 
hingga sanjungan dari International Monetary Fund (IMF) pada Maret lalu.

Padahal, yang menantikan suntikan dana investor terkemuka dengan dana segar 
besar bukan hanya Indonesia dengan IKN Nusantara-nya.

Sementara itu, bias optimisme yang ada juga kiranya berbenturan dengan 
kalkulasi untung-rugi riil dari para investor. Setelah perusahaan Softbank asal 
Jepang menarik diri sebagai investor IKN, konsultan manajemen EY-Parthenon 
Nobuko Kobayashi menyiratkan investor cenderung menahan diri bahkan enggan 
melirik IKN.

Kobayashi mengatakan Nusantara merupakan proyek yang tidak pasti, baik secara 
ekonomi maupun politik. Dia juga menambahkan, sejarah menunjukkan pemindahan 
ibu kota cenderung gagal atau terhenti di banyak tempat lain.

Di titik ini, proyek IKN tampak seperti pepatah “maju kena mundur kena”. Jika 
diteruskan, tentu akan membutuhkan biaya besar yang berdampak luas. Sementara, 
apabila menunda atau mundur tentu akan menghancurkan reputasi politik Presiden 
Jokowi, plus PDIP.

Akan tetapi, keberanian pemerintah meneruskan proyek IKN juga menghadirkan 
interpretasi lain bahwa investasi asing mungkin saja sudah diamankan.

Dalam safari Presiden Jokowi ke Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang pada medio 
Juli lalu, dua negara selain negeri asal Softbank sekilas tertarik dengan 
proyek di Provinsi Kalimantan Timur itu.

Bagaimanapun, kepastian keberlanjutan proyek IKN hingga tuntas sendiri masih 
merupakan tanda tanya. Dan tampaknya akan berdampak lintas sektoral terhadap 
kebijakan di sektor penerimaan negara lainnya secara tidak langsung. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FD49600FA9314984A6ABA4F211133F02%40A10Live.

Reply via email to