Yaaa, ... bagaiaman kalau dasar haluan negara PANCASILA hanya dijadikan 
filsafat hidup demi “KEPENTINGAN DIRI SENDIRI!” seperti yang terjadi selama 
ini, ... Bukan lagi utamakan kepentingan negara dan bangsa yang terjadi! 
Pancasila hanya dikunyah-kunya menjadi bahan perdebatan diperas menjadi 
tri-sila bahkan eka-sila “GOTONG ROYONG!” juga menjadi kepentingan 
klik-sendiri! Bukan kepentingan rakyat banyak, ...!

Jadinya seperti kata Mafud MD itu, menteri, dirjen, hakim, gubernur sampai 
bupatinya semua korupsi, ...!

Lagi-lagi rakyat banyak yang jadi korban, ... keserakahan dan kekejaman 
segelintir pejabat tinggi, ...!



From: BILLY GUNADIE 
Sent: Monday, September 5, 2022 3:20 AM
To: Roeslan ; 'Roeslan' via GELORA45 ; 'Chan CT' 
Cc: 'MU Ginting' ; 'Tatiana Lukman' 
Subject: Re: [GELORA45] JANGAN KERDILKAN PANCASILA MENJADI TRI SILA DAN EKA SILA

Pandangan saya.. 
NKRI apakah betul dari Sabang hingga Merauke . ?.. Melihat sejarah perkembangan 
orang Melayu, yang berkembang pada bagian Barat Nusantara?.
Pada prakteknya dan hasil di lapangan...
Sosioekonomik...GNP versus garis kemiskinan...11.500Rp perhari per orang?.
Secara sederhana..
Paparan yang berbeda, paparan Sunda dan Sahul....

Nusantara Timur termasuk paparan Australia...
Kemakmuran kekayaan alam yang di manfaatkan oleh sekelompok oligokart dan 
pejabat dan kolaborator. Siapa yang menikmati freeport?..
Lihat video terlampir..

Sila keadilan dan kesejahteraan berlaku untuk para pejabat dan kroninya ...juga 
anggota ABRI...contoh yang baru dari kepolisian...
Sila Ketuhanan juga untuk kelompok tertentu.... agama di dunia itu lebih dari 
5..sekitar 10 000an..
Kebangsaan....kenegaraan..
Penerintahan yang kurang paham akan kebangsaan dan ke negaraan
Demikrasi yang dipraktekan.. manusia adalah komoditi yang baik untuk di 
eksloitasi mempunyai suara pemilihan wakil rakyat yang boleh dibeli...untuk 
melilih wakil yang jadi pejabat untuk mengeksploitasi dirinya....

Kebudayaan yang dirubah pada manusia terkebelakang (indonesia tidak mengakui 
aborigine/penduduk asli)..?..
Yang sederhana ..tanpa dipelajari menyebabkan bencana..
Contoh.. alat penerangan solar/matahari..
Celana.. tanpa memberikan pedoman merawat, cara pakai, higenis..
Satu celana dipakai terus tanpa mencuci, mengkibatkan infeksi...
Infrastruktur...jalan raya untuk penduduk pejalan kali?
Lelihatannya keadilan dan kemakmuran itu untuk golongan tertentu..Pejabat..
Sesuai dengan kata kata Bapak Mahmud MD..?
Di mana letak kealahannya?...




Sent from Rogers Yahoo Mail on Android

  On Sun., 4 Sep. 2022 at 12:23 p.m., 'Roeslan' via GELORA45
  <[email protected]> wrote:
  JANGAN KERDILKAN PANCASILA MENJADI TRI SILA DAN EKA SILA

  Untuk membahas masalah ini saya akan mulai dari cuplikan fakta sejarah 
tentang perkembangan paradigma ilmu pengetahuan, yang telah membuat 
konsep-konsep baru dalam fisika dan teori Quantum, yang telah menimbulkan 
perubahan yang mendalam terhadap pandangan dunia manusia, yaitu dari pandangan 
dunia mekanistik yang berasal dari Rene´decartes dan Newton, yang disebut 
Pardigma lama abad ke 17 (Pola pikir Mekanisme Cartesian ), menjadi suatu pola 
pikir yang berpandangan holistis, ekologis, pemikiran sistem, dan munculnya 
teori Fisika Kuantum yang sangat mengejutkan. Sehingga Ilmu pengetahuan di era 
digital abad ke- 20 telah membawakan suatu perubahan besar, yang mengatakan 
bahwa sistem-sistem tidak dapat dimengerti melalui analisis. Siaft-sifat bagian 
bukan sifat-sifat intrinsik, ia hanya dapat di mengerti dalam konteks 
keseluruhan yang lebih besar. Dengan demikian hubungan di antara bagian-bagian 
dan keseluruhan telah dibalik. Dalam pendekatan sistem, sifat-sifat bagian 
dapat dimengerti hanya dari pengaturan keseluruhan. Oleh karenanya, pemikiran 
sistem tidak berkonsentrasi pada balok-balok dasar bangunan, tetapi lebih pada 
prinsip-prinsip dasar organisasi. Pemikiran sistem bersifat `kontekstual`, yang 
merupakan lawan dari pemikiran analistis. Demikian juga teori Fisika Quantum, 
ia adalah juga lawan dari pemikiran Analistis . Pemikiran analitis berarti 
memisahkan sesuatu untuk dapat memahami keseluruhan; pemikiran sistem bertarti 
menempatkan sesuatu itu ke dalam konteks sebuah keseluruhan yang lebih besar. 
Nampaknya pandangan holistik, ekologis, dan theori Fisika Quantum  tersebut 
tidak mudah untuk diterima oleh para fisikawan pada permulaan abad ke 20. Dalam 
konteks ini nampaknya para ilmuwan penyelidik (pengamat) dunia atomik dan 
subatomik telah membawa mereka bersentuhan dengan realitas yang asing dan tidak 
disangka-sangka. Dalam upaya mereka memahami realitas baru ini, para ilmuwan 
dengan susah payah menyadari bahwa bahwa konsep-konsep, bahasa, dan seluruh 
cara berpikir mereka tidak memadai lagi untuk melukiskan fenomema atomik. 
Masalah yang mereka hadapi bukanlah hanya bersifat intelektual, tetapi 
berkembang menjadi suatu krisis emosional yang mendalam,  yang dapat disebut 
sebagai krisis eksistensial, yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi 
krisis ini, namun akhirnya mereka dapat memahami wawasan yang mendalam mengenai 
materi dalam hubungannya dengan pikiran manusia. Menurut pengamatan saya 
penomena krisis emosional yang mendalam, yang bisa dipandang sebagai krisis 
eksistensial ini nampaknya memantul ke Indonesia di abad ke 21, ini tercermin 
dalam sikap DPR & MPR RI dan juga  para elite politik bangsa Indonesia di 
berbagai Partai politk  terkesan telah gagal dalam memahami Pancasila sebagai 
suatu sistem, strategi Negara Kesatuan Republik Indonesia  dalam konteks 
mengelola keteraturan bernegara, kualitas hukum dan kuwalitas demokrasinya. 



  Ini dibuktikan dengan munculnya  Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi 
Pancasila (HIP), yang kemudian dirubah menjadi BPIP (Badan Pembina Ideologi 
Pancsila) ;yang terkesan gagal dalam usahanya untuk menyatukan bangsa 
Indonesia, karena konsep-konsep bahasa dan seluruh cara berpikir mereka secara 
substansial berakar pada pola pikir  Mekanisme Cartesian; sehingga tidak 
memadai untuk melukiskan hakekat Lima Sila Pancasila diera digital diabad ke 21 
ini. Menurut pengamatan saya, RUU HPI (BPIP) terkesan telah mereduksi 
(mengkerdilkan) nilai-nilai Pancasila.Ini berarti telah memecah belah sila-sila 
untuk memahami Pancasila secara keseluruhan.



  Dalam konteks ini mereka telah membuat suatu analisa tentang Pancasila dengan 
cara membedah lima sila Pancasila menjadi 3 sila yang disebut Tri Sila, dan 
selanjutnya Trisila ini, dibedah lagi menjadi satu sila yang disebut Eka Sila, 
yang kemudian digunakan untuk memahami hakekat Pancasila secara keseluruhan, 
lalu menyimpulkan bahwa hakekat Pancasila adalah Gotong Royong.

   Metode berpikir DPR RI, dan para elite politik yang tergabung didalamnya, 
terkesan sama seperti metode berpikir analitis Decartes, pencipta cara berpikir 
Mekanisme Catesian, yang sudah kedaluwarso. Dalam konteks ini, Decartes telah 
menciptakan metode berpikir analitis; Yaitu dengan cara  memecah-mecah fenomena 
yang rumit kedalam kepingan-kepingan, untuk mengerti perilaku keseluruhan dari 
sifat-sifat bagian-bagiannya itu. 

  Menurut pemahaman saya, paradigma ilmu pengetahuan sistemik diera digital ini 
telah memperlihatkan bahwa sila-siala dalam Pancasila tidak dapat dimengerti 
melalui analisis. Ini berarti bahwa : Silat-sifat dari lima (5) Sila Pancasila 
itu bukanlah sifat-sifat intrinsik (hakekat),melainkan hanya dapat dimengerti 
dalam konteks keseluruan yang lebih besar. Jadi pola pikir DPR RI, dan para 
pendukungnya, yang terkait dengan RUU HIP (BPIP), terkesan kuat teleh melakukan 
kebijakan politik yang bertujuan untuk mereduksi Pancasila menjadi Trisila, dan 
ekasila, yang ujung-ujungnya menyimpulkan bahwa Pancasila adalah gotong Royong. 
Harap di pahami bahwa Gotong royong adalah metode kerja yang dipandu oleh 5 
sila  dari Pancasila sebagai dasar negara, sedangkan Pancasila adalah dasar 
negara yang sekligus  merupakan strategi Negara Kesatuan Republik Indonesia  
dalam konteks mengelola keteraturan bernegara, kualitas hukum dan kuwalitas 
demokrasinya. Oleh karena itu dalam konteks ini menolak PBIP dapat dibenarkan. 

  Memang benar jika dikatakan bahwa pada sekitar tahun 1945 Bung Karno pernah 
juga mengatakan bahwa Pancasila bisa diperas menjadi 3 sila, yaitu Trisila , 
dan Trisila bisa diperas lagi menjdai Satu sila (Eka sila) yaitu Gotong Rayong 
. Dalam konteks ini harus di pahami bahwa di saat itu ilmu pengetahuan masih 
didominasi oleh polapikir Cartecian yaitu pandangan dunia abad ke-17 (pandangan 
dunia abad pertengahan) yang kurang lebih 200 tahun lamanya telah menguasai 
ilmu pengetahuan duinia. Sedangkan polapikir Sistemimik itu, baru sekitar tahun 
1950-an dan 1960-an mempunyi pengaruh yang kuat pada ilmu teknik dan manageman, 
dimana konsep-konsep sistem termasuk sibernetika diterapkan untuk memecahkan 
masalah-masalah praktis. Jadi logis jika pada tahun 1945 (hari lahirnya 
Pncsila), Bung Karno masih berpartisipasi dengan polapikir dunia abad 
pertengan. Saya yakin bahwa di Indsonesia  sampai  dewasa ini belum semua 
warganya sudah berpartisipasi dengan paradigma Ilmu Pengetahuan baru,yang lahir 
pada pada paroh pertama abad ke 20, yaitu``pemikiran sistem``dalam kerangka 
keterkaitan, hubungan-hubungan, dan konteks. Menurut pandangan sistem, 
sifat-sifat dasar sebuah organisme, atau sistem hidup, adalah sifat-sifat 
keseluruhan, yang tidak dimiliki oleh bagian-bagian. Sifat-sifat itu muncul 
dari interaksi dan hubungan antara bagian-bagian. Sifat-sifat itu akan rusak 
ketika sistem itu dibedah baik secara sisik maupun teoritis. Demikianlah sistem 
berpikir saya dalam memahami Pancasia secara keseluruhan.



  Menurut pengamatan saya, manusia dengan ilmu pengetahuan-nya yang bertambah 
itu, juga akan mengalami kemajuan untuk turut mampu berpartisipasi 
mengendalikan evolusi kebudayaan-nya, dalam konteks ini nampaknya para biolog 
organismik, para psikolog gestalt dan para ekolog, telah membawa para ilmuan 
bersentuhan dengan kreteria pemikiran sistem. Yang paling umum, kriterianya 
ialah perubahan dari bagian-bagian menjadi keseluruhan. Artinya sistem-sistem 
hidup adalah keseluruhan yang terpadu yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi 
kepada sifat-sifat bagiannya yang lebih kecil, untuk mengerti perilaku 
keseluruhan dari sifat-sifat bagian-bagiannya itu. 

  Demikalah pemahamnan saya dalam memahami Pancasila yang berkaitan dengan 5 
silanya dalam hubungannya dengan wawasan yang mendalam mengenai lima-sila 
Pancasila dalam hubungannya dengan kenyamanan hidup jiwa dan raga 
manusia-manusia Indonesia dari Sabang sampai Maruke.

  Bisa dipercaya bahwa krisis kesaradan yang mendalam dalam konteks  RUU HIP 
(BPIP) ini akan bergeser menjdai krisis Persepsi selektif, yang diaplikasikan 
pada kecenderungan persepsi manusia yang  dipengaruhi oleh 
keinginan-keinginan,kebutuhan-kebutuhan,sikap-sikap,dan faktor-faktor psikologi 
lainnya.  Yang akan bedampak buruk bagi persatuan bangsa dan keutuhan NKRI, 
jika pemrintah Indonesia tidak dapat menemukan solusi yang bijak dalam 
menanganinya.



  Kesimpulan  akhir.

   Ada bebera solusi untuk  masalah yang berkaitan dengan RUU HIP dizaman 
digital yang sekarang kita alami ini. Namun solusi itu menghendaki adanya suatu 
perubahan radikal dalam persepsi, pemikaniran, dan nilai-nilai kita. Sebenarnya 
kita sekarang ini berada pada suatu perubahan fundamental pandangan dunia dalam 
ilmu masyarakat, yaitu perubahan Paradigma yang sama radikalnya dengan Revolusi 
Copernikan,yaitu suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan 
revolusioner yang diadakan Copernicus dalam bidang astronomi. Namun kebijakan 
ini belum berkembang pada sebagian besar pemimpin politik kita.

  Oleh karena itu bangsa Indonesia membutuhkan waktu yang lama untuk mengatasi 
kritis ini; untuk maksud tersebut bangsa Indonesia harus dapat menemukan 
seorang pemimpin yang yang Visioner,Karismatik dan Revolusioner, Yaitu : 
Seorang pemimpin yang visioner, yaitu seorang pemimpin yang energi batinnya 
(egonya) sudah bisa menyatu dengan pandangan umum yaitu energi ilmu 
pengetahuan, sehingga terbentuklah suatu kesadaran System (baca:kesadaran 
holistik);  Sehingga ucapan, tindakan, dan kebijakan-kebijakannya bukan diatur 
dari luar atau yang didasarkan pada kepentingan jaringan oligarki kekuasaan. 
Seperti yang kita saksikan sekarang ini. Mungkin dalam hal ini diperlukan 
campurtangan para tokoh-tokoh Intelektual, untuk menjelaskan tenang makna dari 
Paradigma Ilmu Pengetahuan, khususnya dalam konteks ini adalah Paradigma 
Holistik, Ekologis (ekologi-dalam) dan kaitannya dengan pemikiran Sistim. 
Sebagai akhir kata, menurut pendapat saya Bangsa Indonesia sekarang ini harus 
bisa menjalankan Reformasi sosial yang fundamental, atau mendasar, yang menurut 
istilahnya Bung Karno disebut Retooling alat-alat lama yang perlu diganti sama 
sekali dengan yang baru; dibidang legislatif, eksekutif dan Judikatif. 
Khususnya dibidang  Politik; Ekonomi; Sosial; Mental dan Kebudayaan dll. 



  Roeslan 

  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/003001d8c07a%24a15c1820%24e4144860%24%40gmail.com.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9ABA4A428F134F5394CB807869AFB6CC%40A10Live.

Reply via email to