https://www.beritasatu.com/opini/8065/mempersiapkan-presiden-ke10-ri-pada-tahun-2044



*Mempersiapkan Presiden ke-10 RI pada Tahun 2044*

[image: image.png]

Opini: Guntur Soekarno
Pemerhati masalah sosial

Jumat, 8 Juli 2022 | 13:51 WIB

Beberapa bulan belakangan ini kepala kita pusing oleh pemberitaan media
massa dan media sosial tentang silaturahmi antartokoh politik atau para
ketua partai. Sebagian bahkan sudah membentuk koalisi. Contohnya, Koalisi
Indonesia Bersatu antara Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mendukung
Airlangga Hartarto sebagai calon presiden (capres).

Partai Nasional Demokrat (Nasdem) setelah rampung mengadakan Rakernas yang
diikuti 6.000 kader dari berbagai daerah sudah menghasilkan keputusan untuk
Capres 2024. Muncul nama Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Andika Perkasa.

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) belum mencalonkan tokohnya untuk
kursi presiden, namun intensif mengadakan lobi kepada tokoh-tokoh ketum
partai, antara lain bersilaturahmi ke kediaman Ketua Umum Partai Demokrai
Indonesia Perjuangan (PDIP).

Di samping itu, Ketum Gerindra Prabowo Subianto sudah mengadakan pertemuan
dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sudah mengadakan kerja sama dengan PPP.

Bila kita amati secara cermat, jelas terlihat para ketua umum parpol tadi
sudah mulai pasang kuda-kuda untuk menghadapi Pilpres 2024. Mereka sudah
mempersiapkan capres atau cawapresnya.

Dengan perhitungan jangka jauh ke depan, saat ini penulis sedang
mempersiapkan seorang calon presiden yang ke-10 RI setelah Soekarno, untuk
2044 yang akan datang.

Tokoh ini adalah seorang siswa setingkat kelas 2 SMA berusia 16 tahun yang
menjadi murid di sekolah Singapura yang mempunyai perwakilan di Medan.

Hal ini penulis lakukan mengingat menghadapi berbagai tantangan di masa
depan Indonesia memerlukan seorang presiden yang kualitasnya mirip-mirip
dengan Bung Karno. Sosok yang harus berjiwa nasionalis patriotik serta
dapat mempersatukan bangsa dari Sabang hingga Merauke.

Ada pun tantangan yang nyata untuk masa depan adalah masih bercokolnya
kekuatan-kekuatan neo kolonialisme dan imperialisme yang dalam keadaan
sakaratul maut akan tetapi belum mati. (Soekarno; Pancasila sebagai Dasar
Negara).

Kekuatan tersebut di masa depan masih merupakan musuh berbahaya dari
eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 45. Oleh sebab itu dibutuhkan seorang negarawan yang
berkapasitas mirip dengan Bung Karno sehingga mampu memimpin bangsa ini
mengatasi segala macam tantangan yang dihadapi di masa depan.

Walaupun diharapkan pada 2045 sudah merupakan negara maju, Indonesia masih
dihadapkan pada pilihan antara sistem sosialisme atau kapitalisme liberal,
menjadi negara adikuasa atau negara adidaya.

Pilihan tersebut sangatlah tidak mudah karena menyangkut perkembangan
sistem masyarakat Indonesia ke arah mana perkembangan masyarakat Indonesia
menuju.

Sekiranya tahun 2045 Indonesia sudah menjadi sebuah negara maju akan tetapi
masyarakatnya masih bersifat setengah agraris dan belum sepenuhnya menjadi
masyarakat industrialis, jangan berharap pada 2045 Indonesia walaupun sudah
merupakan negara maju sistem sosialialnya tidak mungkin berazaskan keadilan
sosial atau sosialisme religius seperti amanah UUD 45.

Bahkan, mungkin saja Indonesia terjerumus menjadi sebuah negara maju dengan
sistem kapitaslime liberal seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis dll.

Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, Indonesia di masa mendatang harus
dipimpin oleh seorang kepala negara atau pemerintahan yang visi misinya
sesuai dengan yang diamanatkan Pancasila dan UUD 45.

Oleh sebab itu persiapan pemimpin masa depan sudah harus dilaksanakan sejak
dini.

*Kapasitas Pemimpin Masa Depan*
Figur pemimpin masa depan haruslah menguasai secara baik ideologi Pancasila
dan Amanah UUD 45. Tegasnya, harus menguasai pikiran-pikiran dan ajaran
ajaran Bung Karno lahir batin.

Dia harus dapat mempraktikkan pikiran-pikiran dan ajaran-ajaran tersebut ke
dalam kehidupan masyarakat sehari-harinya terutama di kalangan rakyat
jelata yang oleh Bung Karno disebut sebagai kelas Marhaen.

Tokoh tadi juga harus menguasai juga teori-teori sosialisme modern dan
teori-teori kapitalisme modern agar yang bersangkutan dapat memilah-milah
ekonomi model apa yang paling cocok dilaksanakan di Indonesia agar tujuan
mendirikan masyarakat sosialis modern yang religius di Indonesia dapat
terlaksana.

Dengan demkian tidak ada lagi *exploitation de l’homme par l’homme*,
penghisapan antarmanusia dengan manusia.

Dalam masyarakat tersebut hanyalah terdapat keharmonisan dan kenyamanan
hidup di antara warganya, yaitu kesejahteraan sosial yang bersifat kolektif
jauh dari sifat-sifat individualistik sistem kapitalisme.

Syarat lainnya adalah penguasaan terhadap nilai budaya asli Indonesia yang
merupakan akar dari kepribadian Indonesia pada umumnya sedemikian rupa
sehingga dapat menyinkronkan secara harmonis budaya Indonesia dengan budaya
asing yang masuk menjadi sebuah budaya Indonesia yang modern namun tetap
berkepribadian Indonesia. Dalam hal ini masalahnya erat dengan sistem
pendidikan Indonesia di masa depan.

Juga dibutuhkan penguasaan secara mendalam ilmu teknik terutama teknik
kedirgantaraan (angkasa) karena masa depan umat manusia tidak lagi berada
di bumi atau tanah air melainkan di ruang angkasa.

Suatu saat akan datang masanya manusia akan berpindah tempat ke
planet-planet di Bimasakti kita bahkan di luar Bimasakti.

Di era tadi di Planet Mars, Jupiter akan terdapat koloni-koloni manusia
yang menetap hidup di sana bahkan beranak-pinak. Tidak mustahil bila
lebaran tiba manusia-manusia di koloni tersebut akan “pulang kampung” ke
daerah mereka di bumi tentunya bagi yang beragama Islam. Bagi yang beragama
Nasrani mungkin di hari-hari menjelang Natal mereka akan “mudik” ke planet
asal mereka, Bumi.

Sangatlah diharapkan agar tokoh tersebut mempunyai penampilan yang
simpatik, mudah bergaul dengan siapa pun, rendah hati namun konsekuen dalam
pendirian dan tegas dalam mengambil keputusan.

Syarat lainnya adalah masalah agama yang dianut. Sesuai dengan kebinekaan
Indonesia maka agama apa pun yang dianut oleh tokoh tadi, maka ia harus
menguasai secara baik mengenai agama Islam sesuai dengan visi keislaman
Bung Karno.

Bila tokoh tersebut beragama Islam sebagai seorang muslim ia harus taat
berpegang kepada tauhid yang mengakui keesaan Allah SWT, serta yakin adanya
sifat Tuhan Yang Maha Besar yang seru sekalian alam (*robbul alamin*).

Juga menganut Islam modern yang meyakini bahwa Tuhan adalah sesuatu yang
tanpa mula dan tanpa akhir (*without beginning and without end*) sekaligus
sebagai seorang muslim harus mempunyai kemerdekaan otak, kemerdekan rasa
hati, dan kemerdekaan pengetahuan. (Prof Farid Wajdi)

Syarat pamungkas adalah tokoh tadi haruslah seorang yang antiilmu klenik
dan sebagai Presiden RI hendaknya memberantas ilmu klenik sebagaimana
instruksi Presiden RI pertama kepada Ketua Umum Muhammadiyah ketika
menerima gelar Doktor Honoris Causa dari IAIN dalam bidang ilmu tauhid.

Terakhir, siapakah tokoh remaja yang saat ini sedang penulis dorong dan
persiapkan untuk menjadi Presiden ke-10 RI pada 2044? Tak lain dan tak
bukan ia adalah Dimaz Andreanshah Kurniawan, anak Medan yang sejak semula
sudah bercita-cita menjadi Presiden RI layaknya Soekarno di masa remaja di
Mojokerto Jawa Timur.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CN%3DVNxDJxNSJKGunT73ZxpkgSwYCchAew65_Z7zoBVmA%40mail.gmail.com.

Reply via email to