Hehhehehehehehehehe

https://www.beritasatu.com/news/975357/siapakah-kakek-dari-warsawa-figur-yang-menginspirasi-hacker-bjorka?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=NewsletterB1
Siapakah Kakek dari Warsawa, Figur yang Menginspirasi *Hacker* Bjorka?

Minggu, 11 September 2022 | 13:08 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB
<https://www.beritasatu.com/faisal-maliki-baskoro>

*Jakarta, Beritasatu.com* - *Hacker* Bjorka
<https://www.beritasatu.com/tag/bjorka> berbagi cerita lewat Twitter
tentang seorang kakek yang sangat berpengaruh bagi dirinya. Bjorka sendiri
adalah *hacker* yang membocorkan 1,3 miliar data registrasi SIM Card dan
menjualnya di situs jual beli data ilegal breached.to.

*"I just wanted to point out how easy it is for me to get into various
doors due to a terrible data protection policy. primarily if it is managed
by the government. i have a good indonesian friend in warsaw, and he told
me a lot about how messed up indonesia is. i did this for him.* (Saya hanya
ingin menunjukkan betapa mudahnya bagi saya untuk masuk ke berbagai
celahkarena kebijakan perlindungan data yang buruk. Apalagi jika dikelola
oleh pemerintah. saya punya teman orang Indonesia yang baik di Warsawa, dan
dia bercerita banyak tentang betapa kacaunya Indonesia. aku melakukan ini
untuknya)," tulis Bjorka dalam akun Twitternya @bjorkanism, Sabtu
(10/9/2022).

Dengan mengungkapkan dirinya memiliki teman di Warsawa, Polandia apakah
lantas Bjorka membahayakan temannya dan dirinya sendiri? Tampaknya Bjorka
yakin identitasnya tidak akan terendus.

*BACA JUGA :**Dugaan Kebocoran Data, BSSN-PSE Perkuat Keamanan Siber
<https://www.beritasatu.com/news/975113/dugaan-kebocoran-data-bssnpse-perkuat-keamanan-siber>*

"*Yea don't try to track him down from the foreign ministry. because you
won't find anything. he is no longer recognized by Indonesia as a citizen
because of the 1965 policy. Even though he is a very smart old man.* (Ya
jangan coba lacak dia dari kementerian luar negeri. karena Anda tidak akan
menemukan apa pun. Dia tidak lagi diakui oleh Indonesia sebagai warga
negara karena kebijakan 1965. Meskipun dia adalah orang tua yang sangat
pintar)," lanjutnya.

"*Last year he just passed away. this old man has taken care of me since i
was born. He wants to go back and do something with technology even though
he sees how sad it is to be a habibie.* *He didn't have time to do it until
he finally died peacefully.* (Tahun lalu dia baru saja meninggal. Orang tua
ini telah merawat saya sejak saya lahir. Dia ingin kembali dan melakukan
sesuatu dengan teknologi meskipun dia melihat betapa sedihnya menjadi
seorang Habibie. Dia tidak punya waktu untuk melakukannya sampai akhirnya
dia meninggal dengan tenang)," kata dia.

Menurut LIPI, kebijakan 1965 mengacu kepada pengasingan (eksil) warga
Indonesia di luar negeri. Setelah peristiwa G 30S PKI 1965, banyak
orang-orang Indonesia yang terpaksa harus berada di luar negeri dan tidak
bisa pulang kembali ke Indonesia. Mereka adalah orang yang sedang berada di
luar negeri untuk berbagai keperluan, seperti sekolah, menjalankan tugas
diplomatik, menjadi wakil di organisasi internasional, atau anggota
kontingen kebudayaan.

Saat G30S meletus di Jakarta mereka sebetulnya tidak mengetahui peristiwa
tersebut karena komunikasi masih terbatas. Tahun 1966 kemudian ada
pendataan ulang terhadap WNI di luar negeri terutama di negara sosialis
komunis seperti Tiongkok, Rusia, Praha (Rep. Cek), dan Kuba. Mereka diberi
opsi untuk pulang ke Indonesia dengan syarat menyetujui Soeharto adalah
pemimpin Indonesia yang sah dan Soekarno terlibat G30S atau menolak.

Sebelumnya diberitakan ada sebanyak 1,3 miliar data registrasi SIM Card
masyarakat Indonesia yang diduga bocor. Pakar keamanan siber yang juga
chairman lembaga riset siber CISSReC (Communication & Information System
Security Research Center) Pratama Persadha menjelaskan, kebocoran tersebut
diunggah pada 31 Agustus 2022 oleh anggota forum situs breached.to dengan
nama identitas 'Bjorka'. Pengunggah tersebut juga memberikan sampel data
sebanyak 1,5 juta data.

"Jika diperiksa, sampel data yang diberikan tersebut memuat sebanyak
1.597.830 baris berisi data registrasi SIM Card milik masyarakat Indonesia.
isinya berupa NIK (nomor induk kependudukan), nomor ponsel, nama provider,
dan tanggal registrasi. Penjual juga mencantumkan harga sebesar US$ 50.000
dollar atau sekitar Rp 700 juta dan transaksi hanya menggunakan mata uang
*kripto*,” terang Pratama Persadha.

Pratama menjelaskan, data pastinya berjumlah 1.304.401.300 baris dengan
total ukuran mencapai 87 GB. Ketika sampel data dicek secara acak dengan
melakukan panggilan beberapa nomor, maka nomor tersebut masih aktif.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DJ-Cr5TNdCVEuZ03eZEX0g5apTCMEGb%2B8YZQ%2BMLLXzjQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to