Laporan dari China
54 kampus China pastikan terima kembali para mahasiswa Indonesia
 Senin, 19 September 2022 08:24 WIB
 
Para mahasiswa Indonesia tiba di Bandar Udara Internasional Baiyun, Guangzhou, 
China, Minggu (18/9/2022) untuk melanjutkan perjalanan ke kota tujuan setelah 
menjalani karantina selama 10 hari. (ANTARA/HO-KJRI Guangzhou)

Guangzhou (ANTARA) - Sebanyak 54 kampus perguruan tinggi yang tersebar di 21 
kota di China memastikan kesediaan  menerima kembali para mahasiswa dari 
Indonesia setelah menjalani karantina terpusat di Kota Guangzhou.

"Ya, kami sudah mendapatkan kepastian itu. Jadi, sudah tidak ada masalah lagi 
di kampus," kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada Kedutaan Besar RI di 
Beijing, Yaya Sutarya, Senin.

Sebelumnya ada sejumlah mahasiswa Indonesia yang tidak mendapatkan kepastian 
dari kampusnya di Shanghai saat sudah tiba di China untuk melanjutkan studi 
yang sempat terhambat pandemi COVID-19.

Sebanyak 124 mahasiswa Indonesia telah berhasil menyelesaikan karantina selama 
sepuluh hari sejak pesawat milik maskapai Citilink yang mereka sewa dari 
Jakarta tiba di Guangzhou pada 7 September 2020.

Mereka tergabung dalam kelompok terbang pertama mahasiswa Indonesia yang 
kembali ke China selama pandemi COVID-19.

Sesuai aturan yang ditetapkan otoritas kesehatan China, setiap orang yang tiba 
dari luar negeri wajib karantina terpusat selama sepuluh hari di kota 
pendaratan pertama dan melakukan tes PCR secara berkala.

Setelah selesai karantina terpusat, mereka masih diwajibkan melakukan karantina 
terpantau di kota tujuan masing-masing.

Setiap kota di China menerapkan aturan karantina terpantau dengan durasi yang 
berbeda-beda.

Pihak Beijing Normal University misalnya, mewajibkan mahasiswanya yang baru 
datang dari luar negeri menjalani karantina terpantau selama 14 hari di 
fasilitas karantina kampus tersebut di Distrik Changping, pinggiran Kota 
Beijing, sebelum memasuki perkuliahan tatap muka.

Sebelum pandemi COVID-19, jumlah pelajar Indonesia di China mencapai sekitar 
14.000 orang. Saat COVID-19 mulai mewabah di Wuhan, Provinsi Hubei, pada 
Januari 2020 kebanyakan warga negara asing, termasuk para pelajar internasional 
banyak yang meninggalkan China.

Tidak lama setelah itu, China menutup akses para pelajar yang berada di luar 
negeri. Mulai tahun ini, China kembali mengizinkan para pelajar asing masuk 
secara bertahap. 
Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Atman Ahdiat

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/70D80A2AE18D4177AD7665B76E6580CA%40A10Live.

Reply via email to