Written byR53Tuesday, September 20, 2022 06:03

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-jokowi-maju-di-2024/
Puan-Jokowi Maju di 2024?
Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan bahwa presiden dua periode boleh maju 
menjadi cawapres. Apakah pernyataan itu adalah sinyal majunya Jokowi sebagai 
cawapres di Pilpres 2024? Jika benar demikian, mungkinkah Jokowi akan 
dipasangkan dengan Puan Maharani?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Mahkamah Konstitusi (MK) tengah mendapat sorotan hangat. Ini soal pernyataan 
Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menyebut presiden dua periode dapat maju 
sebagai cawapres. “Kalau itu secara normatif boleh saja. Tidak ada larangan, 
tapi urusannya jadi soal etika politik saja menurut saya,” ungkap Fajar pada 12 
September 2022.

Pasal 7 UUD 1945 berbunyi, “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama 
lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya 
untuk satu kali masa jabatan.”

Tegas Fajar, kata kuncinya pada penjelasan “jabatan yang sama”. Dengan kata 
lain, presiden dua periode boleh maju sebagai cawapres karena merupakan dua 
jabatan yang berbeda.

Well, seperti yang mudah ditebak, pernyataan Fajar membelah dua opini publik. 
Di satu sisi, kritik bertubi-tubi terus menghujam. 

Namun, di sisi lain, mereka yang menggunakan kacamata normatif tidak melihatnya 
keliru. Pembelaan misalnya datang dari Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy 
Gusnaidi. 

“Penafsir tunggal konstitusi adalah Mahkamah Konstitusi, bukan partai politik, 
ormas, pengamat politik, tokoh politik atau masyarakat lainnya. Jadi bagaimana 
bisa ada yang menyatakan keliru, padahal mereka tidak punya kewenangan untuk 
menafsirkan,” ungkap Teddy pada 17 September 2022.

Melihat kronologinya, pernyataan Fajar tampaknya merupakan respons atas wacana 
pengusungan Joko Widodo (Jokowi) sebagai cawapres di Pilpres 2024. 

Ketua Bappilu PDIP Bambang “Pacul” Wuryanto, misalnya, menyebut Jokowi bisa 
saja maju sebagai cawapres jika partai atau gabungan partai berkenan 
mengusungnya. “Kalau Pak Jokowi mau jadi wapres, ya sangat bisa,” ungkap 
Bambang Pacul pada 13 September 2022.

Jika mengaitkannya dengan isu yang sudah ada, apakah penegasan dari MK 
merupakan sinyal politik tertentu?

 
Fabrikasi Persetujuan?
Di titik ini, tentu ada yang merespons sinis, bukankah Presiden Jokowi sudah 
berulang kali memberi penolakan terbuka?. Pada isu menjadi cawapres, RI-1 
bahkan bertanya, siapa yang mengeluarkan usulan tersebut. “Ini muncul lagi jadi 
wapres, itu dari siapa?,” ungkap Jokowi pada 16 September 2022.

Well, terlepas dari penolakan-penolakan terbuka Jokowi, pembahasan tulisan ini 
bukan berkutat pada itu. Jantung pembahasan dalam tulisan ini adalah 
menjelaskan makna apa yang dapat dilihat dari pernyataan Jubir MK soal presiden 
dua periode boleh menjadi cawapres.

Jika membaca buku Edward S. Herman dan Noam Chomsky yang berjudul Manufacturing 
Consent: The Political Economy of the Mass Media, patut dicurigai bahwa 
fabrikasi persetujuan atau fabrication of consent sedang dilakukan.
Herman dan Chomsky menerangkan bahwa media massa dapat digunakan untuk 
melakukan fabrikasi persetujuan. Kasarnya, melalui pemberitaan media, pihak 
tertentu dapat melakukan doktrinasi, propaganda, dan menyebarkan ide yang 
bertujuan untuk menciptakan persetujuan di tengah masyarakat.

Mengutip pernyataan Teddy Gusnaidi, MK adalah penafsir tunggal konstitusi. 
Artinya, jika mengelaborasinya dengan buku Manufacturing Consent, bukan tidak 
mungkin terdapat dua agenda yang tengah disodorkan ke tengah masyarakat. 

Pertama, pernyataan Jubir MK hendak digunakan untuk mengakhiri perdebatan soal 
boleh tidaknya Jokowi maju di Pilpres 2024 sebagai cawapres. 

Kedua, pernyataan itu ingin dijadikan justifikasi bahwa Jokowi tidak melanggar 
konstitusi jika memang berkenan maju sebagai cawapres.

Pada akhirnya, jika semuanya lancar, akan terbentuk fabrikasi persetujuan di 
tengah masyarakat bahwa Jokowi tidak masalah maju sebagai cawapres di Pilpres 
2024. Sekiranya mudah menebak bahwa narasi “belum ada pengganti sepadan Jokowi” 
akan digunakan sebagai senjata pamungkas.

Lantas, jika demikian agenda yang ada, dengan siapa Jokowi akan maju di Pilpres 
2024 nanti?

 
Puan-Jokowi?
Secara cepat, berbagai pihak akan menyebut nama Prabowo Subianto. Wacana untuk 
menduetkan Jokowi dengan Ketua Umum Partai Gerindra itu juga telah bergulir 
lama. Namun, PDIP tampaknya tidak akan membiarkan kadernya maju bersama Prabowo.

Simpulan itu dapat kita tarik dari pernyataan Panda Nababan. Dalam acara Total 
Politik, politisi senior PDIP itu mengomentari berbagai isu soal 
capres-cawapres PDIP di 2024. 

Soal duet Anies Baswedan-Puan Maharani, misalnya, Panda menyebutnya sulit 
terjadi karena PDIP pasti mengincar capres. Sebagai partai yang memperoleh 
suara terbesar, sulit membayangkan PDIP puas dengan cawapres.

Panda juga memiliki komentar menarik soal duet Prabowo Subianto-Puan. 
Menurutnya, terkadang analisis politik sering kali tidak rasional. Jika 
Megawati Soekarnoputri yang merupakan ibu Puan saja kalah bersama dengan 
Prabowo di Pilpres 2009, lalu bagaimana dengan Puan yang seorang anak?

Kendati tidak melanjutkan pernyataannya, sosok lain yang hadir dalam acara itu, 
yakni pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilainya sebagai sinyal 
kekalahan. Menggunakan rasionalisasi Panda, Effendi menyebut Prabowo-Puan dapat 
berbuah kekalahan. 

Selain itu, mengulang pernyataan Panda ketika mengomentari Anies-Puan, PDIP 
tentunya tidak ingin berada di belakang Gerindra. Rasanya sulit membayangkan 
partai yang begitu berkuasa ingin berada di bayang-bayang partai lain. 

Jika berbicara kepentingan PDIP, mengusung Puan-Jokowi sekiranya lebih 
menguntungkan daripada Prabowo-Jokowi. Ada setidaknya tiga alasan atas simpulan 
itu. 
Pertama, PDIP tidak perlu khawatir akan turun kasta dengan menjadi 
bayang-bayang partai lain. 

Kedua, dengan popularitas Jokowi yang luar biasa, PDIP dapat menggunakannya 
sebagai daya tarik untuk mengajak partai lain berkoalisi. 

Pendukung Jokowi yang masih masif dapat memberi efek ekor jas (coattail effect) 
bagi partai politik yang mendukungnya. Cukup masuk akal mengatakan jika partai 
lain mengincar itu untuk meningkatkan perolehan suaranya di pemilihan 
legislatif.

Ketiga, perlu dipahami bahwa rasionalitas organisasi berbeda dengan 
rasionalitas individu. 

Francis Fukuyama dalam bukunya State-Building: Governance and World Order in 
the 21st Century, menerangkan bahwa tujuan organisasi sebenarnya tidak pernah 
hadir secara jelas karena tiap individu dalam organisasi memiliki penafsiran 
yang berbeda.

Pada kasus PDIP, bukan tidak mungkin terdapat benturan rasionalitas. Di level 
individu, berbagai kader PDIP mungkin mengharapkan Jokowi dipasangkan dengan 
sosok lain yang lebih potensial, katakanlah dengan Prabowo atau Anies Baswedan.

Namun, di level organisasi, PDIP sekiranya lebih memilih mengusung Puan 
Maharani untuk mencegah pembelahan partai. Alasannya sederhana, karena PDIP 
butuh narasi “trah Soekarno” untuk menyatukan berbagai faksi yang ada. 

Mungkin ini terkesan negatif, namun itu adalah strategi yang mumpuni. Jika 
menggunakan merit sistem, di mana berbagai faksi beradu kekuatan, logistik, dan 
intelegensia, sekiranya tidak akan memenuhi persetujuan dan berpotensi deadlock.

Oleh karenanya dibutuhkan narasi penyeragam dan sulit dibantah, yakni narasi 
“trah Soekarno”. Ini juga menjawab kenapa Ganjar Pranowo bukan menjadi pilihan 
utama PDIP.

Dengan kata lain, seperti yang dijelaskan dalam artikel PinterPolitik yang 
berjudul PDIP Sadar Puan akan Kalah?, mungkin saja PDIP akan kalah di Pilpres 
2024 karena mengusung Puan Maharani. 

Namun, PDIP dapat tetap berkuasa dengan mengamankan kamar-kamar kekuasaan 
lainnya, seperti DPR, MPR, Jaksa Agung, dan Kepala Badan Intelijen Negara 
(BIN). PDIP juga pasti menjalin hubungan dekat dengan petinggi Polri dan TNI.

Jika berhasil mengamankan pileg, pilkada, dan pos-pos strategis, kekalahan Puan 
di Pilpres 2024 bukanlah sebuah kehancuran bagi PDIP. Mereka akan tetap 
berkuasa dan berpengaruh. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/189C979A9ECE4A04B71A3C76E829A037%40A10Live.

Reply via email to